
Assalamualaikum Bestie.....
selamat datang di lapak Ai_Li
Terima kasih karena telah mengeklik cerita ini
Jangan lupa sediakan cemilan untuk menjadi sambilan selagi membaca. Cukup sambilan nyemil aja ya...
Jangan sambil nyangkul apalagi mikul besi!! No.. No ..
Sudah cukup beban pikiran saja yang berat, jangan di tambah lagi ya😇😇
Ambil posisi rebahan atau duduk. Jangan jongkok! Nanti bisa kepentut. Jangan juga berdiri apalagi lari-lari. Soalnya lelah Bestie...
Sudah cukup bayangan dia saja yang lari-lari di pikiran, kalian jangan!!!
Astagfirullah... Maaf kan saya yang terkadang suka tidak jelas sendiri😁😁
Upss satu lagi, jangan lupa kasih jempolnya ya. Karena membahagiakan orang lain itu berpahala loh. Dan Author tentu bahagia jika kalian memberi jempol🥰
MASUK KE CERITANYA🌸🌸
☘️☘️☘️
"Ketidaksengajaan ku membawanya, membuatku terseret ke tempat antah berantah ini."
-Airli Putri Awardani-
☘️☘️☘️
Namaku Airli. Lengkapnya, Airli Putri Awardani. Orang-orang biasa memanggilku dengan Air, Irli kadang pula Lili. Namun aku lebih suka jika mereka memanggilku dengan lengkap, yaitu Airli. Tanpa di singkat atau dipotong, apalagi dirubah.
Sebelum aku bercerita tentang kisah ku, aku akan berbicara sedikit tentang biografi diriku dan pengenalan anggota keluarga ku.
Aku anak tertua dari tiga bersaudara. Adik-adikku keduanya adalah laki-laki. Mereka bernama Asrul Putra Awardani dan Alfandi Putra Awardani. Dan benar, Awardani itu sendiri adalah nama kebanggan keluarga kami. Awardani adalah nama kakek dari Ayah.
Ayahku bernama Erga Awardani dan Ibuku bernama Astriani. Ayahku Seorang Wartawan. Meliput dan menyampaikan berita adalah pekerjaan sehari-harinya. Ayah adalah orang yang tegas namun juga dapat berubah humoris. Tergantung situasi apa yang sedang terjadi. Ayah sangat pandai menempatkan diri pada situasi apapun, selaku posisinya sebagai seorang kepala keluarga.
Sedangkan ibu ku adalah seorang penjahit. Dapur jahitnya, sudah berkembang cukup besar, bahkan ibu juga memperkerjakan beberapa penjahit untuk membantu pekerjaannya. Ibu adalah wanita terhebat yang pernah aku temui, sungguh. Sentuhannya dapat menghilangkan beribu masalah yang tengah diriku hadapi. Katakanlah aku terlalu berlebihan. Namun setiap anak pasti akan mengatakan hal yang sama tentang ibu mereka.
Terkecuali mereka yang terlahir sudah tanpa Ibu, maka peran ibu di cerita mereka akan berbeda. Namun begitu jasa seorang ibu tidak akan pernah dapat terbalaskan, karena untuk melahirkan kita nyawa ibu adalah taruhannya. Itu sebabnya aku begitu bersyukur karena Ibu ku masih ada di sisiku hingga saat ini.
Aku rasa cukup tentang keluargaku. Saatnya aku bercerita tentang diriku.
Aku lahir di Medan, tepatnya di kota Binjai pada tahun 2002. Jadi tahun ini, di tahun 2022 ini umurku sudah genap 20 tahun. Medan juga merupakan kampung halaman Ibu, karena ibu lahir di sana. Namun aku tumbuh dan besar di Jakarta hingga saat ini.
Aku masih kuliah. Aku kuliah di prodi PIAUD atau Pendidikan Islam Anak Usia Dini di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Dan ya, aku saat ini sudah mengajar di sebuah taman kanak-kanak yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Mungkin itu saja sedikit biografi ku. Kalau perihal penampilan, jangan berekspektasi terlalu tinggi. Aku hanyalah seorang gadis biasa. Bergamis dan berhijab panjang adalah tampilan pakaianku setiap harinya. Perihal kulit, kulitku kuning Langsat, Tinggiku hanya 156 cm. Meskipun banyak yang mengatakan aku itu cantik, tapi aku seringkali merasa kurang percaya diri karena tubuhku yang sedikit lebih berisi dari kebanyakan gadis pada umumnya.
Namun begitu, aku tetap bersyukur karena Allah melahirkan ku dalam sebuah keluarga yang baik. Baik dalam hal beragama juga dalam bermasyarakat.
Oh iya satu lagi, Aku belum menikah. Dan aku masih jomblo. Jika ditanya kenapa begitu? Jawabannya hanya Allah-lah yang tahu.
Oke kembali ke ceritaku. Di sini aku akan mengisahkan kisah ku, yang mungkin menurut kebanyakan orang cerita ini sangatlah tidak masuk di akal. Bahkan terdengar aneh. Bahkan mungkin kalian yang mendengar akan mengatakan kalau aku terlalu banyak berkhayal. Namun faktanya, semua itu benar-benar terjadi pada diriku.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Matahari bersinar terik. Jam masih menunjukan pukul sepuluh pagi. Namun panasnya mentari seakan sudah berada pada pukul dua belas siang.
Airli memakai masker untuk menutupi wajahnya serta helm sebagai pelindung kepalanya. Kakinya melangkah menaiki sepeda motornya. Sembari melirik kaca spionnya, Airli sedikit merapikan hijabnya yang ternyata sedikit berantakan akibat helm di kepalanya.
"Panasnya poolll ya kan," ucap sebuah suara dari belakang Airli. Airli menoleh ke belakang.
Ternyata itu Dania, salah seorang teman mengajar Airli di TK tempat Airli mengajar ini.
"Iya, Alhamdulillah." Jawab Aili diikuti senyuman bersyukur.
"Alamat belang kayanya nih," seru Dania sambil terkekeh ringan.
Airli pun ikut demikian tertawa.
"Panas banget ya," keluh seorang lagi dari belakang Airli dan Dania. Dia adalah Dwina. Rekan mereka lainnya.
"Bersyukur, masih di kasih panas." Ungkap Dania santai.
"Bener tuh," Airli juga menyahut.
"Iya tahu bestie, cuma masalahnya aku mau pergi ke pasar lagi nih. Biasa mak-mak, rutinitasnya pasar-dapur-mesin cuci- penggorengan," ucap Dwina menggebu-gebu.
Airli dan Dania kembali terkekeh. Biasalah pengantin baru. Jadi sudah harus terbiasa mengurus rumah. Hanya saja dia juga harus mengurus adik dari suaminya. Dan alhasil, pengantin baru berasa Mak anak satu.
"Semangat bunda!!" ucap Dania dan Airli bersamaan.
"Iya-iya. Kompak banget,"
"Harus Dong, ya kan Li." Ungkap Dania bangga.
"Ini nih tanda-tanda manusia kurang bersyukur ya kan Kak Nia," ujar Airli meminta dukungan kepada Dania.
"Ha ah," jawab Dania langsung.
"Gimana kalimatnya kak?" tanya Airli.
"Dikasih panas manusia mintanya hujan. Sekalinya di kasih hujan mintanya panas. Gimana sih? Memang hanya Allah yang maha mengerti makhluknya." Ungkap Dania sembari geleng-geleng kepala.
Sedangkan Dwina hanya nyengir tanpa dosa karena tahu salahnya.
"Astagfirullah," Ucapnya.
Airli tersenyum kecil melihat itu. Kemudian dirinya memutar motornya untuk keluar dari gerbang sekolah. Sedangkan Dania dan Dwina terlihat masih mengobrol seru.
"Kak, Airli duluan ya soalnya mau bantu ibu beberes rumah." Pamit Airli pada kedua temannya. Dania dan Dwina memang lebih tua beberapa tahun dari Airli. Itu sebabnya Airli memanggil mereka dengan embel-embel 'kak' ketika bicara dengan mereka.
Tentunya hal tersebut terjadi ketika diluar jam mengajar saja. Karena jika dalam jam mengajar mereka memanggil 'bu' untuk setiap orangnya. Baik kepada yang muda ataupun yang lebih tua sekalipun.
"Mau pindahan? Kok beberes?" tanya Dwina heran.
"Gak lah kak, cuma ada beberapa barang yang harus di ganti. Jadi ibu agak repot, kasihan." Terang Airli.
Kedua temannya mengangguk mendengar jawaban Airli sembari mengangkat jempol mereka. Tanda mengiyakan.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan," ucap keduanya bersamaan.
"Iya, Airli duluan ya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam,"
Setelah berpamitan, Airli langsung melajukan motornya keluar dari pekarangan sekolah. Melaju dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.
☘️☘️☘️
Airli memegang sebuah Cermin dengan tatapan penuh selidik. Pada cermin itu, terlihat sebuah ukiran. Ukiran klasik namun begitu unik.
"Bagus sih, cuma ko ibu nyimpen cermin beginian ya?" tanya Airli entah pada siapa.
Masih memperhatikan Cermin tersebut. Airli kembali bergumam.
"Mirip cermin nenek sihir di dongen putri salju," ungkapnya sambil menahan tawa. Setelahnya, Airli malah sedikit memulai drama.
"Wahai cermin ajaib. Siapakah yang paling cantik di rumah ini?" tanyanya pada cermin. Alih-alih beradegan seperti nenek sihir di cerita dongeng.
Tentu saja tidak ada jawaban dari cermin tersebut. Malah kocaknya, Airli menjawab sendiri pertanyaannya tadi.
"Yang paling cantik di rumah ini tentu saja Ibu dan Airli. Karena yang lainnya di sini laki-laki." Ucapnya penuh kesungguhan.
Namun setelahnya Airli terkekeh sendiri. Merasa dirinya baru saja melakukan hal aneh.
Airli menemukan cermin itu, ketika membereskan gudang bersama ibunya tadi. Karena sedang datang bulan, badan Airli sedikit kurang fit. Sehingga ibunya meminta Airli untuk beristirahat saja, biar ibu dan kedua adiknya yang membereskan rumah mereka. Namun sayangnya, bukannya langsung istirahat Airli malah melakukan drama penyihir dengan cermin itu tadi.
Alasan cermin itu ada pada Airli dikarenakan dirinya tadi tanpa sengaja memasukkan cermin tersebut ke dalam tasnya. Alhasil, terbawa hingga ke dalam kamarnya. Dan hal tersebut tentu akan membuat Airli harus kembali keluar untuk mengembalikan cermin tersebut kepada ibunya.
Airli kembali memperhatikan cermin itu. Melihat pantulan dirinya pada benda pipih berukiran indah itu. Tanpa sengaja Airli mengusap gagang cermin tersebut.
Dan tiba-tiba.......
Sebuah cahaya terpancar dari cermin tersebut, menembus langit-langit kamarnya. Dan secara langsung langit-langit kamar Airli. Cahaya itu membuat lubang berwarna hijau yang menyilaukan.
Airli terduduk dan terpaku melihat lubang hijau tersebut. Dan seet....
Airli terseret masuk ke dalam lubang tersebut. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Sangking cepatnya, Airli sampai tidak sempat berteriak untuk sekedar meminta tolong. Dan setelah itu lubang tersebut menghilang seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.
☘️☘️☘️
(Hari pertama di negri Tawar)
Ketika diri tiba-tiba terseret oleh sebuah teleportasi yang entah dari mana datangnya. Membuat Airli masuk ke dalam dunia lain yang antah berantah.
Sebuah tempat yang serasa familiar namun asing. Entahlah, Airli seakan dejavu ketika berada di tempat yang baru saja beberapa detik ini ia pijak.
Sebuah hutan yang di isi oleh banyak pohon yang menjulang tinggi, menjadi tampilan utama di tempat ini. Bahkan Airli dapat melihat banyak ranting kering yang berhamburan di bawah kakinya.
"Dimana ini?" tanya Airli pada dirinya sendiri. Sembari menyapu pandangannya ke kanan-kiri.
Bukannya mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Airli malah dikejutkan oleh sebuah erangan dari arah belakang.
Airli menoleh. Sontak matanya langsung terbelalak karena melihat seekor Harimau yang tengah menatapnya tajam. Harimau itu seakan hendak menerkam Airli saat itu juga.
__ADS_1
Airli terpaku. Diam di tempat.
"Ya Allah, apa Engkau memang sudah perintahkan malaikat maut untuk memanggilku?" gumamnya pasrah.