
Mendengar pernyataan dari Alan, Harry hanya bisa memukul jidat. Suasana dan irama nada Alan seakan-akan ia memiliki barang yang Harry maksud. Namun ternyata tidak, Alan tidak memilikinya dan menjawabnya begitu santai, seperti orang yang tidak memiliki dosa.
"Aishh!" Harry tampak kesal mendengar pernyataan dari Alan.
"Apa anda mau permen? Saya bisa membelikannya sekarang juga," cetus sekretaris Alan sembari memberi tawaran kepada Harry.
"Tidak perlu, tidak usah," pungkas Harry.
"Begini, aku punya permen penghilang bau mulut. Apa kau mau satu?" ujar Misya.
Misya menawarkan permen penghilang bau mulut yang selalu ia bawa di kantong bajunya, ketika ia pergi ke mana-mana. Kebiasaan itu Misya lakukan hanya untuk berjaga-jaga saja.
"Tidak perlu!" tolak Harry secara mentah-mentah.
Dengan kesal, Harry pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan sekretaris Alan, ia pun langsung kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
"Kau, duduk di belakang!" perintah Harry kepada Misya yang ditinggalkan di luar sendirian.
"Kenapa dia?" Misya merasa heran dengan sikap Harry yang berubah secara tiba-tiba. Bagaikan para pria yang memberi harapan kepada para wanita, lalu setelah harapan dipungut, langsung dilempar dan disia-siakan begitu saja.
'Benar-benar membuat orang kesal. Baru kali ini ada yang berani berkata seperti itu kepadaku,' gumam Harry dari dalam hatinya.
"Apa anda mengatakan sesuatu?" tanya sekretaris Alan.
Harry yang mendengar Alan bertanya kepadanya dan seakan bisa membaca isi hatinya pun merasa keheranan dan berkata dalam hatinya sekali lagi, 'Apa ini? Bagaimana dia tahu aku sedang mengatakan sesuatu? Aku mengatakannya dari dalam hati. Sebenarnya, apa yang salah dengan hari ini?' batin Harry.
Karena tidak ada yang dikatakan lagi oleh Harry, Sekretaris Alan langsung melajukan mobilnya dan menetapkan tujuannya untuk menuju rumah pribadi milik Harry Libernado.
Harry duduk di kursi depan, sedangkan Misya duduk di kursi penumpang. Sepanjang perjalanan, mood Harry tidak juga membaik. Harry masih memikirkan perkataan yang diucapkan oleh Misya. Perkataan Misya itu sangat mengganggu pikirannya.
Harry menganggap perkataan Misya adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya. Sedangkan Misya sendiri tidak tahu apa yang telah ia perbuat kepada Harry. Misya tidak merasa bersalah sedikit pun, dia bersikap santai dan menganggap semuanya normal adanya.
"Permisi, kita mau ke mana sekarang?" tanya Misya kepada siapa pun yang lebih dulu mau menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Ke rumah Mr. Harry," jawab Sekretaris Alan.
"Untuk apa? Bukannya kita belum mengadakan acara Pernikahan? Untuk apa aku datang ke rumahnya?" Misya berbicara dengan Sekretaris Alan, sekan-akan tidak menganggap keberadaan Harry di sana.
Harry menolah ke arah belakang dan menatap Misya dengan tatapan tajam. Misya langsung terdiam ketika Harry menatapnya dengan cara itu.
"Dengar nona Misya, kau sudah menandatangi kontrak yang kubuat. Di kontrak jelas tertulis bahwa aku adalah pemegang kebebasanmu sepenuhnya. Kau tidak berhak bertanya atau melawan apa pun yang kulakukan," jelas Harry. Setelah menjelaskan kepada Misya, Harry kembali pada posisinya.
"Kontrak berlaku ketika pernikahan berlangsung! Sekarang kita belum menikah. Artinya, kau masih belum memegang kebebasanku sepenuhnya," protes Misya.
Harry kembali menoleh ke arah belakang dan menatap Misya dengan cara yang sama. Namun, kali ini Misya tidak takut sedikit pun dengan Harry, karena ia harus menuntut hak asasinya dengan gentar tanpa goyah sedikit pun.
"Nona Misya, Aku paling tidak suka mengulangi perkataanku. Jika kau tidak mengerti, hari ini juga, saya bisa menggusur rumah milik anda." Harry mengancam Misya dengan rumahnya, karena rumah Misya adalah jaminan hutang ayahnya.
Misya hanya bisa terdiam dan mengalah, ketika Harry sudah membahas tentang rumah miliknya. Dengan wajah masam, Misya melipatkan kedua tangannya di depan dadanya, sembari memalingkan matanya ke sembarang arah.
Harry kembali pada posisinya dan melihat Misya dari kaca spion mobil. Harry merasa puas, karena dendamnya baru saja terbalaskan. Melihat Misya merasa kesal karenanya, seperti ia tengah berayun-ayun di angin dan terbang, layaknya daun gugur yang melampiaskan semua beban alam.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Harry dengan geram.
"Tidak, hanya saja ..., ada sesuatu yang menempel di rambut anda," ujar sekretaris Alan memberitahu alasan ia tertawa.
"Di rambutku? Apa ada sesuatu di rambutku?" tanya Harry dengan penasaran dan dengan sikap histerisnya.
"Ada, satu makhluk kecil," jawab sekretaris Alan dengan santai.
"Satu makhluk kecil? Apa itu?" Harry sudah mulai was-was, ketika sekretaris Alan menyebut kata makhluk kecil.
"Belalang," jawabnya dengan singkat.
Mendengar pernyataan dari Sekretaris Alan, seketika netra padam Harry menajam seakan-akan iris matanya melebar.
"Apa? Cepat singkirkan makhluk menjijikan itu dari rambutku! Hei, ambil dia dan matikan dengan apa saja, apa pun itu. Cepat singkirkan!"
__ADS_1
Harry sangat histeris ketika sekretarisnya memberitahu bahwa belalang, binatang yang paling ia benci, saat ini tengah hinggap di rambutnya. Harry heboh dan mengganggu Sekretaris Alan yang sedang menyetir. Hingga Sekretaris Alan pun harus menepi dan menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Sekretaris Alan langsung mengambil belalang yang masih menempel santai di rambut Harry dan membuangnya keluar dari jendela mobil. Sedangkan Misya yang melihat pemandangan itu pun tidak henti-hentinya tertawa dan berusaha menahan tawanya sebisa mungkin.
"Belalang sialan! Darimana datangnya dia?" umpat Harry.
"Apa kau sangat takut dengan belalang?" goda Misya kepada Harry.
Harry melirik wajah Misya dengan tatapan kilat halilintar menyambar. Ia merasa bahwa Misya kali ini sedang meremehkannya.
"Aku tidak takut dengan mereka, aku hanya tidak ingin tubuh sempurnaku ini disentuh oleh hewan-hewan semacam itu." Harry mengelak tebakan Misya.
"Benarkah? Aku lihat, sepertinya kau sangat takut dengan mereka. Mereka padahal hewan yang sangat lucu, apalagi jika mereka sudah berada di piring." Misya tak henti-hentinya menggoda Harry.
Harry menelan ludahnya dengan keringat dingin yang bercucuran. Harry tak bisa menyembunyikan rasa takutnya terhadap hewan yang paling ia benci.
"Sudah kubilang tidak. Hei, kau! Duduk manis saja di sana dan jangan mengucapkan satu patah kata pun. Atau tidak, hari ini juga aku akan menyuruh seseorang untuk menggusur rumahmu," ancam Harry.
Harry terus-terusan mengeluarkan kartu jokernya kepada Misya. Misya tak bisa berkutik dan hanya bisa terdiam dengan kesal, ketika Harry sedikit-dikit menyinggung soal rumahnya.
Melihat Misya yang tak bisa berkutik, Harry tersenyum puas sekali lagi. Tidak percuma ia memborong kartu joker untuk permainan kartunya.
Misya sudah seperti bidak catur yang dimainkan oleh Harry di awal mereka bertemu. Suhu tak bisa dikalahkan, Harry adalah pemain handal. Jangan coba-coba mengalahkannya, karena sudah pasti mereka akan langsung disekak matt.
"Presdir, kita sudah sampai," ucap sekretaris Alan setelah memarkirkan mobil dan mematikan mesin mobilnya.
Sekretaris Alan langsung menghentikan mobilnya di tempat parkir yang ada di halaman rumah yang sangat megah. Sekretaris Alan membukakan pintu untuk Harry. Sedangkan Misya langsung keluar dari mobil begitu saja.
Harry membisikkan sesuatu ke telinga Sekretaris Alan secara misterius. Selang beberapa detik setelah Harry membisikkan sesuatu kepada sekretarisnya, sekretarisnya pun berlalu pergi dengan membawa mobilnya.
Harry langsung mendatangi Misya yang tengah berdiri di halaman rumah dan menatap lekat wajah Misya. Misya mendongakkan kelalenya dan membalas tatapan Harry dengan polosnya.
"Mau berciuman?" To the point, Harry langsung bertanya kepada Misya secara langsung tanpa bertele-tele. Melihat Misya yang tidak menjawabnya, Harry pun langsung melanjutkan perkataannya, "Kenapa? Apa kau takut? Jangan bilang ini akan menjadi ciuman pertamamu," ucap Harry.
__ADS_1