
Kamis (11.40), 26 Maret 2020
----------------------------
Ratna ingin mendengus kesal mendengar ucapan Freddy, namun dia tidak sanggup melakukannya. Bibirnya malah melengkung membentuk senyuman. Mengikuti dorongan hati, wanita itu merebahkan kepalanya di bahu Freddy. Menikmati kehangatan yang menguar dari tubuh lelaki itu.
Tinggal seminggu lagi. Setelah itu dia akan kembali dalam kesendiriannya. Jadi, apa salahnya kalau dia mencoba menikmati keberadaan seseorang yang bisa dijadikannya tempat bersandar?
“Merasa lebih baik?” tanya Freddy serak.
Ratna mengernyit mendengar suara Freddy lalu mendongak menatap mata abu-abu itu. “Kau tidak terserang flu, kan? Sudah beberapa kali aku mendengar suaramu serak.”
Freddy tersenyum. “Mungkin karena aku haus.”
“Baiklah, ayo ke sana.” Ajak Ratna sambil menggandeng lengan Freddy.
Freddy mengambil segelas sampanye, menghabiskan dalam sekali tegukan lalu meraih gelas lain. Ratna melepas lengan Freddy untuk mengambil piring lalu mulai memilih hidangan. Kesempatan itu tidak disia-siakan Freddy. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk merangkul pinggang Ratna. Dengan ibu jarinya lelaki itu membelai kulit telanjang Ratna.
“Jangan kira aku tidak tahu kalau jemarimu sedang menggerayangi punggungku.” Ucap Ratna tanpa mengalihkan pandangan dari stroberi berlapis cokelat yang sedang ia tata di piringnya.
“Darl, ini bukan menggerayangi. Hanya membelai. Nanti kalau kita sudah di rumah, aku akan menunjukkan padamu seperti apa ‘menggerayangi’.”
Pipi Ratna merona. “Dasar mesum. Memangnya lenganmu sudah cukup kuat untuk melakukannya?” ejeknya.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
__ADS_1
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
__ADS_1
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
---------------------------
♥ Aya Emily ♥
__ADS_1