PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)

PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)
Bab 4


__ADS_3

"Entah mengapa aku semakin merasa tengah berada di negeri dongeng. Bagaimana tidak, pakaian manusia di sini seperti para pendekar di film fantasi yang sering aku tonton."


-Airli Putri Awardani-


☘️☘️☘️


(Di Negeri Tawar, tepatnya di akademi MITAMA)


Di negeri Tawar sendiri terdapat satu kerajaan pusat. Yaitu kerajaan ALAM. Pada kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bergelar raja Alam. Perihal siapakah nama aslinya. Tidak ada yang pernah tahu. Bahkan untuk bertemu dengan sang raja pun tidak sembarang orang dapat melakukannya.


Di daerah kerajaan pula terdapat tiga lembaga utama. Yaitu Lembaga Elang hitam, lembaga cahaya Lara dan Lembaga cahaya bintang. Ketiga lembaga tersebut merupakan titik poros dalam kesejahteraan serta keamanan kerajaan. Karena kekuatan dari ketiga lembaga, befungsi untuk saling menyeimbangi.


Setiap lembaga memiliki beberapa cabang akademi yang berada dalam naungannya. Hal ini berfungsi untuk mempermudah mereka mencari murid-murid berbakat dalam pengembangan IKU. IKU sendiri merupakan inti kekuatan yang ada di dalam tubuh manusia.


Akademi yang berada di dalam naungan lembaga dinamakan akademi resmi. Sedangkan yang tidak memiliki ikatan pada sebuah lembaga dinamakan akademi mandiri.


Akademi mandiri tidak terikat pada segala aturan dari sebuah lembaga dan tentunya tidak akan mendapatkan bantuan apapun dari lembaga baik moril maupun materil. Namun akademi mandiri tetap boleh menunjukan eksistensinya bila lembaga melangsungkan sebuah turnamen antar ikuator. Karena turnamen biasanya bersifat umum, kecuali turnamen kerajaan. Dimana raja alam sendiri yang mengadakan aturannya hanya sang raja yang dapat menetapkan. Namun turnamen ini jarang terjadi. Bahkan belum tentu sepuluh tahun sekali.


Salah satu contoh akademi mandiri adalah akademi MITAMA. Terletak di sebelah selatan dari pusat lembaga cahaya Lara.


Akademi MITAMA adalah akademi yang menghasilkan lulusan paling sedikit setiap tahunnya. Bahkan murid yang diluluskan bukanlah setahun sekali, melainkan tiga atau bahkan empat tahun sekali.


Namun tentunya lulusan dari MITAMA bukanlah lulusan yang abal-abal. Semua lulusannya sudah hampir mencapai level 60. Dimana gelar master sudah ada di tangan mereka.


Dan sudah hampir tiga tahun ini, MITAMA belum ada meluluskan satu pun dari muridnya.


Alasannya karena murid yang masuk ke dalam akademi ini masih belum mencapai level yang ditargetkan. Ditambah lagi minimnya murid yang masuk ke dalam akademi. Bukan karena tidak ada yang mendaftar ke akademi ini.


Semuanya dikarenakan para pendaftar tidak sesuai dengan kriteria calon murid di Akademi ini. Apalagi setelah diuji, mereka selalu gagal. Dapat dikatakan untuk masuk ke akademi MITAMA sangatlah sulit.


Seperti hal yang terjadi kali ini.


"Gagal," ucap seorang pria. Yang merupakan guru pemimpin akademi MITAMA.


"Kenapa gagal? Anda bahkan belum menguji saya sedikitpun."


Ungkap seorang wanita pendaftar merasa tidak terima dengan keputusan sang pimpinan secara tiba-tiba. Pasalnya dirinya baru saja mengisi formulir pendaftaran, mengapa langsung saja dirinya tolak.


"Bukan perihal ujian." Jawab Santo. Yang merupakan pimpinan akademi MITAMA.


"Lalu, perihal apa? Biaya pendaftaran? Aku akan membayar dua kali lipat dari biaya pendaftaran ini." Sungut wanita itu langsung.


Terlihat Santo tersenyum sinis mendengar ucapan si wanita itu.


"Kami tidak butuh uangmu. Pergilah dari sini!" usir-nya langsung tanpa basa-basi.


"Aku tidak mau." Sanggah wanita itu dengan tegasnya.


"Jangan paksa aku untuk menarikmu keluar!" ujar Santo dengan nada dingin.


Melihat tatapan Santo seperti itu, nyali wanita itu ciut. Bahkan wanita itu langsung berlutut di hadapan Santo. Dengan menangkupkan kedua tangannya seraya memohon.


"Tolong guru, tolong terima saya." Ujarnya memohon.


"Kami tidak menerima murid yang masih berada pada level 20 saja." Ucap Santo terus terang.


Kepala gadis itu yang sedari tadi menunduk karena memohon kini mulai terangkat.


"Darimana anda tahu saya masih di level 20?" tanya wanita itu heran. Pasalnya sejak tadi dirinya sama sekali tidak memperlihatkan cahaya inti kekuatannya kepada Santo.


Mendengar pertanyaannya, Santo langsung memberikan tekanan pada si wanita itu yang membuat dirinya harus menunjukan IKU miliknya secara paksa. Ternyata benar, hanya ada dua lingkar cahaya putih di tubuh wanita itu. Namun setelah melihat IKU milik si wanita itu, Santo langsung membenarkan posisinya.


"Iku teratai pemulihan," ucapnya tanpa sadar.


Wanita itu hanya menunduk. Merasa malu dengan dirinya yang masih berada pada level 20, yaitu kelas pemula. Padahal usianya sudah hampir genap 20 tahun.


"Apakah kau putri Samora pemimpin lembaga cahaya Lara?" tanya Santo.


Wanita itu mengangguk.


"Siapa namamu?"


"Nyara." Jawab wanita itu, memberitahukan namanya.


Tiba-tiba saja seorang wanita tua mendatangi Santo. Membisikkan sesuatu kepadanya. Dan anehnya ekspresi Santo seketika saja berubah. Bahkan dirinya langsung bangkit dari duduknya.


Santo berjalan berlalu meninggalkan Nyara yang masih terduduk.

__ADS_1


"Guru, lalu saya bagaimana?" tanya Nyara menghentikan langkah Santo.


"Cea, antar dia ke kamar para murid!." Ucap Santo datar kepada wanita tua tadi. Dan hal tersebut langsung membuat Nyara senang. Bagaimana tidak, dirinya dapat diterima masuk ke dalam akademi incarannya ini. Merupakan impian yang menjadi kenyataan.


"Tapi dengar!! Kamu diterima bukan karena kamu putri Samora. Tapi karena iku yang kamu miliki itu, terlihat begitu menarik." Jelas Santo setelah kemudian ia berlalu.


"Apa menariknya teratai pemulihan?" tanya Nyara entah kepada siapa.


"Mari saya antar!" ucap Cea kepada Nyara.


Nyara mengangguk lalu meraih kantong pakaiannya kemudian berlalu mengikuti Cea yang sudah berjalan lebih dahulu.


(Sedangkan di sisi lain pada akademi MITAMA)


Di atas sebuah arena tarung tengah berdiri dua orang manusia. Seorang wanita dan seorangnya lagi laki-laki. Keduanya berhadapan sembari mempersiapkan diri masing-masing.


Sepertinya keduanya hendak mengeluarkan inti kekuatan mereka. Namun sebuah suara menghentikan aksi keduanya.


"Tahan dahulu!" ucap seorang pria paruh baya. Meskipun pria itu tidak terlihat muda lagi. Tetapi ia tetap terlihat begitu gagah.


Dia adalah Bimo, salah seorang guru di akademi MITAMA. Para murid biasa memanggilnya dengan sebutan guru Mo.


"Ada apa guru?" tanya si laki-laki. Dia bernama Rayyan sandega. Murid senior di akademi ini.


"Tunda latihan kalian! Guru Mi membawa seseorang yang tengah pingsan ke akademi MITAMA." Jelas guru Mo.


"Siapa?" tanya Cattin, perempuan yang akan melawan Rayyan tadi.


"Entahlah. Yang jelas dia perempuan." Tambah guru Mo.


"Kita lihat saja dahulu!" ajak guru Mo.


Kedua muridnya itu langsung mengangguk dan menurut saja. Dan mulai berjalan menuju kamar guru Mi.


☘️☘️☘️


(Di kamar guru Mi)


Guru Mi, atau bernama lengkap Utami itu tengah menyalurkan energi kepada seorang wanita yang berbaring lemas di atas ranjangnya. Terlihat ada beberapa bercak darah, di lengan baju si wanita itu. Pakaiannya berwarna abu-abu muda sehingga bercak darah itu terlihat sangat jelas. Bahkan terlihat bekas sayatan kecil-kecil di beberapa sisi pakaiannya.


Guru Mo langsung masuk kedalam kamar Guru Mi tanpa meminta izin si empunya kamar terlebih dahulu. Diikuti Rayyan serta Cattin di belakangnya.


Guru Mi hanya menoleh sekilas, setelah beberapa saat ia menghentikan saluran energinya. Bukannya menjawab pertanyaan dari guru Mo, guru Mi malah memanggil Bimora.


"Bimora, buatkan minuman pemulihan untuk gadis ini!" perintah sang guru.


Mendengar itu, Bimora langsung mengeluarkan Iku-nya yang merupakan skill tipe pendukung. Dimana skill miliknya adalah menciptakan berbagai minuman. Contohnya adalah minuman pemulihan yang diminta oleh guru Mi barusan.


Sembari menunggu Bimora, guru Mo kembali menanyai guru Mi.


"Siapa gadis ini?" tanya Guru Mo untuk kedua kalinya.


"Aku tidak tahu. Aku bertemu dengannya hampir mati dikeroyok serigala bengis di hutan Lintang berkabut." Jawab guru mi apa adanya.


Semua orang beralih menatap gadis itu. Gadis yang tidak lain adalah Airli. Ternyata yang menolong Airli adalah guru Mi.


"Ini guru." Bimora memberikan secangkir minuman berwana biru kepada guru Mi.


"Terima kasih," ucap sang guru.


Guru Mi meminumkan minuman itu dengan perlahan, terlihat kalau guru mi adalah orang yang telaten mengobati seseorang.


"Apakah ia akan selamat?" tanya Cattin kepada guru Mi.


"Karena yang aku tahu serigala bengis memiliki racun pada cakarnya." Tambah Cattin lagi.


"Bolehkah aku memeriksanya Ibu?" tanya Rayyan menawarkan diri kepada ibunya. Karena memang dirinya begitu ahli dalam mengenali racun.


"Silahkan," ucap guru Mi. Lagipula dia juga tidak perlu meragukan pemahaman anaknya perihal racun.


Rayyan mendekati Airli. Mencoba mencari titik pusat dari nadinya. Mencoba mencari racun pada aliran darah maupun sendi dari dalam tubuh Airli. Namun anehnya, Rayyan tidak menemukan ada racun di dalam tubuh gadis ini.


"Gadis ini tidak terkena racun apapun, tubuhnya hanya lemas karena energinya yang terkuras habis. Mungkin sebentar lagi dia akan sadar setelah meminum minuman pemulihan dari Bimora." Ucap dan jelas Rayyan dengan pasti.


"Apakah ibu yakin gadis ini benar-benar terkena cakaran serigala bengis?" tanya Rayyan ingin memastikan kembali.


"Tentu saja. Bimora juga melihatnya," ujar guru Mi kepada Rayyan dengan begitu yakin.

__ADS_1


"Benar Kak, Aku dan guru melihatnya dengan mata kepala kami langsung." Tambah Bimora semakin meyakinkan.


Rayyan berfikir beberapa saat. Namun entah mengapa tangannya bergerak menurunkan tangan Airli dari atas perutnya. Sehingga telapak tangannya terlihat oleh semua orang.


Dan hal yang mereka lihat begitu mengejutkan mereka semua.


"IKU RUMPUT CAHAYA HIJAU!!" pekik semua orang bersamaan.


Dan hal itu bersamaan pula dengan kedatangan Santo. Dia pun ikut terkejut karena teriakan rekan serta muridnya barusan.


"Ada apa ini?" tanya Santo heran.


Tidak ada yang memberikan jawaban, semuanya seakan mengisyaratkan Santo untuk melihat langsung saja, apa yang membuat semua orang terkejut.


Santo menoleh ke arah Airli. Matanya langsung terbelalak ketika melihat pemandangan itu.


"Rumput cahaya hijau." Gumamnya.


Santo langsung mendekati Airli. Mencoba memastikan sesuatu.


"Apa yang ingin guru lakukan?" tanya Rayyan.


"Memastikan inti kekuatan gadis ini. Apakah Iku ini hanyalah Iku biaya manusia pada umumnya, atau memang Inti kekuatan ganda."


"Maksud guru, inti kekuatan ganda bagaimana?" Tanya Bimora yang sedari tadi diam akhirnya berbicara.


Namun Santo bukannya menjawab ia malah mulai sibuk menyalurkan energi serta tekanan pada Airli.


Sedangkan Bimora masih menunggu jawaban untuk pertanyaannya barusan.


"Inti kekuatan rumput cahaya hijau adalah Iku yang sangat jarang ditemukan. Guru Santo pernah mengatakan kepada kami bahwa pemilik Iku ini pasti memiliki iku ganda. Dan itulah yang hendak dipastikan oleh guru saat ini."


Mendengar penjelasan dari Rayyan barusan Bimora mengangguk paham. Memang perihal ini, sang guru tidak menceritakan kepada semua muridnya. Hanya Rayyan dan Cattin yang mengetahuinya.


Santo yang masih terus melakukan tekanan kepada Airli. Terlihat dari tangan kanan Airli, rumput cahaya hijau mulai tumbuh sepanjang tiga puluh centimeter. Dan pertumbuhan ini adalah peningkatan yang cukup pesat. Bagaimana tidak, dalam waktu beberapa saat saja, inti kekuatan tersebut sudah berada pada level 10.


Dan hal yang semakin membuat semua orang terkejut adalah dari tangan kiri Airli terlihat secercah cahaya. Santo membalikkan telapak tangan Airli, hingga terpancar cahaya yang semakin menyilaukan.


Semua orang dapat melihat sebuah pedang berdiri di sana.


"Pedang cahaya kilau." Ucap Guru Mi kagum.


Setelah mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya, Santo menghentikan tekanannya. Kemudian berdiri dari duduknya.


"Tanyakan dari mana gadis ini! Rahasiakan tentang iku pedang cahaya miliknya. Karena jika banyak yang mengetahuinya, nyawanya akan dalam bahaya." Jelas Santo kepada bawahannya serta kepada para muridnya. Setelah itu, Santo keluar dari ruangan itu.


Dan tidak lama dari kepergian Santo tadi, Airli membuka matanya.


Kepalanya terasa sedikit pusing. Airli mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba membangunkan kesadarannya secara penuh. Airli mencoba untuk duduk, dan ia berhasil meskipun harus dibantu oleh guru Mi.


Setelah duduk, Airli kembali teringat dengan serangan serigala padanya tadi. Dan sontak ia berteriak histeris karena ketakutan.


"Whhaaaaaaaa serigala. Mana serigala, tadi ada serigala!!" teriakannya membuat semua orang terkejut. Termasuk guru Mi juga.


"Tenanglah nak, tidak ada serigala di sini. Kamu sudah aman." Ucap guru mi menenangkan.


Setelah merasa lebih tenang, Airli mulai mengamati sekelilingnya. Berada di mana ia saat ini?. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di kepalanya.


Sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar. Diperkuat karena adanya ranjang tempat ia duduk saat ini, ditambah kaca rias serta beberapa vas bunga di pojok meja.


"Dimana ini?" tanya Airli kepada guru Mi.


"Kamu ada di tempat yang aman. Kamu ada di akademi MITAMA." Jawab guru Mi lembut.


Kepala Airli masih pusing. Airli mencoba memperhatikan pakaian dari guru Mi serta pakaian yang dikenakan beberapa orang yang berdiri di hadapannya.


Airli dibuat bingung dan bertanya-tanya melihat pemandangan semua ini. Bagaimana tidak, pakaian mereka seperti pakaian para pendekar dengan ikat kepala yang terlilit di kepala mereka. Meskipun terlihat unik dan bagus tetap saja Airli merasa asing dan aneh. Apalagi ketika dirinya melirik pakaiannya yang tentunya sangatlah berbeda. Entah ini mimpi atau tidak. Airli berharap ini mimpi.


Sayangnya ini tidak mimpi. Karena dengan diam-diam Airli mencoba mencubit dirinya dan ia merasakan sakit.


"Aku ada di negeri dongeng ya?" tanya Airli dengan polosnya.


Terlihat sekilas senyuman di wajah Rayyan mendengar pertanyaan dari Airli. Sebenarnya bukan pertanyaannya yang lucu, akan tetapi wajah gadis itu yang begitu lucu. Apalagi bibirnya yang manyun seperti itu.


"Bukan, kamu ada di negeri Tawar." Jawab Cattin.


"Negeri Tawar dimana sih? Ada gak di maps? Atau gak di sini ada Doraemon? Tolong... bisa bawakan pintu kemana saja! Aku mau pulang."

__ADS_1


Dan semua orang yang ada di situ hanya saling menatap bingung mendengar ucapan Airli.


__ADS_2