
Langkah kaki Alan maju mundur. Dia bimbang untuk masuk ke dalam kamar tempat Misya berada di dalamnya.
"Sialan manusia itu! Harry benar-benar sudah tidak waras. Kenapa aku harus terlibat dalam urusan kalian?" umpat Alan dari dalam hatinya. "Tapi, kasihan juga dia jika tidak diobati. Bisa-bisa lukanya infeksi," gumamnya. Ia merasa sedikit iba dengan kondisi Misya saat ini. "Sudahlah, lakukan saja!" Akhirnya Alan memutuskan untuk melangkah maju.
Alan masuk ke dalam kamar tempat Misya berada, lalu menghentikan kakinya, tepat di samping Misya yang tengah duduk di atas ranjang.
Misya sudah seperti mayat hidup. Tatapannya sama sekali tak fokus, bagai ruh dalam tubuhnya telah direnggut. Melayang, pikirannya melayang entah ke mana, tetapi tanpa memikirkan apa pun.
Alan hanya memasang wajah datarnya, menatap Misya tanpa arti. Sedangkan Misya yang saat ini tengah polos tanpa memakai sehelai kain pun, tak membuat Alan bernafsu kepadanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Akhirnya Alan melontarkan satu pertanyaan kepadanya.
Pertanyaan yang dilontarkan Alan, semakin membuat Misya merasa geli. Ia menajamkan fokus netranya, lalu mengangkat kepalanya, menatap wajah Alan dengan tatapan lekat. Sedangkan Alan sama sekali tak merubah ekspresi wajahnya. Ia tetap memasang ekspresi wajahnya yang dingin.
"Menurut logika, apakah pertanyaanmu itu layak ditanyakan? Kalian para manusia bejat yang telah berkomplotan untuk menghancurkanku," kata Misya dengan geramnya.
Alan mendengarkan ocehan pelampiasan Misya, tanpa menyahutnya sekali pun. Kemudian, ia menurunkan tubuhnya, menaruh lututnya di atas lantai, lalu meraih lengan kanan Misya yang terluka.
Sentuhan Alan secara tiba-tiba, membuat Misya reflek menarik lengannya. Ia menyembunyikan lengan yang baru saja disentuh oleh Alan ke belakang tubuhnya.
"Mau apa kau?" tanya Misya dalam kondisi was-was.
Alan tak menjawab pertanyaan dari Misya. Ia terus memasang ekspresi dingin yang menghiasi wajah eloknya. Ditariknya kembali lengan Misya yang disembunyikan di belakang. Alan mencekalnya dengan erat, sedangkan Misya berusaha menarik lengannya sekuat tenaga. Aksi pemberontakan Misya terhenti, ketika Alan menghembuskan udara ke telapak tangan Misya.
__ADS_1
Alan meniupi lengan Misya yang terluka karena goresan pecahan kaca yang sempat ia genggam dengan erat. Misya tertegun dan hanya menatap telapak tangannya, lalu sesekali melirik sosok Alan.
"A-apa yang kau lakukan?" gagap Misya.
Misya reflek memejamkan matanya ketika setetes demi tetes cairan bening menetes di telapak tangannya. Alan meneteskan alkohol di atas telapak tangan Misya yang terluka.
"Katakan saja jika sakit," kata Alan tanpa merubah ekspresi dinginnya.
"Tidak! Ini bukan apa-apa." Misya mengelak rasa sakit yang ia rasa.
"Kau adalah wanita milik Tuan Harry. Sudah tugasku untuk menjaga tubuhmu," ucap Alan.
Belum selesai Alan membalutkan perban di telapak tangan Msya, Misya langsung menarik lengannya dengan kasar. "Apa berengsek itu yang menyuruhmu melakukan hal ini?" Misya terhening sejenak dan menunggu jawaban dari Alan. Akan tetapi, Alan tak kunjung menjawab pertanyaan dari Misya. "Sudah kuduga. Apa pun perhatian yang harus kuterima dari berengsek itu, atau siapa pun yang diminta untuk memperhatikanku berdasarkan perintah darinya, aku tidak membutuhkan semua itu. Aku bisa melakukan semua ini sendiri. Kau boleh pergi," perintah Misya.
Misya tertegun ketika ia mendapati Alan yang tiba-tiba melepaskan kemejanya dan hanya menyisakan kaus dalamnya saja. Misya mencoba melindungi dirinya dengan cara menarik seprei, lalu membalutkannya ke tubuhnya.
Alan hanya menghela nafasnya dengan wajah datarnya. Kemudian, ia menarik seprei yang menutupi tubuh Misya dengan kuat . Misya mencoba menahan sekuat tenaga, tetapi tenaga Misya sudah terkuras habis. Ia sangat lemah untuh bisa melindungi dirinya sendiri.
Dan ternyata, apa yang dipikirkan oleh Misya berbanding terbalik. Alan menarik seprei yang membalut tubuh Misya, lalu mendaratkan kemeja yang dilepaskannya di bahu Misya. Ia melingkarkan kemeja oversize di tubuh Misya.
Misya hanya terpaku melihat Alan memperlakukannya dengan cara itu. Misya terbujur kaku dan tak bisa berkata-kata. Alan kembali menegakkan tubuhnya dan melangkah mundur menjauhi Misya. "Aku tidak akan pernah melakukan hubungan badan terhadap wanita yang tidak kucintai. Kau adalah wanita milik Tuan Harry, kau bukanlah orang yang kucintai. Aku tidak akan pernah melakukan apa pun kepadamu," ujarnya, sebelum ia beranjak pergi dari tempatnya.
Misya tak bisa berkata-kata, karena ia sendiri bingung harus mengatakan perkataan apa. Tidak pernah didapatkannya perlakuan hangat dari siapa pun, termasuk keluarganya sendiri. Misya hanya terpaku di tempatnya, menatap wajah Alan yang berlalu pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Terimakasih." Hanya kata 'Terimakasih' yang keluar dari mulut Misya.
Alan menghentikan langkahnya sejenak, ketika ia mendengar ucapan 'Terimakasih' yang sengaja ditujukan kepadanya. Beberapa detik kemudian, Alan kembali mengangkat kakinya dan berlalu pergi meninggalkan, tanpa membalas ucapan Misya.
Misya mulai memakai kemeja yang dipinjamkan Alan kepadanya. Lalu bangkit dari ranjang dengan keadaan lelah. Baru ia rasakan setelah ia tersadar, tengah-tengah selangkangannya terasa sangat nyeri tiada terkira.
Dengan sisa tenaganya, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dibukanya shower dan dibiarkan mengguyur tubuhnya sembari menatap pantulan dirinya di cermin. Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Ia tersiksa karena perlakuan beringas dari manusia seperti Harry. Seluruh tubuhnya terasa memar, merah karena gigitan yang agresif.
Misya berusaha menghilangkan noda merah di tubuhnya dengan cara menggosoknya dengan kasar. Akan tetapi, usahanya hanya percuma. Bekas ****** seperti itu tidak akan pernah bisa menghilang dengan mudahnya.
Lutut Misya mulai melemah, hingga ia terjatuh di atas lantai kamar mandi. Misya menekuk lututnya dan menyandarkan keningnya di lututnya. Dibiarkannya air yang mancur dari shower itu mengguyur tubuhnya.
***
Di pagi buta, Harry harus segera bertemu dengan investor dari AS, Los Angles. Mereka datang karena ingin membahas tentang proyek kerjasama yang mulai dijalankan. Sedang Harry adalah pemimpin, serta penanggung jawab penuh atas proyek tersebut.
Alasan Harry harus menemui mereka di pagi buta, yaitu karena para investor itu sendiri baru saja tiba. Penerbangan malam dari Los Angles ke Jakarta. Mereka baru saja tiba pada pukul 02.00. WIB.
Para investor itu telah meluangkan kesibukannya, hanya untuk mengurus urusan yang sangat penting. Mereka hanya memiliki waktu sekitar 2 jam lagi. Sedangkan setelah tenggat waktu itu, mereka harus dihadapkan banyak kesibukan.
Karena waktu terlalu mendesak, mereka pun terpaksa harus bertemu di sebuah hotel. Sesampainya di sana, Harry langsung disambut oleh bawahannya yang bernama Veno.
"Pimpinan, selamat datang." Veno menyambut Harry.
__ADS_1
"Di mana mereka?" tanya Harry tanpa bebas-basi.
"Saya akan menunjukkan jalan. Sebelah sini." Veno menuntun Harry yang berjalan tegas memasuki hotel.