
Maaf untuk para pembaca. Autor beberapa hari ini tidak bisa update chapter di karenakan sedang sibuk memperingati seribu hari kematian ibu mertua, setelah itu ada masalah keluarga Karena adik ipar sedang ada masalah perceraian dengan suami nya.
Jadi mohon di maklumi ya
. . . . . . . . .
Setelah setengah jam menempuh perjalanan. Edward dan Mayleen akhirnya telah sampai di sebuah restoran.
Edward turun terlebih dulu dari mobil dan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Mayleen.
"Silahkan tuan putri." ucap Edward mengulurkan tangan nya.
"Terimakasih." ucap Mayleen menyambut uluran tangan Edward sambil tersenyum.
Deg
Deg
Deg
"Oh..jantung ku." ucap Edward dalam hati melihat senyum manis Mayleen.
"Sial, kenapa senyum nya bikin aku terpesona." imbuhnya lagi.
"Mari tuan putri ku." ucap Edward mempersilahkan Mayleen masuk sambil mengandeng tangan Mayleen dengan mesra.
"Em.." ucap Mayleen mengangguk.
Setelah mengenal Edward cukup dalam, ternyata Edward sangat menyenangkan dan selalu membuat jantung nya berdebar debar.
"Ah...kenapa jantung ku selalu berdebar debar jika dia menyentuh tangan ku Atau berada di dekat ku. rasanya jantung ku ingin melompat keluar dari tempat nya. Sial sial sial, jangan gerogi pleace...." ucap Mayleen dalam hati.
Edward membawa Mayleen ke ruangan yang sudah ia pesan jauh jauh hari.
Seorang pelayan menyapa mereka berdua.
__ADS_1
"Selamat datang tuan, nona." ucap Pelayan.
"Em..."ucap mereka berdua mengangguk.
Pelayan itu membawa Edward dan Mayleen ke ruangan yang telah ia pesan
"Silahkan tuan, nona." ucap Pelayan mempesilahkan mereka masuk ke dalam ruangan itu.
"Terimakasih." ucap Mayleen memberikan senyum manis dan tulus nya.
Edward yang melihat Mayleen memberikan senyum manis nya kepada pelayan langsung cemberut.
"Apa apaan dia ini, kenapa dia malah memberikan senyum nya kepada pelayan jelek ini. Awas kau pelayan jelek." ucap Edward menggerutu dalam hati.
"Jangan berikan senyum mu kepada nya, kau hanya boleh memberikan senyum manis mu itu kepada ku saja." ucap Edward merajuk
Mayleen mengerutkan alis nya tanda tak mengerti. Sedangkan pelayan yang melihat Edward yang seperti nya cemburu hanya tersenyum kecil.
"Maaf tuan, nona. Kalau begitu saya pamit dulu, nanti akan ada seorang pelayan lainnya yang akan menjamu anda." ucap pelayan sopan.
"Kau ini apa apaan sih." ucap Mayleen memukul lengan Edward.
"Apa!!!, kau membelanya sayang." ucap Edward bertambah cemberut.
"Bu..bukan begitu, maksud ku jangan bicara seperti itu, itu sangat tidak sopan." ucap
"Ciiih......" umpat Edward kesal.
"Maaf ya mas. tolong dimaklumi kekasih saya ini." ucap Mayleen meminta maaf.
"Tidak apa apa nona. Kalau begitu saya pamit dulu." ucap Pelayan laki laki itu.
Pelayan itu pergi meninggalkan ruangan itu sambil tersenyum menyeringai.
"Sungguh menarik." ucap Pelayan laki laki
__ADS_1
Setelah pelayan itu pergi, Edward maju ke arah Mayleen. Mayleen yang melihat Edward memasang wajah tak enak di pandang menelan ludah nya dengan kasar.
Gleek....
"Ada apa dengan nya, kenapa muka nya jelek seperti itu." batin Mayleen sambil melangkah mundur karena Edward terus maju menyudutkan nya.
"Ada apa dengan mu?" tanya Mayleen.
"........" Edward diam tak ingin menyahut.
"Ada apa sih dengan mu?, kau membuat ku takut Ed." ucap Mayleen mendorong dada Edward. Dan saat ini Mayleen sudah ada di dekat meja.
"Kenapa?" tanya Edward.
"Kenapa apanya?" ucap Mayleen.
"kenapa memberikan senyum mu kepada nya." ucap Edward kesal.
"Ha..,." ucap Mayleen bingung.
"A..apa maksud mu. Senyum, senyum apa?" tanya Mayleen masih bingung.
"Bukan kah kau tadi memberikan senyum mu kepada pelayan tadi, seharusnya senyum mu itu hanya untuk ku, untuk ku..." ucap Edward menyentuh bibir Mayleen dengan ibu jarinya.
"......." Mayleen hanya diam, namun hatinya tertawa.
"Apakah Dia cemburu?, ha...ha...ha...dia cemburu dengan pelayan tadi karena aku memberikan senyum ku pada nya. Ya ampun, aku sungguh ingin sekali tertawa, karena hanya Masalah kecil itu dia merajuk dan menekuk wajah nya dengan sangat jelek seperti itu, sungguh posesif sekali." ucap Mayleen.
"Kau cemburu?" tanya Mayleen.
"......." Edward diam tak menjawab. Namun mata nya terus menatap bibir ranum itu, ingin sekali ia menyes*p merasai manis nya bibir yang selalu membuat nya hilang akal setiap kali melihatnya.
"Sial....pasti itu sangat manis sekali." ucap Edward dalam hati.
Mayleen hanya menaikkan sebelah alisnya karena Edward tak menjawab, dan malah melihat nya seperti serigala yang ingin memakan mangsanya.
__ADS_1