PSIKOLOGI ROMANCE

PSIKOLOGI ROMANCE
PURE GIRL


__ADS_3

Harry sangat menyesal setelah ia menanyakan pertanyaan yang sangat konyol kepada Misya. Dia sangat ingin menarik perkataannya jika bisa. Sedangkan Misya yang mendengarnya pun hanya menyeringai tanpa arti.


"Lucu sekali. Memangnya kenapa kalau aku masih perawan? Kau tidak menyukai perawan sepertiku? Atau, kau suka merenggut kesucian para gadis perawan?" tanya Misya tanpa maksud apa pun. "Dasar perenggut kehormatan!" cerca Misya.


Harry hanya tersenyum misterius, serta perasaan licik yang tak pernah luput dari dalam dirinya. "Nona Misya, sepertinya kau mendapat sedikit kehormatan dariku. Asal kau tahu saja, kau adalah satu-satunya gadis yang kuambil kehormatannya. Tidak, mungkin kau No.2." Misya reflek menatap wajah Harry dengan tatapan nyalang. "Beginilah rasanya merenggut keperawanan seorang gadis. Segar... aku sangat menikmatinya. Pure girl yang mempesona," ucap Harry dengan penuh nafsu.


Misya merasa jijik ketika Harry mengatakan hal itu kepadanya. Darahnya mulai meluap sampai pada titik ujung otaknya. Suasana santai hanyalah jeda bagi keduanya. Sedangkan, mereka tidak akan pernah saling melepaskan kebencian dalam diri mereka.


"Berengsek gila!" cerca Misya dengan geram.


Misya mengepalkan kedua telapak tangannya, lalu ia berjalan menghampiri Harry dengan geram. Ia mulai melayangkan lengannya kembali dan berencana menampar wajah Harry. Akan tetapi, sekali lagi Harry menangkis serangan dari Misya.


Plakk!!!


Tanpa ampun dan belas kasihan, Harry malah balik menampar wajah Misya dengan keras. Misya yang lebih lemah dari Harry pun langsung terjatuh seketika.


Misya memegangi pipinya yang ditampar oleh Harry, lalu mendongakkan wajahnya. Ia menatap Harry dengan tatapan geram penuh dengan kebencian.


"Manusia hina!!!" cerca Misya.


Harry sama sekali tidak tersinggung dengan semua cercaan dari Misya. Jiwa iblis Harry malah semakin bangkit merajai seluruh aliran darahnya.


Harry menurunkan tubuhnya dan berjongkok di hadapan Misya. Lalu, Harry mencubit dagu Misya dan mendongakkannya dengan kasar.


Kemudian, Harry pun mengucapkan sesuatu kepada Misya. "Jika kau ingin, aku bisa lebih hina dari ini," cetus Harry dengan tatapan yang sengaja merendahkan Misya.

__ADS_1


"Enyah kau! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" cetus Misya dengan geram.


Misya menghempas lengan Harry yang mencubit dagunya dengan kasar. Sedangkan Harry hanya tertawa kecil ketika mendapat perkataan dan perlakuan agresif dari Misya.


"Hekh! Tanganku kotor? Apa kau ingin mengetahui seberapa kotor diriku?!!" sentak Harry dengan emosi kemarahan, bagaikan seorang iblis.


Dengan sikap iblisnya, Harry mencengkram kedua bahu Misya dan membuka selimut yang membalut setengah tubuh Misya. Harry menarik selimut yang menutupi tubuh Misya dengan kasar.


Misya mencoba menahannya. Akan tetapi, ia tak berdaya, karena tenaga Harry lebih besar darinya. Harry menarik selimut yang menutupi tubuh Misya. Lalu, ia menghempaskannya ke sembarang arah.


Misya saat ini tak memakai sehelai kain pun yang membalut tubuhnya. Namun, Misya tetap berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua lengannya.


Harry yang tanpa ampun, semakin beringas kepada Misya. Harry menyaut kedua lengan Misya dan menggenggamnya sangat kuat.


"Lepaskan aku! Lepaskan! Jangan sentuh aku!!!" Misya berteriak dan mencoba memberontak.


Harry malah semakin beringas dalam memperlakukan Misya. Ia mendorong tubuh Misya dengan kasar, hingga punggung Misya terbentur di atas lantai.


Harry mencengkram kedua lengan Misya dan menahannya dengan kuat. Ia menatap Misya yang saat ini berada di bawahnya dengan geram dan penuh nafsu.


"Nona virgin, kau tidak akan pernah lepas dari cengkramanku. Ah tdak, apakah aku harus menyebutmu calon janda? Ingatlah, setelah kau menikah denganku selama setahun, kau akan menjadi janda muda," cetus Harry.


Harry semakin memukul mental Misya secara bertubi-tubi. Misya saat itu juga berusaha sekuat mungkin agar airmatanya tak lagi menetes. Ia mencoba menahannya, tetapi ia tak kuasa.


Misya akhirnya meneteskan arimatanya dari kedua pelupuk matanya. Melihat Misya yang menangis dengan putus asa, Harry sama sekali tak berbelas kasihan kepadanya. Harry malah merasa bahwa, Misya semakin menarik dan sangat pantas dijadikan sebagai gadis game-nya.

__ADS_1


"Bagaimana, Nona Virigin, masih ingin bermain denganku? Oh, aku sampai lupa. Kau baru saja kehilangan keperawananmu. Ingatlah dan camkan hal ini baik-baik, Harry Libernado adalah orang yang mengambilnya," cetus Harry dengan sengaja berpura-pura lupa.


Perkataan Harry semakin membuat Misya serasa ingin mati saat itu juga. Misya tidak percaya bahwa ia sendiri yang telah membangun neraka dunianya.


Pertemuannya dengan Harry adalah penyesalan terdalam baginya. Bahkan Misya merasa bahwa ia lebih baik menjadi gadis penghibur, dibandingkan menjadi budak nafsu pria iblis seperti Harry. Setidaknya, para wanita penghibur masih memiliki kebebasan hidupnya, tidak dengannya saat ini.


Misya berusaha sekuat mungkin untuk menahan airmatanya. Akan tetapi, tetesan bening itu mengalir dengan derasnya di hadapan pria yang sangat dibencinya saat ini. Melihat Harry menyaksikan tangisnya, membuat Misya semakin terlukai harga dirinya kala itu.


"Kenapa kau tidak membunuhku saja?" Akhirnya Misya mengeluarkan perkataan di bawah keputusasaannya.


Respon Harry ketika mendengar hal itu malah semakin menggila. Jiwa iblisnya semakin terpuaskan, seperti diberi sebuah makanan berdarah segar.


"Misya, sayangku. Untuk apa aku membunuhmu? Kau adalah wanitaku, gadis game milikku. Hidupmu adalah milikku, kau telah masuk ke dalam dunia game milikku. Coba pikirkan saja, kenapa juga aku harus menghancurkan game yang sudah susah-susah kubuat? Apakah itu masuk akal? Sayang, ini adalah takdirmu. Menjadi wanita gameku adalah takdirmu. Aku tidak akan membunuhmu, juga jangan sampai aku mengetahui kau mencoba untuk bunuh diri. Kau nanti akan tahu akibat dari tindakan kecerobohanmu itu," cetus Harry dengan geram.


Misya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan putus asa. Ia berusaha menahan tangisnya sebisa mungkin, tetapi semua hanyalah cuma-cuma. Ia tak lagi bisa membendungnya.


Misya menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Harry hanya menatap wajah Misya yang menangis, tanpa perasaan iba sedikit pun. Harry malah semakin menahan tubuh Misya di atas lantai dengan kuat.


Di sela tangisnya itu, Harry mencium bibir Misya dan menguasai tubuhnya dengan penuh hasrat nafsu binatang. Misya tak memiliki tenang lagi untuk memberontak hasrat membara Harry.


Mental Misya telah terpukul secara bertubi-tubi sedemikian rupa. Ia tak lagi memiliki semangat hidupnya. Jika bisa memilih, ia lebih memilih untuk mati saat itu juga, dibandingkan menjadi mainan dari seorang pria yang kekejamannya seperti iblis, lebih-lebih dari binatang.


"Kau cukup penurut juga rupanya," ucap Harry dengan senyum licik menghiasi wajahnya.


Harry melancarkan aksi panasnya kepada Misya yang tak lagi memiliki jati dirinya. Bagai boneka, ia layaknya telah dirubah menjadi benda mati.

__ADS_1


__ADS_2