
"Nanam mangga aja aku engga pernah tumbuh, kali ini malah tanaman tumbuh langsung dari telapak tanganku. Tuhan.... aku harap ini mimpi."
-Airli Putri Awardani-
☘️☘️☘️
Guru Mi mondar-mandir seperti tengah mencari sesuatu. Bahkan dirinya terlihat sangat terburu-buru.
Satu-persatu dari setiap kamar dan ruangan yang ada di akademi MITAMA juga sudah ia masuki. Bahkan sampai ke atap rumah pohon yang ada di belakang akademi juga tak terlewatkan. Namun yang ia cari sepertinya belum juga ditemukan.
Rayyan yang menyadari ibunya tengah mencari sesuatu langsung datang menghampiri.
"Ada apa, Bu? Aku melihat ibu berkeliling sejak tadi, apakah ada yang ibu cari?" tanya Rayyan kepada guru Mi.
"Rayyan, apakah kamu melihat Airli? Ibu sudah mencarinya ke seluruh akademi tapi tidak menemukannya." Tanya guru Mi sebagai jawaban atas pertanyaan Rayyan tadi.
"Airli, tadi aku sempat bertemu dengannya. Tapi..." Rayyan menggantung ucapannya.
"Tapi kenapa? Di mana gadis itu sekarang?" serbu guru Mi.
"Airli terlihat menangis, sepertinya gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu ibu, entah mengapa raut wajahnya seakan merasa kecewa."
"Kecewa? Kecewa karena apa?" tanya Guru Mi bingung.
Rayyan hanya menggeleng saja sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya barusan karena dia juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Airli.
"Apakah ibu sudah mengecek di dalam kamarnya?" tanya Rayyan.
"Sudah. Tapi gadis itu tidak ada di sana."
"Yasudah, lebih baik kita cari bersama-sama saja. Ibu cari di dalam akademi biar aku cari di sekitaran luar akademi, mungkin saja Airli keluar untuk sekedar mencari angin." Ujar Rayyan berpendapat.
Guru Mi mengangguk mengiyakan. Setelahnya mereka berpisah untuk melanjutkan pencarian Airli.
☘️ ☘️ ☘️
Rayyan bergerak keluar dari akademi untuk mencari Airli. Menggunakan sebuah layangan berbentuk awan dari iku elementer angin miliknya. Namun anehnya ketika melewati pintu keluar Rayyan merasakan suatu keanehan.
Rayyan mencoba menyentuh pintu tersebut. Dan benar saja, ketika tangannya sudah menempel pada pintu itu bayangan Airli langsung ada dalam pikirannya. Gadis itu ternyata keluar dari akademi melalui pintu ini. Bahkan Rayyan dapat melacak keberadaan gadis itu dengan begitu cepat berdasarkan jejaknya yang tertinggal.
"Mau kemana gadis itu?" tanya Rayyan penasaran.
Dan untuk menjawab pertanyaannya ini Rayyan harus segera menyusul Airli. Bertanya langsung kepada gadis itu.
Namun belum sempat Rayyan melesat pergi, sebuah panggilan dapat Rayyan rasakan melalui energi mentalnya.
Rayyan mencoba fokus lalu meletakkan dua jarinya tepat di samping matanya. Tidak lama suara Bimora dapat Rayyan dengar dengan sangat jelas.
"Kak Ray, apakah kau mendengar ku?"
"Kak Ray." Bimora terus memanggil Rayyan.
"Aku mendengar mu, ada apa?"
Airli yang melihat Bimora tengah berbicara pada seseorang, langsung mencoba mengikuti apa yang Bimora lakukan. Mencoba fokus pada pikirannya juga.
"Aku ingin memberitahukan sesuatu," ujar Bimora kepada Rayyan di ujung sana.
"Apa itu?"
Airli tersentak. Fokusnya langsung hilang ketika mendengar suara Rayyan.
Airli mencoba mencari keberadaan pemuda itu di sekitarnya, beranggapan bahwa pemuda itu ada di dekat mereka. Namun sayangnya Airli tidak dapat menemukannya.
Apa mereka beneran bicara pake telepati ya? Tapi, kok aku bisa denger?. Batin Airli.
"Kak Airli ada bersamaku, jadi beritahukan kepada orang-orang di akademi tentang hal ini! Karena jika tidak, semua orang pasti akan mencarinya. Sebab ia pergi tanpa meminta izin kepada siapapun." Ucap Bimora.
Airli hanya mendengarkan saja. Kali ini dia tidak lagi mendengar suara Rayyan karena Airli tidak menfokuskan pikirannya pada percakapan mereka.
"Aku bertemu dengannya di hutan. Kami akan pergi ke hutan merpati untuk mencari obat pemulihan untuk Cattin." Sepertinya Rayyan tengah menanyai Bimora. Terlihat Bimora masih terus melakukan teknik pikiran itu.
"Baiklah kak, jika seperti itu."
Bimora sudah selesai berbicara kepada Rayyan, ia langsung membenarkan posisinya seraya menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan.
"Udah selesai?" tanya Airli memastikan.
"Sudah."
"Kenapa kamu kasih tau Rayyan kalau kita akan pergi ke hutan merpati?" tanya Airli sedikit curiga.
"Aku adalah adiknya. Bukankah seorang adik harus selalu dalam pengawasan kakaknya?" tanya Bimora balik.
"Maksud dari dalam pengawasannya? Apa Rayyan akan selalu ikut kemanapun kamu pergi?" serbu Airli lagi dengan pertanyaannya.
"Mungkin saja begitu, karena memang aku tidak pernah jauh dari kak Rayyan maupun guru Mi. Mereka sudah seperti keluargaku sendiri." Jawab Bimora apa adanya.
"Apakah dia juga akan ikut dengan kita menuju hutan merpati?"
Bimora mengangguk senang seraya tersenyum manis. Sedangkan Airli hanya menghela napas pasrah. Mau tidak mau ia harus bertemu dengan pemuda itu lagi.
"Yaudah deh, ayuk jalan!"
Airli berbalik untuk berjalan. Namun siapa sangka tiba-tiba saja Rayyan muncul di hadapannya melalui teknik teleportasi miliknya. Dan hal itu tentu saja membuat Airli terkejut bukan main.
"Astagfirullah!!!" pekik Airli.
Karena keterkejutannya itulah membuat dirinya terjengkang ke belakang.
Dengan cepat Rayyan menarik kain baju dari lengan Airli. Menahan gadis itu agar tidak jatuh. Namun bukannya ucapan terima kasih yang ia dapat, tetapi omelan dari Airli.
"Ihhh...... kan aku udah bilang jangan pegang-pegang!!!!"
Mendengar teriakan Airli yang cukup memekakkan telinga itu membuat cekalan tangan Rayyan pada kain lengan Airli terlepas, dan....
BRUUUKKKK
Airli jatuh ke tanah. Dengan bokongnya yang jatuh lebih dulu. Tentu saja hal tersebut membuat Airli semakin kesal kepada Rayyan. Gadis itu bangkit dari duduknya dengan susah payah. Dengan wajah penuh kemarahan menatap Rayyan tajam.
"Kenapa? Mau marah? Kan kamu yang ngelarang untuk aku pegang," ujar Rayyan sebagai pembelaan atas tatapan tajam yang Airli berikan.
"Kamu manusia atau setan sih!! Datang tiba-tiba, seenaknya pula muncul di mana." Omel Airli kesal.
"Mana ada setan tampan begini," ucap Rayyan dengan penuh percaya diri.
Airli menanggapi ucapan Rayyan dengan tatapan tidak santai. Dirinya masih sangat kesal dengan pemuda itu.
"Ya mana aku tahu, ketemu setan aja gak pernah. Bisa aja kan setan nyamar supaya mirip sama manusia." Ucap Airli menyahut.
"Terserah kamu saja, yang penting meskipun kamu katakan setan aku tetap tampan." Ujar Rayyan masih dengan percaya dirinya.
"Tampan sih iya, tapi percuma ngeselinnya minta di tabok." Sahut Airli menggebu-gebu.
"Terima kasih," ucap Rayyan tiba-tiba.
Airli menatap bingung, tidak paham kemanakah arah ucapan Rayyan. Sedangkan Bimora yang melihat Rayyan dan Airli terus saja berdebat memilih menjadi pendengar saja.
__ADS_1
"Udah ngeselin, enggak jelas lagi." Cibir Airli.
Rayyan terkekeh kecil. Menatap Airli serius.
"Bukankah baru saja kamu memujiku tampan, itu sebabnya aku mengucapkan terima kasih. Terima kasih atas pujiannya," ucap Rayyan menjelaskan dengan sangat sopan.
Sedangkan Airli yang semakin kesal dengan Rayyan malah menatap pemuda itu dengan tajam. Dengan seketika Rayyan dapat merasakan hawa yang mencekam dari tatapan Airli. Padahal Rayyan tahu benar tatapan ini sama sekali tidak diikuti tekanan dari energi mental. Namun sudah mampu mengikis energi mental di sekelilingnya.
"Aarkkkhhhh..."
Airli meremas kedua tangannya tepat di depan wajah Rayan seakan-akan meremas wajah pemuda itu secara langsung. Sontak hal tersebut sedikit mengejutkan Rayyan begitupun Bimora.
Setelahnya, Airli menarik napas panjang untuk meredamkan emosinya. Karena meluapkan emosi hanya akan membuat dirinya lelah.
Airli membalik badannya kemudian melangkah pergi dari hadapan Rayyan. Melihat itu tentu saja Bimora tidak tinggal diam.
"Mau kemana kak?" tanyanya dengan sedikit teriak.
"Mau ke hutan merpati lah, jadi mau kemana lagi." Jawab Airli tanpa membalikkan badannya.
"Jalan ke hutan merpati bukan ke arah sana." Rayyan bersuara.
"Iya kak, bukan ke sana." Bimora mendukung.
Langkah Airli langsung terhenti. Ia membalik badannya.
"Jadi kemana?" tanyanya dengan wajah datar.
"Ke sana," Bimora menunjuk ke arah sebelah kanan dari Airli berdiri sekarang.
Tanpa menunggu lama Airli langsung berjalan ke arah yang Bimora tunjuk tanpa memedulikan kedua pemuda yang ia lewati itu.
Namun lagi-lagi Airli mendapatkan panggilan dari Rayyan dan Bimora. Meskipun masih kesal karena hal tadi, Airli tetap berusaha untuk terlihat biasa. Ia menghentikan langkahnya lalu berbalik seraya berkata.
"Apa lagi?" Namun bukannya jawaban yang Airli dapatkan melainkan senyuman dari kedua pemuda itu.
Sebuah senyuman yang begitu sulit di artikan. Airli menatap keduanya penuh curiga.
"Apa lagi sih?" tanya Airli mulai tidak santai.
Tiba-tiba saja Bimora meminum minuman buatannya. Sontak hal tersebut membuat Airli langsung mundur. Mengingat apa yang terjadi pada Bimora kemarin, membuat degub jantung Airli kembali berpacu di atas normal, apalagi yang Airli tahu semua kekuatan Bimora bersumber pada minuman ciptaannya itu.
"Kamu mau ngapain Bimora?" tanya Airli waspada.
Melihat wajah Airli yang berubah begitu, membuat Rayyan sedikit terkekeh. Wajah paniknya tidak dapat ia sembunyikan. Meskipun ia berusaha menutupinya.
"Tenanglah! Bimora tidak akan berbuat seperti kemarin." Ujar Rayyan menenangkan.
"Lalu, untuk apa ia meminum itu?" protes Airli.
"Ini minuman terbang kak," jawab Bimora menyahut.
Dan benar saja detik kemudian, muncul dua buah sayap kecil di punggung Bimora. Pemuda itu mulai menjinjit kakinya seraya menggerakkan tubuhnya ke atas. Setelahnya Bimora melompat, hingga ia membawa tubuhnya terbang menggunakan dua sayap tersebut.
Airli dibuat tercengang melihat pemandangan itu.
Belum selesai melihat Bimora terbang, ternyata Rayyan juga ikut terbang bersama dengan Bimora. Namun pemuda itu terbang menggunakan benda seperti layangan.
"Kamu bisa terbang juga?" tanya Airli masih bingung.
"Tentu saja."
"Lagipula jika pergi menuju hutan merpati dengan jalan kaki akan memakan waktu hampir dua hari lamanya. Aku rasa dengan terbang akan jauh lebih mempercepat waktu tempuh," ujar Bimora memberi tahu.
"Kalau mau cepat kenapa engga pakai kekuatan dia?" ujar Airli sembari menunjuk Rayyan.
Rayyan tersenyum sekilas mendengar ucapan Airli yang berbicara seperti tidak ada jeda.
"Teknik teleportasi milikku hanya dapat digunakan dalam waktu lima jam sekali." Ungkap Rayyan memberitahu.
"Kenapa begitu?"
"Karena memerlukan energi yang sangat besar untuk melakukan teknik ini," jawab Rayyan.
"Lalu aku bagaimana? Akan kalian tinggal gitu? Kan aku engga bisa terbang seperti kalian," protes Airli. Sepertinya Airli masih saja ketus kepada Rayyan.
Rayyan dan Bimora saling menatap beberapa saat. Mengingat Airli yang sedikit keras kepala, apalagi jika tersentuh sedikit saja sudah emosi tingkat tinggi, maka lebih baik mereka memberi pilihan saja kepada gadis itu. Biarlah dia saja yang menentukan.
"Tidak mungkin kami meninggalkanmu di sini kak, sendirian pula."
"Kami akan membawamu terbang juga," jelas Bimora.
"Apa? Terbang juga, gimana caranya?"
Airli mulai terpikirkan suatu hal buruk. Dan tentu saja ia langsung geleng-geleng kepala karena hal itu.
"Tenang! Kami tidak akan menggendong mu." Ujar Rayyan seakan dapat membaca pikiran Airli.
"Lagipula kamu berat, bisa mati jika terlalu lama menggendong mu." Tambah Rayyan seakan mencibir.
Tentu saja ucapan Rayyan barusan membuat Airli langsung naik darah. Meskipun memang kenyataan dirinya itu sedikit berisi alias gemuk namun tetap saja, yang namanya wanita tidak akan suka jika di bilang gemuk.
"Seenaknya aja ngomong gitu! Lagian aku juga gak minta kamu gendong, kok. Nih.... aku masih punya kaki, masih sehat." Balas Airli sembari memegang kakinya.
"Dasar cowo! Ngomong berasa kentut, seenaknya aja!!" ujar Airli kesal.
"Aku hanya mengatakan fakta saja," ucap Rayyan lagi sebagai pembelaan.
"Astagfirullah ya Allah, kenapa sih harus ketemu sama laki ngeselin begini. Jujur sih boleh, tapi jangan begini juga." Ucap Airli dalam hati.
"Rajin bergerak, jangan hanya makan saja. Supaya badan lebih ramping!"
"Fix..... nih orang minta di semprot pake semprotan nyamuk sih." batin Airli lagi.
"Malah diam saja, suaranya habis." Ucap Rayyan lagi.
Airli masih hendak meluapkan kekesalannya tiba-tiba saja Bimora turun dan memberikannya sebuah minuman.
"Sudahlah kak, jangan marah! Kak Rayyan hanya menggoda mu saja, dia tidak benar-benar mengatakan hal tersebut." Ucap Bimora menenangkan Airli.
Sedangkan Airli masih saja menatap Rayyan dengan tidak santai. Tentu saja ia masih kesal pada pemuda itu. Akan tetapi di sisi Rayyan, ia malah tersenyum puas melihat wajah Airli yang penuh kekesalan seperti itu. Terlihat lucu menurutnya.
"Minuman apa ini?" tanya Airli pada Bimora.
"Minuman terbang. Minumlah! Jika kakak tidak mau meminumnya, pilihan lainnya kakak akan terbang bersama kak Rayyan, kakak mau pilih yang ma.... na," ucapan Bimora terjeda karena Airli yang langsung meminum minuman tersebut hingga habis.
"Tidak mau ambil pilihan ke dua?" tanya Bimora dengan wajar dan suara sama datarnya.
"Enggak," jawab Airli cepat.
"Seyakin itu?" Rayyan memastikan.
"Iya,"
"Cepat sekali jawabnya," tambah Rayyan lagi.
Namun sepertinya Airli tidak tertarik menanggapi ucapan Rayyan barusan.
__ADS_1
Tidak berselang lama, sama seperti halnya Bimora tadi kini di punggung Airli juga muncul sepasang sayap kecil. Airli juga dapat merasakan kehangatan dari sayap tersebut.
"Apakah aku benar-benar bisa terbang dengan sayap kecil ini?" tanya Airli mencoba memastikan lagi.
Bimora mengangguk seraya tersenyum.
"Iya kak, cobalah!" saran Bimora.
"Bagaimana caranya?" tanya Airli yang memang masih belum mengerti cara kerja sayap instan yang baru saja ia dapat ini.
Bimora mengajari Airli cara kerja sayap tersebut. Dengan menggerakkan dua tangannya sebagai pengontrol dua sayap itu, serta kaki bergerak melompat untuk memberikan dorongan pada tubuh.
Airli dapat melakukannya dengan baik. Namun tetap saja, hal ini adalah pengalaman baru baginya dan tentu saja bukanlah sesuatu yang mudah.
Ketiganya mulai terbang menuju hutan merpati. Airli terlihat begitu menyukai sayap barunya, meskipun ia masih terlihat belum cukup mampu menyeimbangkan tubuhnya dengan sayap itu.
Tidak jarang Airli menabrak ranting bahkan nyaris jatuh ke sungai. Untung saja Rayyan dan Bimora sangat sigap mengawasinya, tanpa disadari oleh gadis itu sendiri. Dapat dikatakan Rayyan dan Bimora seperti menggiring anak burung yang tengah belajar terbang.
Namun yang namanya usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Airli yang terus berusaha menyeimbangkan dirinya akhirnya berhasil juga. Airli sudah mulai mampu terbang tanpa harus mendapat tekanan energi mental milik Rayyan, yang tadinya pemuda itu gunakan untuk menjaga pergerakan Airli agar tetap dalam pengawasannya.
"Wahh, ternyata seru banget bisa terbang!!." Seru Airli.
"Pantes aja burung itu gak pernah bosan untuk terbang, ternyata karena seseru ini." Tambahnya lagi.
Rayyan dapat melihat senyum bahagia tercetak jelas di wajah Airli. Wajah ketus dan dingin yang tadinya sempat gadis itu tunjukkan kini sudah berubah menjadi wajah bahagia dan semangat. Rasanya pemandangan ini jauh lebih menenangkan dibandingkan melihat wajah kesal Airli tadi.
Karena rasa senang dan semangatnya sampai-sampai Airli tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Waktu pula terasa lebih cepat.
Karena Airli yang tidak bergerak turun untuk mendarat, dengan terpaksa Rayyan menarik Airli dengan teknik gravitasi miliknya. Dan hal itu cukup membuat Airli terkejut.
"Allahuakbar!!!!"
Airli yang menyadari tarikan itu tentu saja tidak akan diam saja.
"Kamu apa-apaan sih? Kalau aku punya riwayat penyakit jantung gimana!! Asal main tarik aja!" ujar Airli yang mulai mengomel lagi.
"Udah sampai," jawab Rayyan seadanya.
"Kakak terbang ke sana, mau ke mana?" tanya Bimora malah heran.
"Oh udah sampai? Ngomong dong, kan aku gak tau." Ujar Airli beralasan.
"Gimana mau memberi tahu, kamu terbang lebih dulu dari kami karena keasyikan punya sayap baru." Rayyan sedikit menyalahkan.
"Ya maaf aku tidak bermaksud begitu, karena ini adalah pengalaman pertama kali aku bisa terbang. Rasanya jadi pengen terbang terus," Ucap Airli jujur.
Mendengar suara Airli yang melemah seperti itu, entah mengapa Rayyan malah jadi merasa bersalah. Tidak seharusnya ia berbicara begitu tadi, pikirnya. Mungkin saja Airli memang benar-benar menyukai pengalaman terbang ini.
Airli melihat ke arah punggung Bimora. Sayap yang ada tadi, kini sudah hilang. Sontak Airli melihat punggungnya pula, ternyata sayap kecil yang tadi ia lihat di punggungnya kini juga sudah menghilang. Tidak ada sayap lagi.
"Kok sayapnya udah hilang?" ucap Airli dengan nada kecewa.
"Minuman terbang milikku hanya dapat digunakan dalam waktu beberapa jam saja, kak. Jika waktunya sudah habis maka sayap itu akan hilang dengan sendirinya." Ucap Bimora menjawab pertanyaan Airli.
"Oh begitu ya," sahut Airli semakin sendu.
"Tidak perlu sedih, ada cara lain untuk kamu bisa terbang tanpa harus meminum minuman terbang milik Bimora." Ujar Rayyan seakan mengetahui apa yang Airli rasakan.
Mendengar perkataan Rayyan barusan, Airli langsung menatap pemuda itu.
"Benarkah?" tanya Airli kembali semangat.
"Bagaimana caranya?" tanyanya lagi mulai penasaran.
"Ulurkan tanganmu!" pinta Rayyan.
Airli menatap Rayyan sedikit curiga, namun karena keinginannya supaya dapat terbang lagi, membuat dirinya berusaha untuk percaya kepada Rayyan. Dengan ragu Airli mulai mengulurkan tangannya.
"Buka tanganmu!" perintah Rayyan. Karena memang tangan Airli saat ini tergenggam.
Dengan perlahan Airli membuka tangannya. Bersamaan dengan itu sebuah cahaya kehijauan muncul dari telapak tangannya.
Dan untuk kesekian kalinya Airli diperlihatkan hal yang begitu mengejutkan. Terlebih lagi kali ini hal tersebut ada pada dirinya sendiri.
"Aa.... pa ini?" tanya Airli dengan nada kaget beserta cemas. Entah mengapa dirinya malah mulai merasakan takut.
"Tenanglah! Itu adalah IKU milikmu. IKU rumput cahaya hijau,"
Airli menggeleng perlahan. Seakan tidak menyangka dapat melihat hal tersebut. Bagaimana tidak, melihat sebuah rumput berwarna hijau bercahaya keemasan tumbuh dari telapak tangannya. Meskipun belum terlalu tinggi namun tetap saja pemandangan ini membuat Airli merasa begitu terkejut.
Tubuh Airli tiba-tiba saja melemas. Bahkan pandangannya mulai membayang. Kepalanya menjadi pusing. Parahnya lagi, dalam penglihatannya Bimora yang berdiri di depannya berubah menjadi dua, bahkan tiga. Sampai akhirnya.
BRUKKKKKKK
"KAK AIRLI!!!"
"AIRLI!!!"
Teriak Rayyan dan Bimora.
Airli pingsan seketika setelah melihat inti kekuatan miliknya secara langsung. Padahal tanpa ia sadari inti kekuatan inilah yang tadinya sempat membantunya menemukan jejak cermin yang ia cari.
☘️☘️☘️
Assalamu'alaikum semua, bagaimana ceritanya menurut kalian sejauh ini?
Apa yang kalian pikirkan tentang,
Airli
Rayyan
Bimora
Tulis komentar kalian ya, terima kasih sudah membaca🥰 Jangan lupa tekan 👍 dan mohon dukungan vote nya ya😇😇
AUTHOR MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA
Hewan qurban apa saja yang akan diqurbankan di daerah kalian di hari raya qurban tahun ini??
Jawab ya!!
__ADS_1
Salam hangat dari Author Ai_Li