
"Really, amazing idea. We are looking forward to your next cooperation," ucap seorang investor dari Los Angles yang menunjukkan kekagumannya terhadap ide dari rancangan yang baru saja dipresentasikan oleh Harry.
Investor luar negeri dari AS itu pun akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Kemudian mengulurkan tangannya kepada Harry yang ada di hadapannya.
"Thank you, hopefully we can be good cooperation partners," balas Harry sembari menjabat tangan investor tersebut.
"Yes, we are also very grateful, because we got an amazing partner," kata investor tersebut.
"Together, we will definitely prove and show satisfactory results," balas Harry.
"We are looking forward to it. Then, we'll take our leave to catch the next flight," ujarnya yang meminta izin dari Harry untuk pergi, karena ingin mengejar penerbangan berikutnya.
"Oh! Alright, thanks for taking the time," ujar Harry.
"No problem. we are also very grateful." Setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, investor dari AS itu pun berlalu pergi dengan terburu-buru, karena mereka harus mengejar waktu penerbangan pesawat berikutnya.
Harry kemudian tersenyum kepada bawahan yang berada di sampingnya. Ia adalah Veno, ketua manager dari perusahaan Night Bio Company. Karena Alan diminta untuk tinggal dan menjaga Misya, Veno pun diminta Harry untuk menemani dan membantu segala urusannya.
"Tuan, kau sangat menakjubkan. Kemampuan anda tidak bisa diragukan lagi." Veno memuji Harry.
Harry mengusap poni panjangnya ke belakang dengan senyuman bangga terhadap dirinya sendiri. "Tentu saja. Siapa aku? Aku adalah Harry Libernado. Kata 'gagal' tidak ada dalam kamusku. Karena aku adalah pria sempurna." Harry tanpa ragu membanggakan dirinya sendiri.
Veno hanya mengiyakan perkataan Harry. Namun, ia merasa ada sedikit saja kejanggalan, hanya sedikit saja. "Anda memang sempurna, alangkah lebih sempurna jika saja anda tidak suka bermain wanita. Pasti anda akan sangat sempurna," ucapnya tanpa memikirkan konsekuensi dari ucapannya itu.
Harry melirik ke arah Veno dengan tatapan tajam mematikan, dipenuhi dengan aura pembunuh. Veno yang tiba-tiba dihadirkan perasaan ngeri pun bergidik ketakutan. Ia menundukkan kepalanya, karena tidak berani menatap Harry.
"Berangkat sekarang juga. Aku sangat lelah, aku ingin pulang," perintah Harry kepada Veno.
Mereka berdua keluar dari hotel tempat pertemuan yang dijanjikan sebelumnya. Harry menarik pintu mobil dan duduk di kursi penumpang. Lalu disambut Veno yang duduk di kursi kemudi. Veno mulai menghidupkan mobilnya dan melajukannya. Sesekali Veno melirik Harry dari kaca spion mobil. Ia melihat Harry yang tengah memejamkam matanya, berpikir bahwa Harry sedang tertidur pulas. Namun, pikirannya itu salah.
Harry hanya menayandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya saja. Akan tetapi, sedari tadi ia tidak tidur. Bukan karena ia tidak ingin tidur, tetapi ia sama sekali tak bisa tidur. Banyak pikiran-pikiran yang mengganggunya, sehingga membuat otaknya yang lelah tak bisa beristirahat.
__ADS_1
"Kenapa kau terus memperhatikanku? Apa kau jatuh hati padaku?" Pertanyaan Harry membuat Veno terhenyak.
Veno terkejut, ketika Harry bisa mengetahui tindakannya dalam kondisi terpejam. Ia kira, Harry sedari tadi tertidur cukup pulas.
"Ti-Tidak, Tuan. Meski anda sangat mempesona, tapi anda tetap bukan tipe saya. Begini juga, saya tetap menyukai wanita," gagap Veno.
"Hati-hati, jangan sampai jadi mati rasa kalau terlalu lama. Bisa-bisa kau berpaling dari para wanita dan memilih jalur sesat. Tapi terserah saja, kalau kau ingin menyukai pria mana pun, asalkan pria itu jangan sampai aku. Karena pria sempurna sepertiku, tidak akan pernah membalas perasaan sesama pria," celetuk Harry.
Veno hanya terhening sejenak, selama sekitar 2 menit. Setelah itu, barulah ia membalas perkataan dari Harry. "Aku belum terfikirkan sampai ke situ. Aku masih sangat muda, dan aku juga lebih mementingkan karir serta mimpiku, daripada tertuju pada hal seperti itu. Entah bagaimana saya mengatakannya, tapi anda adalah panutan dan teladanku. Di samping itu, aku adalah pria normal yang sangat sehat. Aku adalah heteroseksual, tidak mungkin aku berubah menjadi homoseksual," tutur Veno.
Harry hanya menyimak perkataan Veno dengan kondisi mata terpejam. Setelah itu, ia mulai membuka kedua kelopak matanya.
"Harry, kenapa kau harus peduli tentangnya? Dia sendiri yang merusak pakaian yang kuberikan. Bukan salahku," batinnya. Sesaat lagi, batin lain yang berbentrokan dengan pemikiran pertama mulai berbisik. "Tidak sih, bagaimanapun juga, dia seorang wanita. Aku tidak bisa membiarkannya polos tanpa memakai sehelai kain," gumamnya dalam hati. Ia terhening sembari membatinkan pikiran dan batinnya yang saling bentrok dan beradu. "Aish! Kenapa hanya gadis rendahan sepertinya terus mengganggu pikiranku sejak tadi? Sudahlah! Dia juga harus diperlakukan dengan baik." Akhirnya, Harry berada pada tahap finish keputusannya.
"Veno!" panggil Harry.
Panggilan dari Harry reflek dijawab oleh Veno. "Iya, Tuan. Apa yang anda butuhkan?" tanyanya.
"Saat ini masih pukul 05.10. WIB. Kemungkinan, mall belum beroperasi. Tapi sepertinya, mungkin ada beberapa toko yang sudah buka secara pribadi," jelasnya. "Apa yang ingin anda cari?" tanyanya hanya untuk memastikan saja.
"Bolehilah ... Kita bisa datang ke toko saja," cetus Harry. "Aku ingin mencari pakaian untuk wanita," ungkapnya.
"Baiklah." Veno tak banyak bertanya.
Veno tetap berfokus menyetir, sembari menilik ke arah luar jendela mobil. Sambil mengemudi, ia mencari-cari toko butik yang telah buka pada jam itu. Hingga akhirnya, ia pun menghentikan mobilnya, pada saat ia telah menemukan sebuah toko butik yang sudah open.
Veno menepikan mobil milik Harry yang ia kemudi ke tepi jalan. Kemudian, ia mematikan mesin mobil milik Harry dan memarikirkan di tempat itu juga, karena jalan masih belum terlalu ramai.
"Tuan, sepertinya di sana ada sebuah toko butik yang sudah buka. Apa toko itu sesuai dengan yang anda inginkan?" tanya Veno.
Harry menilik ke arah luar untuk memperhatikan toko yang dimaksud oleh Veno. Ketika ia membuka kaca mobilnya, silir-semilir angin pagi menerpa wajahnya. Hawa dingin itu membuat Harry merasa wajahnya membeku seketika.
__ADS_1
Hanya sekejap, Harry membuka kaca jendela mobilnya. Karena tidak tahan dengan hawa dingin pagi kala itu, Harry langsung menutupnya kembali.
"Kenapa pagi ini sangat dingin?" gumamnya dalam hati. "Terserah saja. Kau bisa turun dan membelikan untukku. Aku ingin kau membelikanku pakaian luar dan dalam wanita," perintah Harry kepada Veno.
Veno terhenyak seketika, karena mendapat perintah mengejutkan Harry. Baiklah, untuk membeli pakaian wanita, baginya tidak masalah. Tapi bagaimana bisa ia memiliki wajah untuk membeli pakaian dalam wanita?
"Tuan, itu ... ." Ucapan Veno langsung dipotong oleh Harry, sebelum Veno sempat menyelesaikannya.
"Aku tahu kau ingin beralasan. Tidak ada alasan lain yang ingin kudengar. Jika kau tidak turun dalam hitungan 5 detk, maka bonus tiga bulanmu akan kupotong 5 kali lipat." Harry mengancam Veno dengan serangan mematikan.
Veno semakin terhenyak sembari menelan ludahnya. Karena tak ingin bonus bulanannya dipotong, ia pun segera turun dari mobil dengan tergopoh-gopoh. Harry yang melihat tingkah Veno pun hanya menghiasi bibir tipisnya dengan senyuman licik. Lalu, ia memejamkan matanya kembali sembari menunggu Veno kembali ke dalam mobil, setelah menyelesaikan tugasnya.
Veno menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu toko yang berelemen kaca. Ia memegang gagang pintu toko tersebut, tetapi ia tampak sangat ragu mendorongnya. Butuh keberanian untuknya masuk ke dalam toko dan menyelesaikan misi yang diperintah oleh atasannya. Misi yang diberikan Harry kepadanya membuat ia frustasi.
"Fine, ok fine, kalau itu hanya membeli beberapa pakaian wanita. Tapi bagaimana bisa dia menyuruhku membeli pakaian dalam wanita? Mau ditaruh di mana wajahku nanti? Fine, jika tidak ada wanita yang melihatnya. Bagaimana jika ada? Tidak, sudah pasti pemilik toko butik seperti ini adalah wanita. Apa mungkin . . . dia akan menganggapku pria cabul?" Veno mempertimbangkan banyak kemungkinan yang terjadi. "Sudahlah, kita lakukan saja. Terserah bagaimana mereka akan memandangku, lagian tidak kenal juga." Akhirnya ia memutuskan. "Dasar bos tidak waras!" Umpatan ia tujukan kepada Harry.
"Haaciihh, haaccih !!!" Harry yang tengah memejamkan matanya, tiba-tiba bersin sebanyak dua kali. "Apa ini? Apa udara pagi ini terlalu dingin?" batinnya bertanya-tanya.
Veno mulai mendorong pintu kaca toko butik tersebut. Ketika ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko, ia sudah disambut hangat oleh gadis penjaga toko.
Gadis penjaga toko itu tersenyum dengan ramah kepada Veno. Ia menampilkan senyum termanisnya, sehingga membuat Veno tertegun dan terpaku di tempat, tanpa bisa berkata-kata.
"Selamat datang di toko kami! Apa ada yang bisa kami bantu?" Gadis itu melontarkan kata-kata sambutan sembari berjalan menghampiri Veno yang saat ini tengah berdiri tepat di depan pintu.
Veno melamun sembari menatap wajah gadis itu. Ia tampak terpesona oleh senyuman dari gadis itu, hingga ia pun kehilangan kesadaran atas dirinya sendiri.
Gadis penjaga toko yang melihat Veno pun merasa heran dengan tingkahnya. Ia memerengkan kepalanya, lalu mengucapkan perkataannya lagi. "Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya sekali lagi.
"Begini, aku sedang mencari ... ." Belum sempat Veno menuntaskan perkataannya, tiba-tiba phonsellnya berdering. "Halo, ada apa, Tuan?" tanyanya.
"Cepat keluar dari sana. Ada urusan genting yang lebih mendesak," perintahnya.
__ADS_1