PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)

PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)
Bab 11


__ADS_3

Airli duduk lemas di atas lantai, tatapannya menatap lurus ke arah merpati. Hewan itu saat ini tengah di tangani oleh guru Mi. Airli hanya berharap dalam hati supaya sang merpati dapat di selamatkan.


Airli masih belum dapat menerima sepenuhnya perihal iku miliknya yang diberitahukan oleh Rayyan tadi. Dan kini, pikirannya malah ditambah lagi dengan kekhawatiran akan keselamatan merpati. Jujur, kepalanya mulai sakit sekarang.


Sebenarnya tadi bukanlah pertama kalinya Rayyan memberitahu perihal iku yang Airli miliki. Namun Airli baru tadi lah dapat mencernanya dengan baik. Sehingga membuat gadis itu kaget setengah mati.


"Sepertinya merpati ini tidak terselamatkan lagi," ujar guru Mi memberitahu.


Mendengar itu Airli langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati guru Mi.


"Kenapa? Apakah dia terluka begitu parah?" tanya Airli dengan wajah sendu.


Kemudian Airli langsung beralih menatap sang merpati.


"Merpati, kamu pasti selamat kan?" bisiknya pelan, dengan isak tangis mulai terdengar.


"Apakah merpati ini benar-benar tak terselamatkan guru?" tanya Bimora kepada guru Mi.


"Maafkan guru Bimora, hewan itu sudah begitu lemah."


"Lagipula merpati ini merupakan master hewan ikuator, seseorang telah mengambil inti kekuatan miliknya secara paksa, dan hal tersebut tentu akan membunuhnya. Tapi guru begitu salut dengannya, ia mampu bertahan dalam waktu selama ini meski Iku-nya telah direnggut darinya. Karena yang guru tahu, hewan ikuator akan mati ketika iku miliknya diambil paksa oleh seseorang." Jelas guru mi.


"Siapakah orang jahat itu, tega sekali membunuh hewan tidak berdosa seperti merpati ini." Ucap Airli sembari menghapus air matanya kasar.


Guru Mi hanya menggeleng saja. Ia juga tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Airli. Namu yang guru Mi pahami, Airli terlihat begitu menyayangi hewan tersebut.


Tanpa diduga tiba-tiba sang merpati bersuara, namun tentunya hanya Airli yang dapat mendengar suaranya.


Suaranya pun terdengar begitu pelan dan lemah.


"Putri..."


"Putri... apakah kamu mendengar ku?"


Airli yang menyadari Merpati berbicara terlihat mulai senang, ia langsung menyahut.


"Iya merpati, aku mendengar mu." Ucap Airli semakin mendekatkan telinganya ke arah merpati.


Melihat itu guru mi sedikit heran.


"Apakah gadis ini dapat mendengar hewan berbicara?" bisik guru Mi bertanya kepada Rayyan.


"Iya Bu, sepertinya begitu." Jawab Rayyan.


"Sentuhlah kepalaku Putri, rasakan sesuatu mengalir di tanganmu menuju kepalamu." Perintah si merpati.


"Apa? Tapi...., untuk apa merpati?" tanya Airli bingung.


"Apa yang dia perintahkan?" tanya guru mi kepada Airli. Karena guru mi tidak dapat mendengar ucapan sang merpati.


Airli menoleh ke arah guru Mi, dengan ragu Airli mengatakan.


"Merpati meminta saya untuk memegang kepalanya, lalu saya diminta untuk merasakan sesuatu yang mengalir ke kepala saya." Jelas Airli kepada guru Mi.


"Maka, lakukanlah!" sahut guru Mi menyuruh langsung tanpa banyak berpikir.


Airli menoleh kepada Rayyan dan Bimora secara bergantian, seakan meminta persetujuan. Keduanya mengangguk sebagai jawaban.


"Lakukanlah Putri, waktuku sudah tidak banyak lagi." Ucap Merpati semakin lemah.


"Baiklah merpati, akan aku lakukan."


Setelah mengatakan itu Airli langsung melakukan apa yang merpati perintahkan. Airli meletakan tangan kanannya ke atas kepala sang merpati.


Secara langsung muncul sebuah cahaya kehijauan dari kepala si merpati. Terlihat jelas cahaya itu mengalir ke tangan Airli menuju ke kepalanya. Bersamaan dengan proses pengaliran cahaya itu terlihat sebuah simbol kecil berbentuk mahkota berwarna hijau keputihan muncul di antara alis Airli. Proses tersebut terjadi lumayan lama.


"Simbol apa itu ibu?" tanya Rayyan kepada ibunya setelah menyaksikan hal tersebut.


"Bagaimana mungkin?" ungkap guru mi setengah percaya. Mengabaikan pertanyaan Rayyan barusan.


"Merpati legendaris masih ada di negeri ini," ujar guru Mi lagi masih belum percaya. Bahkan tubuhnya sedikit mundur karena kagetnya.


"Merpati legendaris?" sahut Rayyan ikut terkejut.


"Merpati legendaris?" ulang Bimora yang malah bingung.


Rayyan pernah mendengar cerita tentang merpati ini. Satu-satunya merpati yang memiliki kehebatan spesial. Namun Rayyan juga tidak begitu mengetahui kehebatan seperti apa itu. Ditambah lagi merpati ini mampu memanipulasi penampilannya sehingga terlihat seperti merpati biasa. Seperti yang Rayyan lihat saat ini, merpati itu hanya tampak seperti merpati pemberi pesan pada umumnya. Yang membedakannya hanya aura yang ia miliki saja.


Namun Rayyan hanya beranggapan bahwa merpati itu merupakan hewan ikuator sehingga ia mampu mengeluarkan aura yang cukup berbeda. Namun ternyata merpati ini... merupakan merpati terlangka yang dicari-cari oleh ikuator tipe peneliti.


Ikuator tipe peneliti sendiri merupakan para ikuator yang menjadikan hewan pemilik inti kekuatan sebagai objek penelitian mereka. Bahkan tidak jarang mereka menggabungkan atau mengawinkan dua jenis inti kekuatan guna menciptakan inti kekuatan langka.


"Bimora, panggil guru Santo dan guru Mo sekarang juga!!" perintah guru Mi.


"Baik guru," tidak menunggu lama Bimora langsung keluar dari ruangan itu untuk melaksanakan perintah guru Mi.


Sedangkan pengaliran energi yang terjadi antara merpati ke Airli ternyata semakin berpusat ke kepalanya, dengan begitu Airli juga merasakan sakit kepala yang semakin luar biasa. Bahkan Airli rasakan kepalanya seakan mau pecah.


"Terima kasih Putri, semoga kamu selalu beruntung." Bisik sang merpati, setelahnya tubuh merpati semakin lemas.


Bentuk fisik sang merpati juga perlahan berubah. Bentuknya berubah menjadi tiga kali lipat lebih besar dari bentuknya sekarang, dengan bulu berbentuk mahkota di kepalanya. Warna bulunya yang putih mulai berubah kehijauan dengan sinar yang begitu menyilaukan.


Guru Mi dan Rayyan sampai harus menutup mata mereka menggunakan tangan mereka untuk menahan silaunya cahaya tersebut. Namun Airli seakan tidak berpengaruh dengan silaunya cahaya itu, ia malah semakin bergerak maju untuk memeluk sang merpati yang kian melemah.


Mendengar kalimat terakhir yang merpati ucapkan tadi, membuat Air mata Airli semakin mengalir deras. Entah mengapa Airli merasa begitu kehilangan hewan ini, seakan dirinya memiliki hubungan yang begitu dekat dengannya.


Airli berbisik lembut tepat di samping telinga sang merpati.


"Terima kasih merpati, kamu adalah hewan yang begitu baik. Aku tidak akan pernah melupakanmu."


Setelah mengatakan itu Airli merasakan kepalanya semakin pusing, bahkan tubuhnya juga mulai melemah, Airli tidak sanggup lagi menahan dirinya untuk terus memeluk merpati. Rasanya tidak ingin melepaskannya.


Hingga akhirnya tubuhnya limbung ke belakang dan kesadarannya perlahan hilang. Airli pingsan.


Untungnya guru Mi dengan sigap langsung menahan tubuh Airli. Sehingga gadis itu tidak sampai terjatuh ke lantai.


"Bawa Airli ke ruang pengobatan!" perintah Guru Mi kepada putranya, yang tak lain adalah Rayyan.


Rayyan terdiam sesaat, ia sempat bingung harus menjawab apa. Mengingat betapa galaknya Airli jika tahu dirinya dengan sengaja Rayyan sentuh.


"Tapi Bu," tahan Rayyan.


"Kenapa? Ayo bawa Airli, dia harus segera ditangani." Ujar guru Mi.


"Bagaimana aku membawanya?"


"Rayyan! Kamu bukan anak kecil lagi, apa harus ibu beritahu lagi caranya membawa seseorang. Tentu saja kamu harus menggendongnya," sahut guru Mi dengan nada sedikit kesal. Pasalnya dirinya mulai lelah menahan tubuh Airli.


"Menggendong?"


"Tidak Bu, bisa-bisa aku di makan olehnya jika dia mengetahui hal itu." Tolak Rayyan langsung.


"Rayyan, gadis ini sedang pingsan, dia tak akan mengetahui hal itu." Ujar guru Mi.


"Tetap saja tidak bisa ibu, aku tetap harus menjaga batasan ku. Terlebih lagi, ia juga terlihat begitu menjaga dirinya." Jawab Rayyan sekali lagi menolak, namun dengan halus.


"Meskipun dalam keadaan terdesak begini?" ujar guru Mi.


"Iya Bu. Kecuali jika dia memberi izin, maka aku akan melakukan apa yang ibu perintahkan." Jelas Rayyan dengan sangat sopan.


"Jangan bodoh! Dia sedang pingsan nak, bagaimana mungkin meminta izinnya perihal ini, kamu gunakan saja inti kekuatan untuk membawanya!" perintah Guru mi.


"Baiklah Bu,"


Setelah mengatakan itu, Rayyan langsung mengaktifkan iku elementer miliknya. Berusaha memadatkan inti kekuatan miliknya itu guna mengangkat Airli menuju ruang pengobatan. Teknik yang sering ia lakukan ketika hendak mengangkat barang.


Dan hal tersebut ternyata berjalan dengan sangat baik. Namun belum jauh Rayyan melangkah, guru Mi kembali memanggilnya.


"Rayyan,"


"Iya Bu."


"Kamu harus merawat Airli sampai ia sadar dan pulih. Ibu ada pekerjaan untuk melatih murid-murid di akademi, karena mulai besok anak-anak MITAMA sudah kembali memulai latihan." Ucap Guru Mi menjelaskan.


Sadar akan perintah yang tidak akan dapat ia tolak, Rayyan memilih mengangguk saja kemudian melanjutkan kembali langkahnya untuk membawa Airli menuju ruang pengobatan.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, langkah Rayyan kembali dihentikan oleh seseorang.


"Hei tunggu!" ucapnya.


Rayyan menoleh ke sumber suara, ternyata berasal dari seorang gadis. Ia terlihat asing, mungkin gadis ini merupakan salah satu dari murid baru di akademi MITAMA.


Jika dilihat dari busana yang ia kenakan, sepertinya gadis itu bukan berasal dari kalangan bawah, jika seperti itu Rayyan harus berhati-hati bersikap dengannya.


"Kenapa gadis itu?" tanyanya kepada Rayyan.


"Dia pingsan," jawab Rayyan seadanya. Dengan suara datar.


"Iya aku tahu dia sedang pingsan. Maksud ku adalah, apa yang membuat dia pingsan?" tanyanya lagi. Sepertinya ia tidak puas dengan jawaban Rayyan yang sangat singkat tadi.


"Maaf nona, aku harus membawanya ke ruang pengobatan. Permisi," setelah mengatakan itu Rayyan langsung berjalan meninggalkan gadis tersebut.


Rayyan bukannya bermaksud bersikap tidak ramah, hanya saja jika Rayyan menjawab pertanyaan dari gadis tadi, tentu saja pertanyaan lainnya juga akan berlanjut. Rayyan menyadari bahwa yang terjadi dengan Airli merupakan hal yang harus dirahasiakan, itu sebabnya ia melakukan hal seperti ini.


Nyara yang merasa dirinya diabaikan tidak tinggal diam. Ia hendak menyusul Rayyan meminta penjelasan lebih. Karena dirinya begitu penasaran dengan keadaaan gadis yang tengah Rayyan bawa itu. Namun sayangnya langkahnya terhenti karena panggilan dari Bimora.


"Kamu Nyara?" tanya Bimora.


"Murid baru di akademi MITAMA?" tanya Bimora lagi.


"Iya," sahut Nyara.


Bimora yang menyadari perbedaan usia antara dirinya dengan Nyara, langsung meminta maaf.


"Maaf kak, sepertinya kamu lebih tua dari ku."


"Bukan masalah, kamu panggil Nyara saja aku tidak apa." Ujar Nyara.


"Baiklah, Nyara."


"Kamu diminta untuk kembali ke kamarmu, karena latihan ditunda hari ini," jelas Bimora mengutarakan maksudnya memanggil nyara tadi.


"Kenapa ada penundaan? Apakah ada masalah?" tanya Nyara sedikit kurang terima.


"Aku tidak tahu perihal itu, aku hanya menjalankan perintah dari guru Santo," jelas Bimora lagi.


Nyara menghela napas kesal. Setelahnya dia langsung berlalu meninggalkan Bimora tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Namun Bimora juga tidak mempermasalahkannya, ia memilih untuk pergi melihat keadaan Airli saja.


☘️☘️☘️


Sedangkan di sisi lain di sebuah ruangan terlihat seorang wanita tengah duduk diam di atas singgasananya. Tatapannya terlihat begitu dingin, bahkan aura membunuh yang terpancar darinya terlihat begitu pekat.


Entah apa yang sedang ia pikirkan sehingga membuat dirinya seakan tengah menahan amarah. Tidak berselang lama, datang seorang lelaki menghampirinya. Lelaki itu berlutut guna memberikan hormat.


Lelaki itu terlihat lebih muda dari si wanita, mungkin saja ia masih berumur di bawah tiga puluh tahun.


"Ada apa paduka memanggil saya?" tanyanya dengan posisi masih membungkuk.


Bukannya menjawab, wanita itu malah menekan si lelaki dengan kekuatan pikiran miliknya. Dan hal tersebut membuat si lelaki secara otomatis dapat melihat apa yang wanita itu lihat dalam pikirannya.


Laki-laki itu dapat melihat ada seorang gadis yang tengah menyerap inti cahaya dari burung merpati yang mereka buru tadi. Inti cahaya yang mereka incar, ternyata berhasil di serap oleh seorang gadis. Bahkan usianya terlihat masih sangat muda.


"Bagaimana mungkin paduka?" ujar pemuda itu setengah percaya.


"Gadis semuda itu mampu menyerap inti cahaya merpati legendaris." Ia masih geleng-geleng kepala karena tak percayanya.


"Siapa gadis ini?" tanyanya lagi.


Terlihat si wanita tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari si pemuda.


"Kamu yang harus mencari tahu jawaban untuk pertanyaannya itu!" ucap Wanita itu dingin. Namun ucapannya lebih terdengar seperti sebuah perintah.


"Rebut inti cahaya itu darinya untukku!" perintahnya juga.


"Baiklah paduka," jawab si pemuda tanpa membantah.


Setelah mengatakan itu si pemuda hendak langsung beranjak pergi. Namun wanita itu menahannya.


"Oh iya Trisar..."


"Jika kamu pergi ke tempat itu, gunakan teknik manipulasi aura yang pernah aku ajarkan. Karena inti cahaya merpati yang gadis itu serap dapat membantunya menyadari pikiran buruk seseorang." Jelas si wanita itu.


"Baiklah paduka, saya akan laksanakan perintah paduka." Ucap Trisar, setelahnya ia langsung pergi dari ruangan itu.


Setelah kepergian Trisar dari sana tidak lama datang seorang wanita dengan pakaian serba merah. Dengan topi senada tak lepas dari kepalanya. Wanita itu memberi hormat kepada wanita tadi.


"Dari mana saja kamu, Anjanika?" tanya si wanita. Ternyata wanita berpakaian merah itu bernama Anjanika.


"Maaf ibu, aku pergi terlalu lama," ucap Anjanika kepada wanita itu.


Ternyata Anjanika merupakan putri dari si wanita. Jika dilihat dari percakapannya dengan Trisar tadi, wanita ini merupakan bosnya. Atau dapat dikatakan sebagai pemimpinnya.


"Dari mana saja kamu?" tanya si wanita itu.


"Aku pergi untuk mencari inti kekuatan hewan Bu," jawabnya. "Dan ketika dalam perjalanan pulang aku menemukan sebuah benda," tambahnya.


Dahi wanita itu berkerut, dan terlihat wajahnya yang penasaran.


"Benda apa itu?" tanyanya.


"Sebuah cermin," jawabnya.


Bersamaan dengan itu, Anjanika langsung mengeluarkan sebuah cermin yang sempat ia temukan di hutan tadi.


Sontak saja mata si wanita itu langsung membulat. Bahkan ia juga langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri putrinya. Wanita itu meraih cermin tersebut dari tangan Anjanika.


"Cermin legendaris, bagaimana mungkin tergeletak di hutan?" ungkapnya masih tidak percaya.


"Tapi kenyataannya begitu ibu. Namun aku merasa aneh ibu," ucap Anjanika kepada ibunya.


"Aneh? Apa maksudmu?" tanya sang ibu.


"Dari hutan menuju ke sini bukanlah jarak yang jauh Bu, namun aku merasakan tenaganya sudah terkuras habis. Bahkan tubuhku terasa begitu lemas." Ujar Anjanika.


Terlihat sang ibu tengah memikirkan ucapan dari anaknya. Sembari memperhatikan cermin yang ia pegang. Memastikan kembali keaslian dari cermin ini.


Namun tiba-tiba....


BRUUUKKKK


Anjanika terjatuh jadi duduknya. Tubuhnya meluruh ke lantai. Dia pingsan.


"Anjanika!!" pekik sang ibu karena kaget.


"Bom-bom..... Bom-bom....!!!" teriak sang ibu.


"Bom-bom.... dimana kamu!!!"


"Cepat ke sini!!!"


Tidak lama datang seorang pria mendekat. Pria bernama Bom-bom itu langsung memberi hormat.


"Ada apa paduka?" tanyanya.


"Bawa Anjanika ke kamarnya, sepertinya ia sedang terluka." Ujar sang Ibu.


"Apa yang terjadi padanya, paduka?" tanya Bom-bom.


"Cepat bawa dia!! Tak perlu banyak pertanyaan!!" bentak wanita itu.


Bom-bom sedikit tersentak oleh bentakan dari pemimpinnya barusan, sampai ia hampir jatuh ke belakang dari posisi duduknya sekarang. Namun karena Bom-bom tak ingin kena serangan amarah dari sang pemimpin, ia memilih langsung membawa Anjanika menuju kamarnya saja.


Setelah kepergian Bom-bom, terlihat sang wanita langsung melepaskan cermin yang Anjanika berikan tadi dari cekalan tangannya. Tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa sedikit sakit.


"Sial!!! ternyata cermin ini masih saja dapat menyerap energiku. Meskipun aku sudah berada pada level master." Ujar Si wanita itu dengan wajah dingin.


☘️☘️☘️


Di lembaga Cahaya Lara terlihat seorang wanita tengah mondar-mandir dengan wajah penuh kekhawatiran. Sesekali ia melirik ke luar jendela untuk memastikan adakah rombongan pasukan yang datang.

__ADS_1


Di tengah kegiatan yang ia lakukan terdengar ketukan dari arah pintu kamar.


"Siapa?" tanyanya.


"Maaf paduka, bolehkah kami masuk?" tanya suara di luar sana.


Menyadari siapa sang pemilik suara, wanita itu langsung membuka pintu kamarnya.


Wajahnya yang khawatir kini berubah sendu. Bahkan Air matanya juga mulai mengalir dari sudut kanan matanya.


"Kakak," wanita itu langsung memeluk seorang pria di hadapannya.


"Tama saja yang dipeluk, yang disebelah tidak di anggap?" sindir seorang pemuda di samping mereka.


Wanita itu langsung melepaskan pelukannya dari pemuda bernama Tama, lalu beralih memeluk pemuda yang satunya.


"Tenanglah Binara! Jangan menangis seperti ini," ujar Tama sembari mengusap lembut punggung adiknya.


Binara melepaskan pelukannya dari sang kakak, kemudian mencoba menghapus air matanya.


"Kamu adalah istri dari pemimpin lembaga cahaya Lara. Seharusnya kamu harus bisa lebih kuat, tidak seperti ini." Ujar Tamara.


"Tapi kak, sekuat-kuatnya seorang wanita tentu ia akan selalu khawatir jika putrinya pergi dari rumah. Apalagi kabar tentang keadaannya masih belum aku ketahui." Jawab Binara kepada kedua kakaknya.


"Tenang adikku! Nyara akan baik-baik saja, aku yakin keponakanku itu adalah gadis yang pandai menjaga diri." Ucap Tama berusaha menenangkan adiknya.


"Apakah saat ini suamimu tengah mencarinya?" tanya Tamara.


Binara mengangguk sebagai jawaban.


"Kakak dan Tamara akan pergi mencari Nyara juga, kamu tenanglah di sini. Kami pasti akan menemukan Nyara," ujar Tama kepada adiknya.


"Apakah kakak tidak ada pekerjaan lain yang menunggu?" tanya Binara sedikit tidak enak.


Karena Binara juga paham benar kedua kakaknya tersebut tentu saja memiliki pekerjaan juga apalagi keduanya memiliki akademi yang harus selalu mereka awasi. Namun sekarang mereka malah memilih untuk meninggalkan akademi mereka hanya untuk mencari putri Binara yang pergi dari rumah.


"Tidak ada pekerjaan yang lebih penting dibandingkan menjaga keluarga selalu bahagia." Ujar Tama.


"Bagaimana kami dapat diam saja jika adik kami sedang dalam kesulitan." Tambah Tamara juga.


"Lagipula kami juga menghawatirkan keponakan kesayangan kami," jelas Tamara lagi. Disetujui oleh Tama pula.


"Terima kasih kak, karena selalu menyayangi putriku." Ucap Binara tulus.


"Tentu saja." Jawab keduanya bersama-sama.


☘️☘️☘️


Sedangkan di akademi MITAMA terlihat Airli sudah tergelatak lemah di atas ranjang di dalam ruangan pengobatan. Bersebelahan dengan Cattin yang tengah melakukan penyerapan buah seribu pemulihan yang dilakukan oleh guru Mo.


Guru Santo yang memeriksa Airli berusaha mencari tahu sesuatu.


"Apakah kak Airli baik-baik saja guru?" tanya Bimora.


"Dia baik, bahkan sangat baik. Tubuhnya normal, bahkan guru tidak mendeteksi ada luka dalam di tubuhnya." Jelas guru Santo.


"Lalu mengapa ia belum sadar guru?" tanya Rayyan. "Mengingat sudah hampir tiga jam ia pingsan," tambahnya lagi.


"Perlu waktu untuk menyerap inti cahaya dari merpati legendaris. Untung saja gadis ini selamat, karena yang guru tahu minimal ikuator level master tingkat lanjut yang dapat menyerap inti cahaya hewan ini." Jelas Guru Santo memberi tahu.


"Inti cahaya? Bukannya inti cahaya akan terserap bersamaan dengan inti kekuatan, guru? Dan inti kekuatan merpati tadi telah diserap oleh seseorang, seperti yang dijelaskan oleh ibu ku tadi." Tanya Rayyan yang sedikit tidak paham.


"Kamu benar Rayyan, inti cahaya akan terserap bersamaan dengan inti kekuatan. Sehingga akan berubah nama menjadi cahaya inti kekuatan. Namun tidak untuk para hewan legendaris, hewan-hewan ini memiliki inti kekuatan dan inti cahaya yang luar biasa hebatnya. Maka dari itu perlu waktu untuk menyerap keduanya, namun tak dapat diserap dalam waktu yang bersamaan." Jelas Guru Santo lagi.


Mendengar penjelasan dari sang guru, Rayyan menjadi paham sekarang. Ia juga beranggapan ternyata guru Santo banyak memahami perihal inti kekuatan.


"Lalu guru, lebih hebat mana inti kekuatan dari hewan legendaris atau inti cahayanya?" Tanya Bimora. Pemuda ini sampai berpikir ke arah sana.


"Keduanya memiliki kekuatan yang berbeda. Inti cahaya berfungsi untuk mempertajam kekuatan pikiran sedangkan inti kekuatan berfungsi meningkatkan kekuatan fisik. Itu sebabnya setelah menyerap cahaya inti kekuatan dari hewan maka kekuatan fisik dan pikiran kita semakin meningkat." Jawab Santo.


"Jadi guru..."


"Sudahlah! Nanti lagi bertanyanya, sekarang giliran saya yang bertanya kepada kalian." Potong Santo langsung. Dan berhasil membuat Bimora tersenyum kecut.


"Apa yang hendak guru tanyakan?"


"Dimanakah kalian bertemu dengan merpati legendaris?" tanya Santo.


"Di hutan merpati guru, ketika kami hendak kembali setelah menemukan buah seribu pemulihan untuk Cattin." Jawab Bimora.


"Apakah kalian mengetahui siapakah yang mengambil inti kekuatan merpati itu?" tanya guru Santo?"


Bimora menggeleng lalu melirik Rayyan beberapa detik.


"Tidak guru, namun aku sempat merasakan ada pergerakan ikuator level master yang mendekat ke arah kami sebelum merpati itu mendatangi kami." Jawab Rayyan menjelaskan.


Terlihat Santo menghela napas beberapa kali. Seakan tengah memikirkan sesuatu hal.


"Ada apa guru? Adakah yang tengah guru pikirkan?" tanya Rayyan seakan memahami ekspresi dari sang guru.


"Iya Rayyan. Kita harus berhati-hati sekarang, karena orang yang mengambil inti kekuatan merpati legendaris itu tentu akan mencari inti cahayanya juga, dan keselamatan Airli akan sangat terancam." Ujar Guru Mi sebagai jawaban.


"Guru benar," sahut Bimora.


"Kalau begitu kita harus lebih waspada guru," saran Rayyan.


Guru Santo mengangguk.


"Perketat keamanan akademi. Jangan ada orang asing masuk ke dalam akademi untuk saat ini. Terutama ketika keadaan Airli masih seperti ini," perintah Santo.


"Guru akan memerintahkan para murid senior untuk mengawasi di luar akademi, kecuali kamu Rayyan. Kamu, guru minta jaga Airli di sini bersama dengan Bimora." Atur Santo.


"Baik guru, perintah dilaksanakan." Sahut keduanya bersamaan.


Setelah itu, Santo langsung berjalan keluar dari ruangan pengobatan. Diikuti guru Mo yang ternyata sudah selesai mengobati Cattin.


"Tunggu guru Mo!" tahan Bimora.


Langkah guru Mo terhenti karena panggilan Bimora.


"Bagaimana keadaan Cattin, guru?" tanya Bimora. "Apakah penyerapannya berhasil?" tambahnya.


"Penyerapannya berjalan baik, dia akan sadar sebentar lagi." Jawab Guru Mo.


"Syukurlah, terima kasih guru." Ucap Bimora terlihat begitu senang.


"Iya, kalau begitu kamu jaga dia. Guru ada pekerjaan lagi," perintah guru Mo.


"Baik guru, siap laksanakan perintah." Sahut Bimora begitu semangat.


Rayyan yang melihat itu langsung tersenyum. Karena sejak kemarin, Rayyan hanya melihat wajah sendu dari Bimora, dan kini akhirnya anak itu sudah kembali terlihat senang . Rayyan juga ikut merasakan senang melihatnya.


"Jadi kak Rayyan jaga kak Airli, aku jaga Cattin ya!" ujar Bimora kepada Rayyan setelah kepergian guru Mo.


"Kenapa begitu?" protes Rayyan.


"Bukankah kita diminta menjaga mereka bersama-sama," ungkap Rayyan mengingatkan.


"Iya kak aku tahu, tapi aku ingin merawat Cattin." Jujur Bimora.


Sebab ia begitu merasa bersalah dengan gadis itu, karena akibat ulahnya ia sampai harus terbaring lemah di ranjang pengobatan.


"Jadi kamu ingin hanya kakak yang dapat omelan dari Airli," sindir Rayyan. Mengingat Airli yang selalu emosional dengan dirinya.


Bimora terkekeh mendengar ucapan Rayyan.


"Bukankah kakak menyukai hal itu?" sindir Bimora.


Dahi Rayyan berkerut, tak paham maksud ucapan Bimora.


"Tidak, kakak tidak menyukai hal itu." Tolak Rayyan.


Bimora kembali terkekeh, dan mulai merangkul kakaknya itu. Seraya berbisik.


"Aku tahu kakak menyukai kak Airli, terlihat jelas dari matamu kak,"

__ADS_1


Deg


__ADS_2