
Malam pun akhirnya tiba, Harry menjadi orang yang pertama sadar, setelah melakukan adegan panas dengan Misya. Harry memijat kepalanya yang terasa pusing karena pengaruh obat perangsang yang sangat kuat.
Harry menoleh ke arah samping dan memandangi tubuh Misya yang langsing, mulus, dan baginya lumayan sempurna. Kekurangannya, hanya bagian dada yang masih sangat rata. Meski merasa pusing, Harry masih bisa tersenyum dengan senyuman buas karena merasa puas. Sekali lagi, permainannya mendapat benefit melimpah dan memuaskan.
Harry menurunkan tubuhnya, memandangi wajah Misya yang tertidur dan belum sadarkan diri. Lalu Harry mengelus wajah Misya dengan lembut, penuh nafsu dan bukan perasaan cinta.
Harry kemudian mengangkat selimut yang menutupi tubuh Misya. Melihat percikan darah di atas seprei miliknya, semakin merasa terpuaskanlah ia. Akan tetapi, selama dia bermain dengan Misya, belenggu hatinya tetap tak bisa terlepas.
Yang selalu dia bayangkan setiap melakukan hubungan, hanyalah wanita di masa lalu yang telah melukai dan meninggalkannya. Seperti yang dikatakan orang lain, wanita yang memberi luka paling dalam di hati seorang pria adalah mereka yang sangat sulit untuk dilupakan.
"Sesuai dengan dugaanku, kau memang masih perawan. Kau adalah kedua kalinya setelah ... dia. " Ekspresi wajah Harry tiba-tiba berubah sendu tatkala menengang masa lalu yan sangat ingin dia lupakan. Namun, ia berusaha untuk tidak mengingat-ingatnya kembali. "Misyarel Adellia, mulai saat ini, kau adalah gadis game yang akan bermain-main denganku. Game baru saja dimulai. Tunggu saja, aku pasti akan membuat hidupmu sangat menderita. Sekali melangkah ke dalam penjara yang dibuat Harry, jangan harap siapa pun bisa lolos dengan mudah," batin Harry dengan perasaan girang.
Harry mulai bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil handuknya. Lalu, ia pun berjalan menuju kamar mandi yang berdampingan dengan kamar yang saat ini ditempatinya.
Pada saat Harry sedang mandi, Misya pun akhirnya terbangun dari tidurnya. Dengan kepala yang terasa sangat berat, Misya bangkit dari posisi berbaring dan mengubah posisi duduk sembari memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
Misya belum sadar sepenuhnya atas apa yang telah ia lakukan. Ia masih berusaha menyesuaikan dan menyadarkan dirinya. Misya mulai melirik dan memperhatikan ke sekelilingnya yang terasa sangat asing.
Misya berada di sebuah ruangan yang sangat mewah dengan barang-barang premium yang tampak sangat mahal. Mata Misya tak berhenti jelalatan, karena merasa heran dengan tempat dan suasana aneh yang terasa.
"Jangan sentuh aku! Kalau tidak, aku pasti akan membunuhmu."
__ADS_1
"Maka bunuhlah aku! Tetapi sebelum itu, biarkan aku membunuhmu har ini."
Potongan-potongan peristiwa dan percakapan yang terasa membekas itu muncul di memori Misya. Misya seperti teringat dengan sebuah kejadian sadar di bawah kesadaran. Tampak seperti sebuah peristiwa yang sangat nyata. Namun, terasa seperti mimpi, karena Misya sama sekali tak menyadarinya.
Misya mulai mengumpulkan kesadarannya, meski kepalanya sangatlah berat. Ketika Misya menundukkan kepalanya, Misya langsung terlonjak kaget.
Dilihatnya bagian tubuh bawahnya yang tak memakai sehelai kain pun. Netra bulat Misya mulai memerah dan menajam. Misya lalu menghempas selimut dan melihat seluruh tubuhnya yang polos, tanpa sehelai kain pun.
Misya semakin terkecoh ketika melihat noda darah yang ada di atas seprei. Misya tidak ingin mempercayai kenyataan yang saat ini dihadapinya. Lalu, ia pun menampar-nampar wajahnya sendiri.
"Misya tenanglah, sadarlah! Ini semua hanyalah mimpi. Ini tidak nyata, Misya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang menjijikan seperti ini. Aku mohon kepada diriku sendiri, jangan merasa sakit. Tapi, kenapa pipiku terasa sakit? Ini mimpi Misya, percayalah!" batin Misya meronta-ronta, karena menolak percaya dengan apa yang tengah terjadi kepadanya.
Hatinya terus menyangkal, tetapi otaknya tak kalah beradu dan mengatakan bahwa semua ini adalah nyata. Dengan geram, Misya menatap pintu kamar mandi dengan tatapan nanar setajam elang.
Misya bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, tanpa mengenakan sehelai kain pun terlebih dahulu. Misya menghentikan langkahnya, ketika melihat sebuah vas bunga kaca yang ada di sampingnya.
Ctarr!!!!
Misya memecahkan vas kaca itu dengan sekali bantingan. Lalu, ia mengambil salah satu bagian pecahan kaca yang tajam. Dengan geram, Misya langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk mendatangi Harry.
Harry sendiri tidak tuli ketika mendengar suara berisik dari arah luar. Suara gemericik air dalam kamar mandi saja tidak bisa menghalangi pendengaran Harry.
__ADS_1
Harry membersihkan uap air yang mengembun di kaca pintu sembari menilik ke arah luar. Harry melihat Misya tengah berjalan ke arahnya sembari membawa pecahan kaca di genggaman tangannya.
Melihat hal itu tidak membuat Harry takut sedikit pun. Harry malah merasa permainan yang ia mainkan semakin seru dan sesuai ekspetasi yang memuaskan.
Harry berpura-pura tidak tahu jika Misya ingin melukainya. Harry tetap melanjutkan membersihkan dirinya dan menggosok-gosok tubuhnya dengan santai. Sedangkan saat ini, Misya telah berada tepat di depan pintu kamar mandi.
Misya hanya tinggal mendorong pintu itu saja. Akan tetapi, ia terhenti sejenak, menundukkan kepala, lalu mengangkat kepalanya kembali dan menatap lurus ke arah depan dengan tatapan tajam. Misya kemudian mulai membuka pintu kamar mandi.
Melihat sosok Harry yang tepat di depan matanya, Misya segera menghampirinya dengan cekatan. Misya dengan cepat melayangkan pecahan kaca yang ada di genggaman tangannya ke arah Harry.
Harry berpura-pura tidak menyadari keberadaan Misya dan hanya tersenyum licik tanpa berbalik. Ketika Misya telah mulai melancarkan aksi serangannya, Harry langsung berbalik dan menangkis serangan dari Misya.
Harry menangkap pergelangan tangan Misya yang menggenggam erat pecahan kaca dengan kuat. Harry menahan lengan Misya sembari menatap dalam netranya dengan tatapan geram.
Harry menahan Misya hanya dengan sedikit tenaganya saja. Misya sendiri tak ingin menyerah dan berusaha melanjutkan aksi serangannya. Misya memberontak sekuat tenaga dari cengkraman tangan Harry.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Misya sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Harry dengan lengannya yang lain.
Harry semakin menguatkan cengkraman tangannya, hingga membuat Misya merintih kesakitan. Tangan Misya yang mengepal pun mulai terbuka dengan sendirinya. Tangan Misya gemetar karena remasan telapak tangan Harry, lalu pecahan kaca yang ia pegang langsung terjatuh dengan sendirinya.
"Apa kau ingin aku melepaskanmu? Lalu setelah aku melepaskanmu, apa yang akan kau lakukan? Kau pasti akan membunuhku. Kau pikir aku bodoh, apa?! Kau pikir bisa membunuhku? Hanya dengan pecahan beling itu?" sentak Harry dengan lantang.
__ADS_1