Polisi Penggoda

Polisi Penggoda
11b


__ADS_3

Jumat (08.46), 03 April 2020


-------------------------


Max masih sibuk dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya di ruang CEO perusahaan M&B Group, ketika dering ponsel mengganggunya. Tanpa melirik caller id lelaki itu menerima panggilan dengan mata yang masih fokus membaca sebuah berkas kerjasama dengan perusahaan lain.


“Halo,” sapa Max tanpa minat.


Mendadak Max bangkit dari duduknya dan nyaris membuat kursi yang ditempatinya terjungkal karena gerakannya yang tiba-tiba.


“Apa maksudmu?” kegusaran nampak dari raut wajahnya.


Dia diam mendengarkan ucapan orang yang sedang menghubunginya. Wajahnya makin memerah karena takut, marah dan khawatir. Akhirnya topeng ramah yang selalu dipasangnya untuk menutupi sosok asli dibaliknya terbuka. Seorang lelaki yang kesepian, dengan kesedihan terpendam dan kemarahan yang senantiasa ditahannya.


“Bagaimana ini bisa terjadi? Kalian sungguh tidak becus. Aku hanya memberi kalian sebuah tugas, dan kalian gagal melaksanakannya.” Rahangnya menegang karena amarah yang tertahan.


Max sangat ingin menghantam sesuatu. Atau lebih tepatnya dia ingin menghajar orang-orang yang lalai menjalankan perintahnya.


Lelaki itu masih menunggu, mendengarkan tiap pembelaan orang yang menghubunginya.


“Kenapa aku baru tahu sekarang? Kenapa kalian tidak langsung menghubungiku agar aku bisa segera menyelesaikannya?”


Max kembali mendengarkan. Akhirnya desahan berat terdengar dari sela bibirnya.


“Baiklah. Sebaiknya kalian perbaiki kekacauan yang telah kalian buat. Aku juga akan melakukannya dari sini dengan caraku.”


Begitu panggilan terputus, Max menunduk dengan kedua tangan bertumpu di atas meja. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jemarinya mengepal kuat. Dia harus melakukan sesuatu. Tapi apa?


Max segera menegakkan tubuhnya lalu mengenakan jas yang tersampir di sandaran kursi. Tidak ada gunanya menyesali yang telah terjadi. Dia harus bertindak. Apapun itu selain diam saja dan menunggu ketakutannya menjadi kenyataan.


Max baru saja mengancing jasnya ketika pintu ruangannya terbuka perlahan tanpa diketuk. Dia menggeram kesal sambil berbalik ke arah pintu atas kedatangan orang yang sepertinya tidak tahu sopan santun. Tapi setelah melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, seulas senyum menghiasi bibirnya.


“Freddy, kujungan yang mendadak. Kenapa tidak memberi kabar dulu kalau mau mampir?”


Freddy berjalan pelan memasuki ruangan Max. Wajahnya tampak menegang. Sorot mata abu-abunya menatap tajam pada mata biru Max.


“Kenapa aku harus memberi kabar lebih dahulu? Apa Anda merencanakan sesuatu, Uncle Max?”


Max mengernyit menyadari suara dingin Freddy, tapi dia mengacuhkan hal itu. “Tentu saja tidak. Tapi aku buru-buru sekarang. Ada hal lain yang harus kukerjakan?”


Freddy berjalan semakin mendekati Max. Dengan santai dia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja Max lalu meraih sebuah kertas dari atas meja kerjanya seolah penasaran dengan isinya. Sikapnya santai. Namun Max menyadari sikap santai itu ditujukan untuk mengintimidasi seseorang yang dianggap bersalah akan sesuatu.


“Boleh aku tahu ‘hal lain’ apa yang harus Anda kerjakan?”

__ADS_1


“Freddy, sungguh aku menyesal karena tidak bisa menemani dirimu mengobrol saat ini. Aku sungguh buru-buru sekarang.”


“Buru-buru menyelesaikan sebuah misi yang gagal?”


Kening Max mengernyit. Apa Freddy sudah mengetahui semuanya?


“Kenapa diam, Uncle Max? Apa karena ucapanku benar?”


Max memasang senyum ramahnya. “Sebenarnya apa tujuanmu datang ke sini?”


“Tentu saja untuk melindungi orang-orang yang aku cintai.”


Senyum di bibir Max memudar. “Kau benar-benar sudah tahu, rupanya.”


Sikap santai Freddy luruh. Dengan geram dia menerjang Max lalu mencengkeram kerah jas lelaki yang lebih tua darinya itu.


“Aku menganggapmu seperti pamanku sendiri. Kau sudah seperti Papa kedua bagiku. Tapi mengapa kau lakukan semua itu? Tidak bisakah kau membiarkan Ratna hidup tenang?”


“Freddy, aku—”


“Belum cukup sampai situ, kau bahkan mencoba membunuh Papaku. Sekarang kau bersikap seolah menyesali perbuatanmu. Tapi kenyataannya, kau berusaha menyembunyikan kebusukanmu dengan cara melakukan percobaan pembunuhan terhadap saksi yang mengetahui kebejatan moralmu.”


Max membelalak menatap mata abu-abu di depannya. Cengkeraman di kerahnya semakin kuat. Dia mencoba memberontak untuk melepaskan diri. Tapi mendadak kepalan tangan Freddy melayang tepat mengenai pelipisnya membuat Max tersungkur.


“Kau—”


“Terus saja pasang topeng tidak bersalahmu itu dan akan kupastikan kau membusuk di penjara.”


Sebuah seringai muncul di sudut bibir Max. “Tidak ada gunanya bicara denganmu sekarang. Kau tidak memiliki bukti apapun atas tuduhanmu. Kau mendadak datang ke sini lalu menghajarku. Aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik dan penganiayaan.”


“Salah satu kaki tanganmu yang bernama Rudi sudah berhasil kami ringkus. Apa menurutmu dia tidak akan membuka mulut?”


Seringai di bibir Max membeku. Topengnya runtuh seketika. Takut, khawatir, marah kembali menghiasi raut wajahnya. Kini giliran Freddy yang menyeringai.


“Freddy—”


Kepalan tangan Freddy kembali melayang. Kali ini membuat sudut bibir Max mengeluarkan darah.


“Jangan katakan apapun lagi. Kau hanya boleh berbicara di kantor polisi.” Geram Freddy sambil menarik kasar jas Max hingga lelaki itu berdiri.


“Berhen—”


Freddy hendak kembali menghajar Max namun kali ini Max tidak diam. Dia menghindari pukulan Freddy lalu dengan sikunya dia menghantam rusuk Freddy. Freddy mundur sambil memegangi pinggangnya.

__ADS_1


“Kau tidak bisa seenaknya membawaku. Tunjukkan dulu surat perintah untuk menahanku baru aku akan ikut denganmu.” Max membenahi pakaiannya yang kusut. “Sekarang percuma aku berbicara padamu. Sebaiknya aku pergi untuk menyelesaikan urusanku.”


“Mau kabur, eh? Tidak akan kubiarkan.”


“Simpan saja tenagamu untuk melakukan hal lain. Tidak ada gunanya melawanku. Kau tidak akan menang. Keterampilan bertarungmu sebagai polisi tidak akan bisa menyamai kemampuanku sebagai petarung liar.”


“Kau pikir aku takut?” ucap Freddy meremehkan.


Freddy kembali menerjang Max dengan tinju yang siap menghantam. Max menghindar ke samping. Sebelah tangannya menahan salah satu pergelangan tangan Freddy lalu menelikungnya. Tak disangka Freddy malah mundur ke arah Max hingga punggung Freddy membentur dada Max. Tanpa menahan kekuatan lagi Freddy menyikut Max dengan lengannya yang bebas, tepat mengenai dada lelaki itu. Max segera mundur melepas Freddy sambil terbatuk-batuk.


Freddy segera berbalik mengahadap Max dengan posisi siaga. Tangannya meraba ke balik jaket yang ia gunakan untuk meraih revolver, namun revolvernya tidak ada. Freddy menunduk untuk memeriksa dibalik jaketnya dan hasilnya nihil.


Suara revolver yang dikokang membuat Freddy kembali mendongak menatap Max. Dan moncong revolver perak kesayangan Freddy mengarah tepat di keningnya.


***


“Ratna,”


Wanita itu mendongak menatap Mila, sekretaris utama Owner Keegan Corp. Jabatannya sendiri sebagai sekretaris kedua. Awalnya Ratna mengira Jeremy sengaja membuat jabatan itu untuk Ratna. Padahal sebelumnya Jeremy hanya memiliki seorang sekretaris. Tapi mengingat pekerjaannya yang juga sama banyak seperti Mila, mungkin Jeremy memang membutuhkan tambahan sekretaris.


“Ada apa?”


“Meisya  dari resepsionis memintamu untuk turun ke lobi. Ada tamu yang mencarimu di sana.”


Ratna mengangguk lalu segera meninggalkan pekerjaanya. Dalam perjalanan menuju lobi, pikirannya terus saja menerka-nerka siapa yang mencarinya.


“Meisya.” Sapa Ratna pada wanita cantik yang sedang duduk di balik meja resepsionis.


“Mereka mencarimu.”


Ratna menoleh ke arah yang ditunjuk Meisya. Kebingungan semakin melanda dirinya saat melihat dua pria berseragam polisi. Wanita itu berterima kasih sekilas pada Meisya lalu menuju kedua polisi itu.


“Permisi, apa Anda mencari saya?” tanya Ratna pada kedua polisi yang membelakangi dirinya. Perasaan tidak nyaman mulai merambat di hatinya namun Ratna berusaha tidak berpikir buruk.


“Apa benar Anda Nona Ratna?” salah satu polisi itu memastikan.


Ratna mengangguk pelan sambil menelan rasa panik yang mulai mencapai kerongkongannya.


“Maaf, kami harus menyampaikan berita buruk.” Polisi yang lain mulai berucap tapi terlihat ragu untuk meneruskan. “Komandan Freddy terluka parah. Sekarang keadaannya kritis di rumah sakit. Kami diminta keluarga Komandan Freddy untuk menjemput Anda.”


---------------------------


♥ Aya Emily ♥

__ADS_1


__ADS_2