
Harry menundukkan padangannya, lalu mengernyitkan kedua alisnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Namun, dengan spontan, Harry mulai menyadarkan dirinya kembali. Ia menjauhkan segala sesuatu yang mempengaruhi pikirannya.
Harry mengangkat wajahnya dengan tatapan nanarnya yang menatap wajah datar Alan. "Semua yang aku lakukan saat ini, tidak berhubungan dengan peristiwa 6 tahun lalu. Tidak sedikit pun," tegasnya.
Harry mengalihkan pandangannya dengan tatapan lurus tajam, lalu melewati tubuh Alan. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar tempat Misya berada.
Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti, karena ucapan yang dilontarkan oleh Alan. "Jangan buat alasan lain untuk mengelaknya. Aku tahu kau melakukan hal ini bukan hanya sekedar permainan belaka. Kau sekali pun belum melupakan kejadian 6 tahun lalu. Kau pikir, dengan mencari pelampiasan, kau akan merasa lebih baik? Tidak, kau hanya mencari masalah lain bagi dirimu sendiri. Sebelum semua itu terjadi, sebaiknya hentikan sekarang. Sebelum semuanya terlambat," ujarnya.
Alan memberikan saran kepada Harry agar Harry menghentikan permainannya, sebelum semua terlambat. Entah hal apa itu, ia hanya tidak ingin Harry tersesat nantinya.
Harry menghentikan langkahnya tanpa berbalik, ia tetap memunggungi Alan. Kali ini, Alan berbicara padanya bukan sebagai seorang sekretarisnya, tetapi sebagai seorang sepupu angkatnya, sekaligus temannya.
"Jangan ikut campur. Semua tidak seperti yang kau pikirkan. Kejadian 6 tahun lalu? Sayang sekali ... aku sudah lama melupakannya." Harry berusaha untuk terlihat jantan.
Percuma saja, semua yang dikatakan oleh Alan hanyalah kata-kata pemborosan bagi pria keras kepala seperti Harry. Harry adalah pria yang keras kepala. Jika ia telah memutuskan untuk melakukan sesuatu, siapa pun itu, jangan harap bisa menghentikan tujuannya. Harry tidak akan pernah berhenti, ketika ia telah memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Tatapan mata setajam elang, tak luput dari aura pembunuhnya. Harry telah memantapkan semuanya, segala tindakannya, ia tidak akan pernah berhenti.
Harry mengacuhkan saran yang diucapkan oleh Alan, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Alan hanya bisa menatap punggung Harry dengan tatapan sendu.
"Aku hanya tidak ingin kau tersakiti untuk kedua kalinya." Alan bergumam sendirian sembari menatap punggung Harry yang berjalan menjauhinya.
__ADS_1
Harry telah sampai di kamar tempat Misya berada. Ia mendorong pintu kamar dan melihat sosok Misya yang terbaring dengan kondisi masih terikat kedua tangannya dan kedua mata yang tertutup oleh kain hitam.
"Gadis game-ku, Harry telah datang kembali. Bagaimana? Setelah aku pergi beberapa menit, apa kau sudah merindukanku?" Ucapannya sengaja meremehkan Misya dengan usaha untuk memukul mentalnya secara bertubi-tubi.
"Dasar gila!" cercanya dengan tatapan nyalang, menatap wajah Harry dengan aura penuh dengan kebencian.
Misya yang saat itu tengah menangis, spontan menghentikan tangisannya. Perkataan Harry yang terdengar di telinganya, membuatnya semakin merasa jijik. Semuanya, Misya telah membenci dunia yang kotor ini.
Misya tak ingin lagi menangis, kali ini Misya malah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Mentalnya benar-benar telah terlukai sebegitu dalamnya, hingga ia pun telah membuang hidupnya di tempat pembuangan sampah, ibarat menginjakkan kakinya di neraka dunia yang ia arungi saat ini.
"Hahaha." Misya tertawa-tawa tidak jelas. "Aku sangat merindukanmu, sangat, sangat. Oh ya, kapan kau akan kembali menyiksaku? Beberapa menit ini, aku telah menantikan siksaan darimu," cetusnya.
Harry sama sekali tidak tersindir dengan apa yang dikatakan oleh Misya barusan. Jiwa iblis yang dipenuhi dengan dendamnya itu semakin membuatnya terpuaskan, tak sabar untuk menunggu level permainan berikutnya.
Harry menaruh tas belanja di salah satu meja yang ada di sana. Kemudian, ia berjalan menghampiri Misya yang terbaring di atas ranjang. Lalu, ia duduk di samping tubuh Misya.
Harry memandangi tubuh Misya yang tanpa sehelai kain pun membalut tubuhnya. Telapak tangan Harry mendarat di wajah Misya, ia mengelus-elus wajah Misya yang lembut seperti kulit bayi.
Setelah puas mengelus wajah Misya, ia mulai melepaskan ikatan tangan yang mengikat kedua lengan Misya dengan kasar. Kemudian, melepaskan helai kain yang menutupi matanya.
Dilihatnya mata Misya yang sembab dengan tatapan intens. Hal itu tak membuatnya sedikit pun merasa iba, ataupun simpati kepada Misya. Ia menurunkan wajahnya dan mendaratkan kecupan di kedua kelopak mata Misya yang sembab itu.
__ADS_1
"Perduli? Hekh!" Misya menyeringai. "Kau sama sekali tidak perduli. Kau hanya ingin semua yang kau inginkan dapat kau miliki, semua yang kau dapatkan menuruti, lalu jika semua tidak berjalan sesuai dengan yang kau hendaki, kau seperti itu. Pura-pura perduli," ucap Misya.
Harry menolehkan kepalanya ke arah samping. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya untuk menatap Misya pada saat Alan tiba-tiba muncul di depan pintu.
Alan melirik ke arah Misya sekejap, kemudian langsung memalingkan matanya ke arah Harry. "Itu, ada urusan yang harus kau tangani," ucapnya dengan ragu.
Harry meluruskan pandangannya kembali. Ia melangkahkan kakinya, hingga selaras dengan posisi Alan yang saat itu berada di pinggir pintu.
"Aku tahu, aku akan segera mengurusnya," Harry lebih dulu tahu tentang urusan yang harus ia urus. "Oh ya, tolong urus dia. Obati luka yang ada di telapak tangan dan lututnya," perintahnya.
Harry tetap meluruskan pandangannya, tanpa menoleh ke arah Alan sedikit pun. Setelah menyelesaikan perkataannya, Harry mulai melangkahkan kakinya kembali, berlalu pergi, melewati Alan yang berada tepat di sampingnya.
Sedangkan Alan yang mendapat perintah seperti itu dari Harry pun tertegun seketika. Alan membelalakkan netranya sembari menunjuk jemari telunjuknya sendiri ke depan dadanya.
"Aku? Aku harus mengobatinya?" Alan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Dia merasa dimanfaatkan karena selalu membereskan setiap masalah yang selalu diperbuat oleh Harry.
Hati Harry terasa hampa. Ia tampak tidak fokus sedari tadi. Entah apa yang dipikirkannya dan yang mengganggu pikirannya, tetapi semua hal itu sudah cukup membuat pria sepertinya tidak fokus dalam segala hal.
Harry menilik jam yang terpajang mewah di dinding rumahnya. Pukul 03.44. WIB. Ternyata waktu berlalu sangat cepat. Tidak terasa sudah hampir pagi.
Dengan pakaian yang rapi, ia berjalan dengan tegas keluar dari rumahnya. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, ia menghentikan tindakannya ketika ia mendapatkan sebuah telephon.
__ADS_1
"Presdir ... ." Sebelum bawahan Harry melangsungkan pembicaraannya, Harry langsung menyahutnya karena tidak ingin terlalu lama mendengarkan omong kosong yang tidak diperlukan.
"Iya, aku tahu. Kau sambut mereka dengan baik. Aku akan segera ke sana. Di mana para tamu investor sekarang? Ah baiklah, aku segera datang," ucapnya sebelum mengakhiri telephon dari salah satu bawahannya.