
"Ternyata semua yang terjadi bukanlah mimpi. Ini nyata. Namun aku sangat bersyukur, meskipun sempat mengalami kesulitan, akhirnya aku ditemukan oleh orang-orang baik."
-Airli Putri Awardani-
☘️☘️☘️
Airli duduk menatap jauh keluar jendela. Pandangannya menatap ke arah beberapa orang yang tengah berjalan kesana-kemari. Sibuk dengan urusan mereka, mungkin.
"Putri... Putri."
Sebuah panggilan terasa familiar terdengar oleh Airli.
Airli bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela. Mencoba memastikan perihal suara tersebut.
"Apa kau baik-baik saja, Putri?" ucap suara itu lagi.
"Merpati," ujar Airli dengan rasa senang. Karena melihat merpati yang sempat ia tolong tadi juga selamat.
"Aku senang melihatmu baik-baik saja Putri. Bahkan kau terlihat sehat." Ungkap si merpati.
"Alhamdulillah, aku sehat." Ujar Airli bersyukur.
"Alhamdulillah?" tanya Merpati.
Airli mengangguk.
"Alhamdulillah adalah kalimat syukur kepada Tuhan." Jelas Airli.
"Oh iya merpati," ujar Airli, terlihat Airli seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa Putri?" tanya merpati seolah mengerti Airli sedang memikirkan sesuatu hal.
"Apakah kau tau tentang tempat ini? Aku orang baru di sini, jadi wajar kan bila aku tidak langsung percaya kepada seseorang."
"Kau tenang saja putri! Semua orang yang ada di sini baik." Ucap Si Merpati yakin.
"Bagaimana kamu tahu? Apakah kamu sudah mengenal mereka sebelumnya?”
"Belum." Jawabnya cepat.
"Namun aku memiliki satu kelebihan, dimana tidak semua merpati dapat melakukannya."
"Kelebihan? Kelebihan seperti apa?" tanya Airli tampak penasaran.
"Aku dapat melihat aura dari manusia. Baik atau tidaknya kepribadian mereka dapat terlihat dari aura yang terpancarkan." Jelas merpati.
"Begitukah? Lalu aura seperti apa yang kamu lihat dari diriku?" tanya Airli yang malah semakin penasaran.
"Aku tidak dapat menjawabnya."
"Loh, kok gak bisa? Kenapa?"
Belum sempat Airli menyerbu si merpati dengan pertanyaannya lagi, si merpati malah terbang menjauh. Meskipun dapat terlihat jelas merpati itu masih kesulitan untuk terbang.
"Aku akan menemui Putri lagi nanti. Jaga diri Putri. Percayalah, kamu berada di tempat yang tepat." Ucapnya dengan suara yang semakin pelan.
Di sisi lain. Tepat di bawah pohon. Rayyan tengah melakukan tugasnya untuk mengangkut air. Mengangkut air dari sungai menuju kolam air penyimpanan di akademi MITAMA. Kolam air juga merupakan sumber air di akademi ini.
Mengapa Rayyan yang bertugas melakukan tugas tersebut. Hal itu dikarenakan dirinya yang memiliki Iku elementer. Dimana mengendalikan air bukanlah hal sulit baginya.
Meskipun terlihat sibuk dengan tugasnya, namun pemuda itu masih sempat memperhatikan Airli yang terlihat dari bawah sini. Terlihat gadis itu tengah berdiri di depan jendela kamar guru Mi.
"Apa yang dia lakukan di situ?" tanya Rayyan dalam hati.
Dan tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalanya. Rayyan memutar jarinya, sehingga terbentuk sebuah putaran air kecil. Setelahnya ia mengarahkan putaran tersebut ke arah Airli yang tengah berdiri di depan jendela.
"Teknik hujan rintik," ucap Rayyan pelan.
Dan benar saja beberapa detik kemudian Airli merasakan wajahnya seperti dijatuhi tetesan air.
"Eh hujan ya?" tanya Airli heran. Pasalnya langit terlihat begitu cerah. Bahkan awan hitam sama sekali tidak ada.
Airli mengeluarkan tangannya dari jendela. Berusaha memastikannya kembali. Namun ternyata air hujan tadi memang tidak lagi menetes.
"Kok udah gak ada. Padahal aku ngerasain jelas muka ku kena rintikan hujan." Ucap Airli sedikit bingung.
Airli mendongakkan kepalanya ke luar jendela. Mencoba mencari apakah ada ranting pohon di sana. Airli berpikir mungkin saja air rintikan tadi berasal dari air embun di ranting-ranting pohon tersebut.
Namun ternyata tidak ada satupun pohon di dekat kamarnya. Lagipula cuaca juga terik. Kalaupun ranting pohon berembun, tentu saja sekarang sudahlah mengering.
__ADS_1
"Kok aneh ya? Air dari mana sih?"
Rayyan tersenyum lebar melihat wajah kebingungan dari Airli. Entah mengapa wajah Airli ketika bingung terlihat begitu lucu.
Sedangkan Airli yang masih bingung, memilih untuk kembali duduk di atas ranjangnya saja.
Tidak berapa lama terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar Airli. Airli langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat Bimora tengah berdiri di ambang pintu, yang memang tidak tertutup. Ia membawa sebuah nampan di tangannya.
"Bolehkah aku masuk?" tanyanya sopan.
Airli membenarkan posisi duduknya, hingga menghadap ke arah Bimora. Airli mengangguk seraya membolehkan Bimora untuk masuk.
Bimora masuk dengan senyuman manis. Pemuda ini, mengingatkan Airli pada adiknya. Yaitu Asrul. Entah mengapa setelah mengalami beberapa hal menyulitkan sebelumnya, Airli jadi rindu dengan keluarganya. Ayah, ibu serta adik-adiknya pasti begitu mengkhawatirkan dirinya saat ini, apalagi Airli yang menghilang dari rumah secara tiba-tiba.
"Kak, aku bawakan makanan untukmu." Ujar Bimora membuyarkan lamunan Airli.
"Kak?" tanya Airli heran.
Bimora mengangguk.
"Bolehkan aku memanggilmu dengan panggilan kakak?" tanya Bimora dengan senyuman tulus.
Pemuda itu lalu duduk di samping Airli. Meletakan nampan berisikan makanan tadi ke hadapan Airli. Airli pun langsung menerimanya.
"Terima kasih," ucap Airli.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, kak?" ujar Bimora menagih.
Airli terkekeh kecil. Kemudian mengangguk.
"Tentu saja boleh. Lagipula ketika melihat kamu, aku jadi teringat adikku." Jawab Airli.
Bimora sangat senang mendengar jawaban Airli. Memiliki seorang kakak adalah keinginannya sejak dulu. Meskipun Rayyan selalu menganggap Bimora seperti adik kandungnya sendiri, namun Bimora selalu menginginkan seorang kakak perempuan.
Setelah itu, Bimora kembali bertanya kepada Airli.
"Kakak punya seorang adik?"
"Punya, dua orang adik lebih tepatnya. Keduanya laki-laki. Namanya Asrul dan Alfandi. Asrul sepertinya seumuran dengan mu." Jawab dan ujar Airli.
Bimora hanya mengangguk saja. Setelahnya, dirinya teringat sesuatu. Yaitu tugasnya menanyai dari manakah Airli berasal. Sebenarnya tugas Bimora masuk ke dalam kamar guru Mi yang sekarang sudah menjadi kamar Airli ini bukan hanya untuk mengantar makanan saja, namun juga sekalian mencari tau tentang Airli.
Sedangkan Airli menoleh ke nampan pemberian Bimora tadi. Terlihat ada buah di atas nampan tersebut. Namun buah itu terlihat aneh, bentuknya panjang seperti pisang namun bergerigi seperti buah naga. Warnanya hijau kekuningan.
"Buah apa ini?" tanya Airli bingung.
Pasalnya dirinya yang sudah berumur 20 tahun ini belum pernah melihat buah semacam ini, apalagi memakannya. Inilah pertama kalinya.
"Oh, itu buah Napasi. Tenang saja, makanan ini tidak beracun. Malah sebaliknya, buah ini dapat memulihkan tubuh serta memberikan rasa kenyang cukup lama." Ucap dan jelas Bimora. Pemuda itu seakan mengetahui keraguan di mata Airli.
"Makan saja!" tambahnya lagi.
Airli meraba perutnya. Jujur, dirinya memang sangat lapar saat ini. Mengingat dirinya memang belum mengisi perutnya sejak pulang dari mengajar tadi. Apalagi perjalanan yang ia lalui setelah terseret oleh cermin tadi juga sangatlah menguras tenaga.
Akhirnya Airli mencoba menghapus keraguannya. Perlahan memasukkan buah Napasi ini ke dalam mulutnya. Memakan sedikit daging dari buah itu. Mengunyahnya dengan perlahan-lahan.
"Bagaimana, enak bukan?" tanya Bimora meminta pendapat.
Airli mengangguk. Ternyata rasa dari buah tersebut tidak seburuk pemikirannya. Rasanya enak. Manis dan lembut. Rasanya mirip ubi jalar ungu yang di rebus, namun buah ini lebih lembut.
Airli memakan lagi buah tadi, bahkan hingga meninggalkan setengahnya saja.
"Kak Airli," panggil Bimora.
"Iya, kenapa?" tanya Airli.
"Bolehkah aku menanyakan suatu hal?" tanya Bimora dengan hati-hati.
Airli beralih menatap Bimora lalu tersenyum sekilas. Airli dapat menebak apa yang akan ditanyakan pemuda ini padanya nanti.
Sebenarnya sudah sejak tadi, semua orang menanyakan prihal asal dirinya. Kenapa pula dirinya sampai ada di tempat ini. Dari mana ia berasal. Dan yang finalnya yaitu pakaian jenis apa yang Airli kenakan.
Sebenarnya Airli bukan tidak mau menjawab pertanyaan mereka semua. Airli ingin sekali. Namun ia juga bingung. Airli bingung harus menjelaskannya dari mana.
Apa mungkin mereka akan percaya jika Airli menjelaskan kalau dirinya dari zaman yang lebih modern dari zaman saat ini. Airli terseret ke sini akibat mengusap sebuah cermin.
Namun pilihan yang Airli ambil hanyalah diam. Meskipun diam bukanlah sebuah jawaban, nyatanya sejak guru mi tadi bertanya dengannya Airli hanya memilih diam saja.
Mungkin karena itu kali ini Bimora-lah yang diperintahkan untuk bertanya kali ini.
__ADS_1
"Bolehkah aku bertanya terlebih dahulu, sebelum kamu menanyakan pertanyaan mu Bimora?" tawar Airli dengan senyuman.
Terlihat Bimora terdiam sejenak. Seperti tengah memikirkan sesuatu.
Namun setelahnya ia mengangguk membolehkan.
Airli menunjuk ke luar jendela. Terlihat Rayyan berdiri di ujung sana.
"Apa yang pemuda itu lakukan?" tanya Airli.
Bimora melihat siapa yang dimaksud oleh Airli. Kemudian Bimora kembali menatap Airli.
"Dia kak Rayyan, pemilik Iku elementer. Ia mengangkut air menggunakan kekuatannya untuk memudahkan murid di akademi memakai air." Jawab Bimora menjelaskan.
"Apa di sini enggak ada keran air gitu?"
Bimora terdiam. Karena bingung dengan pertanyaan Airli kali ini.
Melihat itu, Airli kembali bersuara. Beranggapan bahwa Bimora tidak paham dengan pertanyaannya.
"Oke lupakan! Pertanyaan kedua, di tempat ini manusia bepergian pakai apa?. Kuda kah? Atau gajah kah?" tanya Airli serius.
Namun Bimora malah terkekeh mendengar pertanyaan Airli satu ini.
"Loh, kok malah ketawa sih. Kakak serius,"
"Tentu saja aku tertawa. Di tempat ini hewan tidak dijadikan tunggangan. Manusia dapat melakukan perjalanan menggunakan IKU mereka masing-masing. Ada yang terbang, lari cepat bahkan melompat seperti ninja."
"Berarti kamu kenal dong sama ninja Hatori?" tanya Airli lagi entah kemana hubungannya.
"Ninja Hatori?" ulang Bimora. "Aku baru dengar nama itu." Ucap Bimora.
"Masa gak kenal sih!!"
"Kalau Jeki Chen kenal gak?"
"Enggak!"
"Lee min hoo?"
"Sejenis ikan ya?" tanya Bimora seakan berpikir..
"Bukan!! Lee min hoo itu oppa Korea. Masa gak kenal negara Korea sih!!" serbu Airli mulai kesal.
"Negara? Apa itu negara?" tanya Bimora semakin bingung.
Airli menghela napas panjang. Ternyata dirinya benar-benar tercampak ke tempat antah berantah. Apa mungkin ini masa lalu? Atau malah negeri dongeng? Mengingat nama negeri ini sama sekali tidak pernah ia dengar selama ini.
"Kalau begitu ini tahun berapa?" tanya Airli.
"Di tempat ini tahun tidak berkaitan dengan angka." Jawab Bimora yang membuat Airli semakin bingung.
Airli memegang kepalanya. Dirinya semakin frustasi. Ternyata bertanya kepada manusia juga tidaklah memberikan jawaban atas pertanyaannya.
"Bisa pesen taxi online gak sih di sini. Aku mau pulang?" ucap Airli dengan nada lemas.
"Tak..taksi onlen?" ulang Bimora. "Apakah itu jenis makanan kak?" tanya pemuda itu dengan polosnya.
Airli menatap Bimora datar.
"Pertanyaan terakhir." Ucap Airli datar dan pelan.
"Apa itu?"
"Apakah kamu pernah mendengar nama negara Indonesia?" tanya Airli serius.
"Tidak pernah," jawab Bimora langsung.
"Jadi gak kenal dong sama pak Jokowi?" keluh Airli.
"Enggak," jawab Bimora lagi.
"Enggak mulu. Jawaban lain gak ada?"
Bimora bingung harus berkata apa lagi, pasalnya dia sudah menjawab sesuai dengan pengetahuannya saja sejak tadi. Karena memang pertanyaan Airli tadi, semuanya terdengar aneh menurut Bimora. Namun mengapa Airli malah terlihat kesal.
Terlihat Airli meraih sebuah benda yang tidak pernah Bimora lihat selama hidupnya. Benda itu Airli sentuh dan mengeluarkan cahaya.
"Apa yang mau kakak lakukan? Lalu, benda apa itu?" tanya Bimora penasaran.
__ADS_1
Airli menoleh ke arah Bimora lalu berkata dengan dingin.
"Nelpon Dokter. Mau periksa otak, kayanya aku mulai gila."