PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)

PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)
Bab 10


__ADS_3

"Mungkin, dengan mencoba percaya kepada mereka bukanlah suatu hal yang buruk. Karena berhusnuuzon lebih baik dibandingkan suuzon."


-Airli Putri Awardani-


☘️☘️☘️


Airli mencoba mengerjapkan matanya, mencari sumber cahaya untuk mengaktifkan kembali titik fokus di matanya yang saat ini masih buram. Sembari memegangi kepalanya yang sedikit pusing, Airli mencoba bergerak membenarkan posisi duduknya. Airli juga baru menyadari ternyata dirinya menyandar pada sebuah pohon besar.


Airli melihat Rayyan dan Bimora duduk tidak jauh darinya dengan tangan sibuk membakar ikan di atas api unggun. Ternyata sumber cahaya yang Airli lihat tadi berasal dari api itu.


Rayyan yang menyadari Airli telah sadar langsung mendekati gadis itu.


"Akhirnya kamu sadar," ucapnya diikuti senyum hangat. Airli membalasnya dengan senyuman juga seraya memijat kepalanya.


"Aku kenapa?" tanya Airli masih bingung.


"Kakak tadi pingsan," bukan Rayyan yang menjawab melainkan Bimora yang masih berada pada posisinya.


"Pingsan?" Airli kembali memegangi kepalanya yang masih saja pusing, sembari mengingat apa yang terjadi padanya tadi.


Detik kemudian Airli langsung mengingatnya. Dengan wajah khawatir Airli kembali menggerakkan tangannya, perlahan membuka telapak tangannya itu.


"Jangan takut! Inti kekuatan tidak akan menyakitimu," ungkap Rayyan berusaha menenangkan Airli.


Airli mencoba menenangkan diri. Menetralkan degub jantungnya yang lagi-lagi berdetak di atas normal karena takutnya. Airli menghirup napas dalam kemudian membuangnya perlahan.


Seraya membuka tangannya untuk kembali melihat inti kekuatannya tadi.


Tidak berselang lama, rumput cahaya hijau kembali muncul dari sana persis seperti yang Airli lihat sebelum ia pingsan tadi.


Bimora yang menyadari wajah Airli mulai berubah panik langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri Airli.


"Tenanglah kak! Tidak perlu panik," ujarnya.


"Tarik napas dalam!" ucap Rayyan. Airli pun mengikuti.


"Lalu buang perlahan!" instruksinya lagi. Airli pun mengikuti pula. Begitulah sampai beberapa kali.


Setelah Airli terlihat mulai tenang Rayyan angkat bicara.


"Bimora sudah memberitahu semuanya. Tentang kamu, yang bukan berasal dari negeri Tawar. Perihal cermin yang kamu ceritakan itu, sepertinya aku pernah mendengar cerita tentang cermin itu." Ucap Rayyan.


Rayyan masih hendak melanjutkan ucapannya, Tiba-tiba Airli malah memotongnya begitu saja.


"Tunggu dulu deh Yan! Boleh gak aku, apaan sih namanya ini? Inti kekuatan ini di hilangin dulu gitu, supaya gak bersinar-sinar di depan aku gini! Supaya bisa fokus juga dengerin kamu ngomong," ucap Airli sedikit belibet. Ia begitu karena masih kaget mengetahui iku miliknya itu, atau karena baru bangun dari pingsan? Entahlah, hanya Airli yang mengetahuinya alasannya.


Namun mendengar ucapan Airli barusan Rayyan dan Bimora malah terkekeh kecil. Pertanyaan Airli tadi, begitu lucu menurut mereka.


"Kamu balikkan telapak tangan kamu, atau kamu katupkan jari-jari tangan kamu, itu sudah dapat menghilangkan iku milikmu dari pandangan. Inti kekuatan hanya akan terlihat ketika si pemilik menengadahkan tangan mereka." Ucap Rayyan menjelaskan.


Mendengar itu, Airli langsung mengatupkan jari tangannya. Dan benar saja, rumput yang Airli lihat tadi langsung tidak terlihat lagi. Sama seperti yang Rayyan jelaskan barusan kepadanya.


"Oh iya, bener." Ujar Airli malah kegirangan.


"Jadi begitu cara kerjanya," ungkapnya sambil manggut-manggut sendiri.


Senyuman Rayyan langsung mengembang melihat pemandangan itu.


"Eh tapi tunggu!" ujar Airli tiba-tiba. Wajahnya berubah serius.


Rayyan dan Bimora menatap Airli bingung.


"Tadi aku kan pingsan. Kayaknya enggak di sini pingsannya deh, kalian bawa aku ke tempat ini gimana?" tanya Airli penuh selidik. Tatapannya tidak lepas dari Rayyan maupun Bimora.


Bimora yang dapat merasakan Aura Airli yang berbeda mulai tidak nyaman. Sedangkan Rayyan yang sudah kali keduanya merasakan aura ini mulai dapat mengatasinya dengan baik.


Rayyan bangkit dari duduknya, kemudian mulai bersiap-siap mengeluarkan iku miliknya.


"Kekuatan Elementer," ucap Rayyan seraya mengaktifkan iku miliknya.


"Elementer tanah,"


Dengan cepat warna pakaian yang Rayyan kenakan pun ikut berubah. Yang tadinya berwarna biru kini berubah menjadi coklat, namun kombinasi warna biru tetap ada.


"Kamu mau tahu gimana cara kami membawamu?" tanya Rayyan kepada Airli.


Airli mengangguk sembari menjawab.


"Iya, gimana caranya?"


Senyum Rayyan terangkat sekilas. Kemudian tangannya mulai bergerak untuk mengeluarkan teknik elementer tanah miliknya.


"Gelombang tanah!!" teriak Rayyan.


Dan dengan tiba-tiba, tanah yang Airli duduki langsung bergerak seperti gelombang laut meskipun dengan skala kecil, namun Airli cukup kaget dengan pergerakan gelombang tersebut. Airli sedikit keteteran untuk menyeimbangkan tubuhnya.


Dengan sangat cepet gelombang itu membawa Airli berpindah tempat. Hingga saat ini dirinya duduk tepat berada di samping Bimora jarak yang tadinya lebih dari dua meter kini sudah berjarak kurang dari satu meter.


"Sudah tahu kan kak, gimana cara kami memindahkan mu." Ujar Bimora tanpa melihat Airli. Karena fokusnya kali ini masih pada ikan yang sedang ia bakar.


Airli masih memegangi dadanya, keterkejutannya ternyata masih belum hilang.


Satu hal yang Airli sadari, meskipun tanah yang Rayyan gerakan itu berbentuk gelombang seperti halnya gelombang laut namun Airli yang berada di atasnya tetap merasakan ketenangan. Sepertinya pemuda itu memang sudah menguasai tekniknya itu dengan sangat baik. Dipertegas lagi, dengan keadaan tanah yang kembali seperti sedia kala seperti sebelum teknik itu ia gunakan.


"Okey, aku percaya." Ujar Airli.


"Terima kasih karena telah membantuku, dan maaf karena aku kalian jadi menunda perjalanan mencari obat Cattin," ucap Airli sedikit tidak enak kepada kedua pemuda di hadapannya.


"Tidak masalah, setelah makan kita bisa lanjutkan perjalanan." Jawab Rayyan menenangkan.


"Tapi sepertinya hari sudah gelap," ucap Airli sembari memperhatikan sekelilingnya, yang memang hanya kegelapan yang Airli lihat. Sumber cahaya hanya dari api unggun milik mereka.


"Obat seribu pemulihan berada tidak jauh dari sini. Setelah berhasil mendapatkannya kita bisa langsung kembali ke Akademi," jelas Bimora.


"Darimana kamu mengetahuinya?" tanya Airli.


Bimora mengambil sebuah kayu dengan api menyala di ujungnya, kemudian mengarahkan kayu itu ke arah kanannya. Dengan maksud menerangi sebuah beberapa pohon kecil yang ada di sana.


"Ini adalah anak dari pohon obat seribu pemulihan, biasanya anak pohon ini tumbuh berjarak kurang dari seratus meter dari tempat induknya berada. Karena jika lebih dari jarak tersebut, anak pohon ini tidak akan dapat tumbuh." Jelas Bimora kepada Airli.


"Sepertinya kamu banyak memahami tentang tumbuhan ya," ungkap Airli.

__ADS_1


"Tidak juga kak, hanya sedikit saja yang masih aku ketahui. Semua ini aku ketahui dari kak Rayyan," tambah Bimora.


Airli beralih melirik Rayyan. Bersamaan dengan itu, ikan yang Bimora sudah matang.


"Oh iya, tadi bukannya kamu bicara sesuatu ya?"


Airli mengingatkan Rayyan akan ucapannya yang terpotong olehnya tadi.


"Sudah matang nih, ayo dimakan!" ujar Bimora memotong, sembari memberikan ikan tersebut kepada Rayyan dan Airli masing-masing satu ekor.


"Terimakasih bimora," ucap keduanya.


Bimora membalasnya dengan senyuman hangat.


"Bimora sudah menjelaskan tentang kamu, perihal kamu yang sampai ke tempat ini karena sebuah cermin."


Rayyan mengeluarkan sebuah buku berwarna hijau dari tangannya. Buku itu seperti sulap yang muncul begitu saja. Kemudian Rayyan membuka buku tersebut.


Sebelumnya apakah cermin yang kamu maksud itu seperti ini?" tanya Rayyan sembari menunjukkan gambar yang ada di dalam buku miliknya.


Airli langsung melihat gambar itu, memperhatikan gambar cermin yang ternyata sama seperti cermin yang ia cari. Ukiran yang ada di cermin itu juga sama persis dengan gambar yang ada di buku Rayyan.


"Bener, gambar ini sama persis dengan cermin yang membawaku sampai ke tempat ini," sahut Airli mengiyakan pertanyaan Rayyan.


"Apakah kalian pernah melihatnya?" tanya Airli.


Rayyan dan Bimora menggeleng cepat.


"Cermin ini adalah cermin legendaris, semua ikuator berburu untuk mencarinya. Karena di anggap hanya orang spesial saja yang dapat memilikinya." Ujar Rayyan.


"Tapi kak, bukannya kakak sampai di sini menggunakan cermin itu. Namun mengapa kakak sampai kehilangan benda itu?" tanya Bimora.


Airli menghela napas pelan, sembari mengingat apa yang terjadi.


"Entahlah Bimora, ketika sampai di tempat ini aku begitu panik dan bingung. Ditambah lagi aku langsung bertemu dengan harimau setelahnya serigala, sampai-sampai aku lupa dengan cermin itu." Jelas Airli kepada Bimora.


"Tapi.....," Airli menggantung ucapannya.


"Tapi kenapa?" tanya Bimora.


Rayyan dapat melihat Airli seperti hendak mengatakan sesuatu namun ragu.


"Katakan saja, jika kamu masih menutupi sesuatu dari kami bagaimana kami bisa membantumu mencari cermin itu." Ucap Rayyan.


Airli berpikir sejenak, apa yang Rayyan katakan memang ada benarnya. Di tempat ini hanya mereka saja yang ia kenal, dan mungkin memang mereka juga yang dapat membantunya untuk mencari cermin itu supaya cepat kembali pulang. Apa salahnya mencoba untuk percaya, bukan?.


"Tadi ketika aku berada di hutan tempat dimana aku bertemu Bimora, sebelumnya aku melihat sesuatu, namun melalui cara yang menurutku itu cukup aneh." Airli mulai mencoba menjelaskan.


"Cara aneh yang kamu maksud itu seperti apa?" tanya Rayyan.


Airli menjawab pertanyaan Rayyan dengan mempraktekkan langsung apa yang ia lakukan ketika mencari cermin itu tadi. Yaitu dengan meletakkan tangan kanannya menyentuh tanah. Dan dengan cepat pula gambaran kembali muncul, seperti yang Airli lihat tadi.


"Aku melihat itu," ucap Airli kepada Rayyan dan Bimora. Sembari menunjuk gambaran yang ada di depan matanya.


"Apa yang kakak lihat?" tanya Bimora ingin tahu.


"Apakah kamu tidak melihatnya Bimora? Gambaran ini ada tepat di hadapan kita." Ucap Airli yang malah bingung.


"Itu namanya teknik melacak Airli, teknik melacak setiap ikuator itu berbeda-beda namun yang jelas hanya si pemilik Iku yang dapat melihatnya." Jelas Rayyan lagi kepada Airli.


"Jadi begitu, kalian benar-benar engga bisa lihat ini?" tanya Airli memastikan lagi.


"Iya kak. Lalu, apa yang kakak lihat di hutan tempat kita bertemu tadi?" tanya Bimora mengingatkan pembahasan mereka tadi.


Airli mengangkat kembali tangannya yang menyentuh tanah, kemudian melipat kakinya untuk bicara serius.


"Aku melihat seorang wanita bertopi dengan pakaian serba merah mengambil cermin itu." Jelas Airli.


"Apakah kamu mengingat wajahnya?" tanya Rayyan.


Airli menggeleng pelan.


"Dia memakai kain, untuk menutupi wajahnya. Namun aku ingat, dia memakai penjepit rambut berwarna merah." Jelas Airli lagi.


"Sebuah penjepit rambut tidak dapat kita jadikan petunjuk, karena jepitan rambut bisa saja banyak di pasaran," ujar Bimora.


"Benar juga, namun jika sudah seperti ini Airli akan tetap dapat melacak keberadaannya. Lagipula aku yakin orang yang mengambil cermin itu tidak akan mampu bertahan lama, karena cermin itu tidak sembarang orang dapat memegangnya."


"Perlu menggunakan energi yang sangat besar untuk seorang ikuator. Hanya ikuator tingkat master yang mulai mampu mengatasi tekanan dari cermin itu."


Airli yang mendengarkan penjelasan Rayyan sedikit bingung.


"Tapi kan Yan, aku bisa pegang cermin itu. Dan kayanya cermin itu ringan-ringan aja, gak ada tekanan apa-apa." Ujar Airli beranggapan.


"Kamu memegang cermin itu ketika berada di tempatmu, dan di saat itu kamu belum menjadi seorang ikuator. Namun sekarang kamu adalah seorang ikuator, semuanya akan berbeda tentunya." Jelas Rayyan lagi.


Benar juga apa yang Rayyan katakan. Entah mengapa Airli jadi menyadari sesuatu. Mungkin saja memang ada alasan mengapa dirinya sampai di sini. Terseret sampai ke tempat yang mungkin saja berbeda dimensi dengan kehidupannya. Namun yang jelas adalah, Airli harus mengetahui alasan tersebut.


"Apakah iku yang aku miliki ini bisa digunakan?" tanya Airli seraya berpikir.


"Tentu saja," sahut Rayyan langsung.


"Tidak ada iku yang tidak berguna, semuanya memiliki kekuatan yang berbeda-beda sesuai jenis iku yang dimiliki. Yang perlu dilakukan hanyalah melatihnya supaya mendapatkan peningkatan guna menambah level inti kekuatan tersebut. Sebuah iku menjadi tidak berguna ketika pemiliknya malas untuk berlatih dan mengembangkan iku itu sendiri," jelas Rayyan panjang lebar.


"Apakah kalian mau membantuku meningkatkan iku milikku? Serta mencari cermin itu?" tanya Airli dengan suara pelan.


"Tentu saja kak, kami akan membantumu untuk mencari cermin itu. Tapi, kalau perihal melatih iku milikmu sepertinya para guru di akademi MITAMA lebih ahli. Karena seperti yang kakak lihat kemarin, aku juga masih kerepotan mengontrol diriku sendiri. Bagaimana mau melatih orang lain?" Ujar Bimora diikuti tawa recehnya.


Rayyan dan Airli yang mendengar itu juga ikut tertawa.


"Yaudah makan saja dulu, ikannya sudah mulai dingin. Jika sudah selesai, kita dapat melanjutkan obrolan ini," ucap Bimora lagi.


Airli mengangguk, kemudian mulai memakan ikan bakar yang Bimora berikan tadi. Meskipun tanpa bumbu apapun namun ikan bakar tersebut sangatlah enak menurut Airli.


Entah karena dirinya yang tengah lapar atau memang rasa ikan tersebut yang memang enak.


☘️☘️☘️


Setelah selesai makan, Airli beserta Rayyan dan Bimora kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja, karena prediksi Bimora tanaman seribu pemulihan terletak tidak jauh lagi dari tempat mereka beristirahat tadi.


Airli berjalan dengan pelan, jalanan yang mereka lalui lumayan licin ditambah lagi rumput yang ada sudah setinggi betis mereka.

__ADS_1


"Apa kamu yakin tidak jauh lagi tempatnya, Bimora?" tanya Airli, pandangannya menyapu ke sekeliling.


Keadaan hutan sangatlah gelap, hanya pancaran dari cahaya bulan lah sebagai penerang. Sampai mereka melihat sebuah pancaran cahaya kebiruan dari ujung jalan yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


"Sepertinya itu cahaya dari buah seribu pemulihan," ujar Bimora beranggapan.


"Kamu yakin Bimora?" tanya Airli.


Bimora mengangguk, kemudian mempercepat langkahnya. Diikuti oleh Rayyan lalu Airli di paling belakang.


"Eh ehh tunggu! Main tinggal aja sih," protes Airli.


"Gimana sih, seharusnya kan ladies first." Gerutu Airli lagi. Namun Bimora maupun Rayyan memilih untuk tidak menanggapinya.


☘️☘️☘️


"Masha Allah..... bagus sekali," ucap Airli dengan mata berbinar.


"Apa ini yang kamu katakan buah seribu pemulihan itu?" tanya Airli kepada Bimora.


"Iya kak, sepertinya kita beruntung hari ini. Karena ada banyak pohon seribu pemulihan yang berbuah hari ini. Karena buah ini biasanya berbuah hanya sepuluh tahun sekali, itupun hanya satu buah saja dari setiap pohonnya." Ucap Rayyan menjelaskan.


"Oh begitu, bersyukur banget ya kita datang ketika pohon ini berbuah," seru Airli.


"Bener kak, tapi yang membuat aku semakin kagum adalah pohon buah seribu pemulihan ini ada banyak di tempat ini. Karena yang aku tahu... biasanya buah ini hanya dapat tumbuh satu saja dalam satu wilayah. Butuh jarak beberapa ratus meter untuk pohon lainnya tumbuh juga, namun di sini sepertinya berbeda," jelas Bimora lagi.


Airli tidak merespon ucapan Bimora, ia malah beralih melirik Rayyan yang sedari tadi diam.


Merasa diperhatikan, Rayyan langsung mengangkat alisnya seakan menanyakan maksud dari tatapan dari Airli.


"Gak niat mau berdialoq gitu, Yan? Perasaan diam saja, puasa ngomong?" sindir Airli.


Tidak menjawab ucapan Airli barusan, Rayyan malah langsung membuat sebuah medan perlindungan di area tempat mereka berada. Medan tersebut berfungsi untuk melindungi mereka supaya tidak dapat terlacak oleh siapapun.


"Ada apa kak?" tanya Bimora sedikit khawatir. Karena jika Rayyan sudah membuat Medan perlindungan seperti ini tentu saja bukan tanpa alasan.


"Aku merasakan ada pergerakan menuju tempat ini," jelas Rayyan.


"Siapa yang mau ke sini?" tanya Airli dengan polosnya.


Rayyan menoleh pada Airli.


"Entahlah, yang jelas aku dapat merasakan mereka adalah seorang ikuator dengan level lebih tinggi dari kita." Jelas Rayyan lagi.


"Lebih baik kita segera mengambil buah itu, dan langsung kembali ke akademi." Saran Rayyan.


"Baiklah kak,"


Tidak menunggu lama, Bimora langsung bergerak terbang menggunakan minuman terbang miliknya untuk mengambil buah seribu pemulihan tersebut. Buah yang berbentuk oval berwarna putih dengan cahaya kebiruan itu dapat dengan mudah Bimora ambil. Setelah mendapatkannya Bimora langsung menyimpannya di tempat penyimpanan miliknya.


"Sudah kak, ayo kita kembali ke akademi!" ajak Bimora.


Rayyan mengangguk lalu mulai berjalan mengikuti Bimora. Rayyan juga tetap membuat Medan perlindungan di area perjalanan mereka.


Airli yang menyadari itu langsung bergerak mengikuti Bimora. Bahkan ia berjalan dengan langkah besar karena tidak ingin tertinggal terlalu jauh.


Namun masih beberapa langkah saja mereka berjalan, Airli mendengar sebuah suara. Suara yang begitu ia kenali.


"PUTRI TOLONG!!!"


"TOLONG!!"


"PUTRI TOLONG SAYA PUTRI!!"


"Merpati," gumam Airli.


Airli masih ragu dengan apa yang ia dengar barusan, sehingga ia memutuskan untuk terus berjalan saja.


Hingga akhirnya Merpati jatuh tepat di hadapannya.


"MERPATI!!" pekik Airli karena kaget.


Airli langsung menggendong merpati yang tersungkur ke tanah.


Rayyan yang melihat hal itu juga ikut mendekati si merpati. Sedangkan Bimora hanya berdiri tidak jauh dari keduanya.


"Kamu kenapa merpati?" tanya Airli sangat khawatir.


"Merpati ini terluka," ujar Rayyan setelah memeriksa hewan tersebut.


"Apakah dia bisa diobati?" tanya Airli kepada Rayyan.


Rayyan terdiam. Mencoba menyalurkan energinya kepada merpati tersebut, namun anehnya seakan tertolak, penyaluran tersebut tidak dapat diterima oleh si merpati.


"Bawa aku pergi Putri! Ada yang hendak membunuhku," jelas merpati dengan susah payah.


"Ada yang mau membunuhmu? Siapa merpati?" tanya Airli semakin panik.


"Kamu dapat mendengar merpati ini bicara?" tanya Rayyan heran. Pasalnya ia melihat Airli seperti sedang mengobrol dengan hewan itu.


Airli mengangguk cepat sebagai jawaban. Melihat itu Rayyan langsung melirik Bimora, seakan mengerti arti tatapan dari sang kakak, Bimora langsung mendekat.


Tidak berselang lama Rayyan kembali mengeluarkan inti kekuatannya.


"Kamu mau ngapain Yan?" tanya Airli.


"Kita harus segera sampai ke akademi." Jawab Rayyan.


Tidak lama Bimora memberikan sebuah minuman kepada Rayyan. Dengan cepat Rayyan langsung meminumnya.


Beberapa detik kemudian Rayyan mulai mengaktifkan skill teleportasi miliknya.


"Teknik teleportasi!!!"


Dengan gerakan cepat Rayyan langsung menarik Airli menggunakan Iku-nya untuk masuk ke dalam teleportasi itu diikuti oleh Bimora di belakangnya.


Airli yang kaget dengan gerakan cepat dari Rayyan hanya dapat pasrah saja. Ya ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan dari merpati saja.


"Semoga kamu baik-baik saja merpati," gumam Airli dalam hati.


"Merpati ini harus selamat," batin Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2