
"Tidak, bukan itu masalahnya. Anu ..., sebaiknya anda sikat gigi terlebih dahulu. Sebenarnya, aku tidak suka bau bawang putih," ujarnya berterus terang.
Mendengar pernyataan dari Misya, Harry semakin tak bisa lagi menahan rasa malunya. Harry bergegas meninggalkan Misya sendirian di halaman rumahnya.
Harga diri Harry seperti telah diinjak-injak oleh Misya, seorang gadis muda yang akan menjadi Istri kontraknya. Dengan tergopoh-gopoh, Harry masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Misya yang ditinggalkan sendirian di halaman rumah pun hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.
'Kenapa dia meninggalkanku di sini? Lalu kenapa dia memaksaku kemari? Apa aku ada membuat kesalahan?' tanya Misya di dalam batinnya.
Harry masuk ke dalam kamar mandinya dan melihat pantulan dirinya di cermin. Plak! Plak! Harry menepak-nepakkan telapak tangannya di atas meja yang ada di depan cermin.
Mata Harry mendelik dengan tajam, menatap dirinya sendiri dengan tatapan murka. Tatapan matanya sangat tajam, bak raja elang yang menyambar ayam kampung.
'Tidak bisa dibiarkan. Kurang ajar sekali gadis itu! Berani sekali dia menginjak-injak harga diriku. Aku adalah Harry Libernado, seorang pria yang senang bermain-main dengan kehidupan orang lain, terutama para wanita. Konyol sekali! Bagaimana mungkin aku dipermainkan gadis seperti dia? Tunggu saja, aku pasti akan membalasnya berkali lipat,' batin Harry dengan geram.
Harry menyaut sikat gigi dan pasta gigi yang terpanjang rapi di depannya. Dengan kesal, Harry menggosok giginya dengan kasar. Pikiran Harry dipenuhi dengan kebenciannya terhadap Misya yang telah tidak sengaja menginjak-injak harga dirinya.
Usai menyikat giginya, Harry kembali menghampiri Misya yang masih berada di halaman rumahnya. Dengan kasar, Herry menyaut pergelangan tangan Misya dan menyeretnya begitu saja.
Misya mengernyitkan kedua alisnya, menatap belakang kepala Harry, ketika mendapati ia diperlakukan dengan kasar oleh Harry. Misya memang gadis polos, tetapi dia bukanlah gadis yang bodoh. Ia bisa langsung tahu jika Harry saat ini tengah melakukan kekerasan terhadapnya.
"Kau mau bawa aku ke mana?" tanya Misya dengan nada panik.
Harry sengaja tidak menjawab pertanyaan dari Misya dan mengabaikannya. Ia tetap menyeret Misya dengan kasar, sedangkan Misya tak punya kuasa untuk membela dirinya. Misya hanya bisa mengikuti langkah kaki Harry yang sangat lebar dan cepat.
Langkah kaki Harry yang sangat cepat, sehingga membuat Misya lelah dan kewalahan. Misya pun akhirnya tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh. Lututnya menabrak latar halaman yang diaspal dengan sangat keras.
"Aw! Sakit sekali," pekik Misya.
__ADS_1
Mengetahui Misya yang terjatuh, Harry pun langsung melepaskan cengkraman tangannya dan menghentikan langkah kakinya. Harry berbalik dan menatap Misya yang tengah sibuk meniupi lututnya yang lecet dan berdarah.
Harry menatap Misya dengan tatapan dan ekspresi yang sangat dingin, tanpa perasaan sedikitpun. Melihat Misya yang sedang terluka, Harry tidak memperdulikan luka yang ada di lutut Misya.
Harry menurunkan tubuhnya dan kembali menyaut pergelangan tangan Misya. Harry memaksa Misya berdiri dengan kasar. Misya pada awalnya memberontak dan memprotes hak asasinya kepada Harry.
"Aku sedang terluka. Seharusnya ketika seorang pria melihat gadis terluka, bukankah ia harus menolongnya atau mengobatinya dan semacamnya? Kau sangat jahat sekali. Setidaknya biarkan aku mengobati lukaku sendiri," cetus Misya dengan berani.
Harry mendengarkan perkataan Misya, tapi ia seperti berpura-pura tidak mendengarnya. Harry tetap menyeret Misya dengan kasar.
Mendengar perkataan Misya, Harry pun hanya menghias bibirnya dengan senyuman licik. Dia adalah pria licik dan terkejam yang pernah ada.
Harry menyeret Misya dengan kasar dan mulai memasuki rumah megahnya. Melihat barang-barang yang sangat antik dan mahal, Misya pun terkagum-kagum.
Namun, Misya kembali menyadarkan dirinya dengan cara menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekarang bukan saatnya Misya mengagumi barang-barang mewah itu.
"Aku ..., itu ...," Ucapan Misya tergantung dengan ragu-ragu.
Harry berhenti menyeret Misya dan menghentikan langkahnya. Harry berbalik dan memberi kesempatan Misya untuk berbicara.
"Katakan! Apa yang mau kau katakan?" tanya Harry dengan memasang ekspresi dingin khasnya.
"Itu ..., Begini, apa aku boleh ke toilet sebentar?" Misya mencoba untuk mencari alasan agar ia bisa kabur dari cengkraman dan pengawasan Harry.
"Toilet? Ada di ujung ..., sana," ucap Harry.
Harry menunjukkan jari telunjuknya, menunjuk arah toilet yang ada di ujung rumahnya. Misya langsung menoleh ke arah tempat yang ditunjuk oleh Harry.
__ADS_1
Melihat lorong yang begitu panjang, membuat Misya hanya tertawa kecil tidak jelas. Alasan apa pun itu, asalkan Misya bisa lari darinya.
"Ha, ha, ha, kalau begitu, aku izin meminjam toiletmu sebentar." Misya tertawa-tawa tidak jelas dan segera berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh Harry.
Melihat Misya yang tampak tergesa-gesa kabur darinya, Harry pun langsung menghentikan Misya dengan ucapannya. Mendengar ucapan dari Harry, Misya langsung terhenti tanpa berbalik sedikit pun.
"Apa kau mau kuantar?" tanya Harry, menawarkan bantuannya.
"Tidak perlu, aku bisa mencarinya sendiri," jawab Misya dengan panik.
"Benarkah? Kau yakin tidak akan tersesat? Toilet ada di ujung dan lumayan jauh," tutur Harry.
Misya berbalik dan menjawab dengan fasih, disertai gerakan tubuhnya,"Saya bisa mencarinya sendiri. Saya tidak mau merepotkan anda. Anda terlihat sangat letih, sebaiknya anda beristirahat," saran Misya, sembari menyeimbangkan ucapannya dengan bahasa tubuhnya.
Harry hanya tersenyum sebelah bibir dan menyeringai. Lalu, ia menjawab perkataan Misya,"Baikah, jika itu maumu. Silakan cari jalannya sendiri," pungkas Harry.
Misya segera berbalik dengan cepat dan berjalan ke arah tujuannya. Ia menyusuri lorong rumah Harry yang di sampingnya terdapat banyak pintu. Misya tidak tahu pintu apa saja itu dan ia pun tidak penasaran, yang pasti pintu yang terdapat sebuah ruangannya.
Misya terus berjalan menyusuri lorong, hingga ia pun telah berada di pojok ruangan dan menemukan sebuah pintu di sana. Misya langsung mengklik gagang pintu tersebut dan ternyata pintu itu tidak terkunci.
Misya mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan yang tak lain adalah sebuah toilet. Misya segera mengeluarkan phonsellnya dan segera menghubungi sahabat dekatnya.
Misya segera menghubungi nomor Aldi, sahabatnya. Akan tetapi, Aldi tak kunjung mengangkatnya karena sedang mandi. Berkali-kali Misya menelephon, tetapi Aldi tak kunjung menjawab telephon darinya.
Misya akhirnya berhenti menghubungi Aldi dan mencoba menghubungi temannya yang lain. Temannya mengangkatnya, tapi ia tidak mendengar ucapan Misya dengan baik. Karena sepertinya, teman Misya sedang berkumpul ramai dengan anak lain.
"Vera, Vera, tolong aku! Bisakah kau datang menolongku? Alamat rumahnya di ..." Belum sempat Misya menyelesaikan ucapannya, Vera pun langsung memotongnya.
__ADS_1
"Halo, maaf Misya, aku tidak mendengarnya dengan jelas. Di sini sangat ramai, aku sedang sibuk. Nanti aku hubungi lagi," ucapnya sebelum mengakhiri telephonnya begitu saja.