
seminggu kemudian....
"teeet....teeet...." bel masuk berbunyi, semua murid di sekolah masuk ke kelas mereka masing masing.
khususnya di kelas 12 ips 2, semua murid di kelas itu membawa beberapa barang kerajinan tangan, karena hari ini ada pelajaran pkwu.
"apaan nih... pakai di tutup kain segala, kayak barang bagus aja" tanya faisal teman sekelas zahran yang berada di depan nya. "penasaran gua, liat dong... "faisal mencoba membuka kain tersebut, namun di halangi oleh rangga yang ada di samping zahran. "nggak usah liat liat, nggak ada urusannya sama lu" faisal memasang muka judesnya "pelit banget... oh mungkin karya kalian belum jadi kan?" ketus faisal "nggak ada yang minta pendapat lu, lu kan bukan guru, kecuali kalau lu mau kerja jadi guru" balas alif dengan nada menjengkelkan.
"yaudah sih... nggak usah nyindir gua kali... terserah kalian lah, mau dikasih saran sama oarng ganteng nggak mau" faisal kemudian pergi ke meja nya. "hmph... preet...gantengan anak yang di pinggir jalanan daripada dia, udah
muka tua, pedenya minta ampun... kawin sama nenek lu sana"gumam rangga.
tak lama kemudian...
__ADS_1
guru pun masuk kelas "bersiap.... memberi salam" ketua kelas berdiri kemudian mengucapkan salam bersama murid lainnya. setelah guru itu menjawab salam, mereka duduk kembali di kursinya masing masing. "apakah ada yang tidak hadir hari ini?" tanya guru di depan yang membuka buku agenda kelas, namanya Bu Ayu. "lapor bu, semuanya hadir hari ini" ketua kelas menjawab dengan tegas. "baik... mari kita lanjutkan pelajaran kemarin, tapi sebelum itu, apa ada yang tidak mengerjakan tugas?" tanya guru itu bertanya kepada semua murid di kelas sambil berdiri di depan papan tulis. "tidak ada?" lanjut Bu Ayu. "kami bu... kerajinan kami belum selesai" sahut murid yang duduk di paling belakang. "kami juga bu..." murid lainnya pun juga sama.
Bu Ayu terdiam. suasana menjadi hening, tak lama kemudian "baik, kalian semua boleh keluar" Bu ayu mengatakannya dengan jelas. semua murid terkejut "maksud ibu?" tanya salah satu murid "apakah kurang jelas? saya bilang kalian boleh keluar dari sini" seketika semua terdiam. Bu Ayu adalah orang yang tegas dan disiplin, dia selalu mengajar sesuai caranya, akan tetapi sulit dimengerti kata kata yang ia ucapkan, selain itu dia juga suka
bermain teka teki "begini saja, saya kasih kalian dua pilihan, memberi hukuman atau diberi hukuman" tanya Bu Ayu dengan menunjukkan dua jari.
semua pun mulai berfikir. "diberi hukuman bu" jawab salah seorang,yaitu zahran, dia bangun dari kursinya dan berdiri tegap "oh kenapa? berarti kamu memilih kalau semuanya saya beri hukuman" seketika semua murid di kelas terkejut saat mendengar bu ayu mengatakannya. “bodoh sekali dia, kenapa milih yang itu” “ya sok jagoan banget, kalau mau dihukum jangan ngajak ngajak” semua murid di kelas mulai membicarakannya. “saya tahu kok... saya berkata begitu karena saya telah elakukan kesalahan yaitu tidak mengingatkan mereka soal tugas” jawab zahran dengan berani seakan dia tidak menyesali keputusannya. “huh... mau jadi sok bijak di depan orang” pikir faisal.
yang memintanya” jawab faisal. “apa kalian sependapat dengan faisal?” Bu Ayu mulai serius dengan pertanyaannya. Semua murid saling memandang, kemudian “saya tidak, toh saya bukan anak kecil yang harus dibela” murid yang duduk di samping meja rangga dan zahran, namanya solihandra, dia berdiri dari kursinya bagaikan seorang perwira karena ia mengikuti kegiatan paskibra di sekolah. “saya pun juga begitu, sebagai ketua kelas, seharusnya saya lebih bertanggung jawab atas apa yang dilakukan teman saya” murid yang duduk di samping solihandra, reyhan.Dia juga berdiri “woi ngajak ngajak dong.... saya juga bu,karena mereka
sekelompok dengan saya, buat apa lagi saya di sini” murid yang duduk di belakang solihandra dan reyhan, dia adalah gibran
Semua yang melihat kejadian itu, bertanya tanya mengapa dengan mereka. “apa kalian yakin
__ADS_1
dengan keputusan kalian?” tanya Bu Ayu dengan serius “ya saya yakin” jawab mereka secara bergantian. “silahkan berdiri di depan” pinta Bu Ayu, lalu mereka satu persatu maju ke depan dan berdiri. “saya ingin menanyakan beberapa hal kepada kalian, kalian jawab sesuai pendapat kalian” akhirnya Bu Ayu bertanya kepada mereka yang ada di depan secara bergantian. Mereka pun menjawab dengan lancar, lalu semua terkejut ketika yang ditanya adalah pelajaran kemarin bahkan, Bu Ayu menulis sesuatu di buku nilainya setelah bertanya kepada mereka.
“sudah, kalian boleh duduk kembali” Bu Ayu menyuruh mereka untuk duduk lagi. “lho, ibu... kenapa mereka tidak jadi di hukum” faisal berdiri dan mengatakannya dengan jelas. “ooh.. kamu mau, boleh kok..., jawab yang benar pertanyaan ibu...dan jika salah, kamu berdiri di depan kelas sampai pelajaran ibu selesai, gimana?” Bu Ayu bertanya sambil menghadap kearah faisal. “tidak jadi deh bu” jawabnya dengan nada malu. Semua murid mentertawakan dia karena melihat tingkah malu. Suasana pun mencair kembali
“baiklah, ibu absen sesuai urutan kelompoknya kemudian maju ke depan untuk menjelaskan prakarya kalian” bu ayu mengambil buku kecilnya, kemudian memanggil nama kelompoknya. Waktu pun terus berjalan, kelompok per kelompok maju ke depan, akhirnya kelompok faisal maju ke depan. Kelompoknya membuat kerajinan yang indah yaitu vas bunga yang terbuat dari tanah liat,motif sungguh menarik perhatian murid di kelas. “gimana bu? Bagus kan?” tanya faisal dengan percaya dirinya. “bagus... bagus...” bu ayu tersenyum seperti senang dengan karya dari kelompok faisal. “berapa nilainya bu?” tanya lagi faisal penasaran. “hmm...gimana kalau 70” jawab bu ayu
“lho kok segitu bu” faisal terkejut mendengarnya “hmm...emangnya berapa harganya sal?” tanya bu ayu yang masih memperhatikan vas bunganya. “mahal lho bu, 200 ribu....eh” seketika faisal tersadar dengan perkataannya. “kenapa? Di sini tertulis 120 ribu, sudah beli, mau tipu pembeli lagi” kata bu ayu sambil menunjuk label harga yang masih menempel di samping pojok vas bunga. Semuanya pun mentertawakan kelompok faisal “aduh... sial banget, tadi malam ketiduran jadinya nggak nyadar kalau masih ada label harga di situ” pikir faisal malu dengan perbuatannya. “ngomong sih, gagah seperti macan...eh... nggak tau nya jadi melow seperti kucing pas ketahuan, tadinya sih mereka bakal di hukum kalau ga beli” gumam rangga kepada zahran dan alif.
Selanjutnya kelompok mereka yang maju, mereka bertiga pun membawanya dengan hati hati ke depan. “apaansih
karya nya bikin penasaran aja” semua murid di kelas penasaran dengan karya mereka bertiga. Dengan aba aba hitungan ke tiga, kain pun di buka dan semua terkesan melihatnya. Sebuah miniatur rumah bertingkat yang ada di desa dan itu di sekelilingi pemandangan yang bagus. Miniatur tersebut trbuat dari stik es krim dan lilin mainnan. “bohong itu bu, mereka beli pasti” ketus faisal karena merasa iri dengan mereka. “tidak bu, saya bisa menjelaskan cara pembuatannya” sahut zahran, lalu ia pun menjelaskan dengan detail tanpa ada yang terlewat. Ketika
di tanya temanya, mereka bertiga menjawab “menampung harapan di usia senja” ,lalu Bu ayu terkesan dan mereka bertiga mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari murid di kelas kecuali faisal.
__ADS_1