
Rabu (08.07), 08 April 2020
Huaaaa.... epilog!
Terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan diri baca, vote, koment, dan like ♥.♥
Mungkin bagi kalian itu bukan hal besar. Tapi bagi seorang penulis itu sangat berharga.
**Peluk dan cium, semuuaaa...**
Oh ya, biasanya aku membedakan dialog secara langsung atau tidak langsung (telepon, suara dari jauh) dengan menggunakan tulisan miring. Atau ingatan juga, pakai tulisan miring. Tapi sayangnya saat dipindah ke sini, format tulisannya berubah semua. Jadi mungkin ada beberapa percakapan yang membuat kalian bingung karena tidak ada penanda. Terutama di part ini yang seharusnya banyak menggunakan huruf italic. Tapi semoga kalian tetap mengerti alurnya ^_^
Happy reading!!
------------------------
Sudah hampir satu jam Ratna menahan diri untuk tidak melirik cermin di hadapannya. Saat ini dirinya sedang duduk di depan meja rias dengan mata tertutup rapat dan membiarkan seorang penata rias berkutat dengan wajah dan rambutnya.
Walaupun resepsi pernikahan yang diadakan sejak pagi tadi cukup sederhana menurut versi keluarga Keegan, namun bagi Ratna masih terlalu mewah. Entah sudah berapa gaun yang dikenakannya sejak acara pengucapan janji suci pagi tadi.
Dan malam ini adalah puncak acara yang sangat ditunggu Ratna, hingga lelah yang melingkupi dirinya tidak lagi terasa.
Jantung Ratna kembali berdetak kencang ketika memikirkan malam ini. Jarinya saling bertaut di atas pangkuan. Perasaan panik, khawatir, antusias, dan bahagia berbaur menjadi satu. Dia antusias dan bahagia karena saat ini akan datang. Namun di sisi lain perasaan panik dan khawatir memenuhi dadanya.
“Kau sangat tegang, Sayang.” Suara lembut penata rias yang sedang berkutat dengan rambut Ratna terdengar. “Padahal tadi pagi kau tampak baik-baik saja. Apa kau khawatir dengan malam pertamamu?”
Ratna tahu wanita itu hanya menggodanya. Tapi tetap saja kalimat yang ia lontarkan membuat pipi Ratna merona malu.
“Bukan seperti itu.” Sangkal Ratna tanpa membuka mata.
Wanita itu terkikik. “Tidak perlu malu. Hampir semua wanita selalu merasa gugup dan tegang menjelang malam pertamanya. Itu wajar.”
Ratna hanya tersenyum kecil sebagai tanggapan. Tidak membantah maupun mengiyakan.
Selanjutnya ruangan itu kembali diliputi keheningan. Entah apa lagi yang dilakukan si penata rias pada rambutnya hingga membutuhkan waktu yang menurut Ratna sangat lama.
Mendadak ruangan itu menjadi hening. Bukan lagi keheningan seperti sebelumnya. Melainkan keheningan aneh seperti dirinya dibiarkan sendirian.
Dengan bingung Ratna mengangkat kelopak mata. Tatapan matanya langsung bertaut dengan mata abu-abu di dalam cermin. Dia tidak sempat mengagumi gaun maupun riasan wajahnya yang membuat dirinya tampak berbeda. Kekagumannya jelas ditujukan pada sosok yang kini berdiri di belakang tubuhnya dengan setelan tuksedo putih.
Freddy bergerak mendekat dengan senyum penuh kekaguman terpatri di bibirnya. Telapak tangan Freddy membelai salah satu bahu telanjang Ratna, menikmati kelembutannya.
Lelaki itu membungkuk lalu mensejajarkan bibirnya di samping telinga Ratna. “Istriku sangat cantik.” Bisiknya dengan merayu. “Aku jadi tidak sabar menunggu pesta segera selesai.”
Ratna berusaha menampilkan wajah kesal namun gagal karena bibirnya tidak bisa menahan senyum. “Apa hanya itu yang ada dalam pikiranmu seharian ini, Suamiku?”
“Senang sekali mendengarmu memanggilku seperti itu, Istriku.” Ucap Freddy dengan binar di matanya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup pundak telanjang Ratna.
“Hentikan! Kau bisa merusak riasanku.”
“Apa riasanmu lebih penting? Suamimu ini berhak merusaknya kapanpun.” Freddy berusaha menampilkan raut wajah tersinggung.
“Kau tentu boleh merusaknya, tapi nanti.” jelas Ratna dengan nada penuh arti. Ketika menyadari bahwa mereka hanya berdua dalam ruangan itu, Ratna mengerutkan kening sambil melirik sekeliling. “Lagi pula dimana penata riasku? Apa kau mengusirnya?”
“Iya. Kau sudah cukup cantik seperti itu.” Freddy mengangkat bahu acuh. “Aku sedang ingin berdua bersama istriku sebelum pesta dimulai.”
Ratna menelan ludah ketika melihat ekspresi Freddy berubah serius. “Apa ada yang tidak beres?”
“Kemarilah!” Ajak Freddy sambil meraih jemari Ratna lalu menuntunnya ke tepi ranjang.
Ruangan yang saat ini sedang digunakan sebagai tempat rias pengantin adalah kamar Ratna di rumah Freddy. Prosesi pernikahan sejak pagi tadi memang diadakan di rumah Freddy—yang kini juga sudah menjadi rumah Ratna—untuk memberi kesan sederhana walau dekorasi serta hidangan tidak bisa dibilang sederhana menurut Ratna.
Begitu Ratna duduk, Freddy menggenggam jemari Ratna kuat. “Bagaimana perasaanmu sekarang?”
Ratna menggigit bibir dengan gugup. Tanpa bertanya dia mengerti ke arah mana pembicaraan Freddy.
"Gugup, khawatir, senang." ucap Ratna pelan.
"Aku mengerti." Freddy membelai punggung tangan Ratna untuk menenangkan. "Tapi apapun yang terjadi, kau harus ingat tidak boleh..."
"Melakukan interaksi apapun. Berpura-pura dia bukan orang penting dan tidak kenal." Ratna menyelesaikan penjelasan Freddy yang sudah di ulang berkali-kali sejak rencana ini terbentuk. "Aku sudah hafal bagaimana peranku."
"Mengucapkannya memang mudah. Tapi pasti sangat sulit untuk melaksanakannya."
Ratna mengangguk lemah. Hanya memikirkan pertemuan yang amat dinantikannya ini saja sudah membuat matanya berkaca-kaca. "Aku pasti akan menangis." jawabnya serak.
"Kebanyakan pengantin wanita akan menangis di hari pernikahannya. Jadi kau boleh menangis sepuasnya." Freddy menaikturunkan alisnya untuk menggoda Ratna.
"Aku serius, tapi kau malah bercanda." Ratna memukul bahu Freddy dengan kesal.
Freddy terkekeh lalu menarik bahu Ratna agar mendekat. Sebuah kecupan singkat mendarat di pelipis Ratna. "Ini akan menjadi reuni keluarga yang berat bagimu." Mendadak Freddy melepaskan Ratna lalu berdiri sambil mengulurkan tangan. "Jadi, apa kau siap untuk berpesta sekarang?"
Ratna menarik nafas panjang beberapa kali lalu mendongak menatap Freddy dengan senyum merekah. Begitu jemari mereka bertaut, Freddy membungkuk lalu mengecup sekilas bibir Ratna.
***
Pesta itu tampak seperti pesta-pesta pada umumnya. Tema pesta yang digunakan adalah garden party, membuat halaman rumah Freddy disulap menjadi lokasi pesta yang indah.
Nyaris tidak ada yang mengenakan gaun mewah buatan perancang terkenal. Hidangan yang disajikan pun merupakan makanan tradisional. Semua itu dilakukan untuk membangun kesan pesta sederhana versi keluarga Keegan.
Musik mengalun lembut. Beberapa orang terlihat membentuk kelompok-kelompok kecil. Beberapa yang lain menghabiskan waktu dengan berdansa atau menikmati hidangan.
Tentu saja tidak ada yang aneh dari semua itu. Namun siapa yang menyangka bahwa dibalik dekorasi cantik di halaman itu terdapat banyak kamera pengawas. Dan siapa yang menyangka hampir semua tamu undangan merupakan personil polisi maupun rekan-rekan kepercayaan Freddy.
Perhatian para tamu mendadak tertuju ke pintu masuk rumah dimana pasangan yang menjadi raja dan ratu dalam pesta itu berdiri. Keduanya mengenakan pakaian serba putih, membuat keberadaan mereka begitu menonjol karena para tamu memang telah dihimbau untuk mengenakan pakaian gelap.
Jemari Ratna memegang erat lengan Freddy dengan gugup karena dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang yang bisa dibilang asing baginya. Namun mengejutkan dirinya sendiri, Ratna masih bisa tersenyum lembut dengan wajah berbinar bahagia.
Mungkin karena kebahagiaan yang dirasakannya bukanlah rekayasa. Memiliki suami tampan yang mencintainya dan bisa menjadi bagian dari sebuah keluarga yang hangat tentu merupakan impian bagi Ratna. Dan kebahagiaannya akan semakin lengkap dengan kedatangan seseorang yang begitu penting dan berarti. Orang yang selalu melindunginya dalam diam dari jauh. Orang yang selalu menahan penderitaan demi kebahagiaannya. Walau sebentar, kini Ratna memiliki kesempatan untuk melihat orang itu dari dekat.
Kakaknya, Rafka.
Jemari Freddy membelai punggung tangan Ratna di lengannya ketika mereka berjalan di antara para tamu. Lelaki itu tersenyum lembut menenangkan. Ratna membalas senyuman itu lalu menatap sekeliling untuk mencari sosok yang mungkin familiar baginya.
“Kau benar-benar tidak mengundang Mama dan Papa.” Bisik Ratna dengan kesal. “Bahkan Gabe dan Nindy juga tidak.”
“Mereka bisa menggagalkan semua rencana. Aku tidak mau mengambil resiko.” Jelas Freddy juga dengan berbisik. “Lagi pula ini hanya pesta rekayasa. Apakah pesta pernikahan kita dua minggu yang lalu masih kurang bagimu?”
Pipi Ratna merona mendengar nada menggoda Freddy. Ya, benar. Keseluruhan prosesi pernikahan ini sejak pagi tadi merupakan rekayasa. Tentu saja tidak semua orang yang terlibat tahu tentang tujuan sebenarnya pesta itu. Sedangkan pesta pernikahan mereka yang sebenarnya sudah dilakukan dua minggu lalu di salah satu pulau paling eksotis.
Memikirkan pesta kali ini membuat Ratna tidak bisa menahan tawa geli. Hanya demi membodohi satu orang, para polisi ini sampai merencanakan rekayasa besar yang melibatkan banyak orang dan uang.
“Coba katakan dengan jujur,” mendadak Ratna berucap membuat Freddy mengangkat salah satu alis penasaran. “Apa sebenarnya tujuan pesta ini? Tidak mungkin kalian menghabiskan banyak uang negara hanya karena alasan tugas penyamaran.” Ratna merendahkan nada suaranya agar hanya Freddy yang dengar.
Freddy menyeringai jahil. “Sama sekali tidak ada uang negara yang terlibat. Aku hanya sedang menghabiskan bagian warisanku di Keegan Corp.”
__ADS_1
“Dan kapan lagi seluruh personil polisi bisa berkumpul dan bersenang-senang seperti ini?”
Kedua pasangan itu menoleh pada orang yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat mereka. Ratna mengenalnya sebagai Iptu Noval, salah satu orang kepercayaan Freddy di kepolisian.
“Siapa yang memberimu izin mengganggu obrolan kami?” Freddy melotot kesal pada Iptu Noval.
Iptu Noval hanya berdecak malas. “Baiklah, aku tidak akan mengganggu lagi. Mentang-mentang pengantin baru.” Lelaki itu menggerutu seraya pergi.
Ratna berbalik menatap Freddy lalu memukul bahu lelaki itu dengan kesal. “Kenapa kau bicara seperti itu? Dia jadi tersinggung karena ucapanmu.”
“Sama sekali tidak, Istriku. Iptu Noval memang bermaksud pergi untuk mendekati polwan bergaun ungu di sana.” Jelas Freddy sambil mengedikkan dagu ke tempat orang yang dia maksud berada. “Dia pergi bukan karena tersinggung.”
Ratna membalikkan tubuh untuk melihat arah yang dimaksud Freddy. Dia masih mencari-cari ketika pandangannya menyapu pintu pagar yang membatasi halaman rumah dengan trotoar yang sekarang dijadikan tempat parkir mobil para tamu. Seketika tubuh Ratna menegang dengan pandangan terpaku pada seseorang yang baru saja memasuki halaman.
Beruntung logika Ratna segera mengambil alih sebelum orang itu menyadari bahwa Ratna sedang memperhatikannya. Dengan air mata mengambang penuh haru dan bahagia yang membuncah, Ratna kembali berbalik menghadap Freddy lalu menenggelamkan wajahnya di bahu lelaki itu.
“Dia datang.” Bisik Ratna dengan suara tertahan. “Kak Rafka sudah datang.”
***
Freddy menyentuh dagu Ratna lalu mendongakkan wajah wanita itu agar menatap dirinya. Wajah dan pipi Ratna basah karena air mata.
“Untung saja riasanmu tidak luntur. Aku tidak mau istriku terlihat seperti topeng monyet di pesta pernikahan kita.” Gumam Freddy sambil menghapus air mata Ratna yang kembali bergulir dengan ibu jarinya.
“Kau sungguh menyebalkan, suamiku. Aku sedang sedih, tapi kau malah menghinaku.”gerutu Ratna kesal.
Freddy nyengir tanpa rasa bersalah. Dia ingin menggoda Ratna kembali namun sesuatu dalam kalimat istrinya menarik perhatian Freddy. “Jadi, itu yang kau rasakan sekarang? Sedih? Kupikir kau akan bahagia karena bisa berjumpa kakakmu kembali setelah bertahun-tahun, Darl.”
“Tentu saja aku bahagia. Namun perasaan sedih tetap menggayuti hatiku. Walau dia berada sangat dekat dalam jangkauanku, aku tetap tidak bisa berbicara dan menyentuhnya. Bahkan aku harus berpura-pura tidak mengenalnya.” Ratna menghela nafas dengan sedih. “Pertemuan ini jadi lebih seperti mimpi daripada kenyataan.”
Freddy menarik Ratna agar tenggelam dalam dekapannya. “Sudah kuduga ini sangat sulit untukmu. Tapi kau harus bisa bertahan.”
Ratna hanya menganggukkan kepalanya yang masih bersandar di dada Freddy.
Melalui ekor matanya, Freddy bisa melihat betapa tajam kakak iparnya itu menatap dirinya dari kejauhan. Pasti lelaki itu belum mempercayai Freddy sepenuhnya untuk menjaga adik yang sangat disayanginya.
Seseorang menghampiri mereka sambil membawa segelas sampanye di tangannya. Minuman mahal itu terlihat sangat kontras ketika dihidangkan bersama makanan tradisional, tapi anehnya malah terlihat unik dan menggelitik rasa penasaran.
“Apa berpelukan dalam waktu lama masuk dalam agenda kita?” tegur Toni pelan agar orang lain di sekitar mereka tidak mendengar seraya mengangsurkan sampanye di tangannya pada Freddy.
Ratna segera mundur menjauh dengan pipi memerah malu karena mendapat teguran halus dari Komandan Toni. Namun tubuhnya tetap menempel pada Freddy karena lelaki itu menahan bahu Ratna dengan sebelah tangan.
“Kami baru saja menikah dan pesta ini adalah pesta pernikahan kami, kalau kau lupa. Jadi kami berhak melakukan apapun termasuk berpelukan dan berciuman di pesta ini.”
“Dua minggu bulan madu masih kurang untukmu.” Cibir Toni kesal.
“Seharusnya kau datang ke sini bersama istrimu. Dengan begitu kau tidak punya waktu untuk mengganggu orang lain.”
Sebuah cubitan mendarat di pinggang Freddy hingga lelaki itu meringis. Dia menoleh menatap Ratna dengan pandangan bertanya.
“Kenapa?”
“Dari tadi kau bersikap menyebalkan.”
Mendadak Toni meraih tangan Ratna lalu menggenggamnya erat. “Aku jadi prihatin padamu, Nyonya Ratna Keegan. Kau harus bertahan setiap hari bersama manusia menyebalkan satu ini.”
Dengan kesal Freddy menjauhkan tangan Toni dari Ratna. “Jangan sentuh istriku!” geramnya. “Kau pasti sengaja mencari kesempatan. Akan kulaporkan pada istrimu!”
“Kau—”
Target utama mereka sudah datang.
***
Wanita itu bergerak dengan anggun. Penampilannya tanpa cela. Gaun hitam yang menjuntai hingga mata kaki membuatnya begitu elegan dan berkelas.
Tidak heran beberapa pasang mata berkali-kali mencuri pandang ke arahnya. Bahkan beberapa tidak menyembunyikan tatapan mereka pada wanita itu.
“Nyonya Maya, Rafka dan Alan berada di meja sudut sebelah timur.” Bisik pria kekar yang mendampingi wanita bernama Maya itu.
“Aku juga melihatnya.” Sahut wanita itu. Lalu pandangannya beralih ke tempat lain dimana kedua mempelai sedang berbincang akrab dengan tamu-tamunya. Sudut bibirnya terangkat dengan sinis. “Tetap awasi mereka berdua.”
Pria itu mengangguk. Namun dia tidak beranjak. Terlihat hendak mengatakan sesuatu tapi ragu.
“Apa lagi?” tanya wanita itu tanpa menatap pria di sampingnya.
“Saya pikir kedatangan Anda ke sini tidak ingin diketahui. Tapi penampilan Anda sangat mencolok.”
Maya tersenyum malas seraya menoleh menatap pengawalnya itu. “Aku hanya tidak ingin Rafka dan Alan mengetahui bahwa aku berada di sini. Selain itu, aku malah berharap kedua mempelai menyambut kedatanganku. Terutama mempelai wanita.”
Pria di samping Maya hanya mengerutkan kening dengan heran, tapi memilih tidak bertanya lebih lanjut. Dia termasuk pengawal baru sehingga tidak tahu dengan jelas hubungan Rafka dan Maya. “Baiklah. Saya akan mengawasi Rafka dan Alan sekarang.”
Maya hanya mengangguk menanggapi. Perhatiannya kembali tercurah pada sepasang pria dan wanita yang baru saja resmi menjadi suami istri itu.
Sepeninggal pengawalnya, Maya bergerak semakin mendekati kedua mempelai. Dia sengaja berdiri dalam jangkauan pandang mereka. Sudah lama dia tidak melihat secara langsung putri kandungnya itu. Mau tidak mau dia mengakui bahwa gadis kecil yang amat dibencinya kini telah menjadi wanita yang cantik.
Cukup lama Maya diam menunggu Ratna melihatnya. Kalau ingatan Ratna memang belum kembali, harusnya wanita itu menatap dirinya meski cuma sekilas mengingat penampilannya yang mencolok.
Dan akhirnya saat yang ditunggu Maya tiba. Pandangan Ratna menyapu dirinya sekilas, tapi mendadak putrinya itu menatap kembali dirinya. Maya menyipitkan mata mempelajari ekspresi wajah Ratna. Apakah wanita itu mengenali dirinya.
Namun yang didapat Maya hanya raut penasaran, seperti ekspresi sebagian besar tamu undangan itu ketika menatap dirinya.
Ada perasaan kesal di hati Maya saat menyadari Ratna belum mengingat dirinya. Seharusnya wanita itu ingat agar Maya bisa lebih mudah menyebar teror dalam hatinya. Lalu seperti biasa, Rafka akan melakukan apapun demi melindungi adik kesayangannya itu. Tapi kenyataannya dia tidak seberuntung itu sekarang. Malah ruang geraknya untuk memanfaatkan Ratna demi menahan Rafka semakin sulit karena suami Ratna yang seorang polisi. Lelaki itu bisa menjadi rintangan yang sangat merepotkan baginya.
Perhatian Maya teralih dari Ratna yang kini sedang berbisik-bisik dengan suaminya sambil sesekali menatap dirinya. Mungkin wanita itu menanyakan tentang Maya pada suaminya.
“...tetap saja pesta ini menghabiskan uang yang tidak sedikit.”
Maya mencoba memperhatikan pembicaraan dua pria bertubuh atletis yang hanya berjarak dua langkah darinya. Dugaan Maya kedua orang itu merupakan polisi rekan suami Ratna.
“Lalu kenapa?” sahut pria yang sedang menyesap sampanye dengan nikmat.
“Noval, kau tidak memperhatikan ucapanku.” Gerutu pria yang sedang berbicara dengan wajah serius. “Coba kau pikir, darimana Komandan Freddy mendapat uang sebanyak ini untuk pesta pernikahannya. Bukan rahasia lagi bahwa dia memiliki banyak utang di kantor, bahkan juga pada rekan-rekannya.” Mendadak lelaki itu menatap rekannya yang dipanggil Noval dengan menilai. “Dan kalau tidak salah, dia berhutang padamu juga.”
Noval menatap pria di sampingnya itu dengan kesal. “Lalu apa urusannya denganmu? Kita semua tahu bahwa komandan Freddy sedang mengalami masa yang sulit. Jangan bilang kau lupa musibah apa yang menimpa orang tua dan adiknya. Sejak saat itu Komandan Freddy harus berjuang seorang diri. Sudah sepatutnya kita membantunya. Bukannya seperti dirimu malah menggali-gali kesalahan.”
“Aku tidak bermaksud seperti itu. Kau benar kita memang harus membantunya. Tapi apa tidak aneh di saat kondisinya yang terlilit hutang, Komandan Freddy masih bisa membuat pesta pernikahan untuk istrinya.”
“Lama-kelamaan aku bosan berbicara dengan orang picik seperti dirimu.” Geram Noval lalu berjalan pergi.
Pria yang sedari tadi menjadi lawan bicara Noval hanya berdecak malas, lalu turut berlalu ke arah yang berlawanan dengan kepergian Noval.
Maya memperhatikan semua itu dengan ketertarikan yang tidak disembunyikan dari sorot matanya. Selama beberapa saat wanita itu masih diam di tempatnya, mencoba mencuri dengar pembicaraan lain yang berhubungan dengan tuan rumah.
Sudut bibir Maya terangkat. Kegembiraan memenuhi dirinya. Pembicaraan lain tentang tuan rumah kurang lebih sama. Komandan Freddy yang kini menikahi Ratna sedang terlilit utang.
__ADS_1
Rupanya Maya tidak perlu bersusah payah mencari cara agar polisi itu tidak mengganggu rencananya yang berhubungan dengan Rafka dan Ratna. Bahkan kalau Maya bisa membawa lelaki itu masuk ke dalam lingkungannya, dia jadi punya senjata lain untuk mencengkeram kakak beradik itu sekaligus.
***
Freddy sedikit menarik siku Ratna agar wanita itu menatap dirinya. “Jangan menatap wanita itu. Dia bisa curiga bahwa kau mengenalinya.” Ucap Freddy mengingatkan.
“Kau tidak lihat penampilannya yang mencolok begitu. Akan terlihat aneh kalau kita tidak memperhatikannya.” Jelas Ratna.
Freddy melirik sekilas pada wanita bergaun hitam yang merupakan ibu mertuanya itu lalu kembali menatap Ratna. “Kau benar. Tapi apa kau baik-baik saja? Aku bisa merasakan tubuhmu menegang ketika membalas tatapan wanita itu.” Ada nada tidak suka dalam suara Freddy.
“Mungkin itu refleks tubuhku ketika beradu pandang dengan orang yang menjadi mimpi burukku di masa kecil. Selebihnya aku baik-baik saja.”
Selama beberapa detik Freddy masih mengamati wajah Ratna untuk memastikan. “Baiklah kalau itu yang kau rasakan. Permainan sudah dimulai. Setelah ini aku harus meninggalkan dirimu sebentar.”
Ratna mengangguk dengan seulas senyum di bibir untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Rangkulan Freddy di pinggangnya semakin erat ketika mereka kembali tenggelam dalam percakapan di sekelilingnya.
Mereka sudah berpindah di antara para tamu yang sedang mengobrol dalam kelompok-kelompok kecil sebanyak dua kali. Tentu saja mereka menyadari tatapan menyelidik dari Maya di setiap gerakan mereka.
“Komandan Freddy, ada telepon untuk Anda.”
Seorang lelaki yang terlihat masih muda dan bertubuh sedikit lebih tinggi dari Freddy menghampiri mereka sambil menyerahkan smartphone.
“Sudah kubilang tidak perlu bersikap formal padaku di luar kantor.” Entah sudah berapa kali Freddy menjelaskan pada lelaki itu yang kini menjadi anggota tim penyidik yang dipimpin dirinya.
“Saya tidak nyaman melakukannya.” Sahut lelaki itu. Dia segera menjauh setelah Freddy menerima smartphonenya.
“Halo,”
Hanya satu kata itu yang baru Freddy ucapkan. Mendadak ketegangan tampak menyelimuti dirinya. Dia terlihat menelan ludah beberapa kali dengan smartphone masih menempel di telinga. Sesekali dia melirik Ratna dan orang-orang di sekitarnya untuk memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraannya.
“Istriku, aku pergi sebentar. Di sini terlalu bising untuk menerima telepon.”
Ratna menatap Freddy lalu mengangguk tanpa curiga. Secepat yang dia mampu, Freddy langsung melesat di antara kerumunan mencari tempat yang cukup aman untuk berbicara.
“Kenapa kau menelepon sekarang?”
“Bukankah kau yang menyuruhku untuk segera telepon jika menerima misscall darimu.”
Freddy menyusurkan jemarinya di antara helai rambut. Terlihat jelas dia sangat frustasi. “Aku sudah memberitahumu bahwa sekarang adalah hari pernikahanku. Jadi kumohon, beri aku waktu.”
“Dan dengan seenaknya kau melarang adikmu ini untuk datang ke pestamu. Lihat saja pembalasan dariku!”
“Besok?”
“Besok? Kau mau aku membalasmu besok? Apa kau sedang menantangku, Kakak? Kau pikir aku tidak berani?”
“Mana mungkin aku mendapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat.”
“Uang? Kau akan memberiku uang sebagai ganti rugi karena tidak mengundangku?”
“Bukan begitu maksudku.”
“Lalu apa?”
“Tiga bulan. Beri aku waktu selama tiga bulan untuk membayar hutangku itu.” Suara Freddy memelas.
“Hah? Hutang? Kakak, sejak kapan kau memiliki hutang?”
“Nanti—” ucapan Freddy terhenti ketika adiknya terdengar berbicara dengan orang lain.
“Aku juga tidak tahu apa yang sekarang sedang dilakukan kak Freddy, Pa.”
“Kalau kau menginginkan besok tidak masalah. Akan kuusahakan.” Kali ini raut panik di wajah Freddy bukan lagi rekayasa. Dirinya tidak menyangka bahwa Gabriel sedang bersama papanya.
“Hei kak, Papa ingin berbicara denganmu.”
Freddy menghembuskan nafas frustasi—kali ini nyata—ketika menunggu papanya berbicara.
“Tadi kau berbicara tentang hutang pada Gabriel. Hutang apa maksudmu?”
“Dengar, bagaimana kalau besok aku menemuimu untuk membicarakan hal ini lebih lanjut. Aku tidak bisa meninggalkan pesta lebih lama.”
“Son, apa kau benar-benar terlilit hutang?”
“Akan kujelaskan semuanya besok.”
“Dasar anak nakal! Apa yang kau lakukan sampai terlibat hutang, hah? Papamu ini masih sanggup membiayaimu tanpa kau perlu berhutang sana sini. Pokoknya besok kau harus pulang!”
Freddy meringis sambil menjauhkan smartphone dari telinganya. Dia jadi menyesal sudah melibatkan Gabriel dalam rencananya. Atau mungkin dia menyesal karena tidak memberitahu peran yang seharusnya dimainkan Gabriel.
“Sepertinya kau terlibat masalah yang cukup serius di hari pernikahanmu.”
Suara halus itu menarik Freddy dari lamunan. Perlahan dia menoleh dan berusaha menahan diri agar tidak melompat gembira karena umpannya telah disambar ikan buruannya.
“Ah, tidak. Hanya masalah kecil.” Freddy berusaha mengelak. “Selamat datang di pesta ini dan silahkan bersenang-senang.”
Freddy berjalan hendak melewati Maya tapi mendadak wanita itu menahan lengannya.
“Maafkan kalau aku tanpa sengaja mendengar pembicaraanmu. Tapi aku bisa membantumu keluar dari kesulitan yang sedang kau hadapi. Bahkan kalau kau mau, malam ini juga aku bisa memberimu uang untuk melunasi hutangmu.”
Freddy memperhatikan Maya dengan sorot penasaran. “Sebenarnya Anda siapa? Saya yakin tidak mengenal Anda, dan sepertinya istri saya juga. Apa Anda datang ke sini tanpa di undang?”
Maya tertawa kecil sambil menyentuh dadanya untuk memberi penekanan pada kalimatnya. “Kau menyinggung perasaanku. Aku memang tidak diundang. Tapi aku datang bersama salah satu orang yang kau undang. Apa itu sebuah kejahatan, Pak Polisi?”
Freddy tersenyum lalu menggeleng pelan. “Tentu saja tidak. Kalau boleh saya tahu, Anda siapa?”
“Aku Maya. Untuk sekarang hanya itu yang bisa kukatakan. Selebihnya tergantung jawabanmu. Apa kau mengijinkan aku membantumu?” Maya mengulurkan tangannya.
“Kenapa Anda mau membantuku?”
“Karena aku juga membutuhkan bantuanmu, sebagai seorang polisi.”
Cukup lama Freddy menatap tangan Maya yang terulur lalu akhirnya dia menerima uluran tangan itu.
Maya tersenyum lebar. “Kuharap kita bisa saling menguntungkan di masa depan, Komandan Freddy.”
“Kuharap juga begitu, Maya.”
END
---------------------------
Sampai jumpa di cerita2 yang lain 🤗🤗
♥ Aya Emily ♥
__ADS_1