
Senin (07.43), 06 April 2020
--------------------------
Kedua bocah lelaki itu tampak berlari sambil tertawa. Mereka baru saja mengganggu anjing sejenis Labrador hingga membuat si anjing menggonggong marah dari balik pagar besi sebuah rumah mewah.
Setelah berlari sejauh seratus meter, kedua bocah tujuh tahun itu berhenti dengan nafas terengah. Tawa keras masih terdengar dari bibir mungil keduanya.
“Eh, Matt. Kau lihat mata anjing itu? Kelihatan lebih besar dari bola pimpong. Dia pasti sangat marah.” Ujar salah satu bocah dengan berapi-api.
Yang diajak bicara hanya tergelak sambil mengangguk membenarkan.
“Untung saja Mr. Morton sedang pergi. Kalau tidak, habislah kita. Dia pasti akan mengamuk seperti banteng kalau tahu anjingnya diganggu.” Kembali bocah itu berujar.
Lagi-lagi bocah yang dipanggil Matt hanya menanggapi dengan anggukan dan tawa.
“Sekarang kita mau main dimana?”
Matt terdiam lalu memegang perutnya. “Max, aku lapar. Kita pulang saja.”
Bocah yang dipanggil Max merengut. “Kenapa kau sudah lapar? Kita bahkan belum puas bermain.”
“Max, aku sungguh sudah lapar. Kita masih bisa bermain lagi setelah makan.”
Max belum ingin pulang. Tidak ada yang menyenangkan di rumah kecil mereka. Orang tua mereka sering bertengkar karena tidak punya uang. Max sungguh tidak sanggup hidup di rumah itu. Untung saja ada Matt yang selalu menemaninya.
“Baiklah, ayo pulang.” Sahut Max akhirnya dengan malas. “Tapi setelah itu kita akan main sampai gelap.” Lanjut Max dengan bersemangat. Salah satu hal yang disukainya, orang tua mereka tidak akan pernah mencari mereka walau hari sudah malam. Tidak seperti orang tua anak-anak yang lain.
“Tentu.” Matt menyeringai senang.
Merekapun berjalan pulang sambil sesekali melompat-lompat dan saling menganggu.
Beberapa meter dari sebuah rumah kecil di perkampungan kumuh, mereka terdiam memperhatikan mobil mewah yang terlihat salah tempat diparkir di depan rumah itu.
Kedua bocah itu saling pandang dengan bingung. Akhirnya Max mengangkat bahu sambil lalu menggandeng lengan Matt menuju rumah itu.
Suara tawa sang ibu terdengar begitu mereka masuk melalui pintu depan. Suara ibu mereka memang cukup nyaring, apa lagi kalau sedang marah.
“Eh, Matt. Kenapa aku malah takut mendengar tawa ibu?” bisik Max.
Matt tersenyum geli. “Seharusnya kau senang karena ibu tidak marah-marah seperti biasa.”
Entah mengapa Max jadi begitu gelisah ketika mereka semakin dalam masuk ke rumah menuju ruang tengah dimana suara itu berasal. Rasanya Max ingin menarik Matt untuk kembali pergi keluar rumah.
“Ah, lihat. Itu mereka sudah pulang.” Ucap ayah mereka dengan senyum lebar. “Kemarilah!” tegasnya dengan nada lembut.
Kedua bocah itu berjalan menuju ketiga orang yang sedang duduk lesehan di ruang tengah. Matt tampak semangat menghampiri ayah mereka sedang Max terlihat jelas merasa enggan.
“Matt sayang, duduklah di samping ayah.” Ibu mereka memerintah.
Keheranan Max semakin dalam karena panggilan ‘sayang’ dan sikap kedua orang tuanya pada Matt. Padahal dia sendiri tahu bahwa kedua orang tuanya sangat membenci Matt entah kenapa.
Max masih terdiam memperhatikan ayahnya yang merangkul Matt ketika bocah itu duduk di samping sang ayah. Mendadak tangan sang ibu menarik lengan Max agar ia duduk di sebelahnya.
“Ini yang bernama Matthew.” Jelas sang ayah pada lelaki asing itu.
“Hallo, Matthew.” Sapa lelaki yang menurut Max lebih terlihat cantik daripada tampan.
Matthew tersenyum sambil menerima uluran tangan lelaki itu. “Hallo juga, Mr—” Matt mendongak pada ayahnya meminta penjelasan.
“Mr. Brian Timothy.” Jelas sang ayah.
“Panggil saja Brian.” Lelaki itu menegaskan.
Masih dengan senyum lebarnya Matt mengulang. “Hallo juga, Brian.”
__ADS_1
“Bocah pintar.” Puji Brian sambil mengacak rambut Matt, lalu pandangannya beralih pada bocah lain di ruangan itu. “Dan siapa namamu, Nak?”
“Maxwell.” Jelas Max singkat.
Matt menoleh menatap sang kakak lalu tersenyum menenangkan. Dia juga menyadari perubahan sikap sang kakak yang biasanya hiperaktif dan cerewet menjadi lebih pendiam.
“Mereka sangat mirip. Sepertinya aku tidak akan bisa membedakan mereka.” Brian terkekeh.
“Orang-orang menyebut mereka kembar identik. Kami juga tidak bisa membedakan mereka secara fisik. Tapi kalau kau sudah tinggal bersama mereka selama bertahun-tahun, kau akan tahu bahwa kepribadian mereka amat berbeda hingga dengan mudah bisa membedakan keduanya.” Sang ibu menjelaskan.
Brian mengangguk paham. “Sejak tadi kalian main dimana?” Brian berusaha mengakrabkan diri dengan sepasang bocah kembar itu.
Matt diam menunggu Max menjelaskan karena biasanya Max lah yang paling cerewet dan selalu memulai pembicaraan. Tapi kali ini Max bungkam. Keheningan terjadi hingga sang ayah menyenggol pelan lengan Matt.
“Oh, tadi kami main di lapangan setelah itu jalan-jalan di taman bermain. Lalu tanpa sengaja kami melihat Mr. Morton yang sedang mengendarai mobil keluar dari rumahnya yang punya pagar tinggi dan anjing galak dekat taman. Jadi kami ganggu dulu anjing itu sampai marah. Setelah itu, hmm... aku merengek pada Max untuk pulang karena aku lapar.”
“Benarkah? Sepertinya kalian cukup bersenang-senang hari ini.” Lagi-lagi Brian mengacak rambut Matt. “Apakah saudaramu memang pendiam seperti itu?”
Matt menyeringai. “Biasanya Max yang paling cerewet.”
“Lalu kenapa sekarang dia hanya diam? Apakah wajahku sangat menyeramkan hingga dia ketakutan?”
“Bukan seperti itu, Mr. Timothy.” Ayah si kembar menyela. “Max sedikit tidak enak badan. Dia lebih pendiam kalau sedang sakit.”
“Tidak masalah. Aku hanya sedang menggoda mereka.” Brian tersenyum menenangkan lalu melirik jam tangannya. “Kurasa aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aku harus pergi sekarang.”
“Tentu saja, Mr. Timothy.” Sahut ayah si kembar seraya berdiri ketika Brian Timothy mulai berdiri.
“Semua barangnya sudah kau pindahkan ke mobilku? Tidak ada lagi yang tertinggal?” tanya Brian sambil mengecek isi sebuah tas besar berwarna hitam di sampingnya.
Kali ini sang ibu yang mengangguk. “Sudah, Mr. Timothy. Aku sendiri yang sudah memeriksanya.”
“Terima kasih atas bantuan kalian.” Ucap Brian sambil mengulurkan tangan menyerahkan tas hitam ke tangan sang ayah.
“Kami yang seharusnya berterima kasih.” Timpal sang ibu.
“Matt mau pergi kemana?” untuk pertama kalinya sejak bocah kembar itu berjumpa Brian, Max memulai pembicaraan sekaligus menampakkan emosi.
“Mulai sekarang Matt akan tinggal bersamaku.”
“Kenapa?” kali ini Matt yang bertanya.
“Karena tempatmu memang seharusnya bersamaku.”
“Tapi—”
“Akan kujelaskan secara detail nanti, setelah kita sampai di rumah.”
Khawatir si kembar menggagalkan proses transaksi di antara para orang tua, si ayah memberi isyarat agar Brian segera membawa Matt. “Sebaiknya kalian pulang sekarang. Sepertinya akan hujan sebentar lagi.”
Brian mengangguk lalu segera menggendong Matt. Bocah dalam gendongan Brian hanya menatap semua orang dewasa bergantian dengan bingung. Sedangkan Max mulai mengerti bahwa dirinya akan dipisahkan dari saudara kembarnya. Segera Max mengejar Brian yang berjalan cepat ke halaman.
“Mr. Timothy, apa salahku? Kenapa kau ingin menjauhkanku dari Matt?”
Brian berhenti sejenak karena Max menarik lengannya yang sedang menahan Matt di dadanya. “Kau tidak salah apapun, Nak.”
“Kalau begitu kesalahan apa yang sudah dilakukan Matt hingga kau ingin membawanya?”
“Tidak ada yang berbuat salah. Aku akan jelaskan hal ini kepada Matt seperti yang sudah kukatakan tadi. Dan kau bisa meminta penjelasan dari orang tuamu.” Brian berusaha berbicara selembut mungkin walau sifat keras kepala dan pembangkang Max mulai mendidihkan amarahnya.
Mendadak bahu Max ditarik untuk menghadap ibunya yang sudah berlutut untuk menyamakan tinggi mereka. “Dengar, Nak.” Ucap ibunya lembut sambil membelai pipi Max. “Kami tidak sanggup lagi membiayai pengobatan adikmu. Kau tahu kan adikmu sering keluar-masuk rumah sakit.”
Max menatap ibunya dengan air mata yang mulai menggenang. “Tapi kenapa dia harus pergi?”
“Max, dia hanya akan pergi sebentar.” Sang ayah yang juga sudah berdiri di samping Max meremas pelan bahu bocah itu untuk menenangkan.
__ADS_1
Suara mobil yang menderu mengalihkan perhatian Max. Ketika ia membalikkan badan, mobil mewah yang tadi diparkir di depan rumah kecil mereka sudah melaju pergi.
“MATT!!!” Max berteriak sambil berlari ke arah mobil itu pergi. “Jangan tinggalkan aku, Matt!!”
Max terus berlari mengejar mobil yang mulai menghilang dari pandangan. Dengan langkah kecilnya, bocah itu terus mengejar hingga kakinya tersandung batu dan ia pun terhempas di atas tanah, menangis tersedu-sedu sambil memanggil-manggil saudara kembarnya.
“Ayolah, Max. Jangan bertingkah konyol. Kau membuat Ayah dan Ibumu malu.” Sang ayah menarik lengan Max supaya bocah itu berdiri.
Begitu Max berhasil berdiri, pandangannya tertuju pada tas hitam pemberian Brian yang masih dipegang sang ayah. Tanpa basa-basi, Max menarik tas itu dari tangan ayahnya yang tidak siap menerima serangan. Sekali sentak dia berhasil membuka ritsleting tas dan terpana melihat isinya. Tumpukan uang yang sangat banyak. Walau usianya baru tujuh tahun, Max cukup paham bahwa uang sangat penting bagi kehidupan mereka.
“Ayah menukar Matt dengan uang ini?” Max menatap orang tuanya dengan air mata berlinang.
“Aish, bocah ini!” hardik sang ayah sambil merebut tas hitam itu. “Kau tahu apa, hah? Kau hanya tinggal makan, main dan menghabiskan uang. Jangan sok berpikir seperti orang dewasa.”
Sang ibu mencoba menengahi. “Tolong jangan memarahi Max seperti itu. Dia hanya sedang merasa kehilangan. Nanti kalau dia sudah terbiasa tanpa Matt, dia akan kembali seperti semula.”
“Ibu juga?” tanya Max tidak percaya pada ucapan ibunya. “Ibu tidak khawatir Matt pergi bersama orang lain? Ibu tidak ingin Matt pulang?”
“Max, ucapan Ibu tadi serius. Kami tidak sanggup lagi membiayai pengobatan Matthew. Biaya rumah sakit sangat mahal. Lagipula Brian Timothy adalah orang kaya. Adikmu pasti bisa sembuh jika bersamanya karena Brian bisa mencarikan Matt dokter yang sangat hebat untuk menyembuhkannya.”
Max mulai terdengar sesenggukan. Dia tidak paham semua ini. Yang dia tahu hanya tentang Matt yang telah pergi darinya.
“Bersama kita, Matt bisa mati perlahan karena kami tidak sanggup lagi membiayai pengobatannya. Tapi jika bersama Brian Timothy, Matt bisa sembuh sepenuhnya dan tidak perlu lagi ke rumah sakit.” Ibunya kembali menjelaskan dan membuat penekanan di beberapa kata agar Max bisa mengerti maksudnya..
“Max kita sudah besar. Aku yakin dia paham maksud kita melakukan ini.” Sang ayah menimpali. “Sebaiknya kita pulang sekarang lalu bersiap-siap. Aku akan mengajak kalian makan di luar.”
“Wow, senangnya. Ayo Max, kita pulang.” Sang ibu kembali mencoba menghibur.
Wanita paruh baya itu menggandeng lengan Max, sedikit menarik agar Max mengikutinya.
Max menoleh untuk terakhir kalinya menatap titik di kejauhan tempat mobil mewah yang telah membawa Matt menghilang. Setelahnya dia mengucap sampai jumpa dalam hati lalu berbalik mengikuti langkah orang tuanya yang lebih dulu berjalan pulang.
***
“Sebenarnya, adikmu sakit apa?” Pak Nugroho yang baru datang ke ruang interogasi beberapa saat sebelum Max mengakhiri kisahnya, memulai pertanyaan.
“Menurut dokter yang menanganinya saat itu, kondisi jantung Matt sudah lemah sejak lahir. Aku baru bisa mengorek informasi mengenai Matt setelah aku memulai bisnis pertama bersama Jeremy, Papa Freddy.”
“Lalu—”
“Ratna diculik!”
Jelas Freddy tanpa basa basi begitu ia membuka pintu ruang interogasi. Ketiga lelaki dalam ruangan itu hanya saling memandang lalu menatap Freddy bingung.
“Bagaimana kau bisa langsung menyimpulkan begitu? Bukankah kau baru saja mengantarkannya ke kantor tadi pagi? Bahkan ini belum tiba waktu makan siang.” Tanya pak Nugroho.
“Aku baru saja dari kantor tempat Ratna bekerja.” Jelas Freddy. Sebagian besar rekannya tidak tahu bahwa Freddy adalah putra pewaris Keegan Corp. “Meisya bagian resepsionis mengatakan bahwa ada dua orang polisi yang datang menemui Ratna untuk mengabari bahwa aku sedang kritis di rumah sakit. Lalu Ratna pergi bersama mereka. Aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi dia sama sekali tidak menjawab teleponku.”
“Kurasa dia memang diculik.” Tandas Toni.
“Aku tidak bisa membantu kalian karena masih ada pekerjaan lain yang sangat mendesak. Kerahkan saja personil polisi sebanyak yang kalian butuhkan.”
“Baik, Pak.” Ucap Toni mantap. Setelah pak Nugroho keluar, Toni bertanya pada Freddy. “Keterangan apa saja yang telah kau dapatkan dari saksi di kantornya?”
“Tidak ada. Begitu menyadari bahwa Ratna diculik, aku segera menuju kesini.”
Toni menatap Freddy heran. “Bukankah kau sangat mengkhawatirkan calon istrimu itu? Kenapa sekarang kau terlihat begitu tenang.”
“Tidak ada gunanya bersikap panik sekarang. Kita hanya perlu menemukan tempat Ratna diculik, lalu menyusun strategi penyergapan.” Jelas Freddy dingin.
“Aku punya cukup banyak rencana penyelidikan untuk mengetahui lokasi korban, tapi itu akan memakan banyak waktu. Jadi, apa kau punya rencana cadangan yang lebih cepat?”
“Ada.” Mendadak Freddy menoleh menatap Max yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka. “Tapi rencana ini membutuhkan bantuan Uncle Max.”
Max menaikkan salah satu alis dengan bertanya tapi lalu mengangguk. “Tentu. Aku akan membantu semampuku.”
__ADS_1
-----------------------------
♥ Aya Emily ♥