
Saat masuk ke dalam rumah, mereka disambut oleh seorang wanita yang cantiknya tiada taranya, Bundanya zahran “oh... aa sudah pulang dari sekolah, patesan... si rara lari lari keluar rumah.” Kata bundanya sambil tersenyum ramah “lho, ini siapa deran? Teman kamu ya?atau...?” tanya bundanya, panggilan deran kepanjangan dari dede zahran sebelumnya dia dianggap anak bungsu tapi saat rara lahir dia bukan anak bungsu lagi. namun zahran segera menjawab “ini temanku bundaaa, namanya sintiya, nanti aku mau jalan jalan sama dia tapi juga sama alif dan rangga,boleh kan bunda?” tanya zahran pada bundanya yang sedang berdiri di depannya.
“ya boleh, yasudah.... kamu ganti baju dulu sana” pinta bundanya dan langsung dituruti oleh zahran. zahran pun
pergi ke kamarnya yang berada di atas. “oh ya, ayo masuk sintiya... kita nunggu di ruang tamu aja” kata bunda zahran. “ya bu,makasih” jawab sintiya dengan ramah.
Mereka pun masuk dan duduk di kursi tamu. Sedangkan rara pergi ke atas juga.“nak sintiya tinggal dimana?” tanya bunda zahran “saya tinggal di jalan anggrek 2 perumahan A” kata sintiya. “kamu sekelas dengan zahran?”
tanya bunda amin “ya bu, saya juga kelas 3 sma, tapi saya dan dia beda sekolah,” kata sintiya menjelaskan.
Sambil berbincang bincang, sintiya melihat lihat foto yang dipajang di dinding ruang tamu itu. Tak sengaja dia berfokus pada satu foto berukuran sedang yang berada di depannya. “sepertinya saya kenal satu orang ini” pikirnya. Kemudian karena penasaran dia pun bertanya ke bundanya zahran. Tapi zahran sudah turun dan langsung menghampirinya. “ayo jalan... udah jam setengah 5 nih” ajak zahran. Namun sejenak terdiam, dia tak menyangka kalau laki laki biasa yang nampak kusut dan jenuh saat di sekolah berubah menjadi laki laki yang super cool maaf bahasanya agak lebay. amin memakai kaos putih dan celana hitam bahan, tapi dia memakai topi hitam dan memakai kacamata biasa. Sepatunya pun adidas warna putih. Nampak seperti model. “lho,kenapa diam? Dari tadi lihat aku terus kayak lagi introgasi atau jangan2... kamu..kaget ya” canda zahran yang melihat sintiya diam dihadapannya seperti patung.
“ya...geer banget, ketinggian tahu ga harapan lu” kata sintiya tak sengaja nampak seperti ketus dan wajahnya merah padam karena ketahuan."oh ya, ini jaket lu, hampir lupa" kata sintiya sambil menyerahkan jaket miliknya "wah wangi banget, makasih ya" sahut zahran yang menerimanya dan segera memakainya “yasudah kamu naik motor aja! Biar cepat” pinta bundanya. “siap bun..kamu tunggu di depan rumah aja, aku mau ngambil motor dulu di belakang” kata zahran. Sintiya hanya mengangguk dan berpamitan pada bunda dan rara lalu, dia menunggu di depan rumah zahran. Setelah beberapa lama, ada motor ninja warna hitam menghampirinya. “hai neng manis, mau ikut aa jalan2 ngga?” canda zahran yang wajahnya ditutup oleh helm namun sepertinya si sintiya tidak mengenalinya karena pikirnya mana mungkin zahran memakai motor ninja yang begitu mahal “maaf saya sedang menunggu teman” kata sintiya pada pengendara motor itu. Lalu rara keluar datang menghampiri mereka “kok belum jalan sih, malah pacaran di depan rumah, nanti ditangkap pa satpam lho” kata rara dan sintiya pun kaget saat menyadarinya. “hahaha... si neng malah kaget lagi, awas nanti lama lama kena serangan jantung lho kalau kaget lagi” canda zahran. “bodo ah, nanti kamu ini yang tanggung jawab, lagian kamu yang punya tugas temenin aku jalan2” kata sintiya judes. Dia langsung naik ke jok belakang motor. “ya nona sintiya putri mahesa, kita jalan ya...”canda zahran.
__ADS_1
Mereka pun pergi ke restoran baru yang sudah dijadikan tempat bertemu, tapi saat di perjalanan... tiba tiba ada seorang anak kucing berlari di depan motornya. zahran pun tanpa sengaja mengerem motor secara mendadak dan membuat sintiya memeluk tubuhnya. “kenapa sih? Sengaja ya mau ngambil kesempatan” kata sintiya dengan nada percaya dirinya. “enak aja, itu tadi ada anak kucing lewat tadi” kata zahran. “alaah alasan, mana ada anak kucing tengah jalan begini” kata sintiya yang tidak percaya. Sintiya pun kembali ke posisinya namun zahran menahan
tangan sintiya dan mengeratkan pelukannya di pinggangnya. “yasudah, pengangan aja yang erat, nanti kalau kejadian kayak tadi, nanti aku yang disalahkan kalau kamu kenapa2”kata zahran dengan tegas. “bagus.. kalau kamu tahu” kata sintiya sambil mengeratkan pelukannya. “OMG, padahal ini wangi yang sering dipakai bibi kalau nyuci tapi kok rasanya beda ya, kalau laki laki yang pakai” pikirnya sambil mencium bau jaket zahran yang
diberikannya. “nih cewek malah ketagihan meluk, padahal tadi cuman peringatan aja kalau kenapa2” pikir zahran.
Setelah sampai,zahran memakirkan motornya di depan restoran baru itu. “hey, sintiya... bangun, udah sampai nih” zahran membangunkan sintiya tertidur saat di perjalanan tadi. “ah.... udah sampai, kok cepat banget sih“ kata sintiya sambil menggosok matanya dan segera turun dari motor “yaiyalah, kamu tadi keenakan tidur
“kayaknya mereka belum datang deh, kita cari tempat duduk dulu ya” pinta zahran, mereka mencari tempat duduk untuk 4 orang namun tidak ketemu,di dalam semuanya hampir penuh, karena mungkin restoran baru ini akhirnya
mereka ke halaman restoran itu dan menemukan tempat duduk yang dekat taman taman. Mereka pun
menuju ke sana. “wah kamu pandai cari tempat yang enak” kata sintiya dengan kegum “kebetulan aja ada”kata zahran yang menjelaskan. Mereka berdua pun duduk berdampingan seperti sepasang kekasih. Sintiya pun memanggil pelayan “aku pesan dulu gapapa kan?kamu mau pesan apa?”tawar sintiya yang tak bisa menahan
__ADS_1
laparnya.
“gapapa, kamu aja dulu, aku mungkin pesan minuman dulu” kata zahran. Mereka berdua pun memesan menunya, setelah pelayan mencatat pesanan mereka, pelayan itu pergi dan zahran pun menelepon kedua sahabatnya yang belum datang.
Tak lama kemudian, kedua sahabatnya datang, zahran pun melambaikan salah satu tangannya. Kedua sahabatnya datang menghampirinya. “oh...ini yang tadi nunggu depan gerbang, kenalin nama saya rangga, saya mewakili amin
meminta maaf atas ketidaksopaanan dia” kata rangga sambil meminta maaf pada sintiya. “ya...walaupun dia seperti itu, tapi dia ini perhatian lho pada segala hal” kata alif. “woi, kalian ini kenapa? lu juga rangga, ngapain pakai “mewakili maaf”segala emang gua udah wafat apa?” ketus zahran. “daripada situ ngatain gua anak jin, sekarang kita impas” kata rangga. Mereka berdua pun asyik bertengkar, sedangkan sintiya hanya tertawa melihat persahabatan yang unik yang belum ia lihat. “woi,ngomong2 gimana lu bisa dapat cewek cantik kayak dia? Kasih tau dong caranya” bisik rangga yang masih berdiri di samping zahran. “gampang kok, cuman bermodal jaket saja” bisik zahran. Kemudian si rangga memperhatikan jaket yang ia pakai. “sudah kuduga, berarti tebakan gua benar dong, pantes aja sekarang lu wangi perempuan hahaha...” kata rangga yang membuat zahran malu dan alif hanya tertawa sedangkan sintiya tidak mengerti apa yang dimaksud
“oh ya, gua belum memperkenalkan diri, nama gua alif” sapa alif pada sintiya. “halo...saya sintiya” jawab sintiya dengan ramah. Mereka berdua pun melirik amin sambil tersenyum “apa liat2, udah sana pesan makanannya,
tenang aja sintiya gua yang bayar, tadi gua juga baru pesan minuman” kata amin
“oke deh, sesuai janji sahabat, mas!” alif pun memanggil pelayan untuk memesan. Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Dan mereka pun menyantap makanan yang ada.
__ADS_1