
Beberapa jam sudah berlalu, akhirnya KBM di Sekolah B selesai. Para murid berhamburan keluar dari kelasnya.
“woy, nanti kita jadi jalan jalan kan?” sahut rangga sambil menaiki motor ninja miliknya. “ya jadi, nanti kita cobain ke
restoran baru itu, gua yang traktir deh” kata alif yang menunggu jemputan ojek online. “asyik lah... oh ya nanti lu gua jemput di rumah lu ya” kata rangga pada zahran yang menaiki sepedah. “ya... nanti telepon aja kalau udah jalan” kata zahran. “oke deh, gua duluan ya” sahut rangga yang meninggalkan mereka. “ran, jemputan gua udah datang tuh, gua duluan ya” sahut alif yang meninggalkan zahran.
Setelah mereka berdua pergi, zahran langsung mengayuh pedal sepedahnya menuju gerbang. Namun, tiba tiba saja, di depan gerbang sedang ramai seperti melihat suatu kejadian yang menarik. zahran yang penasaran ikut melihat juga.
“khem... kamu cantik banget, mau ga, jalan sama aku?” kata arya yang sedang berbicara dengan seorang gadis. Namun gadis itu tidak mempedulikannya dan terlihat sedang mencari seseorang. “hmm..boleh saya tanya? Kamu sedang mencari siapa ya?” sahut laki laki tampan yang merupakan laki laki populer nomor 1, Gilang. Tapi gadis itu tetap diam saja. dan tak lama kemudian, dia melambaikan tangannya kepada seseorang yang berada di tengah kerumunan itu. Semua terkejut saat melihat yang dipanggil itu zahran,laki laki yang biasa saja bagi mereka.
“kamu ngapain sama dia? Mendingan sama aku”ketus arya sambil melihat zahran dengan tatapan merendahkan. “emang kalau boleh tau? Ada urusan apa sama dia?” tanya gilang lagi, tapi langsung dijawab dengan ketus oleh gadis itu “MASBULOH...masalah buat loh”. Jawaban tadi membuat semua para gadis yang suka pada gilang menaruh rasa benci pada gadis tersebut.
“hmm...sintiya, kenapa kamu kesini? Emang ada apa cari aku?” sahut zahran yang menghampiri sintiya. “bentar...jangan bicara di sini, ayo kita cari tempat lain” kata sintiya sambil menarik tangan zahran. zahran pun hanya mengangguk dan menggiring sepedahnya mengikuti sintiya. Semua yang berada tak menyangka kalau laki laki biasa seperti zahran bisa mendapatkan gadis yang cantiknya luar biasa. Berbeda dengan arya, dia kesal karena ditolak oleh gadis itu hanya karena seorang zahran saja. Mereka berdua di sepanjang jalan hanya terdiam dan bingung mau mulai darimana dan akhirnya berhenti di sebuah pohon besar yang dibawahnya terdapat sebuah kursi panjang dan ada dua tiang lampu di samping kanan kiri kursi panjang itu. Letaknya pun tak begitu jauh dari sekolahnya tadi.
“duduk dulu!” sahut zahran yang meminta sintiya untuk duduk. Sintiya pun duduk, dan zahran
menyandarkan sepedahnya di salah satu tiang lampu itu dan ikut duduk di samping sintiya. “hmm... ngomong2 ada apa mencari aku?apa mau mengembalikkan jaketku waktu itu..?” tanya zahran
__ADS_1
“ya.. tadinya niatnya sih gitu, tapi moodku tiba tiba buruk pas datang ke sekolah kamu”ketus sintiya “lalu?” tanya kembali zahran yang tak mengerti maksud sintiya “kok kamu ga peka sih, harusnya kamu tau dong, apa yang harus kamu lakukan” kata sintiya agak sedikit cemberut. “ya...aku minta maaf karena sudah bikin kamu nunggu di depan gerpang sekolah aku” kata zahran dengan sopan. “huh... emang kamu pikir kata maaf aja masih berlaku di masa ini?...sebagai gantinya, kamu harus lakuin apa yang aku mau”kata sintiya
“ya deh, kamu mau aku lakuin apa?” tanya zahran
“kamu harus nemenin aku jalan jalan di daerah sini dan traktir aku makan” pinta sintiya “maaf tapi aku ada....” perkataannya dipotong oleh sintiya “kalau kamu ga mau gapapa, tapi jangan sebut dirimu laki laki di
depan gadis” kata sintiya “nih perempuan sadis juga”pikir zahran “baik...oke, aku temenin, tapi aku telepon sahabatku dulu, atau kamu mau mereka ikut juga?”tanya zahran menawarkannya pada sintiya. “oh... kenapa? Kamu ada janji sebelumnya sama mereka?” tanya kembali sintiya. “ya aku tadi ada janji sama sahabatku, terus sebenarnya dalam islam kita ga boleh berduaan kalau bukan mahromnya dan lagi ini udah sore” kata zahran dengan tegas menjelaskan kepada sintiya. “oke, silahkan...” jawab sintiya. setelah mendapat persetujuan sintiya zahran pun menelepon temannya sambil menjelaskan apa yang terjadi. Setelah beberapa lama kemudian, zahran menutup teleponnya “gimana?” tanya sintiya “ya... mereka nanti datang, oh ya,kamu... emangnya gapapa pulang malam, ga kasih tau dulu sama orang rumah atau supir kamu” kata zahran. “udah kok, kan juga aku yang udah rencanain ini, jadi it’s oke” kata sintiya sambil tersenyum
“ kita nunggu dulu di sini? Atau mau kemana dulu sambil nunggu mereka?” kata sintiya. “oh ya, mau pergi ke rumahku dulu ga? Aku mau naruh sepedah dulu... sekalian mau ganti baju dulu” kata zahran “ya boleh...
kamu bonceng aku ya... soalnya kakiku udah pegal hehehe...” pinta sintiya dengan lirih manja. Mereka pun pergi ke
sintiya yang penasaran. “hmm kalau dikata telat sih, pernah... tapi itu tak kan terjadi lagi selagi aku bisa bangun pas jam 3 pagi, terus aku kalau masalah capek sih ga masalah, karena emang niatnya sambil olahraga, kan lumayan bisa bentuk badan yang bagus hahaha...” kata zahran dengan candaannya. “ya deh terserah kamu aja” ketus sintiya.
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di rumah yang sederhana namun bertingkat. Banyak sekali bunga yang berada di halaman rumah “ini rumah kamu ran? Indah banget...” kata sintiya dengan kagumnya “ya... kamu suka bunga, ambil aja satu gapapa, tapi bilang dulu sama bundaku” kata zahran yang memperhatikan sintiya sedang melihat bunga bunganya itu. “zahran, kalau menurut kamu, cocok ga bunga ini sama aku ?“ tanya sintiya yang menunjuk ke arah bunga anggrek. “hmm...kayaknya sih ga...tapi kamu cocokan bunga itu” zahran menunjuk ke satu bunga yang berada di pojok halaman. “bunga mawar? Kenapa?” tanya sintiya. “karena.... bunga mawar
kelopaknya indah tapi batangnya berduri...kayak kamu, cantik cantik tapi sadis” perkataan zahran membuat sintiya kesal dan mencubit pinggangnya zahran “aduduh..sakit” kata zahran meringis kesakitan.
__ADS_1
“berhenti!... jangan sakitin aa” kata seorang anak perempuan yang berada di depan pintu rumah “eh rara... sini peluk aa dulu” pinta zahran yang langsung ditanggapi oleh rara. Rara pun berlari kearahnya dan zahran
menggendong dia dengan tingginya.lalu menurunkan dia dalam pelukannya. “kamu udah besar ya sekarang, makin berat aja adikku ini” kata zahran dengan gemasnya mencubit hidung rara. “halo...dek manis” sapa sintiya “aa, perempuan ini siapa?” tanya rara sambil menatap sintiya dengan tatapan tajam, tapi sintiya hanya
tersenyum. “oh ya, ini namanya teh sintiya, dia teman aa”kata zahran. Kemudian mereka berdua saling berbisik.
“aa, aa mungut dimana nih cewek ”kata rara
“aa waktu itu kebetulan ketemu di halte bis,dia kedinginan terus aa pinjamin jaketnya ke dia sekarang dia kesini mau ngembaliin jaket aa” kata zahran
“wah, usaha aa lumayan, dia lumayan cantik, tapi baik ga sama aa?” tanya rara
“ya juga, tapi baiknya sih belum teruji, jadi aa sebatas teman aja sama dia” kata zahran
“tenang...aa serahin aja semuanya ke rara”kata rara
“ya mohon bantuannya” sahut zahran
__ADS_1
Mereka berdua Saling menatap sintiya dengan aura jahat. “eh kok gua rasa, ada yang ga beres nih sama dua anak” batin sintiya pun ikut merasakan. “oke ayo... kita masuk ke dalam” ajak zahran sambil menggendong sang adik di atas pundaknya