
Harry mulai angkat bicara dan kembali menguatkan cengkramannya kepada tubuh Misya, bahkan kali ini lebih kuat dari sebelumnya. "Misyarel Adellia, kau telah membuat kesalahan fatal dengan mengucapkan hal itu kepadaku. Aku tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang berbuat salah padaku," cetusnya.
Misya merintih kesakitan, ketika ia mendapatkan perlakuan kasar dari Harry. Bahunya yang terasa nyeri, kini terasa seperti mati rasa. Darahnya yang sempat mengendap, mulai membeku karenanya.
"Berengsek! Kau benar-benar sudah gila. Lepaskan aku! Kau menyakitiku." Kata-kata umpatan tak luput dari lontaran yang keluar dari mulut Misya.
Misya yang geram, tak ingin kalah dari Harry, meski dirinya telah disiksa sedemikian rupa. Tindakannya itu tak membuatnya menyesal, meskipun tindakannya itu semakin membuat dirinya tersiksa.
Harry menatap lekat wajah Misya yang tertutup oleh kain hitam. Ia seperti tengah kehilangan kesadaran dirinya sendiri. Kegeramannya itu membuat Misya merasakan nyeri hebat di bahu yang dicengkramnya, hingga menjalar ke tubuhnya yang lain.
Dengan keberingasannya, Harry mulai menggeluti Misya dengan kasar. Perlakuan Harry membuat Misya merintih kesakitan. Misya berusaha untuk terlepas dari cengkraman buas nya, tetapi ia tanpa daya. Kedua lengannya diikat dan tubuhnya tak dapat bergerak.
"Tu-Tuan, tidak bisakah kau melunak sedikit? Kau menyakitiku, perlakuanmu sangat menyakitkan," rintih Misya yang tidak sadar telah menitikkan airmata di kedua pelupuk matanya.
"Pintar sekali. Panggilan 'Tuan' sangat cocok untukku. Aku suka caramu memanggilku seperti itu," cetus Harry tanpa melupakan keberingasannya.
Harry terus menggeluti tubuh Misya dengan sikap kejamnya. Hingga pada akhirnya ....
"Ka-kalian sedang apa? Apa aku datang di waktu yang salah?!!" teriak seseorang secara histeris.
Seseorang tiba-tiba datang dan masuk ke kamar tempat mereka berdua melancarkan aksi panasnya. Dia adalah Alan, sekretaris Harry.
Alan yang diminta Harry untuk datang pun akhirnya telah tiba. Pada saat Alan masuk ke rumah Harry, ia merasakan keheningan yang begitu pekat.
__ADS_1
Pintu rumah terbuka lebar, tetapi tampak seperti tak berpenghuni. Ia ingat bahwa Harry menyuruhnya untuk membawakan pakaian wanita. Namun saat ia tiba, ia sama sekali tak melihat sosok Harry, bahkan phonsellnya dalam keadaan senyap.
Alan hanya iseng-iseng saja berkeliling rumah Harry dan mencari keberadaan Harry. Hingga akhirnya, ia melihat salah satu ruangan yang terbuka, sedangkan ruangan lain yang berada di sekelilingnya tertutup dengan rapat.
Alan penasaran dengan ruangan yang terbuka itu. Ia berpikir bahwa Harry pastilah berada di sana. Namun setelah ia masuk ke dalamnya, ia melihat sesuatu yang tak terduga.
Alan yang dihadapkan adegan tidak senonoh itu pun langsung membalikkan badannya dan menutupi matanya dengan salah satu telapak tangannya, sedang tangan yang lain tengah memegang sebuah tas belanja.
"Aishh! Benar-benar mengganggu," ucap Harry.
Menyadari seseorang telah datang dan mengganggu kesenangannya, Harry pun mulai merasa kesal. Harry mulai tersadar dan bangkit dari tempatnya, meninggalkan Misya yang saat itu tak memakai sehelai kain pun.
Harry berkacak sebelah pinggang dan menatap punggung Alan yang membelakanginya. Kemudian, ia mengambil kaus nya dan memakainya. Lalu, ia berjalan menghampiri Alan dan melewatinya begitu saja.
Sekretaris Alan menaikkan kedua alisnya, lalu mengikuti Harry di belakangnya. Mereka keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Misya di sana sendiri.
"Tuhan, apa salahku? Apakah tidak cukup, aku dilahirkan dari keluarga yang hancur? Apakah tidak cukup, ibuku pergi meninggalkanku? Apakah masih belum cukup memiliki seorang Ayah penjudi? Kenapa aku harus didatangkan seorang calon suami beringas seperti iblis sepertinya?" lirih Misya dalam batinnya.
Misya akhirnya menangis sejadi-jadinya, dalam kondisi yang masih terikat dan matanya yang ditutupi oleh kain berwarna hitam. Sudah hancur, hatinya telah hancur berkeping-keping, melebur, lalu butiran debu telah diterbangkan oleh angin. Begitulah yang ia rasakan saat ini, hancur tiada tersisa. Hatinya telah berulang kali dipukul, retak, hancur, lalu dibangun kembali. Berulang kali selalu seperti itu, ibarat semua yang ia rasakan selama ini. Dikatakan bahwa manusia memiliki hati yang bersih, benar-benar bulshit! Manusia adalah makhluk terkejam, hanya karena ia menduduki rantai makanan teratas.
Jika dipikir, lucu ya? Bahkan selembar kertas lebih berharga dan memiliki kuasa untuk mengendalikan tubuhnya, hidupnya, dan bahkan hak asasinya.
***
__ADS_1
Alan mengikuti Harry di belakangnya, dengan pandangan mata yang tak luput menatap belakang kepala Harry. Ia seperti tengah menyimpan banyak sekali hal yang ingin ditanyakan kepada Harry.
Setelah keluar dari ruangan tadi, mereka berjalan menyusuri lorong dan berhenti tepat di tengah ruang tamu.
Harry menghentikan langkahnya dan diikuti Alan yang menghentikan langkahnya di belakangnya. Kemudian, Harry berbalik dan mengusap rambut kelimisnya ke belakang sembari berkacak sebelah pinggang.
Harry tampak frustasi, tetapi berusaha menahannya. "Hei, berikan barang yang kupesan!" perintahnya.
Alan buru-buru menyodorkan sebuah tas belanjaan yang sedari tadi digenggam di tangan kanannya. Tatapan mata Alan tak sekalipun teralihkan dari sosok Harry. Dia seperti memiliki banyak pertanyaan yang sangat ragu untuk ditanyakannya secara langsung.
Sedangkan Harry tidak bodoh untuk tidak mengetahui bahwa sekretarisnya itu memiliki banyak hal yang mengganggu pikirannya. Hanya mengamati gerakan tubuhnya saja, Harry sudah tahu bahwa sekretarisnya itu pastilah merasa penasaran dengan apa yang baru saja ia lakukan dan apa yang baru saja ia saksikan.
"Kenapa? Tatapan matamu sangat mencurigakan," katanya, lalu menghentikan ucapannya sekejap. "Apa kau tidak penasaran dengan apa yang baru saja kulakukan pada gadis itu?" tanyanya.
Alan hanya meringis tidak jelas. Ia merasa sedikit aneh dengan suasana canggung yang terkias di antara mereka. "Aku tidak penasaran dengan apa yang baru saja anda lakukan dan yang baru saja kulihat," ucapnya lalu terhenti sejenak. "Tentu saja, karena itu sudah rutinitas bagi anda," celetuknya.
Harry mencondongkan kepalanya dan membelalakkan matanya. Lalu, ia melayangkan tas belanja itu ke arah Alan. Alan reflek melindungi kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Namun ternyata, Harry tidak memukulnya. Ia hanya menakut-nakuti Alan saja.
Alan mulai membuka matanya yang terpejam reflek, lalu menyingkirkan kedua telapak tangan yang melindungi kepalanya. Dia menegakkan tubuhnya kembali dengan tegas.
"Aku tidak penasaran dengan apa yang kau lakukan, karena tentunya aku sudah tahu perlakuan tidak senonohmu yang seperti itu," katanya. "Aku hanya ingin tahu, kenapa kau melakukan semua itu kepadanya?" tanyanya.
Harry mengerutkan kedua alisnya, karena tak mengerti dengan maksud perkataan yang baru saja diucapkan oleh sekretarisnya itu. "Apa maksudmu?" tanyanya.
__ADS_1
"Kau memang suka bergonta-ganti wanita dan mempermainkan mereka, tapi kau tidak pernah sejahat ini." cetusnya. Setelah terdiam sejenak, ia baru melanjutkan perkataannya. "Apa alasanmu melakukannya? Kau mengancamnya, memaksa menjadi istri kotrak, lalu mengambil kehormatannya sebelum acara pernikahan berlangsung. Lalu, apa maksudmu menyiksanya dengan cara mengikatnya, lalu menutup matanya dengan kain? Jangan kira, aku tidak tahu kalau kau melakukannya, karena terkenang peristiwa 6 tahun lalu," ujar Alan.