PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)

PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)
Bab 2


__ADS_3

"Entah mengapa aku serasa berada di dalam dongeng sang kancil. Dimana di sini hewan dapat berbicara layaknya manusia. Dan yang lebih membuatku aneh, hanya aku yang dapat mendengar ucapan mereka."


-Airli Putri Awardani-


☘️☘️☘️


"Ya Allah, apa Engkau memang sudah perintahkan malaikat maut untuk memanggilku?" gumam Airli pasrah.


Namun sedetik kemudian, bayangan keluarga memutar di kepala Airli. Canda dan tawa ketika berkumpul bersama mereka seakan membuat perasaan pasrah yang tadi sempat menguasainya, kini mulai hilang sampai akhirnya tumbuh secercah keberanian dalam diri Airli.


"Tenang Airli!!! Tenang..." Airli berusaha menenangkan dirinya sendiri. Meskipun degup jantungnya sudah dipastikan berdetak di luar batas normalnya.


"Semuanya akan baik-baik saja," Airli berusaha berjalan mundur menjauhi harimau tersebut. Entah kalimat apa saja yang Airli ucapkan dalam hatinya saat ini, agar tetap tenang menghadapi harimau tersebut.


"Jangan membelakangi harimau!"


"Tetap tenang Airli!!"


Sayangnya harimau tersebut malah melangkah maju mendekati Airli. Airli dapat melihat air liur harimau itu menetes dari mulutnya. Seakan melihat Airli adalah santapan yang begitu lezat. Melihat hal itu, napas Airli seakan tertahan hingga membuat dirinya mulai merasakan sesak. Airli berusaha menelan salivanya dengan susah payah. Berusaha mengontrol napasnya sebaik mungkin. Karena berdiam diri dalam rasa takut tidak akan menyelamatkannya.


Terlihat harimau tadi berjalan semakin mendekat ke arah Airli. Begitupun Airli, ia juga semakin mempercepat langkah mundurnya. Airli sengaja berjalan mundur karena yang Airli tahu, membelakangi harimau dapat memancing jiwa ganas dari seekor harimau. Dan ya, hal itu akan langsung membuat harimau ingin menerkam mangsanya. Entah pengetahuan dari manakah itu. Namun itulah yang coba Airli terapkan saat ini.


Namun sepertinya berjalan mundur bukanlah sebuah jalan keluar. Harimau itu malah semakin ingin menerkam Airli. Bahkan tidak segan-segan harimau itu langsung melompat ke arah Airli.


HAP..


Untungnya Airli langsung mengelak ke arah samping.


"Astagfirullah. Ya Allah, tolong."


Terdengar deru napas Airli yang semakin tidak teratur. Menandakan bahwa dirinya semakin takut. Namun Airli tetap berusaha untuk tidak panik.


Lagi-lagi harimau itu hendak melompat ke arah Airli. Dan kali ini tepat ke arah wajahnya. Sontak hal tersebut membuat Airli langsung berteriak histeris. Mengangkat kedua tangannya, untuk menutupi wajahnya. Berharap kedua tangan itu dapat menahan terkaman harimau tersebut. Dan akhirnya....

__ADS_1


Satu detik, dua detik, tiga detik. Airli merasa ada yang aneh. Dirinya tidak merasakan sakit sedikitpun. Padahal Airli melihat betul harimau tadi melompat ke arahnya. Namun mengapa setelah sekian detik berlalu, Airli tidak merasakan terkaman atau serangan dari si harimau.


Airli mencoba memberanikan diri untuk membuka matanya yang sejak tadi ia tutup. Betapa terkejutnya Airli ketika melihat harimau tadi sudah berlutut di hadapannya. Dengan dua kaki depannya ia luruskan. Sedangkan kepala condong ke bawah. Seakan tengah memberi hormat kepadanya. Airli sedikit mundur ke belakang, seakan mencari aman.


Pok... pok... pok...


Airli menepuk-nepuk pipinya. Mencoba memastikan semua ini mimpi ataukah nyata. Namun ternyata Airli dapat merasakan sakit di pipinya akibat pukulan tangannya barusan.


"Aduh sakit." Keluh Airli. "Berarti semua ini bukan mimpi dong." Gumamnya dengan nada cemas.


Airli menoleh ke arah harimau tadi. Dan harimau itu masih pada posisi yang sama. Perubahan sikap yang tadinya begitu sangar kini menjadi kalem dan tenang sekali, membuat Airli dilanda kebingungan.


"Nih harimau lagi pms atau gimana sih? Bisa dadakan gitu ya berubah sikapnya." Gumam Airli dalam hati.


"Gue harus gimana coba? Mau kabur, gak berani melangkah. Gak kabur, nyawa bisa melayang. Jadi serba salah." Airli terus bertengkar dengan pikirannya. Entah mengapa langkahnya terasa berat untuk melarikan diri dari tempat itu sekarang.


Sampai terdengar sebuah suara, dan langsung membuat jantung Airli semakin berpacu cepat.


"Terima kasih,"


"Enggak ada orang,"


Sampai akhirnya Airli kembali menoleh pada si harimau yang kini sudah mengangkat kepalanya. Harimau itu memberikan tatapan pertemanan kepada Airli, sangat jauh berbeda dengan tatapan tadi. Tatapan kelaparan seakan ingin menerkam.


"Apa mungkin nih harimau yang ngomong?" batin Airli.


"Ah Enggak mungkin enggak mungkin." Tambahnya lagi sambil geleng-geleng kepala.


"Terima kasih karena telah membantuku," ucap suara itu lagi.


Bulu kuduk Airli langsung berdiri mendengar suara itu lagi. Suara yang sama seperti sebelumnya.


"Siapa yang ngomong sih? Lagian makasih untuk apa coba? Gue gak bantu apa-apa." Jawab Airli dengan teriak-teriak. Anggap saja teriakannya itu adalah cara untuk menghilangkan rasa takutnya.

__ADS_1


"Saya ada di hadapanmu," ucap suara itu menjelaskan.


Airli langsung melihat ke hadapannya. Dan benar, di hadapannya hanyalah ada si harimau yang masih dengan posisi yang sama. Yaitu berlutut dengan dua kaki depannya.


"Ka... kamu bisa ngomong?" tanya Airli dengan sedikit terbata. Anggaplah Airli gila pada saat itu. Karena menanyakan hal yang sama sekali tidak mungkin.


"Setiap makhluk tentu saja dapat berbicara, kamu dapat mendengar ucapan ku?" harimau itu malah bertanya kepada Airli.


Hal yang sangat Airli pertanyakan saat ini malah dijadikan pertanyaan untuk dirinya. Sungguh aneh bagi Airli, bagaimana mungkin dirinya dapat mendengar suara hewan berbicara.


"Entahlah, tapi aku dapat mendengar suaramu yang mengucapkan kata terimakasih. Tapi, terimakasih untuk apa?" tanya Airli.


"Terima kasih karena cahaya tasbih di tangan mu, dapat menghancurkan energi negatif di tubuhku." Jawab Harimau itu.


Airli terdiam beberapa saat. Sampai setelahnya, Airli kembali bertanya.


"Cahaya tasbih? Energi negatif? Apa maksud semua itu?" tanya Airli yang sama sekali tidak paham dengan ucapan si harimau.


"Cahaya tasbih yang terpancar dari telapak tanganmu." Ucap harimau itu lagi.


Airli langsung melihat ke arah tangannya. Mencari cahaya yang dimaksud. Namun dirinya sama sekali tidak melihat cahaya apapun itu.


"Jika kau bertanya mengenai cahaya tasbih kepadaku, aku tidak punya jawaban untuk itu. Namun tentang energi negatif di tubuhku, hal itu terjadi karena ada seseorang yang ingin mengambil inti kekuatan milikku. Karena jika melawanku secara langsung dia tak akan sanggup, maka dari itu dia menyalurkan energi negatifnya untuk menguras energi ku dari dalam. Dengan begitu dia akan semakin mudah untuk mendapatkan inti kekuatan milikku." Jelas si harimau cukup panjang.


Meski begitu, Airli tetap saja tidak paham. Jangankan untuk memahami ucapan si harimau tadi, dapat berbicara dengannya saja sudah membuat Airli pusing memikirkannya.


"Okey... okey... meskipun aku tidak terlalu paham dengan penjelasan kamu. Tapi aku akan mencoba memahaminya. Umm... bolehkah aku bertanya sesuatu?" ujar Airli pada si harimau.


Harimau itu mengangguk.


"Sebelum itu, benarkan dahulu posisi berdirimu supaya lebih nyaman." Perintah Airli. Harimau itu pun langsung mengikuti.


"Apa nama tempat ini?"

__ADS_1


"Negeri Tawar." Jawab si harimau dengan cepat.


__ADS_2