
Jumat (08.44), 03 April 2020
------------------------
“Kalau begitu, ada kemungkinan pelaku memiliki hubungan dengan Ratna dan Papa tapi mereka sama-sama tidak menyadarinya.”
Dia bergerak gelisah dalam tidurnya.
“Entah kenapa perasaan ini selalu muncul ketika aku bertemu dengan lelaki yang kau panggil uncle Max itu. Aku seperti dipenuhi teror.”
Dia mengubah posisi tidur untuk menghentikan suara-suara yang mengganggu mimpi indahnya.
“Bagaimana Uncle Max bisa tahu kendaraan Ratna dan dimana ruangannya?”
“Kau sudah kuanggap seperti putraku, dan Ratna adalah kekasihmu. Kurasa wajar kalau aku memperhatikannya.”
Mendadak mata Freddy terbuka. Nafasnya terengah-engah karena suara-suara yang mengganggu tidurnya. Dia tercekat. Matanya tertuju pada langit-langit kamar.
Perlahan Freddy mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Dia menoleh pada jam digital di atas nakas. Baru jam satu dinihari. Namun matanya tidak lagi bisa terpejam.
Lelaki itu membuka selimut lalu turun dari ranjang. Dia menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Tidak ada gunanya memaksa diri untuk kembali tidur. Setelahnya dia menuju dapur. Secangkir kopi kental sangat pas untuk menemani sisa waktunya hingga matahari terbit nanti. Ini mengingatkan Freddy pada malam-malam panjangnya ketika sedang menangani kasus pelik. Dia pasti tidak sanggup tertidur lebih dari tiga jam.
Dengan cangkir kopi panas di tangannya, Freddy menuju sofa di depan balkon. Dia membuka tirai dan pintu kaca untuk membiarkan angin dingin masuk. Udara pagi yang segar serasa mendinginkan otaknya.
Freddy menghempaskan tubuh di sofa panjang yang menghadap balkon. Pemandangan langit malam menjernihkan pikirannya. Sesekali jemarinya memijit belakang lehernya yang terasa pegal. Pikirannya melayang pada kejadian bertahun-tahun yang lalu.
“Kita mau kemana, Pa?” tanya Freddy yang masih berusia tujuh belas tahun. Disampingnya, Gabriel yang lebih muda tiga tahun darinya tampak cuek, sibuk dengan game di gadgetnya
“Pergi sejauh mungkin dari kota ini.” Jelas Jeremy dari balik kemudi mobil yang keluarga itu kendarai menembus gelapnya malam. Walaupun suaranya pelan, tapi semua orang dalam mobil itu menyadari kemarahan dalam suara Jeremy.
Setelah itu tidak ada lagi yang berani berbicara, hingga suara ponsel Jeremy memecah keheningan. Dengan tangan kanan yang masih sibuk di atas kemudi, Jeremy merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel.
Begitu melihat caller id, Jeremy langsung membanting ponselnya ke dashboard. Untung tidak cukup kuat hingga tidak terjadi kerusakan. Tapi suara keras ponsel yang menghantam dashboard, membuat semua orang dalam mobil itu terlonjak, termasuk Gabriel.
Fransisca yang duduk di kursi depan samping Jeremy melirik ke ponsel yang terus berdering dengan layar menghadap ke atas.
“Apa ini ada hubungannya dengan Max?” tanya Fransisca lembut.
Uncle Max? Pikir Freddy. Dia tahu betapa dekat papanya dengan uncle Max. Dia bahkan tidak pernah melihat mereka bersilang pendapat. Papanya sudah menganggap uncle Max seperti adiknya sendiri. Begitupun uncle Max yang sudah menganggap papanya seperti seorang kakak. Freddy sangat menyukainya karena sering sekali uncle Max membelanya jika kenakalannya masih bisa dimaklumi. Kalau sudah di luar batas toleransi, bahkan uncle Max bisa lebih galak dari papanya. Tapi sekarang, apa mereka bertengkar?
“Bajingan itu! Kupikir aku mengenalnya. Tapi ternyata—”
Fransisca membelai lengan suaminya berusaha menenangkan. “Tolong jangan mengumpat di depan anak-anak.”
Jeremy mengusap wajahnya dengan kasar. Freddy tidak pernah melihat raut kecewa dan putus asa yang kental memenuhi wajah papanya seperti sekarang.
“Maafkan aku.” Akhirnya Jeremy bisa berkata lebih lembut. Jemarinya menggenggam tangan Fransisca untuk mencari ketenangan yang ditawarkan istrinya.
“Dia pasti sudah sangat melukai hatimu hingga kau seperti ini.”
“Sangat.” Sahut Jeremy lemah. “Tapi aku tidak bisa menceritakannya padamu sekarang. Mungkin lain kali.”
Fransisca mengangguk mengerti.
Freddy hanya berpikir papanya tidak bisa bercerita karena ada dirinya dan Gabriel di sana. Berarti masalah yang dihadapi papanya dianggap tidak pantas untuk diketahui remaja seperti Freddy dan Gabriel.
Sejak saat itu, Freddy tidak pernah lagi berjumpa uncle Max. Dia juga tidak pernah mengingat lagi percakapan itu hingga kini. Pertemuan pertamanya dengan uncle Max di pesta kantor M&B Group dianggapnya sebagai suatu takdir baik. Tapi kenapa sekarang semua bukti dan informasi di benak Freddy seolah menunjuk bahwa uncle Max adalah tersangka yang selama ini diburunya?
Tentunya dia tidak boleh gegabah. Dia harus menunggu untuk mendengar keterangan dari papanya. Kalau keterangan papanya ternyata semakin memperkuat semua bukti, berarti tidak ada pilihan lain selain menangkap uncle Max.
“Tidak bisa tidur?”
Freddy berbalik menatap wanita yang sedang berdiri di belakang sofa. Seulas senyum tersungging di bibirnya. “Kau tidak mengijinkanku tidur bersamamu. Aku jadi tidak bisa tidur nyenyak.” Gerutu Freddy
Ratna berdecak lalu meninggalkan Freddy. Lelaki itu hanya tersenyum tipis melihat wanitanya turun ke lantai satu sambil menghentakkan kaki. “Kalau kau jalan seperti itu, bisa-bisa kau jatuh dari tangga!” Freddy memberi peringatan dengan suara sedikit keras.
Tidak ada sahutan.
Senyum Freddy semakin lebar. Hanya dengan menggoda wanitanya hati Freddy merasa tenang. Lelaki itu menggeliat sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Berapa lama dia duduk diam dalam posisi itu? Satu jam? Dua jam?
__ADS_1
Tangannya terulur meraih kopi yang baru diminum setengah di atas meja. Sudah dingin. Ternyata pikirannya yang melantur membuat Freddy kehilangan orientasi waktu.
“Sudah berapa lama kau duduk di sini?”
Freddy tersentak ketika Ratna tiba-tiba bertanya. Kapan wanita itu datang? Apa dia tadi melamun?
Ratna meletakkan susu hangat di meja lalu duduk di sofa panjang samping Freddy. Mata hitamnya menatap lekat mata abu-abu itu. “Kau jadi sering melamun akhir-akhir ini.”
“Benarkah? Aku bahkan tidak menyadarinya.”
Ratna memposisikan dirinya di sudut sofa lalu meletakkan bantal sofa di atas pangkuannya. Tangannya menepuk bantal, memberi isyarat agar Freddy rebah di pangkuannya.
Freddy tersenyum tipis. Perlahan dia meletakkan kepalanya di pangkuan Ratna. Kaki panjangnya terjulur hingga terjuntai di tepi sofa.
“Mau berbagi cerita denganku?” jemari Ratna membelai lembut rambut Freddy.
“Hanya memikirkan kasus.”
“Apa itu kasus yang menimpa diriku?”
Lelaki itu mengangguk.
“Apa ada yang bisa kubantu?”
Freddy meraih tangan Ratna yang tidak sedang membelai rambutnya. Digenggamnya tangan itu, lalu memberi kecupan lembut yang lama. “Pernahkah kau berpikir untuk mengingat masa lalumu?”
“Sering. Tapi tiap aku mencoba, ada rasa takut yang menyelubungi hatiku. Itu sebabnya aku menyerah sebelum berusaha lebih keras. Apa sekarang hal itu penting? Apa dengan aku mengingatnya kasus ini bisa terungakap?”
Freddy terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Kurasa iya. Tapi aku tidak mau memaksamu.”
“Akan kucoba.” Ratna menunduk dan mengagetkan Freddy dengan memberi ciuman lembut di kening lelaki itu.
“Menyingkir dari situ!” perintah Freddy dengan suara serak setelah Ratna menegakkan tubuhnya.
Ratna mengernyit bingung menatap Freddy. “Apa maksudmu?”
“Kau mengusirku?” tanya Ratna jengkel namun mengikuti perintah Freddy.
Setelah Ratna turun dari sofa, Freddy meletakkan bantal di tempat tadi Ratna duduk lalu bergeser merebahkan kepalanya dengan nyaman di bantal.
“Tidurlah di dadaku. Aku ingin tidur sambil memelukmu.”
Ratna tidak bisa menahan senyumnya. Dia menerima tangan Freddy yang terulur lalu menautkan jemari mereka. Perlahan dia merebahkan diri di atas tubuh lelaki itu. Itu bukan posisi yang nyaman. Tapi kehangatan yang melingkupi dirinya ketika Freddy mendekap tubuh Ratna sungguh menenangkan dan membuatnya merasa dicintai.
***
“Hai, Ma.” Sapa Freddy sambil mengecup pipi mamanya.
“Hai, Sayang. Dimana Ratna?”
“Di kantor. Baru saja aku mengantarnya.” Freddy beralih pada lelaki yang sedang bersandar di kepala ranjang rumah sakit. “Hai, Pa. Bagaimana kondisi Papa hari ini?” Freddy juga mengecup pipi papanya.
“Apa yang sedang kau bicarakan, Son? Papa hanya mengalami luka goresan. Gabriel saja yang berlebihan mentang-mentang dia seorang dokter.” Gerutu Jeremy.
Fransisca mendesah. “Mama sudah tidak sanggup lagi mendengar gerutuannya. Sayang, bisakah kau tetap di sini dulu sampai Mama kembali? Mama mau pulang sebentar.”
“Tentu, Ma. Tapi Mama tidak pulang sendirian, kan?”
“Pak Rahman sudah menunggu di tempat parkir.”
“Kalau begitu hati-hati di jalan, Ma.” Freddy kembali mengecup pipi mamanya.
Setelah Fransisca keluar, Freddy duduk di kursi samping ranjang yang tadi ditempati mamanya. Lelaki itu terdiam cukup lama, tidak tahu harus mulai dari mana.
“Apa yang ingin kau tanyakan, Son? Kalau Papa bisa menjawabnya, pasti Papa jawab.”
Freddy menghela nafas panjang. “Apa yang sebenarnya terjadi antara Papa dan uncle Max?”
Jeremy tidak menyangka Freddy akan menanyakan hal itu. Dia pikir Freddy akan kembali mengungkit tentang kecelakaan. Jadi dia harus menjawab apa sekarang? Apakah baik jika Jeremy langsung menceritakan tentang foto-foto itu?
__ADS_1
“Kenapa mendadak menanyakan hal itu? Papa pikir kau akan bertanya sesuatu yang berkaitan dengan kecelakaan yang menimpa Papa.”
Freddy menatap mata abu-abu yang serupa dengan miliknya. “Baiklah. Kita bahas hal itu nanti. Sekarang tolong jawab dengan jujur. Apakah Papa sempat bersitegang dengan uncle Max baru-baru ini?”
Jeremy mengangguk.
“Apa masalahnya?”
“Masalahnya masih sama. Karena pertengkaran di masa lalu.”
“Ceritakan padaku!”
Jeremy mendesah. Dia tidak bisa mengelak lagi. Inilah saatnya. “Kau masih ingat cerita tentang Aunty Jessie?”
Freddy mengangguk. Grandpanya pernah menceritakan hal itu hingga insiden pembunuhan yang dilakukan papanya.
“Setelah kejadian itu, Papa sangat membenci pemerkosa.” Lanjut Jeremy. “Lalu Papa yang masih diliputi luka akibat kehilangan Jessie bertemu dengan Max. Dia seperti obat yang menyembuhkan luka di hati Papa. Akhirnya kami berteman. Papa menganggap dirinya seperti adik. Papa menyayanginya seperti menyayangi Jessie.
“Hingga suatu ketika, Papa menemukan tumpukan foto di laci kamar apartemennya. Tidak perlu Papa jelaskan secara detail foto-foto tersebut. Intinya itu adalah foto pelecehen terhadap wanita.” Jeremy terdiam. Kerongkongannya tercekat. “Lalu Papa melihat foto itu. Seorang gadis yang kira-kira seusia Jessie ketika meninggal. Tanpa sengaja melihat foto itu saja Papa sudah merasa mual. Apalagi setelah melihat gadis itu—seolah Jessie yang sedang dilecehkan—seperti ada pisau yang ditikamkan ke jantung Papa. Saat itulah Papa begitu membenci Max. Bahkan Papa sempat melaporkan ke polisi foto-foto itu sebelum kita meninggalkan kota.”
Tangan Freddy mengepal kuat. Tanpa perlu bertanya Freddy sudah bisa menduga foto siapa yang dimaksud papanya. Tapi dia perlu kejelasan. “Foto siapa itu, Pa? Gadis seumuran Aunty Jessie yang Papa maksud, apakah Papa tahu siapa gadis itu?”
“Awalnya Papa tidak ingat. Tapi setelah bertemu Ratna—” Jeremy tidak melanjutkan. Dia yakin Freddy sudah tahu lanjutannya.
“Berarti ******** itu monsternya? Orang yang telah membuat Ratna mengalami trauma?”
“Trauma?”
“Bahkan Ratna sampai hilang ingatan. Selama ini aku tidak menyadarinya, Pa. Ratna bersikap aneh tiap bertemu dengan iblis itu. Dia bahkan pernah berkata seolah dirinya dipenuhi teror setelah bertemu iblis itu. Tapi aku mengabaikannya. Seandainya dari awal aku tidak mengabaikan ketakutan Ratna, semua ini tidak akan terjadi.”
“Yang kau maksud dengan ‘semua ini’, adalah kecelakaan yang menimpa Papa?”
“Bukan hanya itu, Pa. Wanita yang menikam Ratna ditemukan tewas dengan pisau yang menancap di puncak kepalanya. Si ******** Max mengirim kepala wanita itu kepada Ratna. Membungkusnya dengan rapi seolah itu hadiah yang akan membuat Ratna melonjak kegirangan.”
Jeremy tersentak kaget. “Aku tidak menyangka Max bisa berbuat sejauh itu. Dia sungguh bukan lagi Max yang kukenal.”
“Bahkan Papa pasti tidak menyangka bahwa dia telah mencoba membunuh Papa karena menganggap Papa bisa merusak rencananya.”
Mendadak Jeremy memijit pelipisnya.
“Papa kenapa?” Freddy mulai panik.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing.”
“Aku akan menghubungi Gabriel.” Jelas Freddy sambil menekan tombol merah untuk memanggil dokter jaga sekaligus mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Gabriel.
Setelah Gabriel datang untuk memeriksa Jeremy, Freddy keluar dengan perasaan khawatir. Mungkin seharusnya dia tidak menceritakan semua itu. Hampir sepuluh menit menunggu, akhirnya Gabriel keluar.
“Papa sedikit tertekan. Tapi sekarang dia sudah tidur.”
Freddy mengangguk. “Aku terlalu banyak bicara. Sebaiknya aku pergi sekarang. Masih banyak yang harus kuurus. Bisakah kau memastikan ada yang menjaga Papa? Jangan biarkan dia hanya berdua bersama Mama untuk sementara ini. Ada orang jahat di luar sana yang mencoba melukai Papa.”
Gabriel mengangguk mengerti. Setelahnya Freddy segera keluar menuju lapangan parkir.
Baru saja dia menyalakan mesin mobil, ponselnya bergetar menandakan sebuah panggilan.
“Toni, ada apa?”
“Pelaku pencuri pisau yang digunakan untuk menikam Nona Ratna sudah diketahui. Dia bernama Rudi. Orang itu menyamar sebagai office boy untuk melakukan aksinya. Diduga dia adalah kaki tangan Maxwell Bennedict, CEO M&B Group. Saat ini aku sudah mengirim personil polisi untuk menangkapnya.”
“Besar juga nyalinya. Berani datang ke kantor polisi hanya untuk mencuri sebuah pisau. Sebaiknya sekarang kita bertindak cepat. Aku akan langsung menuju M&B Group untuk menangkap Maxwell Bennedict.”
“Tapi kau belum memiliki surat perintah penahanan.”
“Aku tidak peduli.” Freddy langsung menutup ponselnya lalu menginjak gas menuju perusahaan M&B Group.
---------------------------
♥ Aya Emily ♥
__ADS_1