PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)

PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)
Bab 12


__ADS_3

Jalani, nikmati lalu syukuri.


-Airli Putri Awardani-


☘️☘️☘️


(Hari ke-tiga di negeri Tawar)


Keadaan di akademi MITAMA berjalan seperti biasanya. Di pagi ini semua murid akademi sudah kembali memulai latihan mereka. Untuk para murid baru akan dilatih oleh guru Mo sedangkan para senior akan dilatih oleh guru Mi.


Ada sekitar lima orang murid baru yang sedang berlatih dengan guru Mo. Kelimanya diminta untuk berlari mengelilingi halaman Akademi sebanyak dua puluh kali sebagai tahap awal pelatihan.


Dan dari kelima orang itu Nyara termasuk salah satunya, dengan iku teratai pemulihan. Empat lainnya bernama, Daniel, Anta, Denta dan Kallia. Daniel ikuator tipe penyerang dengan inti kekuatan alat, berupa panah emas. Anta ikuator tipe penyerang dengan iku jenis hewan yaitu katak beracun dan Denta yang merupakan adiknya juga memiliki iku yang serupa. Terakhir Kallia, ikuator tipe penyerang dengan iku jenis hewan juga yaitu kelinci. Iku jenis ini biasanya sangat terkenal dengan kecepatannya.


"Baiklah semuanya, latihan kalian dimulai dengan berlari mengelilingi akademi ini sebanyak dua puluh kali." Perintah guru Mo.


"Jika kalian tidak dapat menyelesaikannya maka kalian akan langsung saya keluarkan dari akademi ini," tegas Guru Mo.


Nyara sedikit ragu dengan dirinya. Mengingat teman barunya semuanya merupakan ikuator tipe penyerang. Hanya dirinya saja ikuator tipe pengendali. Apakah dirinya akan sanggup mengimbangi mereka.


Meskipun berlari bukanlah hal sulit bagi Nyara karena dirinya juga sering berlatih berlari seperti ini ketika berada di rumahnya. Namun tetap saja ada rasa khawatir di pikirannya, mengingat pelatihan yang selama ini ia lakukan sama sekali tidak membuat iku miliknya berkembang, hanya mentok di level 20 saja. Dan hal itulah yang menjadi sebab Nyara nekat pergi dari rumah. Selain menghindari perjodohan yang ibundanya rencanakan juga karena dirinya masih ingin mengembangkan iku miliknya yang ia yakini pasti akan dapat berkembang. Dan akademi MITAMA inilah harapan Nyara satu-satunya.


Guru Mo memberikan sebuah jam pasir kepada masing-masing peserta, dimana jika pasir sudah habis jatuh ke bawah, hal itu menandakan waktu mereka sudah habis.


"Jika waktu kalian sudah habis dan kalian belum menyelesaikan tugas ini maka kalian akan mendapatkan hukuman. Namun kalian tetap harus menyelesaikan lari tersebut, jika kalian tak dapat menyelesaikan lari maka kalian akan langsung dikeluarkan." Jelas guru Mo


"Hanya lari saja, itu hal yang mudah. Gak ada yang lebih sulit apa?" ucap Kallia. Suaranya yang pelan namun masih dapat terdengar oleh Nyara.


"Jangan sombong, ikuti saja aturannya!." Ujar Daniel.


Terlihat Kallia berdecak seakan meremehkan Daniel. Sedangkan Daniel hanya membalasnya dengan tatapan datar.


Nyara sedikit tidak menyukai sikap angkuh dari gadis itu, meskipun percaya diri itu harus namun tetap saja level yang sudah diraih bukanlah menjadi alasan untuk dirinya menyepelekan sesuatu. Ya walaupun Nyara tahu benar gadis itu memang sudah mencapai level menengah tingkat awal yaitu di level 38.


Nyara sedikit sedih melihat dirinya sebenarnya, mengingat level miliknya yang terendah sedangkan empat lainnya sudah berada pada level di atas 30.


"Oh iya kamu," ujar Kallia kepada Nyara.


"Berhati-hatilah! Aku ragu kamu dapat menyelesaikan ini karena level mu yang masih berada pada level pemula." Ucap Kallia. Ucapannya lebih terdengar seperti cibiran menurut Nyara.


"Urus saja dirimu, tidak perlu repot mengurusi diriku!" sahut Nyara tak kalah sinisnya.


Terdengar Kallia berdecak kesal, ternyata gadis yang terlihat polos itu berani menjawab ucapannya.


Nyara memang terlihat berpenampilan polos dan lemah lembut, hanya saja dia dapat berubah beringas tergantung bagaimana sikap seseorang kepada dirinya.


☘️☘️☘️


Sedangkan di ruang pengobatan, terlihat Cattin yang semakin membaik tengah duduk tepat di samping ranjang Airli. Wanita itu terus memandangi Airli. Pandangannya tak lepas dari sana.


"Catt... makanlah dulu! Kau belum makan sejak sadar tadi." Ucap Bimora sembari membawa makanan dan susu untuk Cattin.


"Sudahlah Bim, Aku baik tubuhku bahkan sangat segar setelah menyerap buah seribu pemulihan itu. Aku masih menunggu kak Airli sadar," ucap Cattin menolak tegas.


"Kak Ray, lihatlah Cattin ini! Betapa keras kepalanya dia," adu Bimora pada Rayyan.


Rayyan yang melihat itu hanya tersenyum.


"Siapa yang dapat merubah keputusannya selain dirinya sendiri? Kakak juga tidak dapat berbuat apapun," ujar Rayyan pula. Karena dirinya begitu paham bagaimana sifat Cattin. Jika gadis itu sudah mengatakan tidak maka akan tetap tidak.


Mendengar itu, Bimora hanya menghela napas pasrah.


"Sudah berapa lama kak Airli tidak sadarkan diri, kak?" tanya Cattin pada Rayyan.


"Sejak kemarin," jawab Rayyan. "Entahlah, aku merasa gadis ini begitu nyaman berbaring di tempat ini," ujar Rayyan pula.


"Sadarlah kak," bisik Cattin pelan.


Sedangkan Airli yang terlelap, di dalam mimpinya ia merasa tengah berdiri di depan sebuah cahaya yang begitu terang, cahaya itu seakan terus mendekat ke arahnya. Bahkan Airli merasa dirinya masuk ke dalam cahaya itu, terus semakin masuk dan semakin masuk ke dalamnya. Hingga...


"Uhuk... uhuk... uhuk...," Airli terbatuk secara tiba-tiba.


Matanya ikut terbuka dan tubuhnya perlahan bergerak untuk duduk.


"Kakak udah sadar," ucap Cattin senang.


"Aku kenapa?" tanya Airli dengan wajah bingung. Tangannya menyapu wajahnya seakan menghilangkan kekaburan yang sempat ada di pandangannya.


Airli dapat melihat Rayyan, Bimora beserta Cattin di hadapannya.


"Cattin..." ujar Airli dengan gembira.


"Kamu udah sehat?"


"Iya kak, aku baik-baik saja." Sahut Cattin langsung.


"Syukurlah,"


"Bagaimana dengan kakak? Apakah kakak merasakan sakit?" tanya Cattin kembali khawatir.


Airli mencoba merasakan tubuhnya. Airli tidak merasakan sakit sama sekali, ia hanya merasa dirinya seperti bangun dari tidur saja. Bahkan terasa sangat segar.


"Tidak, kakak merasa segar." Jawab Airli jujur.


Terdengar suara-suara dari luar ruangan mereka. Sepertinya dari halaman Akademi.


"Suara apa itu?" tanya Airli penasaran.


Cattin menoleh kepada Rayyan, seakan meminta Rayyan saja yang menjawab pertanyaan Airli ini.


"Hari ini murid akademi sudah mulai latihan, itu suara mereka yang sedang berlatih." Ucap Rayyan memberikan jawaban.


"Apa aku boleh melihatnya?" tanya Airli.


Rayyan tersenyum manis. Sangat manis.


"Bukan hanya melihat saja, kamu juga boleh ikut berlatih," jelas Rayyan lagi.


"Berlatih? Apa yang harus aku latih?" tanya Airli tidak paham.


"Ulurkan kembali tanganmu, lalu bukalah!"


Mendengar ucapan Rayyan barusan Airli kembali teringat kejadian-kejadian yang terjadi kemarin. Ia juga kembali mengingat tentang merpati yang sudah tiada.


Namun tidak ingin kembali bersedih, Airli lebih memilih untuk mengikuti perintah Rayyan saja.


Terlihat rumput cahaya hijau yang kemarin Airli lihat kini sudah semakin tinggi, apalagi kali ini ada tiga cahaya putih yang melingkar pada rumput itu.


"Waw... kakak sangat hebat dalam waktu singkat kakak sudah berada pada level pemula tingkat lanjut, sama seperti aku." Ucap Cattin begitu salut kepada Airli.


"Aku saja butuh waktu bertahun-tahun dan berlatih keras untuk berada pada level ini," tambahnya lagi.


"Level? Emangnya aku berada pada level berapa?" tanya Airli belum paham.


"Level tiga puluh lima. Level pemula tingkat lanjut, dan aku di level tiga puluh delapan," jawab dan jelas Cattin


"Kamu Bimora? Level berapa?" tanya Airli.


Bimora sedikit ragu untuk menjawab, namun dengan nada rendah ia bersuara.


"Aku masih berada di bawah mu kak, aku masih berada di level 28. Karena susahnya mengontrol aura introgasi milikku ini membuat aku begitu sulit untuk naik level," jelas Bimora.


Sedangkan Airli hanya manggut-manggut saja sembari berfikir.


"Kalau Rayyan... level berapa?" tanya Airli kepada Rayyan juga.


"Aku berada pada level 42, yaitu level menengah tingkat awal." Jawab Rayyan.


"Ternyata seru juga ya, ada level-level begini." Ucap Airli dengan sedikit tertawa.


"Aku jadi pengen latihan, latihannya sama guru Mi kan?" tanya Airli mencoba memastikan.

__ADS_1


Ketiganya mengangguk, namun Bimora menambahi.


"Tergantung jenis latihan yang di ajarkan. Sepertinya jika ingin tau lebih jelasnya, kita langsung ke tempat berlatih saja." Jelas dan ujar Bimora.


"Baiklah jika begitu,"


"Tapi... apakah kamu benar-benar sudah baik?" tanya Rayyan mencoba memastikan. Karena gadis di hadapannya ini baru saja bangun dari tidurnya yang cukup lama.


"Aku baik, sangat baik." Ujar Airli begitu semangat.


"Baiklah jika begitu," ucap Rayyan merasa lega.


"Kamu bagaimana Cattin? Bukankah kamu juga baru saja pulih, akan lebih baik jika kamu beristirahat saja dahulu." Ujar Rayyan kepada Cattin. Jujur dirinya juga masih sedikit mencemaskan keadaan Cattin.


"Aku sudah sangat baik kak, tenanglah! Jika aku merasakan sakit, aku akan mengatakannya kepada kakak dan Bimora," jelas Cattin meyakinkan Rayyan.


"Lebih baik kak Airli membersihkan diri terlebih dahulu! Setelah itu kita latihan bersama," saran Cattin kepada Airli.


Airli mengangguk, kemudian bergerak turun dari ranjangnya. Lalu keempatnya berjalan keluar dari ruang pengobatan.


Namun langkah Airli berhenti secara tiba-tiba, sehingga membuat Rayyan yang berada di belakangnya menabrak punggung gadis itu hingga sedikit terdorong ke belakang. Bimora dan Cattin tak menyadari hal itu karena mereka terlalu semangat untuk keluar.


"Ada apa? Apa kamu merasakan sakit?" tanya Rayyan kepada Airli. Mengingat gadis itu yang berhenti mendadak seperti ini.


Airli berbalik, sehingga membuat mereka menjadi berhadapan, tentunya dengan jarak lebih dari satu meter.


Terlihat bibir Airli melengkung. Ia tersenyum, tersenyum tulus kali ini. Dan senyuman itu sukses membuat degub jantung Rayyan berdetak tak karuan.


"Terima kasih," ucapnya.


Rayyan sedikit bingung sebenarnya, melihat gadis di hadapannya ini berubah menjadi lembut seperti ini. Mengingat betapa sangar dan galaknya ia kemarin.


"Terima kasih untuk?" tanya Rayyan.


"Karena kamu..." Airli menjeda ucapannya. Terlihat ia menarik napas dalam.


"Menjaga batasan mu meskipun dalam keadaan terdesak sekalipun. Kamu tetap menghargai ucapan yang sempat aku lontarkan kepadamu," jelas Airli baik-baik.


"Jikalau suatu hari nanti aku berada pada situasi yang sama, aku mengizinkanmu untuk menolongku sebagaimana kamu menolong orang lain." Tambah Airli pula.


Mendengar itu Rayyan ikut tersenyum. Entah mengapa mendengar tutur kata Airli begitu menenangkan hatinya.


"Eh tapi bukan berarti kamu boleh seenaknya pegang-pegang ya!!! Awas aja kalau coba-coba kurang ajar!!!" tatapannya yang tadi lembut kini berubah sinis.


Rayyan sedikit tersentak melihatnya.


Setelah mengatakan itu Airli langsung berlalu meninggalkan Rayyan yang masih mengelus dada sabar.


"Gadis aneh, sekejab mata dapat berubah lembut sekejab kemudian berubah menjadi sangar seperti singa," cibir Rayyan.


"Aku denger ya!!" ucap Airli dari luar ruangan.


Dan kesekian kalinya Rayyan kembali tersentak kaget karena gadis itu. Namun detik kemudian ia tersenyum lebar.


"Dasar gadis aneh!!"


☘️☘️☘️


"Kenapa kamu malah berjalan?" tanya Daniel kepada Kallia.


"Berlari dua puluh putaran bukanlah hal sulit, aku mau membeli beberapa barang dahulu ke pasar, ada pelelangan di sana. Setelahnya aku akan kembali lagi untuk menyelesaikan ini," ujar Kallia tanpa beban.


Nyara yang berada di belakang mereka hanya menyimak dan mendengar percakapan mereka saja.


"Jika guru pelatih tahu kau akan dikeluarkan langsung," ucap Danial memperingati.


"Dia tak akan tahu jika kau menutup mulut. Lagipula aku lihat dia tengah sibuk bermeditasi, dia tak akan menyadari kepergian ku," sahut Kallia dengan santainya.


Tidak lama setelah mengatakan itu ia langsung berlari keluar dari akademi secara diam-diam dengan kecepatan tinggi.


Nyara juga mengakui bahwa kecepatan lari gadis itu patut diakui.


Nyara tidak ingin terlalu memikirkan perihal gadis sombong itu, ia memilih untuk melanjutkan tugasnya saja. Ia sudah berlari sebanyak delapan putaran dan ini menuju sembilan putaran.


Sedangkan di sisi lain terlihat Airli yang sudah selesai membersihkan diri tengah berdiri di pinggir halaman. Airli memperhatikan Nyara dan yang lainnya yang sedang berlari.


Entah mengapa Airli dapat melihat ada sesuatu yang berbeda dari seorang gadis yang sedang berlari di sana. Airli melihat ada warna yang terpancar dari tubuhnya, warna itu berwarna putih kehijauan. Hanya saja warna hijau itu masih kalah dengan warna putih. Entah sejak kapan dirinya dapat melihat warna aura seperti ini.


Namun karena itu, Airli menjadi ingat perkataan merpati pada nya beberapa hari lalu. Merpati pernah berkata pada Airli kalau dirinya dapat melihat aura yang terpancar dari manusia.


"Apa mungkin, inilah kekuatan yang merpati berikan kepadaku sebelum akhir hayatnya kemarin?" pikir Airli bertanya-tanya.


Airli mencoba melihat guru Mo yang tengah bermeditasi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Airli dapat melihat warna putih yang terpancar dari aura guru Mo. Warna putih ini mengartikan bahwa guru Mo memiliki aura yang netral, tidak ada aura bawaan yang ia miliki.


Namun beberapa detik kemudian Airli setelah memperhatikan aura dari guru Mo tiba-tiba Airli dapat menyadari ada yang masuk kedalam barisan para murid yang tengah berlari, kejadian yang cukup cepat. Namun Airli dapat memprediksinya dengan sangat baik.


"Guru Mo," panggil Airli langsung.


Guru Mo yang baru menyadari keberadaan Airli yang ternyata berada tidak jauh darinya sedikit terkejut. Karena ia mengira gadis itu masih berada di ruang pengobatan.


"Airli, kanu sudah membaik?" tanya guru Mo memastikan keadaan Airli.


"Sudah, aku sangat baik." Jawab Airli.


"Apa kau ingin berlatih hari ini?" tanya guru Mo.


"Apakah boleh?" tanyanya.


"Tentu saja, aku akan sangat senang jika kau mau berlatih di sini." Sahut guru Mo dengan semangat.


"Apakah aku harus berlatih lari dahulu seperti mereka juga, guru?" tanya Airli.


"Tidak perlu, lari ini hanyalah sebuah uji kejujuran untuk para murid. Siapakah yang tak jujur maka akan terlihat di sini." Jelas guru Mo.


"Berapakah jumlah murid yang sedang guru latih saat ini?"


Bersamaan dengan pertanyaan Airli itu Bimora dan Cattin datang menghampiri Airli dan guru Mo.


"Ada lima orang." Jawab guru Mo.


"Namun aku hanya melihat empat orang guru," ucap Airli.


Mendengar itu guru Mo langsung melihat ke arah para murid yang tengah berlari, karena memang sejak tadi dirinya tengah bermeditasi untuk memulihkan diri yang ternyata masih belum terlalu pulih akibat aura introgasi Bimora beberapa hari lalu. Sehingga ia tidak terlalu fokus kepada murid yang tengah berlatih.


"Bagaimana mungkin? Ada lima orang Airli, coba kau hitunglah!" ujar guru Mo.


Airli tersenyum kecil.


"Tentu saja saat ini ada lima orang guru, karena beberapa waktu lalu seseorang datang dari arah luar akademi kemudian ikut berlari bersama empat lainnya." Jelas Airli.


"Apakah kakak yakin?" tanya Cattin.


"Bagaimana mungkin ia dapat mengelabui guru," ujar Bimora pelan.


"Ada apa ini?" tanya Rayyan yang tiba-tiba datang.


"Ini kak, tadi kak Airli mengatakan bahwa ada seorang murid yang baru datang dari arah luar akademi kemudian langsung ikut berlari dengan temannya yang lain. Apa mungkin ia berlaku curang?" jelas dan tanya Cattin kepada Rayyan.


"Guru akan mencari tahu," ujar guru Mo. "Kalian bersiaplah, setelah ini kalian akan sparing dengan para murid baru." Jelas guru Mo.


"Baik guru,"


Kelima murid yang telah selesai berlari kemudian dibariskan kembali, guru Mo menatap tajam kelima murid tersebut. Mencari siapa pelaku kecurangan yang Airli katakan tadi. Setelah menemukannya, guru Mo langsung menariknya dan menekannya dengan iku miliknya.


Orang tersebut adalah Kallia. Bagaimana guru Mo tahu, karena sebenarnya guru Mo selalu mengawasi mereka. Ia hanya berpura-pura fokus pada meditasi.


"Apa ini guru? Apa yang guru lakukan?"


"Bukankah aku menyuruh kalian untuk berlari di dalam akademi, bukan di luar akademi," Sahut guru Mo sinis.


"Aku berlari di dalam akademi guru," ucap Kallia membela dirinya.

__ADS_1


"Kau ingin berkata jujur atau aku yang akan memaksamu jujur?"


"Aku sudah berkata jujur guru," Kallia masih berusaha mempertahankan ucapannya.


Padahal semuanya tahu benar kalau dia itu berbohong. Nyara sedikit senang melihat gadis sombong itu di hakimi oleh sang guru. Karena memang ia pantas mendapatkannya.


Guru Mo melepaskan tekanan yang ia berikan kepada Kallia, kemudian menarik sebuah daun berbentuk bunga yang ternyata melayang di atas akademi. Ternyata daun itu merupakan alat yang guru Mo ciptakan, guru Mo merupakan tipe ikuator pendukung. Dimana menciptakan alat-alat canggih di luar nalar adalah keahliannya. Dan alat perekam inilah salah satunya.


Setelah meraih alat itu, muncullah sebuah telegram di sana. Di mana pada layar telegram itu terlihat jelas Kallia melompat dari pagar akademi menuju keluar. Kemudian kembali lagi dengan membawa sesuatu.


"Sudah terbukti, kau tak dapat mengelak lagi,"


Kallia hanya menunduk malu karena aksinya ketahuan. Dan hal ini untuk pertama kalinya ia rasakan. Hingga dia menjadi begitu kesal.


"Apapun yang kamu beli dan bawa dari luar tadi, kamu harus serahkan kepada gadis berbaju hijau di ujung sana. Karena dia juga yang telah memberitahu saya aksi yang kamu lakukan ini,"


jelas guru Mo seraya menunjuk Airli yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.


"Sial!! Aku sangat sulit mendapatkan suling perak ini, dan sekarang malah harus diberikan ke orang lain. Awas saja, aku akan membalas gadis itu!!!" batin Kallia mengumpat.


Sedangkan Airli yang berada di ujung mereka dapat menyadari tatapan penuh amarah dari gadis yang tengah terduduk di atas tanah itu.


"Sepertinya gadis itu marah padaku," ucapnya kepada Rayyan serta Bimora dan Cattin.


"Biarkan saja kak, dia tak akan berani berbuat apapun. Karena guru Mo melakukan hal itu karena ia salah. Kakak sudah berbuat benar," ujar Cattin.


"Bagaimana jika ia melakukan hal yang tidak-tidak?" tanya Airli yang sedikit khawatir.


"Tenanglah! Aku akan melindungi mu," ucap Rayyan langsung.


Dan entah mengapa mendengar ucapan Rayyan barusan membuat Airli menjadi sedikit lebih tenang.


☘️☘️☘️


Seseorang tengah berdiri di balik sebuah pohon menggunakan pakaian hitam serta kain penutup wajah. Terlihat ia seperti melakukan teknik pikiran untuk menghubungi seseorang yang mungkin berada jauh darinya.


Dan benar saja, tidak berselang lama terdengar ia seperti tengah mengobrol sesuatu.


"Tuan, saya hendak melaporkan." Ujarnya kepada orang yang ia panggil tuan itu. Mungkin saja ia adalah atasannya.


"Apakah ia ada di akademi itu?" tanya suara di seberang sana.


"Saya belum dapat memastikannya tuan, karena saya belum bertemu dengan siapapun." Jawab orang berpakaian hitam.


"Bodoh!! Kamu harus segera mencari tahu. Jika aku sudah turun tangan langsung, aku pastikan kamu akan mati!!" ancam si pemimpin.


"Baik tuan, saya akan segera mencari tahu."


Kemudian setelah obrolan tersebut berakhir, terdengar orang berpakaian hitam itu berbicara dengan temannya.


"Apakah tuan menghubungimu?" tanya temannya.


"Benar, dia mengancam ku jika aku tidak dapat kabar mengenai orang yang ia cari maka ia akan membunuhku." Jawab orang berpakaian hitam.


"Sial!! Dia selalu saja mengancam kita," ujar teman orang berpakaian hitam tersebut.


Setelah itu tak ada percakapan lagi antara keduanya, mereka memutuskan untuk pergi secara berpencar.


☘️☘️☘️


"Sekarang kamu coba gerakkan rumput cahaya hijau milikmu untuk mengangkat batu itu!" Rayyan mulai menginstruksikan pelatihan kepada Airli. Sesuai dengan perintah yang guru Mo berikan. Rayyan diminta untuk mencoba melatih Airli terlebih dahulu.


Mengingat iku milik Airli adalah iku jenis tanaman maka akan sedikit sulit melatihnya. Karena Rayyan juga tidak mengerti teknik-teknik yang dimiliki oleh iku jenis ini.


Apalagi Airli sudah berada pada level di atas tiga puluh, itu menandakan ia sudah memiliki tiga teknik dari iku miliknya itu. Terlebih lagi gadis itu baru saja menyerap inti cahaya dari merpati legendaris.


Airli mulai menggerakkan rumput cahaya hijau miliknya dengan perlahan, dan ternyata tidak sesulit yang ia pikirkan. Rumput itu bergerak sesuai dengan gerakan tangan Airli. Dan akan semakin panjang ketika dirinya membuka telapak tangannya. Dan akan memendek jika ia melakukan sebaliknya.


"Teknik mengangkat rumput cahaya hijau!!!" teriak Airli.


Dan dengan cepat Airli langsung mengarahkan rumput cahaya hijau miliknya ke arah batu sesuai perintah dari Rayyan tadi, namun sayangnya meleset ke arah Bimora. Target yang seharusnya kepada batu malah teralihkan kepada Bimora.


"Ha aaaaa hwaaaaaaaa!!"


Bimora yang tidak siap sedikit pontang-panting. Ia tidak dapat menghindar dari kecepatan rumput cahaya hijau milik Airli, sehingga membuat dirinya harus pasrah saja berada dalam lilitan rumput tersebut.


Setelah berhasil melilit Bimora, Airli langsung mengangkatnya menuju lantai dua akademi MITAMA. Meletakkan Bimora di atas sana tanpa menyakiti pemuda itu. Dan kejadian itu sedikit tidak terkendalikan olehnya.


"Waw.... hebat sekali kak!!!" teriak Bimora malah begitu semangat.


Belum selesai pemuda itu berteriak, Airli kembali melilitnya lalu menariknya kembali ke bawah. Dan kejadian itu terjadi cukup cepat. Airli melepas lilitan rumput pada Bimora tepat di samping dirinya. Hingga saat ini Bimora berdiri tepat di samping ia berdiri.


Dengan kepala sedikit berkunang-kunang, Bimora mengangkat kedua jempolnya ke arah Airli hingga ia terduduk di atas tanah. Airli sedikit panik dan khawatir melihat keadaan Bimora seperti itu.


"Bimora, apa kamu baik-baik saja?" tanya Airli khawatir.


Rayyan dan Cattin yang melihat itu langsung tersenyum.


"Sepertinya kita sudah mendapatkan satu rekan lagi kak untuk ikut turnamen," ujar Cattin.


"Kamu benar, hanya saja Airli masih harus berlatih mengendalikan rumput cahaya hijau miliknya itu." Sahut Rayyan.


"Tenang kak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing." Ucap Bimora.


Kemudian ia mengeluarkan iku miliknya.


"Minuman pemulihan!!" setelah mengeluarkan minuman pemulihan miliknya, Bimora langsung meminumnya. Dan dalam waktu beberapa detik saja, Bimora sudah kembali pulih seperti sedia kala.


"Apa yang terjadi Bimora? Mengapa hanya dengan satu hentakan dan tarikan dari kak Airli kamu terlihat melemah?" tanya Cattin yang sedikit bingung sebenarnya. Karena yang Cattin tahu Bimora tidaklah selemah itu.


Meskipun berada pada level dibawah Cattin, namun Bimora memiliki daya tahan tubuh yang lumayan kuat. Pemuda itu mampu menandingi kekuatan fisik Cattin dalam waktu yang cukup lama. Namun mengapa kali ini hanya dalam beberapa menit saja ia menjadi lemah seperti ini.


"Entahlah Catt, aku bahkan tidak memberikan perlawanan ketika dililit tadi oleh rumput cahaya hijau milik kak Airli. Namun tenagaku seakan terkuras habis." Ungkap Bimora menjelaskan.


Keduanya beralih menatap Airli meminta penjelasan. Sedangkan Airli yang ditatap hanya mengangkat bahu saja.


"Jangan bertanya kepada kakak, tadi itu kakak mau meraih batu bukanlah Bimora. Tapi enggak tahu kenapa malah nyasar ke Bimora. Maaf ya," ucap Airli masih merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa kak, kalau berlatih pasti begitu. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, intinya kakak harus terus berlatih." Ujar Bimora menenangkan Airli.


"Iya kak, semakin sering berlatih maka kakak akan semakin dapat mengendalikan rumput cahaya hijau itu." Tambah Cattin menyemangati.


"Oh iya kak Ray, apakah kakak tahu kenapa energi Bimora seakan terserap tadi?" tanya Cattin kepada Rayyan.


Terlihat Rayyan yang mulai memikirkan sesuatu. Pandangannya fokus pada tangan kanan Airli. Tiba-tiba Rayyan mencoba memberikan tekanan pada tangan kanan Airli itu, Airli yang melihat itu sedikit kaget awalnya. Namun karena tidak merasakan apapun ia kembali bersikap biasa saja.


"Aishhhh....." desis Rayyan pelan.


Bimora dan Cattin saling tatap penuh tanya.


Ternyata tekanan yang Rayyan berikan kepada Airli menguap begitu saja hingga membuat tekanannya hilang seketika.


Rayyan menjadi paham sekarang.


"Jawaban atas pertanyaan Cattin ada pada rumput cahaya hijau itu sendiri. Selain sebagai alat penyerang, rumput itu juga merupakan Medan pelindung. Sekaligus penyerap energi. Teknik itu mirip dengan Aura introgasi milik Bimora, hanya saja energi lawan akan terserap jika lawan berada dalam jangkauannya. Atau dapat dikatakan berada dalam lilitannya."


"Masalahnya hanya satu, Airli masih harus lebih mengontrol pergerakan rumput cahaya hijau miliknya, karena jika ia salah menyerap energi. Maka akan berbahaya untuk orang-orang disekelilingnya." Jelas Rayan cukup panjang.


"Namun lebih baiknya kita menceritakan hal ini kepada para guru, mungkin saja penjelasan mereka bisa lebih rinci lagi," saran Rayyan.


"Baiklah kak, jika seperti itu. Ayo kita ke guru Mo!" ajak Cattin.


Dan benar saja tidak lama terdengar teriakan dari guru Mo dari lantai atas Akademi.


"Rayyan, pergi ke lapangan sparing sekarang juga!! Kalian akan berlatih dengan murid baru di sana," perintah guru Mo.


"Baik guru," jawab semuanya kecuali Airli.


Gadis itu hanya diam. Dirinya masih terus menyerap penjelasan dari Rayyan tadi. Meskipun di luar akal sehat menurutnya, namun Airli mencoba untuk menerimanya saja. Karena mengeluh hanya akan jadi percuma juga.


Dan datangnya Airli ke tempat ini mungkin memang sudah takdirnya. Airli mencoba menganggap semua ini adalah liburan panjang yang akan ia mulai jalani. Dan latihan ini mungkin saja adalah langkah awal dari cerita ini.

__ADS_1


Airli jadi teringat akan dirinya, yang memang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kuliah, sehingga membuat ia lupa untuk sekedar healing merilekskan diri.


"Jalani, nikmati lalu syukuri! Mungkin semuanya akan menjadi lebih asyik," gumam Airli dalam Hati.


__ADS_2