PSIKOLOGI ROMANCE

PSIKOLOGI ROMANCE
MARI IKUTI PERMAINAN


__ADS_3

Misya menatap mata Harry dengan lekat tanpa mengedipkan matanya sekali pun. Suara gemercik air shower seperti telah ditiadakan.


Suasana di antara mereka tampak dingin mencekam tanpa suara nada. Tatapan mata yang saling beradu itu dipenuhi dengan kebencian yang mendalam. Selang beberapa menit, Misya pun mulai angkat bicara terlebih dahulu.


"Hm! aku memang bodoh. Terlalu bodoh, sehingga menganggap kau memiliki sedikit saja kesopanan. Apa menjadi orang terpandang adalah segalanya? Untuk apa semua hal itu? Kenapa tidak beri makan saja pada anjing, namamu, hartamu, statusmu, dan semua yang ada pada dirimu. Aku ingin kau kehilangan semua itu, lalu menayadari betapa hinanya dirimu," cetus Misya dengan tatapan mata geram.


Harry hanya tersenyum menatap wajah Misya, seakan-akan ia sengaja meremehkannya. Lalu, ia semakin menguatkan cengkraman tangannya kepada Misya, sehingga membuat Misya semakin merintih kesakitan.


"Menarik sekali. Melihatmu sperti ini, membuatku tidak ingin melepaskanmu. Kau memang mainanku yang sangat mempesona. Ah, jika kau ingin semua yang ada pada diriku, kau bisa memilikinya atau coba saja memberinya makan kepada anjing." Harry dengan sengaja meremehkan Misya.


"Konyol sekali! Aku berusaha membuang jauh pikiran buruk tentangmu dari mereka yang mengatakan segala keburukanmu. Aku berusaha mempercayai apa yang kulihat, bukan yang kudengar. Namun ternyata, tidak ada salahnya mendengar komentar dari orang lain. Kau benar-benar manusia hina!" cerca Misya dengan geram.


Setelah selesai mendengarkan Misya berbicara, Harry pun langsung melepas cengkraman tangannya dan menghempas lengan Misya dengan kasar.


"Terserah bagaimana cara kau memandangku. Aku sama sekali tidak perduli. Apa kau pikir, kau adalah gadis baik? Baiklah, gadis baik yang terhormat, apa kebaikanmu sampai rela menjual tubuhmu sendiri demi properti? Jika kau ingin membunuhku, maka bunuh aku sekarang juga. Dengan begitu, kita akan sama, sama-sama manusia hina," balas Harry.


Perkataan Harry membuat sendi-sendi tubuh Misya seakan melemah. Sendi lututnya tak dapat menyangga tubuhnya lagi. Sendi kaki Misya tak dapat lagi menyokong tubuh Misya. Misya akhirnya terjatuh begitu saja di hadapan Harry dengan putus asa.


Melihat Misya yang jatuh dalam jurang keputusasaan, tidak membuat Harry bersimpati sama sekali. Harry langsung mengambil jubah handuk yang ada di dalam kamar mandi dan meninggalkan Misya di sana begitu saja.


Sebelum itu, langkah Harry sempat terhenti, tepat di depan pintu kamar mandi. Harry menolehkan setengah wajahnya dan mengatakan sesuatu kepada Misya terlebih dahulu, sebelum ia berlalu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Ini baru permulaan, lain kali kau harus lebih terbiasa. Dalam jangka waktu satu tahun, kebahagiaanmu berada dalam genggamanku. Mengepal dan tidak akan terbuka sebelum aku memutuskan membukanya. Jangan lupa bersihkan luka di tangan dan lututmu. Aku mengatakan hal ini bukan karena perduli, tapi karena aku tidak suka melihat bagian tubuh wanita milikku terluka. Welcome to my game world! And you are my toy, a game world girl," ucap Harry sebelum pergi meninggalkan Misya.


Setelah menyelesaikan perkataannya kepada Misya, Harry pun keluar dari dalam kamar mandi dan membiarkan Misya sendiri di sana.


"Misya, jangan menangis! Kamu adalah wanita yang kuat. Pria sepertinya tidak pantas mendapat butir tangisku yang berharga. Kamu tidak bisa kalah di sini. Seperti yang dikatakannya, permainan baru saja dimulai. Aku adalah gadis dunia game, tapi aku bukan gadis game yang lemah. Aku adalah hero yang tangguh. Dia ingin bermain-main dalam dunia game. Baiklah, kalau begitu, aku akan menjadi lawan mainnya. Dalam dunia game, aku adalah Miya. Hero pemanah wanita yang tangguh. Akan kubuktikan bahwa panah cahaya bulan akan menghancurkan kegelapan," cetus Misya dengan geram.


Kedua telapak tangan Misya mengepal dan matanya dipenuhi kilat halilintar yang menggelegar. Misya tidak menangis dan sebisa mungkin menahan airmatanya agar tak jatuh membanjiri kedua pipinya.


Misya bangkit dan melihat pecahan kaca yang dilumuri oleh darah telapak tangannya. Misya mengambil kaca itu dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di dekatnya.


Misya sekilas menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Setelah puas menatap gambar dirinya tanpa arti, Misya pun keluar dari dalam kamar mandi dengan gentar.


Sambil berjalan, Misya mencetuskan sesuatu di dalam batinnya. "Ingat Misya, dia memang benar, permainan baru saja dimulai. Dalam dunia game, namamu bukan lagi Misya. Aku Miya, hero pemanah yang tangguh. Akan kubuktikan bahwa panah di bawah bulan dapat menarik kegelapan bumi. Dunia game yang kau buat ini, tidak akan pernah bisa mengalahkan rival sepertiku dengan mudah." batin Misya berkata-kata dengan gentar.


Namun, setelah ia menemukannya, pakaian miliknya ternyata sudah sobek tak karuan. Misya pun hanya bisa menutupi tubuhnya dengan selimut yang berwarna putih.


Harry tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan melihat gumpalan putih yang tengah berdiri. Pertama kali Harry melihatnya, Harry pun langsung terkejut.


"Kaget aku! Aku kira hantu," ucap Harry sembari menenangkan dirinya, karena jantungnya tiba-tiba berdebar kencang ketakutan.


Misya menoleh ke arah Harry dengan ekspresi datar. Seluruh tubuhnya telah ia balut dengan selimut dan hanya menyisakan wajahnya saja.

__ADS_1


"Sedang apa kau?" tanya Harry dengan penasaran.


"Apa lagi? Bajuku sobek, kau yang merobeknya. Aku harus meminta kompensasi. Jika tidak, aku akan mencuri baju milikmu," cetus Misya.


Harry menaikkan sebelah alisnya lalu berkata kepada Misya, "Ambil saja bajuku jika bisa," ucapnya. "Tunggu dulu, aku akan membelikanmu pakaian," ujar Harry.


Harry mengeluarakan phonsellnya dari dalam saku celananya, lalu menelephon nomor Sekretaris Alan.


"Halo, bisakah kau membawaku pakaian wanita?" pinta Harry kepada Alan lewat seberang telephon.


"Ha? Malam-malam begini, apa yang akan kau lakukan dengan pakaian wanita?" tanya Alan dengan dipenuhi banyak tanda tanya dalam otaknya.


"Banyak tanya. Bawa saja sih, repot!" sentak Harry.


"Padahal, ini adalah akhir pekan. Dan kau tiba-tiba memintaku bekerja. Lalu, kau ingin menyiksaku di malam hari dengan memintaku belanja pakaian wanita," gerutu Alan yang merasa sangat malas.


"Banyak bicara! Jangan terlalu banyak mengeluh. Cepat bawakan saja!" perintah Harry dengan lantang.


Misya dan Harry menunggu di dalam ruangan yang sama dengan perasaan yang canggung. Tidak biasanya Harry mendapati perasaan canggung seperti ini.


Suara detik jam berputar semakin membuat suasana canggung itu lebih mencekam. Harry melirik ke arah Misya sekejap, lalu Misya pun membalas tatapan Harry dengan tatapan tajamnya. Setelah itu, Harry kembali memalingkan matanya ke arah lain.

__ADS_1


"Kau, kenapa kau masih perawan?" tanya Harry. "Aish! Apaan ini? Aku tidak percaya, kalau aku menanyakan sesuatu sebodoh ini. Bisakah aku menarik ucapanku kembali?" batin Harry.


__ADS_2