
Bimora sudah berdiri di pojok kanan panggung sparing, ia mulai menyiapkan diri untuk melakukan adu kekuatan melawan para murid baru, seperti yang dijelaskan oleh guru Mo tadi.
Memang sudah menjadi ciri khas di akademi MITAMA. Ketika ada murid baru yang masuk ke dalam akademi ini pasti akan diuji inti kekuatannya melalui pertarungan melawan para senior mereka.
Dan kali ini Bimora lah yang akan menjadi lawan pertama mereka. Kelima murid baru diperintahkan untuk melawan Bimora secara berkelompok. Kelimanya harus mampu mendorong mundur Bimora melewati sebuah garis berwarna merah yang berada di pinggir panggung arena pertandingan tersebut.
Awalnya Cattin yang bersikeras untuk melawan lima murid baru tersebut, namun mengingat dirinya yang baru saja pulih membuat guru Mo melarang keras akan permintaan gadis itu.
Hingga akhirnya Bimora lah yang diminta oleh guru Mo untuk menjadi lawan pertama mereka, jika mereka berhasil mengalahkan Bimora maka mereka akan benar-benar sah menjadi murid di akademi MITAMA.
Meskipun rasanya tidak imbang dalam pertandingan ini mengingat Bimora yang masih berada pada level dibawah para murid baru, apalagi ia bertarung hanya sendirian saja. Sepertinya kemungkinan Bimora untuk menang sangatlah kecil.
Namun bisa jadi semua ini memanglah rencana guru Mo. Mungkin saja guru Mo memiliki tujuan tersendiri dalam pertarungan ini, karena guru Mo tentu tidak akan asal memilih muridnya ketika masuk dalam sebuah pertandingan. Meskipun dalam latihan kecil seperti ini.
"Baiklah, kalian berlima naiklah ke panggung arena pertandingan!" perintah guru Mo kepada para murid baru.
Kelima murid baru langsung naik ke atas panggung arena. Kelimanya langsung membentuk formasi yang sepertinya sudah mereka bahas sebelum naik panggung tadi.
Terlihat Anta dan Denta yang berada di posisi depan, di bagian kanan dan kiri. Kallia berada di tengah, Daniel berdiri di belakang anta sedangkan Nyara berada di posisi paling belakang. Semua formasi Kallia yang mengaturnya, ia meminta Nyara untuk berada di belakang karena sesuai dengan tipe iku miliknya, yaitu iku tipe pendukung. Nyara akan berperan menyalurkan energi kepada para rekan yang mulai kehabisan tenaga.
Terlihat Kallia beserta rekannya mulai menunjukkan aura iku milik mereka. Terlihat juga ada tiga cahaya putih yang melingkar pada empat murid baru tersebut. Sedangkan yang satunya, hanya ada dua cahaya putih.
Airli yang berada di bawah panggung merasa begitu takjub melihat pemandangan itu.
"Cahaya apa yang melingkari mereka?" tanya Airli pada Cattin.
"Itu adalah cahaya dari iku hewan ikuator yang berhasil mereka ambil. Cahaya itu pula yang akan membuat ketangkasan dan keahlian bertarung mereka semakin bertambah." Jawab Cattin.
"Jika mereka tidak mengambil cahaya dari hewan apakah tidak bisa. Mengambil secara paksa bukannya akan menyakiti hewan itu sendiri," ujar Airli dengan sedikit sedih.
Karena dirinya mendadak teringat dengan merpati. Airli ingat perkataan Rayyan yang mengatakan bahwa ada orang yang mengambil inti kekuatan milik merpati secara paksa. Dan karena itu pula yang membuat merpati tiada.
"Tidak bisa kak, karena tanpa cahaya iku hewan ikuator itu inti kekuatan yang ada pada manusia tidak akan berkembang," jelas Cattin lagi.
"Mungkin memang sudah takdir para hewan ikuator untuk menjadi buruan para ikuator," tambahnya lagi.
Airli hanya diam, dia mencoba mencerna penjelasan Cattin barusan. Karena berusaha menentang ucapannya juga percuma, karena Cattin juga tidak dapat merubah apapun.
Meskipun ada rasa kasihan yang begitu besar jika mengingat para hewan yang mereka bunuh hanya demi kekuatan saja.
"Airli," tiba-tiba guru Mo memanggil Airli.
"Iya guru, ada apa?" tanya Airli sedikit kaget karena melamun.
"Naiklah ke arena, temani Bimora bertanding!" perintah guru Mo.
"Hah!! Apa guru? Aku?" Airli cukup terkejut dengan perintah guru Mo.
Selain dirinya yang tidak yakin dengan semua ini ia juga masih belum dapat mengenali kekuatan yang ada pada dirinya. Suatu hal yang sangatlah asing baginya.
"Iya, naiklah!" ujar guru Mo lagi.
Airli menatap Cattin dengan tatapan memohon. Seakan mengisyaratkan bahwa ia tidak dapat melakukan apa yang guru Mo perintahkan. Dan meminta bantuan kepada Cattin.
"Guru, lebih baik aku saja yang bertanding bersama Bimora, lagipula kak Airli masih baru dalam dunia ikuator." Saran Cattin hendak menolong Airli.
"Tidak!" tolak guru Mo langsung. "Justru itu, guru mau melihat seperti apa sebenarnya kemampuan dari iku rumput cahaya hijau," tambah guru Mo.
Jika guru Mo sudah memutuskan begitu, maka para murid tidak akan dapat mengubahnya.
Airli menghela napas pasrah, sepertinya Cattin pun tidak dapat membantunya.
"Airli naiklah, cobalah untuk menggunakan iku milikmu!" perintah guru Mo.
Airli tidak dapat menolak perintah guru Mo, terlebih lagi tatapan orang tua satu ini begitu serius. Jangankan untuk menolak, berbicara saja rasanya lidah Airli begitu keluh.
"Tenanglah, tidak perlu khawatir! Ketika kamu mampu mengontrol pergerakan serta tekanan yang keluar dari rumput cahaya hijau maka kamu akan dapat mengendalikan pertarungan, bahkan memenangkannya." Pesan Rayyan.
Entah mengapa mendapatkan wejangan dari Rayyan barusan membuat Airli merasa sedikit lebih tenang. Rasa cemas yang tadi sempat terbesit perlahan hilang. Hingga akhirnya, Airli memantapkan diri untuk naik ke atas arena pertarungan.
"Baiklah guru, aku akan naik ke sana." Ucap Airli mantap.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Airli naik ke atas arena, karena ada tangga yang memang tersedia di samping panggung tersebut. Yang berfungsi sebagai pijakan untuk naik dan turun dari sana. Setelah sampai di atas panggung pertarungan, ia langsung disambut hangat oleh Bimora.
"Hai kak," ujar Bimora ramah.
Airli hanya mampu membalas sapaan tersebut dengan senyuman saja.
Airli beralih menatap ke arah lima orang di hadapannya. Airli dapat melihat ada tatapan kebencian yang terpancar dari salah seorang wanita di sana. Namun meskipun tatapan kebencian itu terlihat jelas, Airli dapat melihat aura berwarna putih yang keluar dari wanita itu.
Setidaknya Airli dapat menyimpulkan bahwa gadis itu adalah orang baik. Mungkin tatapan benci itu karena rasa kesalnya sebab Airli telah membuat dirinya ketahuan curang tadi.
"Apakah murid baru siap?" teriak guru Mo dari bawah.
"Siap," jawab kelimanya kompak.
"Apakah Bimora dan Airli siap?" tanya guru Mo juga.
"Siap," jawab Airli dan Bimora bersamaan.
Karena semua petarung sudah siap, maka pertarungan akan segera dimulai. Guru Mo mengaktifkan sebuah medan pada panggung arena pertandingan. Sehingga para pemain akan fokus bertarung tanpa terpengaruh dengan orang sekitar. Serta metode ini dilakukan untuk menghindari kerusakan yang tentunya dapat terjadi ketika bertarung.
Ditengah kesibukan guru Mo membuat Medan pelindung, Airli mulai mendekati Bimora.
"Bim, gimana nih?"
"Kakak enggak tahu harus mulai dari mana?" tanya Airli bingung.
"Tenanglah kak! Ikuti aba-aba dari aku aja," ujar Bimora dengan tenang.
"Aku di depan sedangkan kakak di belakang. Begitu pertandingan di mulai, aku akan menangani dua pria itu. Pemilik Iku katak beracun. Sedangkan kakak cobalah untuk menyerang wanita iku kelinci itu menggunakan rumput cahaya hijau, gunakan teknik pikiran yang kakak miliki untuk memprediksi pergerakannya. Karena yang aku tahu, pemilik Iku kelinci terkenal dengan kecepatannya."
"Jika tidak berhasil bagaimana?" tanya Airli yang malah khawatir.
"Ayolah Kak, berpikir positif saja. Pertandingan masih akan dimulai, jangan menurunkan semangat!" Ujar Bimora sedikit mengomel. Sedangkan Airli hanya senyum tanpa dosa.
Tidak berselang lama akhirnya guru Mo menyelesaikan medan yang ia buat. Pertandingan pun akan dimulai.
"Pertandingan dimulai," teriak guru Mo.
Setelah kalimat permulaan itu terucap, salah seorang dari tim murid baru langsung melakukan penyerangan. Orang itu adalah Daniel. Daniel mulai melesatkan anak panahnya sebagai pembuka pertandingan.
Meskipun itu hanyalah lesatan asal yang Daniel lakukan namun lesatan tersebut hampir saja merobek kain hijab Airli yang terurai. Khawatir akan hijabnya yang menganggu Airli memutuskan untuk memasukkan satu sisi hijabnya kedalam bajunya,
__ADS_1
"Sekarang lakukan kak!" perintah Bimora.
Bersamaan dengan itu Bimora langsung mengeluarkan skill minumannya.
"Minuman kecepatan kilat,"
Setelah itu Bimora langsung menyerang Anta dan Denda, Bimora mencoba membuat fokus mereka pecah karena pergerakannya.
Langkah pertama yang Airli lakukan adalah membuat sebuah dinding pembatas menggunakan rumput cahaya hijau di antara lima anggota tim murid baru. Sehingga dengan begitu pertandingan akan lebih terkontrol oleh mereka yang notabennya lebih sedikit jumlahnya. Dan pembatas itu membuat Nyara dan Daniel terpisah oleh tiga temannya.
Daniel mencoba menghancurkan rumput itu, namun sepertinya membutuhkan sedikit waktu.
Dan waktu inilah yang akan Airli manfaatkan untuk menyerang Kallia seperti yang Bimora instruksikan tadi.
Ternyata Kallia juga tidak ingin kalah saing, sebelum Airli melakukan penyerangan, dengan gerakan cepat ia langsung menyerang Airli lebih dulu. Mencoba untuk melukai Airli.
Namun sayangnya.....
Satttt--setttttt.....
Dengan meminum minuman terbang milik Bimora Airli dapat dengan sigap menghindari serangan dari Kallia. Minuman yang sengaja Airli minta pada Bimora tadi.
"Siall!!" dengusnya kesal, karena serangannya tidak kena.
Tidak tinggal diam, wanita itu kembali melakukan penyerangan kepada Airli. Kali ini menggunakan skill iku miliknya.
"Teknik tendangan kilat!!!"
Karena bersamaan dengan berhasilnya Daniel menghancurkan dinding pembatas tadi membuat Airli sedikit hilang fokus. Hal itu sangat dimanfaatkan oleh Kallia untuk melakukan serangannya.
Hingga akhirnya Airli terkena tendangan kilat dari Kallia. Membuat ia terdorong mundur.
Rayyan sedikit khawatir melihat Airli yang terlihat menahan sakit. Meskipun tadi di awal Airli dan Bimora tampak menguasai permainan, namun sepertinya kali ini malah berbalik, pihak lawanlah yang memimpin.
Terlebih lagi Bimora sudah mulai kewalahan menghadapi dua ikuator katak beracun itu. Dan Daniel juga kembali mulai melontarkan anak panahnya.
Sedangkan Nyara fokus untuk menyalurkan energi kepada ketiga rekannya. Meskipun mereka baru bertemu, namun terlihat jelas mereka berlima begitu lihai ketika bertarung.
Mungkin benar, pengalaman bertarung memang sangat berpengaruh ketika dalam pertandingan seperti saat ini. Sedangkan Airli sama sekali tidak pernah melakukan pertarungan, inilah pertama kalinya. Jadi wajar jika ia masih terlalu gugup.
Lagipula jangankan untuk bertarung, ikut ekstrakurikuler silat ataupun bela diri lainnya saja ia tidak pernah. Ia hanya pernah melihat pertarungan saja, itu pun hanya melalui ponsel ataupun televisi.
Namun begitu, Airli kembali mencoba menggunakan iku rumput cahaya hijau miliknya. Ia berusaha untuk lebih fokus.
Airli menarik napas dalam, memejamkan matanya. Mencoba merasakan pergerakan dari rumput cahaya hijau. Hingga ia bersuara.
"Skill rumput menjalar,"
benar saja setelah Airli mengatakan itu, rumput cahaya hijau yang ada pada telapak tangannya langsung tumbuh dan menjalar ke seluruh anggota tim murid baru, Airli melilit mereka menggunakan rumput tersebut.
Namun sepertinya hal tersebut sama sekali bukan masalah bagi tim murid baru, dengan sangat cepat Denta dan Anta dapat melepas lilitan tersebut, begitupun dengan Kallia dan Daniel. Setelah melepaskan dirinya, Daniel berusaha membantu Nyara.
"Terimakasih," ucap Nyara.
Daniel membalasnya dengan senyuman sekilas.
"Tidak perlu menunggu lagi, sekarang kita serang bersamaan!" perintah Kallia.
Keempat orang temannya mengangguk, lalu mengumpulkan energinya untuk memaksimalkan iku milik mereka.
"Berlindung lah di belakang ku kak!" ucap Bimora memberi perintah.
Airli yang sedikit panik langsung menuruti perintah Bimora.
"Apa yang akan kamu lakukan Bimora?" tanya Airli khawatir.
"Aku akan mengaktifkan aura interogasi milikku sekarang," sahut Bimora yakin.
"Apa??"
"Jangan Bimora! Itu berbahaya!" cegah Airli.
Airli masih ingat betapa tidak terkendalinya pemuda di hadapannya ini ketika dalam mode aura interogasi tersebut.
Namun sepertinya Bimora tidak mendengarkan ucapan Airli. Ia malah langsung menggunakan aura interogasi miliknya tersebut.
Airli dapat melihat cahaya merah mulai mengelilingi tubuh Bimora. Airli langsung bergeser mundur karena melihat aura tersebut.
Jujur Airli sedikit khawatir mengingat apa yang pernah terjadi padanya ketika Bimora pada mode aura interogasi ini. Namun ia juga tidak boleh panik di sini.
Cattin yang berada di bawah mulai menunjukkan rasa khawatirnya.
"Guru, Bimora kembali mengeluarkan aura interogasinya." Ungkapnya cemas.
"Tenanglah Cattin, lihat saja apa yang akan terjadi." Ujar guru Mo dengan sangat tenang.
Cattin beralih menatap Rayyan, mencoba meminta bantuan Rayyan untuk bicara dengan guru Mo. Namun sayangnya, Rayyan hanya dapat menggeleng pelan.
Kelima murid baru sudah siap menyerang Bimora. Dengan bantuan Nyara di belakang mereka sebagai penyalur energi pemulihan. Meskipun energi yang dapat ia salurkan hanya 20% saja, namun hal itu juga dapat membantu.
Di awali dengan serangan panah dari Daniel, namun anak panahnya hancur lebur akibat tekanan yang tercipta dari aura interogasi milik Bimora.
Sungguh Airli sangat khawatir sekarang. Apalagi melihat tatapan Bimora sungguh menyeramkan.
"Bagaimana sekarang?"
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Airli pada dirinya.
Tiba-tiba saja Kallia mencoba menyerang Bimora diikuti dengan Denta dan Anta dibelakangnya.
"Teknik penyerapan," teriak Bimora.
Dan benar saja, secara langsung semua orang yang berada di atas arena mulai merasakan tekanan yang luar biasa. Tekanan yang membuat mereka kehilangan banyak tenaga. Nyara yang berfungsi sebagai penyalur energi habis di marahi oleh Kallia.
"Hei kau, cepat salurkan energi pemulihan kepada kami!" perintah Kallia.
Meskipun kesal dengan cara Kallia menyuruh yang begitu tidak sopan namun Nyara tetap berusaha bersikap baik lalu kemudian menyalurkan energi kepada Kallia.
Namun sayangnya usaha mereka menjadi percuma, karena daya serap Bimora jauh lebih cepat dibandingkan pemulihan yang dilakukan.
"Tenagaku sudah sangat habis, aku tidak dapat memberikan pemulihan lagi," ucap Nyara memberi tahu. Karena benar saja tubuhnya menjadi sangat lemah saat ini. Bahkan ia sampai terduduk di panggung arena.
Airli yang melihat itu menjadi khawatir, Akan sangat berbahaya jika Bimora dibiarkan terus-menerus seperti ini. Pemuda ini dapat membunuh para murid baru. Dan Airli tidak ingin semua itu terjadi.
__ADS_1
Entah mengapa sebuah ide muncul dipikiran Airli.
"Sepertinya itu yang harus aku coba." Ucapnya yakin.
Airli mencoba melilit Bimora menggunakan rumput cahaya hijau. Mencoba memberikan ketenangan pada pria itu. Mengingat kemarin ketika Bimora menyerangnya, kesadaran pemuda itu langsung kembali ketika mencoba menyerang Airli.
Itulah mengapa Airli mencoba mengalihkan perhatiannya dengan cara melilit perutnya.
Namun diluar dugaan, Bimora malah semakin memperkuat penyerapannya. Dan hal itu sukses membuat keempat murid baru terjatuh dan pingsan.
"Bimora, apa yang kamu lakukan? Mereka semua pingsan. Bagaimana jika mereka terluka parah seperti Cattin kemarin," ucap Airli dengan nada tinggi.
Bimora menatap Airli dengan senyuman.
"Tenanglah kak," ujarnya tenang.
Dan hal itu sukses membuat Airli heran. Masalahnya, kemarin ketika berada pada mode aura interogasi seperti ini, Bimora tidak akan dapat berbicara setenang ini. Lalu sekarang mengapa berubah?.
"Bimora, kamu sehat kan?"
Bimora menjawabnya hanya dengan senyuman. Kemudian menggerakkan tangannya untuk menyalurkan energi kepada kelima murid baru. Dan tidak lama dari ini kelima murid baru langsung tersadar dan langsung berdiri. Semuanya terlihat sedikit bingung.
"Makasih kak," ucap Bimora pada Airli.
"Makasih untuk apa Bimora? Kakak aja masih bingung dengan kamu yang setenang ini," ungkap Airli.
Bersamaan dengan obrolan Airli, Guru Mo langsung menarik Medan yang ia buat tadi. Guru Mo meminta semua murid untuk turun.
"Kakak, apakah kakak menyadari ada yang berbeda dari Bimora. Dia terlihat tenang menggunakan aura interogasi miliknya." Ucap Cattin pada Rayyan.
"Jika kamu mau mengetahui jawaban atas pertanyaanmu itu, lebih baik kita tanyakan saja pada Bimora secara langsung."
"Guru, kami tidak dapat mengalahkan mereka." Ucap Daniel ketika sudah berada di hadapan guru Mo.
Terlihat wajah Kallia berubah datar. Tidak ada lagi raut sombong yang terlihat.
"Kalian memang tidak dapat mengalahkan Bimora dan Airli, tapi yang saya lihat, kalian cukup kompak ketika bertarung tadi. Sepertinya hal ini dapat menjadi pertimbangan dari saya untuk benar-benar menerima kalian." Ucap guru Mo.
"Tapi yang harus kalian ingat, level bukanlah menjadi alasan untuk kalian melangit. Apalagi meremehkan lawan di saat kalian belum mengetahui kemampuan mereka." Ujar guru Mo.
Mendengar itu, Kallia semakin menundukkan kepalanya. Mungkin ia sadar akan sikapnya yang kurang baik tadi.
"Bimora adalah ikuator tipe pendukung, hanya saja dia memiliki aura bawaan yaitu aura interogasi. Sehingga kemampuan yang ia miliki mampu mengimbangi kalian para ikuator tipe penyerang. Namun dari itu, semuanya tak lepas dari latihan yang telah ia lakukan." Tambah guru Mo.
"Jika kalian benar-benar ingin menjadi ikuator yang berhasil, maka kalian harus mengikuti apa yang kami para guru ajarkan."
Nyara yang mendengar ucapan guru Mo langsung tersenyum terlebar, penyataan dari pria tua itu sudah menjelaskan bahwa dirinya benar-benar diterima masuk ke akademi ini.
"Untuk kamu Nyara, jangan melemah dan merasa tidak berguna hanya karena kamu masih berada di level 20. Tidak ada iku yang tidak berguna, yang ada hanya pemilik Iku-nya saja yang malas untuk mengembangkan inti kekuatan yang ia miliki."
Semua murid terdiam mencerna setiap kalimat yang guru Mo ucapan barusan. Penjelasan yang singkat namun memberikan pelajaran yang cukup banyak.
Setelah mengatakan itu, guru Mo langsung pergi dari sana. Serta memerintahkan para murid baru untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.
Sepeninggalnya mereka, Cattin langsung menghampiri Bimora. Ia hendak menyerbu Bimora dengan pertanyaan yang sejak tadi ada di pikirannya.
Namun seakan dapat membaca apa yang akan Cattin tanyakan Bimora langsung menyuruh Cattin diam.
"Sebelum kamu bertanya aku ingin menunjukkan sesuatu.
"Menunjukkan apa?" tanya Cattin kurang tertarik sebenarnya.
Namun ekspresinya langsung berubah ketika Bimora menunjukkan cahaya inti kekuatan yang melingkar di tubuhnya. Cahaya yang awalnya hanya dua kini sudah bertambah satu, maka menjadi tiga.
Rayyan yang melihat itu juga ikut terkejut serta senang. Momen yang begitu dinantikan oleh Bimora sejak satu tahun ini.
"Kamu naik level Bimora," seru Rayyan langsung merangkul Bimora.
Begitupula dengan Cattin yang langsung memeluk pemuda itu, dan hal itu sukses membuat Bimora hampir jatuh. Untungnya Rayyan dapat menahan tubuh dua adiknya itu agar tetap seimbang.
"Aku senang sekali melihatnya Bim. Akhirnya kamu naik level juga. Eh tapi..." ucap Cattin sembari melepas pelukannya.
"Bukankah cahaya inti kekuatan akan muncul setelah kamu menyerap cahaya iku hewan ikuator, kapan kamu menyerap cahaya tersebut?" tanya Cattin.
"Entahlah Cattin, aku juga tidak paham akan hal itu. Hanya saja setelah dapat mengontrol aura interogasi milikku aku dapat merasakan akan peningkatan level pada iku milikku. Dan semua ini berkat kak Airli." Ungkap Rayyan sembari melihat ke arah Airli.
"Aku? Aku tidak merasa melakukan apapun," sahut Airli langsung.
"Tapi karena lilitan rumput yang kamu ciptakan itu kak membuat diriku mampu mengontrol aura yang aku miliki. Seakan ada energi positif yang mengalir ke dalam tubuhku, yang membuat kesadaran ku tidak hilang." Jelas Bimora perihal yang terjadi padanya tadi ketika berada di arena pertandingan.
Ketiga orang itu beralih menatap Rayyan, seakan meminta penjelasan kepada pemuda itu. Mengingat ia yang lebih paham diantara ketiganya ketika menjelaskan masalah seperti ini.
"Mengapa menatapku?" serbu Rayyan langsung.
"Meminta penjelasan," sahut Cattin pula.
"Benar kak, biasanya kakak akan lebih paham dari kami dalam hal seperti ini." Tambah Bimora juga.
"Jujur aku sangat tidak ingin mengatakan ini, tapi aku benar-benar tidak paham apa yang telah terjadi, dan sepertinya kamu bisa menjelaskan lebih detail lagi," ucap Airli.
Rayyan menghela napas dalam. Semuanya mengira Rayyan akan menjawab pertanyaan mereka setelah beberapa saat, namun sayangnya mereka malah ditinggal pergi oleh Rayyan.
"Loh Yan, mau kemana?" teriak Airli langsung.
"Iya kak, mau kemana?" Cattin ikut-ikutan.
"Kak pertanyaannya kan belum dijawab," tagih Bimora.
"Tunggu sampai besok. Besok kakak akan jawab pertanyaan dari kalian." Jawab Rayyan tanpa menoleh sedikitpun.
"Gimana sih, masa jawabannya ditunda sampai besok." Gerutu Airli.
"Masa guru gak punya jawaban atas pertanyaan muridnya," ungkap Airli yang malah kesal.
"Eh tapi kan... Rayyan bukan guru, dia murid di sini." Ucap Airli baru menyadari.
"Kenapa kak?" tanya Cattin heran melihat Airli bicara sendiri.
"Ah enggak ada kucing terbang tadi," jawab Airli asal.
"Oh... kirain apaan." Sahut Cattin percaya begitu saja.
"Kamu percaya aku jawab begitu?" tanya Airli yang malah bingung.
__ADS_1
"Percaya, kenapa harus tidak percaya."
"Jangan terlalu percaya bestie, sekarang ini terlalu percaya sering kali disia-siakan,"