Polisi Penggoda

Polisi Penggoda
14b


__ADS_3

Rabu (07.47), 08 April 2020


--------------------------


Ratna menangkupkan kedua tangan di sisi mug besar berisi teh panas untuk menghangatkan telapak tangannya yang serasa membeku. Udara malam ini terasa begitu dingin padahal hujan sama sekali tidak mengguyur sejak pagi.


Perasaan ringan dan lega memenuhi dada Ratna sejak dua hari yang lalu setelah dirinya diselamatkan dari cengkeraman Matt. Tentu saja masih ada rasa penasaran yang mengelayuti benaknya. Penasaran akan nasib Matt. Penasaran akan alasan gangguan jiwa yang diderita Matt.


Terutama setelah Ratna mendengar sendiri dari Uncle Max—yang sekarang masih dirawat di rumah sakit—tentang kisah perpisahan kedua saudara kembar itu.


Ratna tidak bisa menahan sedih dan iba, walau dia belum sanggup memaafkan perbuatan Matt di masa lalu.


Langkah Ratna terhenti di puncak tangga rumah Freddy. Pandangannya terpaku pada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Lelaki itu sedang berdiri di balkon. Kedua sikunya di tumpukan pada pagar balkon, membuat punggungnya sedikit membungkuk. Tatapannya mengarah lurus ke malam gelap yang hanya diterangi cahaya bulan.


Dengan senyum di bibir, Ratna mendekati Freddy. Dia tahu Freddy menyadari kedatangannya. Sebelah lengannya menyelinap untuk merangkul pinggang Freddy, sedang tangan yang lain mengangkat mug di depan wajah Freddy.


“Teh?” Ratna menawarkan.


Freddy tersenyum dan mengangguk. Tangannya bergerak, bukan untuk mengambil mug dari tangan Ratna, melainkan untuk balas merangkul pinggang Ratna dengan satu tangan. Kepalanya menunduk lalu membiarkan Ratna membantunya minum.


“Hati-hati, masih panas.” Bisik Ratna mengingatkan.


Aroma teh yang khas memenuhi indera penciuman Freddy. Dia menyesap sedikit lalu mengernyit ketika merasakan panas yang menyapa ujung lidahnya.


“Bagaimana cara meminumnya? Ini benar-benar masih panas.” Gerutu Freddy.


Ratna terkekeh sambil menyandarkan kepalanya di bahu Freddy. “Sudah kuingatkan.”


Setelahnya tidak ada lagi yang bersuara. Keheningan menyelimuti mereka membuat keduanya makin tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Beberapa menit berlalu dalam ketenangan mendadak Ratna bergidik ketika angin malam berhembus.


Freddy menunduk menatap Ratna seraya menaikturunkan salah satu telapak tangannya di lengan wanita itu yang tertutup kaos berlengan panjang. “Kau kedinginan.” Gumamnya.


Ratna mengangguk. “Dan anehnya kau tidak.”


“Aku sudah terbiasa. Sebaiknya kita masuk.”


Ratna menatap Freddy sejenak, terlihat jelas merasa ragu untuk mengungkapkan isi hatinya.


“Kau tidak mau bercerita apapun padaku?” akhirnya Ratna menyuarakan pertanyaannya.


Tanpa bertanya Freddy tahu yang dimaksud Ratna berkaitan dengan Matthew Bennedict. “Apa yang ingin kau tahu?”


“Kenapa kau masih bertanya? Seolah kau sama sekali tidak mau berbagi denganku.” Ratna mendesah sambil memalingkan wajah dari Freddy untuk menunjukkan kekecewaannya. “Kalau kau tidak mau bercerita, tidak masalah.”


Freddy bergeser lalu berdiri di belakang Ratna. Kedua lengannya bergerak melingkar di pinggang Ratna sedangkan dagunya diletakkan di atas pundak wanita itu.


“Aku bukannya tidak ingin berbagi. Tapi kisah tentang Matt…” sebuah desahan lolos dari bibir Freddy. “Mengingatnya saja membuatku mual dan ngeri, hingga aku ragu untuk menceritakannya padamu.”


“Tapi aku ingin tahu. Setidaknya dengan mengetahui kisah Matt, mungkin aku jadi punya alasan untuk bisa memaafkan perbuatannya di masa lalu. Aku tidak suka terus-menerus mendendam.”


Lagi-lagi Freddy mendesah. Kali ini terdengar pasrah. “Pasti kau sudah tahu kisah tentang Matt yang diadopsi seorang pria bernama Brian Timothy?”


Ratna mengangguk.

__ADS_1


“Ternyata dia adalah seorang pria yang memiliki kelainan ****. Penyuka sesama jenis, terutama anak di bawah umur.” Freddy mengetatkan pelukannya ketika merasakan tubuh Ratna menegang. “Bisa kau bayangkan penderitaan macam apa yang dilalui bocah sekecil itu setiap harinya. Tentu saja pria brengsek itu memberikan pengobatan yang dibutuhkan Matt hingga dia sembuh. Tapi itu semua hanya demi keuntungannya pribadi. Agar dia bisa memuaskan nafsu binatangnya dengan lebih leluasa.”


“Lalu?” desak Ratna ketika Freddy terdiam.


“Berbagai jenis pelecehan dialami Matt kecil. Bahkan Brian kerap kali mengajak teman-temannya untuk melakukan pesta dengan Matt sebagai bulan-bulanan. Tidak perlu kujelaskan secara detail.”


“Sebenarnya Matt sakit apa? Bahkan Uncle Max juga tidak tahu persis apa penyakit adiknya. Dan apa yang terjadi pada Brian sekarang?”


“Matt menderita penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Hal itu membuatnya gampang sakit. Dan mengenai Brian, Matt membunuhnya.” Freddy kembali terdiam sebelum melanjutkan. “Menurut keterangan Matt, dia membunuh Brian karena lelaki itu merencanakan penculikan terhadap Uncle Max. Brian Timothy bermaksud menjadikan Uncle Max budak nafsunya juga.”


“Tidak adakah kemungkinan bahwa Matthew Bennedict berbohong? Maksudku, bisa saja dia mengarang cerita untuk menarik simpati.”


“Begitu juga pemikiran tim penyidik pada awalnya. Kami memang tidak bisa mempercayai keterangan satu pihak dari Matt. Karena itu kami juga melakukan penyelidikan terhadap orang-orang yang diduga terlibat dengan aksi pelecehan terhadap Matt yang dilakukan Brian Timothy. Ternyata hasil akhir menunjukkan bahwa cerita Matt benar adanya. Itu sebabnya kasus ini sedikit menjadi heboh karena membuat beberapa nama ikut terseret sebagai tersangka.”


“Jadi, bisa dibilang kasus ini belum tuntas?”


Freddy mengangguk. “Tapi aku sudah lepas tangan dari kasus ini karena ada kasus lain yang harus kutangani.”


Ratna memiringkan kepalanya untuk menatap Freddy karena mendengar nada getir dalam suara lelaki itu. “Apa ini kasus yang rumit juga?”


“Ya. Tapi aku tidak ingin membahas hal ini lebih lanjut sekarang. Sudah terlalu malam. Sebaiknya kita berdua tidur.”


“Baiklah, pertanyaan terakhir. Hukuman apa yang akan dijatuhkan pada Matt? Mengingat kejiwaannya yang terganggu, apa ada kemungkinan dia mendapat pembebasan hukuman?”


Tubuh Ratna bergidik ngeri ketika membayangkan Matt bisa berkeliaran bebas. Walau kejiwaannya bisa dijadikan alasan, tapi tetap saja tidak seharusnya ada orang lain yang mengalami nasib seperti yang pernah dialami Ratna.


“Kejiwaan Matt memang terganggu, tapi bukan berarti dia gila. Orang gila tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya, sedangkan Matt bisa. Dia masih bisa berpikir rasional, bahkan merencanakan perbuatan jahatnya dengan matang. Jadi dia akan tetap dijatuhi pidana layaknya orang normal. Kau paham bedanya, kan?”


Ratna tampak berpikir sejenak, lalu dia mengangguk dengan kelegaan yang terlihat jelas memenuhi matanya.


Freddy mengerti keresahan Ratna dan berusaha menenangkan. “Lagipula sekarang ada aku yang akan menjagamu.” Ucapnya dengan nada lembut yang tulus.


Freddy mundur menjauhkan diri dari Ratna lalu berdiri sambil berkacak pinggang. “Oh, jadi itu yang kalian lakukan di belakangku? Menertawakanku secara diam-diam?”


“Kami sama sekali tidak tertawa. Sebaliknya kami hanya bisa menggerutu malu karena kelakuanmu.”


Selesai mengatakan itu Ratna langsung melenggang pergi sebelum Freddy melontarkan kalimat balasan. Ketika Freddy mulai mengejar sambil menyuruhnya berhenti, Ratna malah segera berlari menuju kamarnya dengan tawa keras mengiringi langkahnya.


***


“Kita tidak bisa bertindak gegabah untuk kasus yang berhubungan dengan wanita bernama Maya ini. Sejauh ini informasi yang kita dapatkan hanya berupa dugaan. Belum ada bukti nyata.” Pak Nugroho mendesah sambil menatap tumpukan berkas di atas meja yang berhubungan dengan Maya dan jaringan narkoba. “Bahkan sampai detik ini kita hanya bisa mengawasi wanita itu dari jauh. Dia cukup cerdas untuk tidak membiarkan sembarang orang berada di sekitarnya.”


Freddy bersedekap sambil menunduk menatap berkas-berkas itu. Tatapannya tertuju pada foto lelaki tampan yang cukup mirip dengan Ratna. Entah kenapa instingnya mengatakan bahwa Rafka adalah kunci yang bisa membantunya mendekati Maya. Tapi bagaimana caranya?


“Dugaan kita selama ini adalah bahwa Rafka melindungi Ratna dari jauh. Dia juga tidak menunjukkan dirinya di depan Ratna karena berpikir Ratna masih hilang ingatan. Bagaimana kalau kita memberitahukan yang sebenarnya pada Rafka—tentang Ratna dan tentang kasus ini—lalu memintanya membantu kita?”


Pak Nugroho tampak berpikir sejenak lalu menggeleng tegas. “Tidak bisa. Ada sesuatu yang belum kukatakan padamu. Selama ini Maya selalu mengawasi Rafka, meski itu di luar Fly Club. Mungkin Rafka sendiri tidak menyadarinya. Itulah yang membuat kita tidak bisa melibatkan Rafka. Apalagi kita tidak tahu sampai dimana kesetiaan Rafka pada Maya, yang pada dasarnya merupakan ibu kandungnya.”


“Kupikir hubungan mereka tidak mungkin baik-baik saja mengingat Maya mempekerjakan putranya sendiri sebagai ******.” Freddy tidak bisa menahan nada jijik dari suaranya.


“Tapi kita tidak tahu pasti mengenai hal itu.”


Mau tidak mau Freddy mengangguk setuju. “Sebaiknya aku menceritakan hal ini kepada Ratna. Aku berhutang penjelasan tentang keluarganya.”


“Jelaskan sejauh yang perlu dia tahu. Dan pastikan Ratna tidak mendekati Rafka ataupun Maya.”


“Baiklah.” Sahut Freddy lalu segera beranjak keluar ruangan Pak Nugroho.

__ADS_1


***


Freddy meraih bahu Ratna lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Dia membiarkan Ratna menumpahkan tangis di dadanya.


Entah sudah berapa lama mereka berdua dalam posisi itu. Tangis Ratna yang semula keras menyayat hati, berangsur reda. Mendadak Ratna mendongak menatap Freddy dengan sorot memohon.


“Tidak bisakah kita menyelamatkan kakakku? Dia pasti sangat menderita sekarang.”


“Saat ini Maya menjadi incaran polisi.” Freddy mengertakkan gigi mengingat cerita Ratna bahwa Maya yang menjual calon istrinya itu pada Matthew. “Kalau Maya sampai mengetahui hal itu, dia akan menjadi waspada dan makin sulit ditangkap. Kalau bukan karena kasus narkoba, akan kupastikan Maya dipenjara karena perbuatannya padamu di masa lalu. Selain itu, kita masih tidak tahu sejauh mana keterlibatan kakakmu dengan tindak kriminal yang dilakukan Maya.”


Mendadak Ratna menjauh dari dekapan Freddy. Sorot matanya penuh kemarahan ketika menatap lelaki itu. “Jangan samakan kakakku dengan wanita iblis itu.”


“Lalu kenapa Rafka masih bertahan bersama Maya, padahal jelas-jelas Maya menjual dirinya?” Freddy bertanya pelan seperti memberi pengertian kepada anak kecil.


“Aku,” sahut Ratna pelan tapi kemudian lebih tegas. “Pasti aku alasannya. Kak Rafka berusaha melindungi diriku. Sama seperti dulu jika Maya menunjukkan kebenciannya padaku. Kak Rafka pasti berusaha melindungiku hingga akhirnya dialah yang menjadi pelampiasan kemarahan Maya.”


“Sebenarnya apa yang membuat Maya membencimu? Bukankah kau anak kandungnya juga?”


Wajah Ratna meredup penuh kesedihan. “Dia sering berkata bahwa akulah yang menjadi penyebab kehancuran keluarga kami. Menurutnya aku adalah gadis pembawa sial yang membuat Ayah meninggal.”


Kening Freddy berkerut dalam. “Kalau tidak salah Ayahmu meninggal karena kecelakaan.”


“Tapi menurut Maya, Ayah meninggal karena dirinya melahirkan anak pembawa sial.” Jelas Ratna diiringi tawa penuh ironi.


“Maya berusaha mencari kambing hitam untuk menjadi pelampiasan kemarahan dan kesedihannya.” Ujar Freddy mulai paham. “Intinya menurutmu Maya mengancam Rafka untuk tetap berada di sampingnya dengan menjadikan dirimu sebagai senjata. Tapi apa yang sebenarnya diinginkan Maya dari Rafka?”


“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang dipikirkan wanita iblis itu. Yang kuinginkan sekarang hanya menjauhkan kak Rafka dari Maya.”


“Itu tidak mungkin terjadi kalau Maya masih bisa berkeliaran bebas. Maya harus ditangkap dulu untuk bisa membebaskan Rafka.”


“Tapi sampai kapan?” air mata Ratna kembali bergulir.


Sekali lagi Freddy membawa Ratna ke dalam pelukannya. Dengan sebelah tangan dia membelai lembut rambut Ratna dan sesekali memberikan kecupan di puncak kepala wanita itu.


Pikiran Freddy berputar. Rasanya ada banyak kejanggalan dalam hubungan Rafka dan Maya. Tapi itu harus dipikirkannya nanti. Tujuan utamanya sekarang adalah menemukan celah untuk bisa menyusupkan orang ke dalam ruang lingkup Maya.


Kening Freddy makin berkerut ketika penjelasan atasannya mengganggu pikirannya.


Kalau benar yang dikatakan pak Nugroho bahwa Rafka diawasi, itu artinya Maya juga sudah tahu bahwa Ratna akan menikah dengan seorang polisi. Seharusnya sekarang Maya dalam kondisi waspada dan berusaha menemukan senjata lain jika suatu ketika Rafka berusaha melepaskan diri karena merasa Ratna sudah cukup aman berada dalam perlindungan seorang polisi.


Mendadak tubuh Freddy menegang karena dipenuhi adrenalin. Ratna merasakan perubahan sikap Freddy lalu mendongak menatap lelaki itu penuh tanya.


Kalau yang diawasi Maya hanya Rafka—bukan Ratna—seharusnya Maya belum tahu bahwa yang akan menikahi Ratna adalah putra dari pemilik Keegan Corp. Dengan begitu dirinya bisa berpura-pura menjadi polisi yang membutuhkan uang tambahan untuk keluarganya hingga bersedia melakukan segala cara termasuk menjadi pengedar narkoba.


Jelas Maya tidak akan menolak kehadiran Freddy yang merupakan menantunya, untuk dijadikan senjata cadangan demi menahan Rafka. Sekarang tinggal bagaimana caranya merekayasa pertemuan antara dirinya dan Maya tanpa dicurigai.


“Ada apa? Kau melamun.” Ucap Ratna dengan suara serak sehabis menangis.


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu.”


“Kau menyembunyikan sesuatu dariku.”


“Hm, benarkah?” tanya Freddy dengan nada merayu untuk mengalihkan perhatian Ratna. Perlahan lelaki itu mendorong tubuh Ratna hingga rebah di atas sofa. “Aku hanya sedang merindukanmu.”


Sebelum Ratna bisa melontarkan protes, Freddy sudah menyatukan bibir mereka dengan ringan pada awalnya, lalu semakin dalam seiring gairahnya yang bangkit.


------------------------

__ADS_1


♥ Aya Emily ♥


__ADS_2