PSIKOLOGI ROMANCE

PSIKOLOGI ROMANCE
PERTEMUAN KEDUA


__ADS_3

"Apa kau berencana mengambil uangku? Aku memang sangat kaya, tapi bukan berarti aku mau beramal denganmu secara cuma-cuma," cetus Harry.


Harry saat ini tengah berada di ruang tamu rumah pria bernama Mario. Ia meniup-niup kelima ujung kuku miliknya dengan kaki yang disilangkan dan tubuh yang disandarkan. Ia menunggu dengan tidak sabar jawaban dari pria bernama yang Mario.


"Beri saya waktu. Saya pasti akan bisa melunasinya," pinta pria yang bernama Mario.


"Kau bilang, ingin mendirikan perusahaan besar dan kau ingin aku menjadi investor utamanya. Sayangnya, aku lebih tahu kalau itu semua hanyalah kebohongan semata. Kau hanya ... ." Ucapan Harry tergantung seketika, pada saat ia melihat sesosok gadis yang seperti pernah ia lihat di suatu tempat. Ya, dia Misya, gadis yang hampir menjadi pemuas nafsu Harry pada suatu malam.


Harry menghiasi bibirnya dengan senyum sumringahnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Misya sekali lagi dalam event yang tidak terduga.


"Begini saja, bagaimana jika menyerahkan putrimu kepadaku sebagai pertukaran hutang-hutangmu. Maka hutangmu dan juga bunganya akan segera terlunasi," ucapnya kepada ayah Misya dengan penuh tipu daya. "Silakan pikirkan hal ini baik-baik. Aku akan datang dalam beberapa hari lagi. Kalian harus segera memutuskannya. Jika tidak, rumah bututmu ini akan kuambil secara paksa dan kugusur," ancam Harry kepada ayah Misya.


***


Selang dua hari, seoang pria berwajah dingin menghentikan mobilnya di halaman rumah Misya. Pria berwajah dingin itu adalah Alan, sekretaris dari Harry Libernado.


Sekretaris Alan mengetuk pintu rumah Misya. Misya membukakan pintu rumahnya dan langsung terkejut, ketika mendapati seorang pria bersetelan jas rapi datang ke rumahnya. Ayah Misya telah menceritakan tawaran kontrak nikah dari seorang CEO perusahaan besar kepada Misya. CEO itu tak lain adalah Harry Linernado dari perusahaan Night Bio Company.


Tanpa dipersilakan, Sekretaris Alan masuk ke dalam rumah tua milik keluarga Mksya, lalu dia langsung menyodorkan selembar kontrak ke atas meja. Ia mendorong selembar kontrak itu ke arah Misya yang duduk di seberangnya.


"Ayah, akan kulakukan," ucap Misya kepada ayahnya dengan gentar.


"Tidak, jangan lakukan itu! Ayah pasti akan segera melunasi hutang Ayah sendiri," cetus ayah Misya.


"Putuskan sekarang, setelah itu kami akan mengkonfirmasinya dengan pimpinan kami," ucap Sekretaris Alan yanh sedari tadi terkesan mendesak.


Misya terus berfikir sangat lama. Kemudian ia mengambil pena yang ada di atas meja. Misya sudah membaca isi kontrak tersebut.

__ADS_1


Isinya benar-benar sangat tidak realistis dalam kehidupan nyata. Akan tetapi, Misya benar-benar tidak punya pilihan lain selain menadatanganinya atau tidak rumahnya akan segera digusur.


Misya menaruh ujung pena yang masih mengambang di atas surat kontrak tersebut. Misya sangat ragu untuk mempertaruhkan hidupnya. Namun, hidupnya yang lain juga sangat dipertaruhkan.


"Sudahlah, kita lakukan saja! Yang penting dia tidak membunuhku," cetus Misya.


Bagi beberapa orang, keluarga adalah segalanya. Meski terkadang, mereka tahu sendiri bahwa keluarga mereka tidak pernah membuat mereka bahagia, bahkan keluarga yang sering membuat masalah hidup kepada diri sendiri, bukan orang luar.


Sama halnya yang terjadi pada Misyarel Adellia, seorang gadis muda yang baru menginjak umur 21 tahun. Misya harus mengorbankan dirinya dan menjadi seorang istri kontrak seorang pria pemain wanita dalam jangka waktu setahun. Semua itu ia lakukan untuk melunasi semua hutang ayahnya yang tak terhingga jumlahnya.


"Apa itu kau?" tanya Harry kepada Misya yang berada tepat di hadapannya.


Misya menatap wajah Harry dengan tatapan heran, karena tidak mengerti apa maksud dari pertanyaannya. Tiba-tiba Harry menghampiri Misya dan menyudutkan tubuh Misya, hingga tubuh Misya terpojok di mobil mewah milikHarry.


Misya hanya menatap wajah Harry dengan ekspresi datar, tanpa ada rasa sedikit pun. Harry menyukai tatapan polos Misya ketika Misya menatap wajahnya. Sangat jarang para wanita yang menatapnya dengan cara berbeda, seperti tatapan Misya kepadanya.


"Apa kau Misyarel Adellia?" Harry mengulang pertanyaannya kembali hanya untuk berbasa-basi.


Harry terus menatap wajah Misya dengan lekat. Posisi tubuh mereka saat ini tidak berubah dan tak berpindah tempat sedikit pun. Harry tetap memojokkan tubuh Misya di mobil miliknya. Kedua lengan Harry layaknya memagari tubuh Misya agar Misya tidak bisa lolos darinya.


'Dengan wajah tampan dan kharismaku ini, gadis ini pasti akan langsung terpesona,' batin Harry dengan rasa narsis yang sudah berada di ujung menara pisa.


'Apa ini? Kenapa nafasnya bau jigong? Baunya mirip seperti bawang putih. Apa dia baru saja makan bawang putih?' batin Misya dengan respon aneh dan pemikiran konyolnya.


'Gadis ini hanya berdiam diri tanpa bergerak sedikit pun. Sepertinya dia benar-benar terpesona oleh kharismaku. Jantungnya pasti berdebar sangat kencang karena kharismaku yang tak terkalahkan.' Harry menebak-nebak dalam hatinya dengan percaya diri tak tersaingi.


"Permisi?" ucap Misya dengan sopan.

__ADS_1


"Ya, ada apa?" tanya Harry, sembari menampilkan senyum nakalnya.


"Apa mungkin, kau baru saja makan bawang putih? Aku punya permen untuk menghilangkan bau mulut," pungkas Misya sembari menawarkan permen miliknya yang ada di saku kemejanya.


Harry langsung melepaskan Misya yang terpojok olehnya dan menegakkan kembali tubuhnya. Harry tiba-tiba batuk, seperti seseorang yang tenggorokannya tengah tersedak. Lalu Harry menguapkan nafasnya di telapak tangannya, sembari mencium bau mulutnya sendiri.


"Sekretaris Lan!" Harry memanggil sekretarisnya yang duduk di dalam mobil.


Sekretarisnya tak lain bernama Alan. Ketika Harry meneriakkan namanya, Sekretaris Alan pun langsung bergegas keluar dari dalam mobil dan menghampiri Harry, ketika Harry memanggilnya.


"Iya, Pimpinan. Ada apa?" tanya sekretaris Alan.


"Apa kau punya permen pencuci mulut?" tanya Harry dengan malu-malu kucing kepada sekretarisnya.


Harry berbicara kepada Alan dengan nada rendah dan terdengar tidak jelas. Alan yang tidak mendengar jelas pun tidak mengerti apa yang tengah dikatakan atasannya kepadanya.


Sekretaris Alan yang tidak mengerti pun akhirnya bertanya secara langsung kepada Harry, " Apa yang anda katakan tadi? Saya tidak mendengarnya dengan jelas." Alan meniru gaya bicara Harry dengan cara berbisik.


"Kamu! Itu ..., apa kau tidak punya permen?" tanya Harry sekali lagi kepada Alan dengan malu dan juga masih dengan cara berbisik. Harry tidak ingin Misya mendengar percakapan di antara keduanya.


Sekretaris Alan tetap tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang tengah dikatakan oleh Harry. Alan pun mendekatkan telinganya ke dekat mulut Harry dan meminta Harry berkata di dekat telinganya.


"Permen," ucap Harry dengan singkat.


Sekretaris Alan menegakkan tubuhnya kembali. Ia menampilkan sebuah senyuman tanda isyarat, yang artinya ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Harry kepadanya.


"Ah ..., ternyata permen." Alan tampak mengerti dengan sikap tenang dan rasionalnya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kau memilikinya?" tanya Harry sekali lagi kepada sekretarisnya yang bernama Alan.


"Tidak, saya tidak pernah membeli permen," cetus Alan.


__ADS_2