PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)

PUTRI ALAM (24 Hari Di Negeri Tawar)
Bab 8


__ADS_3

"Yang namanya langkah, perjalanan, maut adalah takdir Tuhan. Mungkin pula inilah alasan mengapa aku sampai ke tempat ini. Semuanya merupakan takdir."


-Airli Putri Awardani-


☘️☘️☘️


Airli berjalan dengan mengendap-endap menuju pintu gerbang akademi MITAMA. Berusaha untuk keluar dari tempat itu tanpa diketahui oleh siapapun.


Airli bergerak membuka pintu keluar. Kemudian mencoba mendorong pintu tersebut dengan pelan. Beruntunglah Airli saat ini, ternyata pintu tersebut tidak terkunci. Senyumnya langsung mengembang ketika berhasil keluar dari sana.


Setelah keluar, tidak menunggu lama Airli langsung berlari menjauh dari tempat itu. Ia tidak ingin aksi kaburnya ini diketahui oleh siapapun.


☘️☘️☘️


Setelah lumayan lama berjalan dan melewati beberapa perkebunan tibalah Airli pada daerah pepohonan, sepertinya ini sudah memasuki hutan. Tapi sepertinya hutan ini bukanlah hutan yang kemarin. Tempat dimana Airli hampir dimakan harimau.


Airli berjalan sudah lumayan jauh sebenarnya, namun anehnya berbeda ketika berjalan di hutan kemarin, kali ini Airli tidak merasakan lelah sama sekali. Malahan Airli rasakan badannya terasa semakin segar.


Tiba-tiba langkah Airli terhenti karena teringat sesuatu.


"Oh iya, aku mau cari cermin itu kemana ya? Aku kan engga tahu tempat ini."


"Ckk, lagian aku sih pake acara kabur-kaburan kalau nyasar gimana coba?" Airli malah mulai menyalahkan dirinya.


Airli mencoba menepi terlebih dahulu, duduk di bawah sebuah pohon. Pohon yang sangat rindang, sehingga duduk dalam naungan pohon ini terasa begitu nyaman. Airli mulai mengambil batu-batu kecil dan melemparinya secara asal. Dirinya mencoba memikirkan sebuah rencana.


Airli hendak bertanya kepada seseorang perihal jalan menuju hutan yang kemarin. Namun sayangnya tidak ada seorangpun yang lewat hutan ini. Sampai satu ketika tangan Airli tanpa sengaja menyentuh tanah akibat terlalu sibuk melempari kerikil tadi.


Secara langsung sebuah gambaran muncul di hadapan Airli. Sebuah potongan gambar yang berbeda-beda tempat. Bahkan ada juga yang terlihat seperti sebuah Vidio. Akan tetapi gambar tersebut bukanlah sebuah bayangan di dalam kepalanya, gambaran tersebut lebih seperti layar televisi yang benar-benar ada di depan matanya. Airli seperti diperlihatkan sesuatu di layar tersebut.


"Aaa....pa ini?" gumam Airli.


Tangannya juga ikut terangkat karena kaget, akibatnya ia tidak lagi menyentuh tanah. Bersamaan dengan itu, gambar yang Airli lihat tadi pun ikut menghilang.


"Loh, kok hilang?" tanya Airli heran.


Entah pemikiran dari mana Airli malah mencoba untuk menyentuh tanah kembali. Dan benar saja, gambaran tadi kembali muncul. Airli mencoba mengangkat lagi tangannya, dan gambar tersebut kembali hilang. Sekarang Airli menjadi paham. Gambaran tersebut akan muncul ketika Airli menyentuh tanah.


"Jadi seperti itu cara kerjanya." Ujar Airli paham.


Detik kemudian Airli memikirkan suatu hal. Airli mencoba mencari tahu keberadaan cermin yang ia cari melalui penglihatan ini.


Airli mencoba fokus membayangkan cermin tersebut, setelah itu ia kembali menyentuh tanah. Dan benar saja, secara cepat Airli dapat menemukan lokasi cermin itu. Cermin itu tergeletak begitu saja di bawah sebuah pohon. Tertutupi oleh beberapa rerumputan.


Setelah menemukan lokasi yang ia cari, sekarang tugasnya adalah mencari tahu denah perjalanan menuju ke tempat tujuan. Airli kembali memfokuskan pikirannya, dengan tangan masih menyentuh tanah. Dan seketika gambaran perjalanan yang harus Airli lewati mulai tampil seperti sebuah video.


Pada tampilan tersebut, terlihat dari tempat Airli berdiri sekarang ada beberapa tanjakan yang harus Airli lewati untuk sampai ke tempat tersebut.


"Sepertinya tidak jauh lagi. Aku harus bergegas ke sana." Ucap Airli.


Kemudian tanpa menunggu lama, Airli langsung berlari menuju arah yang telah ia lihat tadi. Airli begitu semangat sekali, karena menurutnya jika cermin tersebut telah berada di tangannya ia pasti akan segera pulang ke rumah.


☘️☘️☘️


Airli sudah sampai ke tempat tujuannya. Dan apa yang ia lihat sekarang benar-benar sama persis dengan apa yang ia lihat pada penglihatannya tadi. Bahkan tidak ada perbedaan sedikitpun.


Airli mencoba menelusuri rerumputan di bawah pohon seperti pada penglihatannya tadi. Berharap akan menemukan cermin yang ia cari, namun sayangnya cermin itu tidak ia temukan.


"Kok engga ada ya? Aku yakin banget tempat yang aku lihat tadi itu di sini," ucap Airli yakin.


"Bahkan semua yang ada di sini sama persis dengan apa yang aku lihat tadi. Tapi kenapa cermin itu engga ada?" Airli masih bertanya-tanya.

__ADS_1


Jujur Airli mulai bingung, bahkan mulai mempertanyakan apakah yang ia lihat tadi hanyalah ilusi saja. Tapi di sisi lain ia juga merasa yakin kalau yang ia lihat itu nyata.


Airli mencoba kembali menyentuh tanah. Kali ini tanah yang ia sentuh adalah tanah bekas cermin itu tergeletak, berdasarkan apa yang ia lihat tadi.


Dan...


Sat.... set.... sat.... set....


Sebuah tampilan video kembali muncul. Airli melihat ada seorang wanita yang telah menemukan cermin itu lebih dulu darinya. Wanita itu memakai pakaian serba merah. Kepalanya tertutupi topi seperti topi koboi, wajahnya ia tutupi dengan sebuah kain. Sehingga hanya matanya saja yang dapat Airli lihat. Airli juga dapat melihat ada sebuah jepitan rambut kecil yang menyelip di sisi kanan dekat telinga gadis itu. Jepitan tersebut berwarna merah juga.


"Siapa orang ini?" tanya Airli entah kepada siapa.


Namun entah apa yang terjadi tiba-tiba tampilan video itu seakan hendak menjawab pertanyaan Airli. Seketika muncul sebuah tulisan-tulisan yang sangat asing bagi Airli. Berupa huruf-huruf aneh menurutnya bahkan inilah pertama kalinya Airli melihat huruf seperti itu. Di samping tulisan-tulisan tersebut gambar wanita itu juga muncul.


Namun anehnya seakan dapat pemahaman secara instan. Airli dapat dengan mudah membaca tulisan tersebut.


"Anjanika, umur dua puluh satu tahun. Merupakan Ikuator tipe pengendali dengan inti kekuatan hipnotis. Berada pada level 60 yaitu level master tingkat lanjut."


Airli hanya mengangguk-angguk saja setelah membaca penjelasan itu. Lagipula dirinya juga tidak ingin mengetahui sejauh itu perihal biodata gadis tersebut. Pertanyaan mengenai siapa gadis itu hanyalah lontaran tanpa sengaja yang keluar dari mulutnya tadi.


Namun entah mengapa setelah membaca penjelasan mengenai inti kekuatan dan jenisnya tadi. Airli menjadi penasaran. Karena di akademi MITAMA juga semua orang membahas perihal itu. Dan dirinya sama sekali tidak paham.


"Apa itu IKU atau inti kekuatan?" tanya Airli dengan fokus. Tangannya masih menyentuh tanah.


Dan benar saja sedetik kemudian keluar tulisan penjelasan seperti tadi. Di ikuti tampilan gambar dari beberapa warna yang bercahaya membentuk lingkaran. Airli dapat melihat ada empat warna di sana yaitu putih, kuning, hijau, biru.


"Berasa browsing di Mbah Google," gumam Airli.


"Inti kekuatan atau IKU merupakan sebuah energi dasar yang ada di dalam diri setiap manusia. Energi ini dapat ditingkatkan melalui berbagai pelatihan sesuai tipe IKU yang dimiliki. Setiap kenaikan sepuluh level inti kekuatan maka harus dimasukkan energi tambahan dari Iku hewan yang sesuai dengan inti kekuatan yang ada di dalam diri. Jika tidak ditambah energi iku dari hewan, maka inti kekuatan yang dimiliki tidak akan berkembang."


Airli mencoba memahami setiap kata demi kata dari tulisan-tulisan tersebut. Airli mencoba mengaitkan penjelasan itu dengan dirinya. Karena tentu saja ada alasan mengapa dirinya dapat sampai ke tempat ini, bahkan dapat melakukan hal secanggih ini menurut Airli.


Airli menghela napas dalam kemudian setelahnya ia kembali mengeluarkan pertanyaan.


Namun anehnya, tidak ada tulisan yang muncul. Tidak ada jawaban untuk pertanyaan yang ia ajukan kali ini.


"Kok gak ada jawabannya sih?"


Airli mengangkat tangannya kemudian mencoba menyentuh tanah lagi. Airli pun mengulang kembali pertanyaannya. Namun ternyata tetap sama. Tidak ada jawaban sama sekali. Dan hal itu membuat Airli sedikit kesal.


"Giliran di tanya beneran malah gak jawab. Gimana sih?"


"Paketnya habis!"


"Atau jaringan hilang?"


Airli malah mengomel sendiri.


Tiba-tiba sebuah suara memanggil nama Airli.


"Kak Airli,"


Airli menoleh ke sumber suara. Airli sedikit terkejut, namun detik kemudian ia dapat langsung menetralkan keterkejutannya.


"Bimora," ujar Airli. Airli beranjak berdiri kemudian berjalan mendekati Bimora.


"Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Airli. Airli curiga pemuda itu sengaja mengikutinya.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu, kakak kenapa ada di sini?" Bimora malah membalikkan pertanyaan kepada Airli.


"Ini hutan kak, akan berbahaya jika kakak berada di sini sendirian." Ujarnya lagi.

__ADS_1


Airli menghela napas pelan. Memang dirinya sudah salah karena pergi ke tempat ini sendirian. Apalagi secara diam-diam. Mengingat orang-orang yang yang ada di Akademi MITAMA yang telah beberapa kali menolongnya. Rasanya Airli terlalu egois.


"Aku hendak mencari cermin, Bimora" ucap Airli mulai jujur.


"Cermin? Cermin apa?"


Mungkin memang waktunya Airli jujur perihal sebab ia sampai ke tempat ini.


"Cermin yang membawa ku sampai terseret ke tempat ini." Ucap Airli dengan jujur.


"Apa??"


"Terseret oleh cermin? Bagaimana mungkin. Sulit dipercaya." Ujar Bimora sedikit bingung.


"Tapi itulah kenyataannya Bimora. Itulah mengapa kemarin ketika kamu bertanya, aku bingung harus menjawab apa." Jelas Airli lagi.


Dan karena ucapan Airli itu, Bimora jadi teringat kejadian kemarin. Ketika dirinya kehilangan kendali atas aura interogasi miliknya sendiri.


"Maafkan aku kak, karena aku kau hampir terluka kemarin." Ucap Bimora dengan tulus.


Airli tersenyum.


"Tidak papa. Aku tau kamu tidak sengaja melakukan itu," ucap Airli.


"Oh iya, kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Airli masih heran dan penasaran dengan keberadaan Bimora di tempat ini.


"Aku hendak pergi ke hutan merpati, untuk mencari buah seribu pemulihan. Aku rasa hanya buah ini yang dapat memulihkan Cattin." Jawab Bimora.


Mendengar nama hutan yang disebutkan Bimora tadi Airli jadi teringat dengan merpati yang sempat ia tolong tempo hari.


"Bolehkah aku ikut denganmu?" tawar Airli.


"Tentu saja," jawab Bimora langsung.


Keduanya hendak berjalan namun Bimora menghentikan langkahnya.


"Apakah orang di akademi tahu kakak keluar?"


Mendengar pertanyaan Bimora, Airli langsung nyengir saja. Membuat Bimora bingung.


"Belum."


"Ya ampun! Orang-orang pasti akan sibuk mencari mu kak. Lebih baik aku memberitahukan keberadaan mu kepada kak Rayyan. Supaya mereka tidak khawatir." Ujar Bimora.


"Bagaimana caranya?" tanya Airli bingung.


"Mau balik lagi ke akademi, gitu?"


"Atau mau pake handphone?"


Apa di sini ada telepon?. Batin Airli.


Mendengar Airli yang mengoceh Bimora hanya terkekeh kecil.


"Tidak perlu kembali ke akademi. Cukup menggunakan teknik pikiran saja."


Setelah mengatakan itu Bimora langsung memejamkan matanya. Tangannya bersedekap di dada.


Sedangkan Airli masih bertanya-tanya atas ucapan Bimora tadi.


"Teknik pikiran? Kayak telepati atau gimana sih?"

__ADS_1


"Tapi lumayan juga sih kalau beneran bisa, gak perlu beli kuota internet udah bisa ngobrol jarak jauh," ujar Airli seraya tersenyum.


__ADS_2