
"Aku memang menyukai film kolosal ataupun film fantasi modern. Namun melihat adu kekuatan seperti di dalam film secara real seperti ini sungguh membuat jantungku berdetak seperti lari maraton."
-Airli Putri Awardani-
☘️☘️☘️
"Sekarang gantian aku yang bertanya kepada kakak," Bimora langsung menyerbu Airli.
Meskipun Airli masih merasa sangat kesal dengan keadaan yang terjadi. Karena dari jawaban yang diberikan Bimora tadi, semuanya menunjukkan bahwa dirinya memang tengah berada di dunia yang sangat berbeda dengan tempat dimana Airli berasal. Entah ini dimensi yang berbeda, Airli juga tidak dapat memahaminya.
Namun dari itu Airli harus tetap mendengarkan pertanyaan Bimora sesuai kesepakatan mereka tadi.
"Tanyakanlah," ucap Airli memberi izin.
Bimora langsung merubah ekspresi dirinya menjadi lebih serius. Bimora menatap Airli begitu lekat, dan anehnya seakan tertarik begitu saja, Airli malah ikut menatap mata pemuda ini. Dan dengan seketika, Airli merasa ruangan berubah menjadi pengap. Tatapan Bimora berubah menjadi tatapan penuh intimidasi.
"Jawab dengan jujur, darimanakah kamu berasal?"
Entah mengapa suara Bimora yang tadinya terdengar ramah kini berubah menjadi begitu dingin.
Bulu kuduk Airli sontak berdiri karena ketakutan.
"Jawablah! Diam bukanlah jawaban!"
Airli sedikit tersentak. Terkejut dengan suara Bimora yang malah meninggi. Jujur, air mata Airli mulai menggenang sekarang.
Terlihat dari balik pintu, guru Mi tengah mengawasi Bimora dan Airli. Dengan Cattin yang berada di sampingnya.
"Guru, sepertinya Bimora mulai tidak dapat mengontrol aura nya." Ujar Cattin mulai khawatir.
Mengingat Aura interogasi milik Bimora yang seringkali tidak terkendali oleh dirinya sendiri. Hal itu membuat Cattin menjadi ketar-ketir takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Tenanglah! Guru yakin Bimora dapat mengendalikan Aura interogasinya. Jika tidak dilatih seperti ini, anak itu tidak akan terkontrol sampai kapanpun." Jelas guru Mi.
Cattin menghela napas pelan. Dia berusaha untuk tetap tenang. Meskipun ia sangat khawatir dengan keselamatan Airli yang akan terancam jika sampai Bimora benar-benar hilang kendali atas dirinya.
"Bimora, ada apa denganmu?" tanya Airli dengan suara mulai bergetar karena takut.
Bukannya menjawab, Bimora malah berdiri sembari mencengkram bahu Airli. Mendorong Airli hingga menabrak jendela. Meskipun tidak melukai Airli, namun hal tersebut sontak membuat Airli terkejut setengah mati.
Begitupun Guru Mi dan Cattin sama terkejutnya.
"Aku menyuruhmu menjawab! Bukan untuk bertanya kembali kepada ku!" Ucap Bimora semakin dingin.
Airli berusaha menelan salivanya dengan susah payah. Tubuhnya mulai bergetar sekarang.
Airli dapat melihat Tatapan tajam dari Bimora yang tertuju pada dirinya. Namun dari tatapan itu juga, Airli dapat menyimpulkan sesuatu.
Guru Mi dan Cattin yang melihat hal itu langsung masuk ke dalam kamar. Meminta Bimora untuk melepaskan Airli.
"Bimora, apa yang kamu lakukan? Lepaskan kak Airli!" perintah Cattin dengan nada cemas. Karena yang ia khawatirkan ternyata benar-benar terjadi.
Namun di sini guru Mi masih berusaha untuk tetap tenang. Sebab jika salah langkah, Bimora dapat melakukan hal gila yang akan sangat berbahaya untuk keselamatan Airli, bahkan semua orang yang ada di tempat ini.
"Bimora, tenanglah nak! Kontrol aura mu. Guru tahu kamu anak yang baik dan pintar," ucap Guru Mi lembut.
Namun nyatanya Bimora sama sekali tidak mendengarkan Guru Mi. Parahnya, Bimora malah membawa Airli terbang keluar melalui jendela. Dengan tangan masih mencengkram keras bahu Airli.
Dan pergerakannya tidak dapat tercegah oleh Cattin ataupun Guru Mi sendiri.
Airli dapat merasakan cengkraman Bimora yang semakin lama semakin menyakitkan.
"Bimora tenanglah, tolong lepaskan tanganmu!. Kamu menyakiti ku," pinta Airli dengan keluhnya.
Nyatanya Bimora malah tidak peduli. Dia masih saja menatap Airli tajam. Seakan tidak ada belas kasih di dalam dirinya.
Namun Airli malah menafsirkan tatapan Bimora lebih seperti tatapan kesepian. Kenapa Airli beranggapan demikian, karena Airli seringkali melihat tatapan seperti ini.
Airli adalah seorang guru TK. Mengenali tatapan anak-anak yang berbeda arti sudah menjadi kesehariannya. Bahkan ketika kuliah Airli juga mempelajari perihal ekspresi yang disampaikan melalui mata dalam mata kuliah psikologi anak. Contohnya seperti yang terjadi pada Bimora saat ini.
Terlihat jelas arti kesepian di mata Bimora. Hal itu juga yang mungkin menjadi alasan Bimora menjadi tidak terkontrol seperti ini. Padahal yang Airli tahu Bimora adalah anak yang baik.
Namun yang menjadi pertanyaan Airli adalah, mengapa Bimora sampai merasakan kesepian? Bukankah ada banyak orang yang ada di sekelilingnya saat ini? Mereka semua juga terlihat begitu menyayangi Bimora.
Di sisi lain Rayyan yang melihat Bimora tengah menyerang Airli langsung bergegas menghampiri keduanya. Rayyan berusaha untuk berbicara baik-baik dengan Bimora. Berharap Bimora mau melepaskan Airli dan mulai mengontrol dirinya.
"Bimora lepaskan cengkramanmu! Kendalikan lah dirimu!" ucap Rayyan.
"Diamlah kau! Aku tidak butuh perintahmu!" balasnya dingin.
Namun ternyata Bimora sama sekali tidak mendengarkan Rayyan. Bahkan Bimora sama sekali tidak seperti Bimora yang Rayyan ketahui.
Karena biasanya, ketika Aura interogasi hadir dalam diri Bimora seperti saat ini, hanya ucapan Rayyan yang akan didengar oleh Bimora. Namun hari ini sepertinya hal itu tidak terjadi. Bimora seperti tengah berada di puncak marahnya.
"Jawablah!! Aku minta jawaban darimu!" bentak Bimora pada Airli lagi. Dan Kali ini Bimora tidak segan-segan mendorong Airli hingga terpental.
"Aaaaaaaaaa...."
Melihat Airli terdorong jauh, dengan gesit Rayyan langsung menangkapnya.
Dan untungnya Rayyan berhasil melakukannya.
__ADS_1
Deg
Tanpa sengaja mata keduanya bertemu.
Namun sepertinya, Bimora tidak terima dengan hal yang dilakukan Rayyan barusan. Dia mulai mengeluarkan skill IKU nya. Menciptakan sebuah minuman.
Bersamaan dengan itu Guru Mo datang ke tempat mereka. Diikuti Guru Mi dan Cattin di belakangnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Guru Mo kepada Rayyan.
"Bimora tidak dapat mengontrol aura nya lagi guru," jawab Rayyan.
"Berbahaya! Jika anak ini benar-benar tidak terkontrol. Dia bisa merusak akademi ini lagi."
"Cepat tangani anak itu! Jangan sampai Guru Santo mengetahuinya!." Ujar guru Mo kepada Rayyan.
Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba saja....
"Minuman kecepatan kilat..."
Bimora langsung meminum minuman tersebut dan langsung saja terlihat sebuah pancaran cahaya merah mengelilinginya. Bahkan tawa Bimora terdengar begitu menyeramkan.
Airli dibuat terperangah dengan pemandangan itu. Bahkan dirinya kembali menepuk-nepuk pipinya untuk memastikan bahwa ini nyata ataukah mimpi.
Tidak menunggu lama, Bimora langsung terbang menyerang Airli mengarahkan serangannya tepat kepada gadis itu. Hal itu membuat Airli menjadi panik sendiri. Karena pergerakan Bimora sungguh tidak dapat Airli prediksi.
Namun tentu saja Rayyan tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Begitupun Guru Mi dan Cattin. Rayyan menarik Airli menjauh dari Bimora dengan cepat sembari mengeluarkan IKU miliknya. Sedangkan Cattin berusaha memperlambat gerakan Bimora menggunakan Skill Kucing hutan miliknya.
Meskipun Cattin masih kalang kabut untuk menyeimbangi kecepatan Bimora.
Guru Mi berusaha membuat sebuah medan untuk pertarungan ini. Salah satu cara untuk memperkecil jika ada kerusakan yang akan terjadi. Mengingat kerusakan yang sebelumnya pernah Bimora lakukan membuat mereka harus berpuasa selama seminggu. Karena uang untuk membeli makanan harus digunakan untuk memperbaiki beberapa perlengkapan.
Sedangkan Rayyan mulai mengaktifkan IKU elementer tanah miliknya.
"Elementer tanah..."
"Cengkraman tanah" teriak Rayyan.
Dan langsung saja sebuah tangan yang terbentuk dari tanah langsung menahan Bimora. Pemuda itu yang sempat terdesak akibat serangan Cattin dapat dengan mudah terperangkap oleh cengkraman dari Rayyan.
Namun bukannya menyerah, Bimora malah tertawa meremehkan. Dan sedetik kemudian ia kembali meminum minuman ciptaannya yang lain.
"Minuman penghancur!!"
"Aaarkkhhhhhh!"
PYARRRRR.....
Cengkraman tanah milih Rayyan langsung hancur seketika.
"Dia dapat menghancurkan cengkraman milik kak Rayyan, yang bahkan seorang master sekalipun tidak dapat melakukannya." Ucap Cattin lagi.
"Kekuatan anak itu semakin meningkat ketika tidak terkontrol seperti ini. Sepertinya kita tidak dapat melawannya jika menggunakan jalan adu kekuatan seperti ini." Pikir guru Mi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan guru?"
Belum sempat guru Mi menjawab pertanyaan Cattin, Bimora sudah kembali menyerang Airli.
Tentu tidak akan diam saja, Cattin serta guru Mo langsung membantu menahan Bimora. Sedangkan guru Mi tetap diam untuk menjaga Medan buatannya tetap terkontrol. Terlihat jelas Bimora saat ini sangat tidak terkendalikan.
Dan serangannya selalu saja kepada Airli.
Hingga tiba pada satu titik dimana Bimora tertahan oleh Rayyan, dan Rayyan hendak menghentikan serangannya karena mengira melemahnya serangan Bimora menandakan aura interogasi miliknya telah hilang. Namun ternyata Rayyan salah, semua yang terjadi hanyalah tipuan Bimora saja.
Bimora memang sengaja melemahkan diri setelah merasa tekanan dari Rayyan mengendur Bimora langsung memberikan serangan balasan.
Dan langsung saja.
"Minuman penyerapan!"
Rayyan meminum minuman ketiga buatannya. Tanpa lama-lama ia langsung menggunakannya.
Dan secara tiba-tiba saja energi semua orang yang ada di dalam medan pertarungan ini, terserap oleh Bimora. Dan hal tersebut membuat tubuh semuanya menjadi lemah. Kecuali Airli.
"Sial!! anak ini kembali menggunakan minuman ini," ujar Guru Mo sembari berusaha keluar dari penyerapan energi yang dilakukan Bimora.
Airli yang melihat itu, berusaha menolong semua orang namun dirinya juga tidak tahu bagaimana caranya.
Entah mengapa Airli terpikirkan sesuatu. Entah itu sebuah ide atau malah hal bodoh. Airli memilih berlari mendekati Bimora. Berusaha untuk berdiri tepat di samping pemuda itu.
"Airli apa yang kamu lakukan?" teriak guru Mo.
"Jangan dekati Bimora!!" teriak Rayyan pula.
Rayyan berusaha menembus batasannya. Meskipun penyerapan Bimora ini merupakan hal yang begitu berbahaya. Karena energi lawan dapat ia serap habis, yang mengakibatkan lawan akan semakin melemah bahkan dapat kehilangan nyawa mereka.
"Bimora tolong hentikan semua ini!" perintah Airli.
Bimora yang melihat Airli sudah berada di sampingnya tersenyum menyeringai. Pemuda itu langsung berusaha menyerap energi Airli, seperti yang ia lakukan pada yang lainnya. Namun yang terjadi malah.
"Aaarrrkkkkhhhhh,"
__ADS_1
"BIMORA!!!" teriak semua orang.
Bimora terpental jauh. Terjatuh hingga tersungkur ke tanah. Semua orang yang melihat itu hendak menghampiri anak itu namun mereka tak kuasa dikarenakan tubuh mereka juga melemah akibat penyerapan yang Bimora lakukan tadi.
Hingga akhirnya hanya Airli yang mendekat. Tangan gadis itu menyentuh punggung Bimora. Seraya berkata.
"Tenanglah Bimora, kakak ada untukmu."
Nyessss
Entah mengapa setelah mendengar ucapan Airli tersebut hati Bimora mulai dingin. Bimora mulai dapat mengontrol dirinya. Bahkan kesadarannya perlahan semakin pulih.
Sedangkan semua orang yang melihat itu dibuat takjub. Bagaimana tidak cahaya merah yang sejak tadi mengelilingi Bimora seakan terserap oleh cahaya hijau yang terpancar dari telapak tangan Airli.
Bimora berusaha untuk duduk. Pemuda itu memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing.
Bimora memperhatikan ke sekelilingnya. Terlihat para guru serta seniornya tengah terduduk lemah tidak berdaya.
"Apa yang terjadi kak? Apa aku hilang kendali lagi?" tanya Bimora dengan nada menyesal.
Terlihat jelas Bimora sangat merasa bersalah saat ini.
"Bodohnya aku!" Bimora memukuli dirinya sendiri.
"Hei!! Tenanglah! Kamu tidak bodoh Bimora, kamu hanya belum mampu menguasai dirimu sendiri. Kamu harus selalu berusaha untuk tenang," ujar Airli berusaha kembali menenangkan Bimora.
"Tapi Aku membuat mereka terluka kak, karena kehabisan energi." Sesal Bimora.
Terlihat Rayyan yang tertatih berjalan mendekati Bimora dan Airli.
Melihat sang kakak yang melemah, Bimora langsung menghampiri dan merangkulnya.
"Maafkan aku kak, karena aku kakak jadi seperti ini." Ucap Bimora penuh sesal kepada Rayyan.
Rayyan kembali duduk di tanah. Wajah tampannya yang lesu terlihat tersenyum manis.
Rayyan menggeleng pelan.
"Tidak papa. Yang kakak khawatirkan adalah dirimu saat ini," ujar Rayyan.
"Karena biasanya setelah kamu lepas kontrol seperti ini, tubuhmu akan melemah bahkan kamu selalu tidak sadarkan diri hingga berhari-hari."
"Aku baik-baik saja kak," jelas Bimora yakin.
Airli dapat melihat jelas kasih sayang Rayyan kepada Bimora cukup dalam. Terlihat bagaimana berusaha-nya pemuda itu untuk berjalan menghampiri Bimora tadi. Bahkan mengesampingkan para gurunya yang sebenarnya juga membutuhkan bantuan dirinya.
"Semua ini karena Airli," ucap Rayyan.
Pemuda itu beralih menatap Airli.
"Aku? Apa yang sudah aku lakukan?" tanya Airli takut disalahkan sebagai penyebab kerusuhan yang terjadi barusan.
Rayyan hendak meraih tangan Airli, guna menunjukkan IKU yang dimiliki gadis itu. Namun Airli malah menarik tangannya menjauh.
"Eh... mau ngapain??" protes Airli.
"Bukan muhrim!!! Enak aja mau pegang-pegang!"
Sedangkan Rayyan langsung tersenyum kikuk karena merasa sudah lancang. Bimora yang melihat itu hanya terkekeh kecil saja.
Di sisi lain Guru Mi dan Guru Mo sudah berhasil untuk duduk, keduanya tengah berusaha menstabilkan energinya dengan bermeditasi. Sedangkan Cattin masih tergeletak di atas tanah. Sepertinya gadis itu yang paling parah diantara yang lainnya.
Namun semua orang belum menyadarinya.
Rayyan meminta Airli untuk membuka tangannya.
"Bukalah tanganmu! Aku bukan bermaksud kurang ajar, tapi ada sesuatu yang harus kamu lihat," jelas Rayyan dengan baik-baik.
Mendengar itu, Airli langsung membuka telapak tangannya.
Terlihat sebuah cahaya hijau keputihan bersinar di sana. Diikuti sebuah rumput bercahaya emas menjalar hingga dua meter tingginya.
Airli dibuat kaget dengan hal itu. Hal menakjubkan yang terjadi pada dirinya yang bahkan dirinya tidak pernah sadari.
"Apa ini?" tanya Airli.
"Inti kekuatan cahaya hijau." Jawab Rayyan.
"Energi positif yang ada pada rumput cahaya hijau dapat menghantam keras energi negatif pada aura interogasi milik Bimora. Energi negatif yang membuat Bimora tidak terkontrol selama ini. Energi positif itu pula yang membuat Bimora tidak dapat menyerap energi dirimu. Namun jika ia tetap berusaha melakukannya seperti halnya tadi, maka dia akan terpental bahkan parahnya tubuhnya akan hancur. Untung saja Bimora baik-baik saja sekarang." Jelas Rayyan kepada Airli.
Airli semakin pusing sebenarnya. Memikirkan mengapa dirinya dapat sampai ke tempat ini saja belum mendapat jawaban. Kali ini malah mendapat penjelasan dari Rayyan yang semakin membingungkan.
Ditengah lamunan Airli mengenai penjelasan tersebut, terdengar suara guru Mo memanggil.
"Rayyan, tolong bantu guru menolong Cattin," teriak guru Mo.
Dan seketika itu mereka bertiga baru menyadari bahwa Cattin tidak sadarkan diri.
"Apakah Cattin terluka karena ulah ku?" tanya Bimora semakin merasa menyesal.
"Tenanglah! Cattin pasti akan baik-baik saja," ucap Rayyan berusaha menenangkan Bimora.
__ADS_1
Bimora menoleh ke arah Airli, berharap hal yang sama kepada Airli. Airli pun mengangguk sembari tersenyum. Tangannya menepuk pelan pundak Bimora dua kali, kemudian ia bergerak untuk berdiri.
Diikuti juga oleh Rayyan dan Bimora. Setelah itu ketiganya berjalan menghampiri Cattin yang masih tergeletak di atas tanah.