
"Sesaat aku menganggap mereka adalah orang-orang baik namun setelahnya aku kembali dibuat ragu. Ibu.... aku mau pulang. Karena hanya keluarga yang tidak akan pernah mengkhianati ku."
-Airli Putri Awardani-
☘️☘️☘️
(Hari ke-dua di negeri Tawar)
Airli melihat pantulan dirinya pada sebuah cermin. Mencoba menyisir rambutnya, lalu ia sanggul kecil tidak terlalu tinggi. Kemudian Airli menarik sebuah selendang berwarna hijau muda yang memang tergeletak di atas tempat tidur miliknya, setelah itu mulai mengaplikasikannya seperti sebuah hijab.
Airli baru saja membersihkan tubuhnya tadi. Airli sengaja pagi-pagi sekali langsung pergi ke tempat pemandian untuk membersihkan diri, karena sejak kemarin Airli memang belum mandi, dan hal itu pula yang membuat tubuhnya terasa begitu gerah semalaman. Untung saja dirinya dapat tidur tadi malam meskipun tangannya harus pegal karena mengipasi dirinya yang kegerahan.
Di tempat ini, untuk mandi Airli harus pergi ke tempat pemandian umum. Sebuah tempat yang digunakan oleh semua orang untuk mandi atau membersihkan diri. Pemandian ini pula tampak seperti kolam berenang. Namun lantai kolam bukanlah keramik melainkan hanya sebuah tanah yang dikeraskan. Contoh simpelnya yaitu asbak rokok dari tanah liat. Untung saja tempat pemandian untuk laki-laki dan perempuan dipisah. Jadi, tempat ini tidak terlihat seperti kolam berenang umum seperti yang sering Airli kunjungi bersama anak-anak muridnya ketika acara ekstrakurikuler renang yang sekolah adakan.
Dan hal aneh yang Airli lakukan tadi pagi adalah mandi di kolam pemandian menggunakan gayung. Gayung yang dimaksud adalah sebuah mangkok yang terbuat dari tanah liat.
Airli melakukan hal tersebut sebab ia ingin secepat mungkin selesai mandi dan berganti pakaian di tempat ini. Dikarenakan Airli memang bukan tipe orang yang suka berendam lama di kolam berenang ataupun di bathtub.
Untuk pakaian ganti yang akan Airli kenakan ternyata sudah di siapkan oleh guru Mi. Guru Mi sangat baik kepada Airli. Dan hal itu pula yang membuat Airli mencoba untuk mulai menaruh rasa percaya kepada orang-orang di sini.
Hanya saja untuk menceritakan siapakah dirinya dan darimana-kah asalnya, Airli belum mempunyai cukup keberanian.
Airli sudah selesai memakai hijabnya. Matanya kembali menyusuri pakaian serta hijab yang ia pakai.
Sebuah baju mirip seperti tunik berwarna hijau muda polos, selaras dengan selendang yang ia kenakan sebagai hijab. Hanya saja pada baju ini terdapat belahan yang cukup panjang di sisi kanan dan kirinya, yang membuat Airli harus memakai celana lagi untuk bawahannya. Karena tempat ini adalah akademi beladiri, jadi tidak ada yang menggunakan rok. Jadi mau tidak mau Airli harus mengenakan celana.
Guru Mi juga sempat berkata pada Airli tadi.
"Jika kamu suka memakai rok, kamu boleh membelinya ke pasar. Letak pasar ada di pusat kota."
Airli lebih memilih memakai pakaian yang ada saja. Jika dipikir, untuk membeli pakaian tentu akan memakai uang. Dan Airli tidak memiliki uang saat ini. lagipula apakah uang di tempat ini sama seperti di tempatnya?.
Airli memakai selendang tadi dengan sangat mudah. Karena memakainya sama seperti memakai hijab pasmina saja. Meskipun selendang ini sedikit lebih panjang dari hijab pasmina namun hal itu tidaklah jadi masalah bagi Airli.
Untung saja Airli selalu menyetok jarum pentul di dalam tasnya. Benda kecil itu memang tidak pernah keluar dari sana. Dan di situasi seperti ini di mana tidak ada jilbab instan maka benda kecil nan tajam itu sangatlah Airli butuhkan.
☘️☘️☘️
Setelah selesai berpakaian dan merasa dirinya sudah cukup rapi, Airli memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
Berjalan sendiri sembari melihat-lihat ke sekelilingnya. Senyumannya pula mulai tertarik karena melihat banyak tanaman yang indah di tempat ini.
Namun sedetik kemudian Airli teringat sesuatu.
"Oh iya, keadaan Cattin gimana ya?" tanya Airli dengan bergumam.
Airli belum mendapatkan kabar perihal keadaan Cattin hari ini, sejak terakhir kali Airli melihatnya tadi malam, dan saat itu Cattin masih pingsan.
"Aku jenguk Cattin aja deh kayanya." Ujar Airli sendiri. Setelah itu Airli langsung berjalan cepat menuju kamar tempat Cattin di rawat.
Sampainya di pintu kamar, Airli dapat melihat guru Mi, guru Santo dan guru Mo ada di dalam kamar Cattin. Ketiga orang itu tampak serius menatap Cattin.
Airli mengurungkan diri untuk masuk. Memutuskan untuk melihat dari balik pintu saja. Hingga tiba guru Mi bersuara.
"Semua ini salahku," ujar Guru Mi dengan nada menyesal.
Airli dapat melihat wajah guru Mi tampak sendu, karena guru Mi menyamping dari posisi Airli berdiri. Tatapannya tak lepas dari Cattin yang masih tergeletak di atas ranjang. Itu juga mungkin yang menyebabkan guru Mi tidak menyadari kehadiran Airli.
Ternyata Cattin masih belum sadarkan diri sejak kejadian kemarin. Para guru masih berusaha menyembuhkan Cattin melalui penyaluran energi. Namun nampaknya semua itu tidak membuahkan hasil.
Penyerapan yang dilakukan Bimora kemarin ternyata begitu melukai tubuh Cattin bahkan hingga ke energi mentalnya.
__ADS_1
"Tidak perlu menyalahkan diri sendiri!" ujar Guru Mo.
Airli memilih melihat dari balik pintu saja. Dia tidak ingin mengganggu proses pengobatan Cattin yang masih berlangsung, meskipun ia sangat ingin melihatnya dengan jarak dekat.
Para guru yang terlalu fokus dengan keadaan Cattin sampai belum juga menyadari kehadiran Airli di belakang mereka.
"Kalau saja aku tidak memerintahkan Bimora untuk menggunakan aura interogasinya ketika menanyai Airli kemarin, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi." Ujar Guru Mi lagi, kali ini diikuti isak tangis.
"Kenapa kamu melakukan itu, bukannya kamu tahu Bimora sering tidak terkontrol?." Kata dan tanya Santo sedikit memojokkan guru Mi.
"Aku hanya ingin Bimora melatih auranya. Namun aku tidak menyangka kalau akan seperti ini jadinya." Jawab guru Mi sebagai pembelaan diri.
"Lagipula bukan kah kamu yang meminta kami untuk mencari tahu darimana kah gadis itu? Aku sudah bertanya kepadanya kemarin, bahkan Cattin juga sudah mencobanya. Namun gadis itu hanya diam saja. Itu sebabnya aku memutuskan mencoba cara lain." Jelas Guru Mi balik memojokkan Santo.
Mendengar ucapan guru mi barusan Santo hanya diam. Tidak bersuara.
Di sisi lain, Airli menjadi mengerti sekarang. Ternyata mereka semua memang sengaja meminta Bimora menanyai dirinya kemarin. Padahal mereka tahu benar kalau Bimora sering tidak terkontrol dengan aura interogasi yang mereka katakan tadi.
Apakah mereka tidak memikirkan resiko akan keselamatannya?.
Airli memilih berjalan menjauh dari ruangan itu. Dengan perasaan sedikit kecewa. Tadinya Airli mencoba percaya kepada merpati yang mengatakan orang-orang di sini adalah orang-orang baik. Dan ia hendak mengucapkan terimakasih kepada semua orang, terkhusus guru Mi karena telah mengurusnya dengan sangat baik sejak kehadirannya ke tempat ini. Namun setelah mendengar perkataan dari guru Mi tadi, Airli menjadi ragu.
Airli berjalan dengan terburu-buru. Berusaha secepatnya agar sampai ke dalam kamarnya. Dadanya juga mulai terasa sesak, bahkan matanya juga ikut memanas.
Rayyan yang melihat Airli tengah berlari tidak terarah langsung menghampiri gadis itu. Tentu saja mengejar Airli bukanlah hal sulit bagi Rayyan.
"Kamu kenapa?" tanya Rayyan, ketika sudah berhasil menyamai langkah Airli. Nada bicaranya terdengar khawatir. Karena melihat mata Airli memerah seperti sedang menangis.
"Enggak papa," sahut Airli datar. Kemudian lanjut berjalan.
Namun Rayyan tidak membiarkan Airli berlalu begitu saja, pemuda itu langsung mencekal tangan Airli. Dan sontak hal tersebut membuat Airli tersentak.
Airli menghentak tangan Rayyan yang masih menahan tangannya. Meskipun terlapisi oleh kain baju di lengannya, namun tetap saja Airli merasa tidak nyaman.
"Jaga batasan kamu!" ucapnya dingin.
"Memang benar kemarin kamu sudah menolongku. Tapi bukan berarti kamu bisa kurang ajar sesukamu seperti ini!" ucap Airli dengan nada dingin.
Rayyan terdiam. Ia tidak menyangka Airli akan merespon sedingin ini, padahal niatnya tidak seburuk pemikiran gadis itu.
"Maaf... aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin bicara baik-baik dengan mu, itu saja." Ucap Rayyan berusaha menjelaskan maksudnya.
Airli membuang pandangannya. Dirinya begitu tidak nyaman sekarang, entah mengapa satu persatu pemikiran buruk mulai menghantuinya.
Wajar saja. Dirinya baru saja datang ke tempat ini. Dan kemarin dirinya hampir saja kehilangan nyawanya karena perbuatan orang-orang yang ada di sini.
"Tidak perlu meminta maaf. Mungkin aku yang terlalu berlebihan. Oh iya, untuk kemarin terima kasih karena sudah menolong ku. Suatu hari nanti aku pasti akan membalasnya," ujar Airli. Setelahnya ia langsung berlalu meninggalkan Rayyan yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Sedangkan di dalam kamar Cattin, para guru kembali berdiskusi.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya guru Mi kepada kedua rekannya itu.
Terlihat Santo masih diam, seakan memikirkan sesuatu.
"Apa yang kamu pikirkan kakak?" tanya guru Mo kepada Santo.
"Ketika kamu membicarakan tentang gadis itu aku jadi mengingat sesuatu." Ucap Santo.
Guru Mi serta guru Mo menjadi penasaran.
"Apa itu?" tanya keduanya bersamaan.
__ADS_1
"Terlepas siapakah gadis itu darimana-kah dia berasal, sepertinya ada satu hal penting yang kita lewatkan di sini."
Semuanya kembali terdiam. Menunggu penjelasan Santo atas ucapannya barusan. Benar saja, sesaat kemudian Santo langsung menjelaskan.
"Rumput cahaya hijau adalah tipe inti kekuatan pengendali, serta penyembuh. Dan hal tersebut tidak menutup kemungkinan tipe ini bisa juga melakukan pemulihan." Jelas Guru Santo.
"Minuman pemulihan milik Bimora tidak bekerja, hal ini dikarenakan dirinya pula yang menyerap energi mental milik Cattin. Kita harus bisa mencoba energi pemulihan tipe lain." Tambah guru Mo.
"Tipe pemulihan lain?" ulang guru Mo.
Santo mengangguk pelan.
"Siapakah selain Bimora yang memiliki tipe IKU pemulihan?" tanya guru Mo kepada Santo.
"Kemarin ada seorang pemilik IKU teratai pemulihan yang mendaftar di akademi MITAMA. Namun dia masih berada di level 20, jika kita mencoba dia melakukan pemulihan terhadap Cattin aku khawatir akan membahayakan diri gadis itu sendiri." Ucap dan jelas Santo.
"Lalu siapakah yang dapat membantu Cattin?"
"Kita bertiga adalah ikuator tipe penyerang bukan tipe pemulihan,"
"Alumni akademi MITAMA juga semuanya adalah tipe penyerang, belum ada tipe pemulihan yang kita terima menjadi murid selama ini selain Bimora." Ucap guru Mo.
"Apakah tipe IKU pemulihan lain yang kamu maksud itu Airli?" tanya guru Mi setelah paham kemanakah maksud penjelasan Santo.
"Airli?"
"Apakah gadis itu mengerti tentang ini?" tanya guru Mo ragu.
"Mengingat dirinya yang bahkan merasa asing dengan inti kekuatannya sendiri. Bahkan aku merasakan sepertinya dia tidak berasal dari sini. Namun entahlah, aku hanya berpendapat begitu." Pikir guru Mo.
"Bukankah sudah ku katakan di awal tadi? Terlepas siapapun dia, dari mana dia, itu bukan hal penting untuk saat ini. Kesembuhan Cattin adalah yang utama."
"Jika dia belum paham cara menggunakan IKU miliknya, kita bisa mengajarkannya. Dia hanya perlu bimbingan." Tegas Santo.
"Namun, apakah dia mau?" Ucap guru Mo tidak yakin.
"Apa salahnya mencoba bukan?"
"Baiklah, aku akan menemui gadis itu." Ucap guru Mi. Kemudian ia berjalan keluar dari kamar Cattin untuk menemui Airli.
☘️ ☘️ ☘️
Airli yang duduk di atas ranjangnya mencoba untuk tidak bersedih. Airli berusaha untuk berpikir hal baik saja. Karena mau bagaimanapun orang-orang yang ada di tempat ini sudah pernah menyelamatkan nyawanya ketika di hutan kemarin. Perihal yang terjadi pada Bimora, mungkin ada sebuah kesalahan yang Airli pun tidak mengerti kejelasannya.
Airli mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Airli melihat pukul 12:56 di layar.
"Aku sudah hampir dua puluh empat jam di tempat ini, tapi kenapa jam di hp ku hanya bertambah kurang dari satu jam." Gumam Airli masih bingung.
Airli menatap wallpaper yang ada di ponselnya. Terlihat jelas foto keluarga yang ia ambil ketika lebaran kemarin. Terlihat semua orang tersenyum bahagia di sana, termasuk dirinya.
"Airli kangen Ibu, Ayah, Asrul juga Alfandi. Walaupun kadang-kadang Asrul suka ngeselin, tapi kakak kangen kamu dek," ucap Airli dengan wajah sendu. Tanpa terasa air matanya juga ikut menetes.
Airli memeluk ponselnya dengan erat. Beranggapan seakan-akan tengah memeluk keluarganya.
"I miss you all."
Di tengah kesedihannya, tiba-tiba Airli teringat sesuatu hal.
"Cermin!"
"Oh iya, aku terseret ke tempat ini karena cermin itu. Aku yakin, aku bisa kembali ke rumah dengan cermin itu pula." Pikir Airli.
__ADS_1
Airli menghapus air matanya kasar, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Setelah itu kalian pasti paham kemanakah Airli akan pergi.