PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)

PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)
Bab 3


__ADS_3

"Untuk pertama kalinya aku melakukan negosiasi di hidupku. Karena biasanya boro-boro untuk negosiasi, cari yang diskonan aja lebih gampang menurutku. Namun kali ini, aku harus bernego dengan sekor serigala."


-Airli Putri Awardani-


☘️☘️☘️


Airli berjalan menyusuri hutan dengan langkah lambat. Matanya masih terus saja menyapu ke arah sekelilingnya. Berusaha mencari seseorang yang mungkin dapat membantunya.


Setelah harimau tadi pergi menjauhinya, Airli mencoba untuk berjalan menyusuri hutan. Berusaha mencari permukiman penduduk. Karena dirinya ingin bertanya tentang tempat ini dan bagaimana caranya supaya dapat kembali pulang ke rumahnya.


Airli meraih sebuah benda pipih dari dalam tasnya. Ternyata tasnya juga ikut terseret masuk ke dalam tempat ini, beserta isinya pula.


Airli mencoba mengecek dimanakah lokasi tempat ia berada saat ini, dari ponselnya. Namun sayang sekali, jaringan di tempat ini sama sekali tidak ada. Airli men-scroll ponselnya beberapa saat. Namun Airli merasa ada sebuah kejanggalan di sini.


"Masih jam 12:10," gumam Airli heran.


"Seingat aku, tadi pas di kamar udah jam 12:05 deh. Aku ngerasa udah hampir tiga jam ada di tempat ini, tapi kenapa waktu di sini hanya bertambah lima menit saja?" Tanya dan pikir Airli keheranan.


Pasalnya Airli merasakan kalau ia sudah berjalan cukup jauh di hutan ini. Bahkan dirinya juga merasakan kakinya mulai pegal, akibat berjalan terlalu jauh. Mengingat dirinya yang tidak pernah berjalan jauh sebelumnya. Namun anehnya di sini, mengapa waktu seakan berjalan begitu lambat di ponselnya.


Airli menghela napas lelah. Kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak, meluruskan kakinya yang mulai terasa nyeri. Airli membuka tasnya, mencoba mencari sesuatu yang dapat dimakan dari dalam sana. Namun nihil, tidak ada apapun di dalam tasnya selain perlengkapan tulis serta beberapa buku pendataan muridnya saja.


"Aku lapar banget nih. Mana gak ada makanan lagi," keluh Airli dengan nada pelan. Tenaganya juga sudah hampir habis akibat berjalan jauh tadi.


Airli menutup kembali tasnya, menutup resleting yang terbuka. Kemudian memakai kembali tas tersebut. Namun tiba-tiba.


Seekor burung merpati jatuh di atas paha Airli. Dan hal itu sontak mengejutkan Airli.


"Astagfirullah," pekiknya kaget.


Airli meraih burung tersebut, terlihat burung itu begitu kesulitan untung bangkit dari posisinya. Seakan tengah menahan sakit. Airli membantu burung itu untuk berdiri, namun sedetik kemudian ia kembali terjatuh lagi.


"Kamu kenapa? Kamu terluka ya?" tanya dan jawab Airli ketika melihat ada darah yang mengalir di kaki kiri burung merpati itu.


Airli meletakkan kembali burung itu, lalu meraih sebuah dompet kecil dari dalam tasnya. Ternyata dompet kecil itu berisi alat P3K yang memang selalu Airli bawa kemanapun.


"Sebentar ya, aku obati kamu dulu." Pinta Airli lembut. Kemudian tangannya dengan lihai langsung membersihkan luka si merpati lalu membalutnya dengan perban.


"Selesai," ucap Airli dengan senyuman.


"Terima kasih Putri," ucap burung itu.


Kali ini Airli tidak lagi kaget mendengar burung itu berbicara kepadanya. Namun yang membuat dirinya sempat bingung, mengapa burung tersebut memanggilnya dengan nama tengahnya. Lagipula selama dia di sini tidak ada satupun yang tahu nama lengkap Airli. Mengingat dirinya yang belum ada bertemu dengan siapapun.


"Namaku Airli bukan putri," ujar Airli kepada si merpati.


"Aku ingin memanggilmu Putri." Tegas burung itu.


"Kenapa?"


"Karena hanya seorang putri yang dapat berbicara dengan kaum binatang." Jawab si merpati.


"Aku bukan seorang putri," sanggah Airli langsung.


"Aku hanyalah orang asing yang baru saja datang ke tempat ini."


"Aku tahu. Dari cara putri mengobati saya terlihat begitu berbeda dengan orang-orang di negeri Tawar. Di negeri ini manusia mengobati binatang selalu menggunakan tumbuhan yang mereka ramu menjadi obat ataupun minyak. Namun yang putri berikan kepada saya ini cairan apa?. Kenapa warnanya seperti darah?" ucap dan tanya Si Merpati panjang lebar.

__ADS_1


Airli terpelongo mendengar ocehan burung merpati itu.


"Kenapa Putri melamun?" tanya merpati itu


Membuat Airli kembali tersadar.


"Ah engga, kagum aja. Seekor merpati, dapat berspekulasi seperti manusia. Kamu sepertinya banyak mengetahui tentang makhluk hidup di tempat ini." Ujar Airli.


"Tentu saja, karena kaum merpati adalah tipe hewan terpintar dan paling setia di negeri Tawar. Maka dari itu, kaum merpati di sini dijadikan manusia sebagai penyampai pesan bahkan tidak jarang dijadikan pengintai atau mata-mata."


"Namun aku bukanlah salah satu dari merpati pengintai ataupun pemberi pesan. Aku tidak terikat dengan manusia manapun, karena aku lebih menyukai kebebasan." Jelas merpati tersebut panjang lebar.


Airli mencoba mencerna setiap kalimat yang merpati itu jelaskan.


"Lalu, apa yang membuat kamu terluka seperti ini?" Tanya Airli sembari mengelus sayap si merpati.


"Ada seseorang yang tengah memburu hewan sepertinya. Dan energi yang ia keluarkan tanpa sengaja mengenaiku, hingga akhirnya aku terpental menabrak sebuah pohon. Sampai aku tercampak hingga sejauh ini." Jelas si merpati.


Airli hendak menanggapi ucapan si merpati, namun Airli dikejutkan oleh seekor serigala yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan mereka.


Airli membatu, matanya bertemu dengan mata si serigala. Serigala itu terus menatap Airli, bahkan kali ini mulai berjalan. Airli dapat merasakan degup jantungnya sudah berpacu dua kali lipat dari biasanya. Airli menghela napas panjang.


Lalu tiba-tiba.


"Whhaaaaaaaaa!!!!" Airli teriak begitu keras kepada si serigala, berharap mengejutkan serigala tersebut.


Dan sepertinya hal tersebut membuahkan hasil, Serigala tersebut langsung lari menjauh dari tempat mereka.


Airli bangkit dari duduknya, memegang si merpati dengan senyuman bangga di wajahnya.


"Cuma di teriakin aja udah kabur... huuu." Cibir Airli pada si serigala yang sudah entah kemana tadi.


"Jangan senang dulu!" Ucap merpati. Sontak membuat senyuman Airli mengerut.


"Serigala biasanya tidak pernah sendirian. Mereka berkelompok. Bisa jadi serigala tadi pergi bukan karena takut, tetapi karena ingin memanggil kelompoknya untuk memberi tahu kalau ada mangsa di sini." Jelas Si Merpati.


Dan tentu saja ucapannya itu langsung membuat bulu kuduk Airli berdiri. Bagaimana tidak, satu serigala saja sudah membuat dirinya ketar-ketir tadi. Bagaimana kalau sampai dua, tiga, empat atau bahkan lebih dari pada itu.


"Duhh.. terus gimana nih. Kita dalam bahaya kalau begitu," seru Airli mulai panik.


"Cepat lari tadi sini," serbu Si Merpati juga.


Airli menurut. Airli langsung berlalu dari tempat itu. Namun sayangnya keberuntungan tidak berpihak padanya. Baru saja beberapa meter dirinya lari, Airli sudah dihadang oleh seekor serigala di hadapannya.


"Tenang Airli," Airli berusaha bersikap tenang. Sembari memutar tubuhnya untuk berlari ke arah lain.


Masih hendak melangkah, ternyata sudah ada seekor serigala lagi di hadapannya di sisi ini. Diikuti dua ekor di belakangnya.


"Haaii... serigala," ucap Airli sembari melambaikan tangannya. Seakan tengah bertemu teman lama.


"Misi ya... saya mau lewat. Saya gak ganggu kok. Lagian daging saya gak enak di makan, entar yang ada malah diare," ungkap Airli dengan polosnya.


Sayangnya ucapan Airli sama sekali tidak merubah tatapan keempat serigala itu.


"Menyerahkan, kami mau memakanmu." Mendengar itu, Airli langsung membulatkan bola matanya.


"Ehh... jangan dong!!! Daging saya gak enak. Lagian banyak-banyak makan daging entar darah tinggi lohh. Jadi, makan sayur dan buah aja ya. Tuh ada pohon pisang tuh... itu di sana tu." Ucap dan saran Airli, sembari menunjuk sebuah pohon pisang yang terlihat berada sepuluh meter jaraknya dari tempat Airli berdiri saat ini.

__ADS_1


"Sejak kapan serigala makan pisang? Kamu pikir mereka monyet," celetuk Merpati tiba-tiba.


"Shuttttt..... diem aja Merpati. Mana tau kan, nih serigala Vegetarian atau mungkin mau diet." Sahut Airli menjelaskan.


"Sudah jangan banyak bicara?!" ucap salah satu serigala itu. "Kami sudah lapar," jelasnya lagi dengan suara dingin.


Dan benar saja dua serigala langsung saja melompat ke arah Airli.


"TIARAP!!!" teriak si merpati.


Dan Airli mengikuti perintahnya. Namun sayang, serigala lainnya langsung menyerang Airli.


Sreeeeettttttt


Serigala tersebut berhasil mengenai lengan Airli. Membuat kain baju di bahunya sedikit robek, serta kulit lengannya tersayat oleh kukunya. Bahkan hijab Airli pun sudah tidak beraturan letaknya.


Airli meringis sakit.


"Aisssshhhhh.... sakit. TOLONG!!!" teriak Airli tiba-tiba.


"TOLONG!!! TOLONG SAYA!!! SIAPAPUN TOLONG!!!"


Namun tidak ada satupun orang yang datang mendekat. Hingga akhirnya Airli terkena serangan telak.


Bruuukkkk....


Airli diterkam Si Serigala. Tubuhnya tersungkur tepat di atas ranting-ranting kecil di sekitarnya. Terlihat cakaran si serigala juga ada pada kakinya.


Burung merpati juga tengah berusaha melawan, dengan terbang menyerang salah satu serigala di situ meskipun dengan susah payah. Mengingat dirinya yang juga masih terluka.


Namun tetap saja perbedaan kekuatan antara burung merpati dan serigala terlihat jelas di sini. Hingga akhirnya si merpati kembali terjatuh menabrak pohon.


"Auu... shhhhhhh ya Allah haaahhhh sshhhh haaaahhhh," Airli meringis menahan perih di kaki serta lengannya.


Terlihat semua serigala itu berjalan mendekati Airli. Keempatnya menatap Airli dengan tatapan lapar. Airli berusaha merangkak mundur, namun dirinya tertahan oleh sebuah pohon besar.


"Tolong!!! Tolong!!!" Airli kembali meminta tolong.


"Tolong!!!"


"Tolong!!!"


Airli merasakan perih di tubuhnya semakin menjadi. Bahkan kali ini kepalanya juga mulai pusing. Pandangannya seakan mulai hilang. Meski dalam keadaan semakin lemas. Dengan suara yang lemah Airli terus meminta tolong.


Sampai tiba waktu serigala itu hendak menggigit Airli, tiba-tiba....


Huuuuuusssssssssss


Brukkkkkkkk......


Keempat serigala itu langsung terhempas dari hadapan Airli. Namun mereka langsung bangkit, namun anehnya mereka langsung pergi karena ketakutan.


Meskipun pandangannya tidak jelas, Airli dapat melihat seorang pemuda remaja berjalan mendekatinya. Mungkin pemuda ini yang mengusir serigala tadi. Pemuda ini mengingatkan Airli pada adiknya. Hanya saja pakaian yang ia kenakan seperti pakaian pemuda-pemuda di film kolosal yang sering Airli tonton.


"Dia terluka guru," ucapnya. Seakan berbicara pada seseorang di hadapannya.


Belum sempat Airli menoleh ke arah pandangan si pemuda itu. Airli sudah tidak sadarkan diri. Airli pingsan.

__ADS_1


"Dia pingsan guru."


"Bawa dia ke akademi!!" ucap seorang wanita.


__ADS_2