Polisi Penggoda

Polisi Penggoda
14a


__ADS_3

Rabu (07.45), 08 April 2020


-----------------------------


Delapan orang di sekitar ambang pintu ruang bawah tanah bergerak masuk. Sisanya keluar memberi jalan bagi ketiga orang yang menjadi pusat perhatian untuk masuk.


Nafas Ratna tercekat ketika tatapan tajam Freddy menyambar dirinya, seperti berusaha memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Ratna ingin menghambur ke dalam pelukan lelaki itu, tapi kelegaan luar biasa yang datang secara tiba-tiba membuat tubuh Ratna serasa lemas.


“Halo, Matthew. Lagi-lagi kau menggunakan namaku untuk membodohi orang lain.” Max sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang bisa mendengar.


“Lama kita tidak bertemu, kakak.” Matt menatap bergantian dua polisi di belakang Max. “Dan kau datang bersama polisi. Apa tempat ini sudah dikepung hingga kalian bertiga berani masuk dengan tenang?”


Toni melirik jam tangannya. Sudah lebih dari sepuluh menit. “Sebentar lagi tempat ini akan dikepung. Kalau ingin melarikan diri, sekaranglah waktunya.”


Tidak perlu peringatan untuk kedua kalinya. Semua orang yang berada di luar ruang bawah tanah langsung menghambur melarikan diri ke segala arah. Hanya tersisa delapan orang yang tidak memiliki celah untuk keluar karena Freddy dan Toni masih berdiri di ambang pintu.


“Aku akan keluar untuk membantu meringkus para pengecut itu. Yang di dalam kuserahkan padamu dan Mr. Maxwell Bennedict.” Bisik Toni sebelum keluar.


Setelah kepergian Toni, ruangan itu menjadi hening. Tidak ada yang bergerak bahkan bersuara. Seolah-olah mereka saling menunggu satu sama lain untuk memulai, dan bersiap menghadapi serangan.


“Apa yang sudah terjadi padamu?” Suara Max yang terdengar begitu pilu memecah keheningan. “Apa yang sudah dilakukan Brian Timothy padamu hingga kau menjadi seperti ini? Kau bahkan tidak mau berbagi penderitaanmu denganku.”


Tanpa diduga Matt mundur beberapa langkah. Wajahnya mendadak pucat pasi.


“Jangan sebut nama itu. Dia sudah mati.” Desis Matt di sela bibirnya yang terkatup rapat.


Semua orang dalam ruangan itu bisa melihat ketakutan yang memancar jelas dari sorot mata Matt.


“Apa yang sudah terjadi, Matt??!!” Max berteriak penuh rasa frustasi. Dia tidak sanggup membayangkan penderitaan macam apa yang telah menimpa adiknya hingga menjadi seperti ini.


Bukannya menjawab pertanyaan itu, pandangan Matt berubah kosong. Senyum aneh terukir di bibirnya. “Kakak, sudah lama kita tidak bermain. Bagaimana kalau sekarang kita bersenang-senang?”


“Matt, kau—”


Freddy menahan Max yang berusaha mendekati adiknya. “Dia mulai kehilangan kesadaran.”


Matt terkekeh dengan suara yang membuat merinding. “Hei, kalian!” seru Matt pada anak buahnya. “Kalian bisa bermain bersama mereka. Aku akan membayar kalian sepuluh kali lipat lebih besar dari yang kujanjikan sebelumnya jika kalian bisa membuat mereka berdarah-darah. Dan aku ingin bersenang-senang dengan wanitaku.”


Tanpa menunggu jawaban, Matt berbalik ke arah Ratna. Bersamaan dengan itu, kedelapan anak buahnya menyerang Max dan Freddy.


Ratna yang panik karena melihat Matt mendekat tanpa sadar menarik pelatuk. Beruntung Matt segera menghindar. Namun naas peluru itu tepat mengenai pinggang salah satu anak buah Matt, membuat lelaki itu langsung terhempas ke lantai.


Karena kaget melihat perbuatannya, Ratna segera melempar pistol di tangannya dengan asal ke sudut ruangan. Kini wanita itu berdiri tanpa senjata membuat Matt menyeringai lebar.


Tidak ingin membuang waktu lebih lama dengan mainannya, Matt melepaskan sabuk lalu menariknya dengan sekali sentakan hingga terlepas lalu mengayunkannya di udara dengan salah satu ujung masih dalam genggaman.


Ratna sudah menduga kemana ujung sabuk yang dipegang Matt akan berlabuh dan dirinya tidak mungkin bisa menghindar. Dia sudah bersiap akan rasa sakit yang pasti menderanya, namun tetap tidak bisa menahan pekikan terlontar dari bibirnya ketika tepi sabuk yang keras menghantam punggungnya.


Sama seperti belasan tahun yang lalu. Ratna jatuh terduduk sambil menahan sakit di tubuhnya akibat lecutan sabuk yang dilayangkan Matthew Bennedict. Kilasan masa lalu kembali melayang membuat Ratna berada dalam kondisi antara sadar dan tidak, lagi.


***

__ADS_1


Tubuh Freddy menegang ketika mendengar pekik kesakitan Ratna. Jantungnya amat perih seperti diiris sembilu. Giginya bergemeletuk menahan kemarahan yang kian memuncak.


Dengan kasar dia menendang dada lelaki yang tepat berada di depannya lalu melepaskan dua kali tembakan ke kedua paha lelaki itu untuk memastikan dia tidak bisa bangun lagi.


Rupanya dua lelaki lain sedang menyusun siasat ketika Freddy mengalihkan perhatian pada lelaki yang membawa pedang. Freddy berkelit menghindari tebasan pedang yang mengincar lengannya. Begitu lengannya selamat, kini leher Freddy yang menjadi incaran membuat dia harus menunduk seraya melompat mundur.


Rupanya salah satu lelaki lain yang sedari tadi hanya diam mencari celah langsung menahan kedua tangan Freddy dari belakang, memberi kesempatan kedua rekannya yang memegang pedang dan belati untuk menyerang bersamaan.


Di sisi lain perhatian Freddy teralih pada Max yang telah berhasil menjatuhkan salah satu orang, tapi kini sedang diserang membabi buta oleh dua lainnya. Tampaknya Max sendiri tidak lagi memperhatikan lawannya, melainkan berusaha meloloskan diri dari dua orang yang menyerangnya untuk menolong Ratna dari Matt—yang entah kapan berhasil mengambil pistol yang dilempar Ratna—lalu menodongkan senjata itu pada Ratna.


Mendadak tubuh Freddy seperti lemas kehilangan tenaga. Orang yang menahan lengannya dari belakang menyeringai lebar.


Namun dalam hitungan detik semua berubah.


Pistol di tangan Freddy berhasil dia arahkan pada kedua orang yang menyerang Max, walau tangannya dalam posisi dicekal dengan begitu kuatnya dari belakang. Setelahnya dengan sekuat tenaga dia membalik posisi tubuhnya dengan orang dibelakangnya secara tiba-tiba membuat orang dibelakangnya tidak siap hingga yang berada dalam sasaran pedang dan belati itu adalah orang yang semula mencekal lengan Freddy.


Suara tebasan pedang dan tikaman belati yang mengenai tubuh di belakang punggung Freddy sangat jelas terdengar. Cekalan di lengan Freddy mulai mengendur membuatnya dengan mudah melepaskan diri. Begitu tubuh di belakangnya terkulai ke lantai, Freddy segera berbalik sambil melepaskan tembakan.


Kali ini dia tidak lagi pilih-pilih sasaran untuk menembak. Dalam situasi mendesak seperti yang dialaminya sekarang, menjatuhkan musuh harus menjadi tujuan utama walau dirinya terpaksa harus membunuh.


Suara denting pedang dan belati yang beradu dengan lantai menjadi pertanda bahwa lawan Freddy sudah terkapar. Setelah memastikan kedua lawannya benar-benar sudah tidak bergerak, Freddy segera membalikkan tubuh untuk melihat kondisi Uncle Max dan Ratna.


Pemandangan di depannya membuat Freddy tertegun lalu segera berlari mendekat. Uncle Max terkapar di lantai dengan darah segar mengalir tepat di dadanya. Kepalanya di sangga paha Matt yang sedang menangis sambil mendekap kepala kakaknya.


Ratna yang semula hanya berdiri ketakutan sambil bersandar di tembok tidak jauh dari kedua bersaudara kembar itu, langsung menghambur ke dalam pelukan Freddy. Air matanya tumpah di dada lelaki itu.


“Uncle Max… dia mencoba melin… dungiku dari tembakan.” Cerita Ratna di antara isak tangisnya.


Dia berjalan santai ke tempat kedua bersaudara itu sambil meraih borgol di balik jaketnya. Dengan tenang Freddy membungkuk di samping Matt, meraih kedua tangan lelaki itu yang kini pasrah lalu memborgolnya di belakang punggung.


Ketika Freddy sedikit menarik tubuh Matt, memberi isyarat agar Matt bangkit, lelaki itu menatap Freddy dengan tatapan memohon. “Bagaimana dengan kakakku? Kita tidak bisa meninggalkannya di sini. Dia bisa meninggal.”


“Bahkan mungkin dia sudah meninggal sekarang. Dan itu semua salahmu.” Ucap Freddy dengan kejam. Dia masih tidak bisa memaafkan atas semua yang telah Matt lakukan pada Ratna.


Entah musibah apa yang telah menimpa Matt. Tapi yang jelas lelaki itu sangat menyayangi kakak kembarnya. Hatinya yang kelam terluka ketika menyadari dirinya nyaris membunuh sang kakak.


Matt tertunduk dengan kesedihan yang melumuri mata birunya. Namun dia pasrah ketika Freddy menariknya dengan kasar menuju ambang pintu ruang bawah tanah yang kini di penuhi beberapa personil polisi termasuk Komandan Toni.


Freddy menyerahkan Matt pada beberapa polisi yang sudah menunggu di ambang pintu. Toni menatap tubuh Max yang tergeletak lalu menatap Freddy penasaran.


“Kau membiarkan Mr. Maxwell terkapar dengan luka parah? Atau dia memang sudah meninggal?”


Freddy menunggu sampai Matt dibawa jauh dari mereka lalu menjawab, “Uncle Max hanya pingsan. Aku sudah melihatnya. Tembakan itu tidak mengenai bagian vitalnya. Aku akan menghentikan pendarahannya sambil membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku melakukan ini untuk membuat Matt merasa amat bersalah. Sekarang sebaiknya kau awasi dia, dan pastikan Matt tidak bisa lagi melarikan diri.”


Toni mengangguk lalu segera pergi menyusul polisi yang membawa Matt. Sedangkan Freddy kembali menuju Uncle Max terbaring. Ratna sedang berlutut di samping lelaki itu dengan raut wajah panik dan bingung.


“Dia masih bernafas.” Jelas Ratna pada Freddy. “Tapi darahnya tidak berhenti mengalir.”


“Aku akan menghentikan pendarahannya.” Freddy merobek kemeja Max lalu menggulungnya menjadi buntalan untuk menahan pendarahan Max.


“Komandan Freddy, mobil sudah disiapkan untuk mengangkut korban. Kita akan langsung membawanya dengan tandu.”

__ADS_1


Freddy melirik pada polisi di belakangnya yang sudah siap dengan sebuah tandu. Beberapa polisi lain yang sudah selesai membawa keluar tubuh-tubuh yang tadi tergeletak dalam ruang bawah tanah itu juga siap membantu.


Begitu Freddy mengangguk, semua polisi itu bahu-membahu menaikkan korban ke atas tandu, membuat Ratna menatap kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa.


“Terus tahan kain ini ke lukanya. Pastikan dia tidak kehilangan lebih banyak darah sampai ke rumah sakit.” Perintah Freddy.


“Jangan khawatir. Paramedis sudah datang untuk memberikan pertolongan pertama.” Jelas salah satu polisi yang baru saja masuk kembali untuk membantu membawa Max keluar.


“Baguslah.” Gumam Freddy.


Setelah semua orang keluar dari ruang bawah tanah itu, Freddy berbalik menghampiri Ratna. Tanpa peringatan lelaki itu memeluk erat Ratna, seolah memastikan bahwa wanita itu benar-benar ada di hadapannya.


Cukup lama mereka berpelukan. Saling melepas rindu dalam diam. Sebelum akhirnya Freddy mundur menjauh. Kedua tangan Freddy menangkup pipi Ratna lalu mendongakkan wajah wanita itu. Dengan amat perlahan dan penuh kelembutan lelaki itu menunduk lalu mengecup bibir Ratna. Sebuah ciuman permintaan maaf.


Ratna bisa merasakan arti ciuman itu. Dia menatap Freddy bingung ketika lelaki itu melepas ciuman mereka namun membiarkan keningnya bersandar di kening Ratna.


“Kenapa?”


“Maaf karena tidak bisa mencegahmu berada dalam situasi ini. Maaf karena aku sangat lambat hingga tidak bisa segera menangkap Matt. Maaf karena aku terlambat menemukanmu. Dan maaf karena dengan menjadi istriku, kau akan berada dalam lebih banyak kesulitan di masa depan.”


Ratna tersenyum. Sebelah tangannya terangkat lalu menangkup pipi Freddy. “Aku memaafkanmu. Sebagai gantinya aku berterima kasih karena kau hadir dalam hidupku ketika semua tragedi ini menimpa diriku. Aku berterima kasih karena kau segera datang sebelum lelaki itu melakukan hal buruk yang sama seperti belasan tahun yang lalu. Terima kasih juga karena telah menjadikanku bagian dari keluargamu.”


Sebulir air mata mengalir di pipi Ratna. Freddy segera menghapusnya dengan ibu jarinya.


“Sama-sama.” Bisik Freddy lembut. “Jangan menangis lagi. Semua sudah berakhir sekarang.”


Mendadak Ratna mundur lalu berbalik memunggungi Freddy. “Tidak, belum. Aku ingin mencari kakakku dan memastikan dia tidak lagi bersama iblis itu.”


“Kakak? Maksudmu Rafka? Kau sudah mengingatnya?”


Ratna kembali menghadap Freddy. “Kau tahu tentang kakakku?”


Freddy meraih jemari Ratna, sedikit menariknya lalu kembali mendekap tubuh Ratna. “Banyak yang harus kau ceritakan padaku. Dan ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan padamu.”


Ratna mendongak menatap Freddy. “Jadi kau benar-benar tahu tentang kakakku?”


Freddy mengangguk.


“Aku hanya ingin tahu, apa sekarang dia baik-baik saja?”


“Sejauh yang kulihat dia tampak baik-baik saja.”


Ratna mendesah. “Dia memang seperti itu. Selalu tersenyum dan berusaha ceria walau hatinya terluka. Bisakah aku menemuinya?”


“Nanti. Setelah masalah yang berhubungan dengan Matt ini benar-benar tuntas, kita akan mulai memikirkan kakakmu.”


Ratna mengangguk lega.


Karena tidak ada lagi yang ingin dibahasnya, Ratna kembali menyurukkan wajah di dada Freddy, menikmati kehangatan yang menguar dari tubuh lelaki itu.


------------------------------

__ADS_1


♥ Aya Emily ♥


__ADS_2