
Di luar club kini Zuan masih setia mencekal tangan Zea, ia tak mau lagi kalo Zea terus terusan pergi tanpa menghiraukan dirinya.
Sebenarnya Zea bisa saja melawan mengingat dirinya bisa p di tubuhnya tapi Zea tidak melakukan itu mengingat dirinya masih menyembunyikan identitasnya sebagi QUEEN OF MAFIA WHITE DRAGON.
Mau tak mau Zea membiarkan tanganya di cekal dan dirinya di tarik keluar dari club penjaga disana awalnya ingin melawan Zuan namun Zea memberi kode untuk tidak ikut campur dalam urusannya.
Entah apa yang difikirkan Zea sampai ia mau bersabar dengan perlakuan kasar dari cowok yang di nilainya sangat menjijikan.
Zuan berjalan ke arah mobil nya ia segera membuka pintu samping kemudi nya untuk memasukkan Zea dan menguncinya dari luar untuk berjaga² agar Zea tak bisa kabur. Setelah menguncinya Zuan mengitari mobil itu lalu masuk di tempat pengemudi.
Entah apa yang bakal di rencanakan Zuan padahal ia baru beberapa kali bertemu dengan Zea tapi ia dengan nekat nya memaksa untuk Zea menjadi milik nya Zuan pun belum tau seluk beluk latar belakang Zea sebenarnya yang ia tau hanya hasil penyelidikan waktu lalu.
Di posisi Zea malah belum sempat melakukan penyelidikan keseluruhan tentang cowok menjijikan yang memaksa dirinya untuk ikut denganya.
"Lo mau bawa gue kemana? " ucap Aletta dengan dingin sambil mengusap pergelangan tangan yang kini memerah akibat cekalan Zuan tadi.
Zuan tidak menjawab ia hanya melirik sekilas melihat Zea mengusap tanganya yang memerah akibat dirinya dalam hatinya ia merasa bersalah.
"Apa gue terlalu kasar sampe tangannya memar merah gitu, ahh biarin aja biar dia ga berani lagi buat menghiraukan ku" ucap dalam hatinya.
Zea yang tidak mendapat jawaban pun hanya diam memalingkan pandangannya pada kaca samping mobil itu. Ia tak berniat sedikitpun untuk melihat Zuan. penilaian tentang seorang Zuan abraham masihlah sama yaitu cowok menjijikan malah kini bertambah menjadi menjijikan juga kasar.
Zea sedang berfikir untuk bisa keluar dari mobil yang di kemudikan oleh Zuan dengan sangat kencang ini. Zea sangat tidak ingin di bawa masuk kedalam kehidupan cowok yang menurutnya menjinikan itu.
"Gue harus gimana ya biar bisa keluar dan lepas dari cowok breng*ek ini, kalo gue bunuh sekarang gue juga bisa mati kecelakaan."
Zea masih terus berfikir pandangan yang masih sama mengarah ke samping kaca mobil itu ia melihat saat ini ia tengah melewati taman yang berada di pusat kota. Ia melihat berbagai pedangang kuliner yang baru menjejerkan daganganya di pingir taman kota itu. Zea melirik jam tangan nya sekilas ia membolakan matanya saat mengetahui kini sudah hampir jam 5 pagi.
"Pantes pada baru jejerin daganganya" gumam lirik Zea yang masih bisa di dengar oleh Zuan.
Sedari tadi Zuan fokus mengemudi sambil terus mencoba menghilangkan emosinya yang meluap luap itu makanya ia hanya diam ia tak mau jika ia sampe menyakiti. Gadis incaranya lagi.
__ADS_1
Meskipun Zuan diam ia selalu mlirik semua ya ng dilakukan oleh Zea ia juga melihat Zea yang sedang melihat jam tanganya bukan hanya itu Zuan juga mendengar gumaman Zea.
"Jangan harap lo bisa lepas dari gue! " ucap Zuan dengan nada memperingati
Zea yang mendengar peringatan yang keluar dari mulut Zuan pun menoleh ke arah Zuan. "Apa hak lo buat ga ngelepasin gue, lo bukan siapa² gue dan lo harus inget lo sebentar lagi akan menikah dengan pasangan lo. Apa gue harus batalin rancangan desain yang pasangan lo minta? " Zea mencoba sedikit mengancam Zuan berharap ancaman nya itu berhasil dan tidak mengharuskan nya untuk beraksi yang mana aksi itu pasti akan membuat identitasnya terbongkar.
Zuan yang mendapat ancaman hanya terkekeh "ha ha ha silahkan aja batalkan. Rancangan desain itu, karena gue akan menyewa desainer yang lebih hebat untuk merancang gaun pengantin untuk kita."
Zea menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan Zuan yang mana ia tidak keberatan jika Zea membatalkan rancangan gaun untuk Alice malah dia dengan entengnnya kalo ia akan menyewa desainer untuk membuatkan gaun untuknya.
"What the fu*k!! " umpat Zea setelah mendengar ucapan Zuan ia tak menyangka ancamanya tidak bisa membuat Zuan tertekan. Zuan yang mendengar umpatan Zea ia hanya tersenyum miring.
Tringgggg Tringgg tringgggg
Suara ponsel Zea berdering membuat Zuan seketika menaikan satu alisnya. Sedangkan Zea segera mengambil ponselnya yang ia bawa di tas slempang kecilnya.
"Hallo"
"Lo dimana? Gue dapet laporan dari manager club lo di bawa Zuan"
"Hem, tenang gue bisa urus"
"Hem"
Tut
Panggilan itu dari abangnya yang merupakan wakil dan tangan kanannya Zea. Zuan yang mendengar percakapan yang di lakukan Zea di telpon itu membuat Zuan penasaran.
Setelah sekian lama menempuh perjalanan Zuan akhirnya menghentikan mobil yang ia kemudi itu. Meskipun rasa penasaran akan hal yang di bicarakan oleh Zea di telpon tadi Zuan memilih untuk menahan rasa penasarannya ia tak mau jika Zea akan lari lagi dari dirinya.
Zuan menghentikan mobilnya itu di sebuah danau yang indah danau yang benar² di rawat namun danau itu nampak sepi sunyi. Tak jauh dari danau itu ada sebuah mension mewah dengan lima tingkat dengan pilar² yang kokoh dengan warna mension itu di dominasi warna emas dan ada beberapa taburan berlian yang menyilakukan jika terpantul oleh cahaya lampu membuat siapapun yang melihat pasti akan terpikat oleh kemewahan mension yang sangat indah itu.
Zea yang sudah turun tanpa sadar berjalan untuk mendekati danau itu, ia tampak terpikat oleh kesunyian yang ada di danau itu. Zea merasa danau itu tempat yang pas dengannya yang memang tidak terlalu suka dengan keramaian. Ia terbuai dengan keindahan danau itu sampai ia lupa akan rencananya buat segera lepas dari Zuan dan bisa segera ke rumah sakit untuk kembali menjaga ibu dan ayahnya. Zea semakin dekat air di danau itu sampai ia berhenti pada pohon rimbun yang ada di pinggir danau dengan akar kayu itu sebagian menjuntai ke dalam air danau itu. Zea berhenti sejenak lalu ia melepaskan sepatu yang menghiasi kaki putihnya itu lalu Zea dengan beraninya menginjakkan kakinya pada salah satu akar besar yang menjuntai ke dalam air itu dan dengan beraninya juga duduk di atas akar besar itu tanpa ragu Zea juga memasukan kakinya ke dalam air di danau itu. Padahal air danau itu sangat dingin di tambah hari masih pagi sekali membuat suhu air di danau itu sangat dingin tapi hal itu tidak berpengaruh apapun pada Zea malah ia sangat menikmati dinginnya air itu.
Sejak turun dari mobil tadi Zuan hanya memperhatikan semua yang di lakukan oleh Zea ia sangat tau kalo Zea sangat suka pada tempat dimana Zea ia bawa itu, sangat tercetak jelas raut suka Zea pada tempat itu dari binar matanya dan senyum dari bibirnya yang tak pernah luntur sejak ia turun dari mobil dan sampai sekarang saat ia tengah asik duduk di salah satu akar besar yang menjuntai ke dalam air sambil memainkan kakinya di dalam air itu. Zuan hanya memperhatikan tingkah Zea yang di matanya sangat mengemaskan itu.
__ADS_1
Zuan mencoba menghampiri Zea dia ingin mencoba merubah suasana yang kacau saat diclub tadi dengan meminta maaf apalagi ia sempat kasar pada Zea ia tak ingin Zea takut padanya karena Zuan benar² tertarik padanya dan ingin kenal lebih dekat dengan Zea.
Srettt
Zuan sudah ikut duduk di samping Zea tampak Zea masih cuek dan menikmati suasana di danau itu sambil memejamkan matanya. Sebelumnya zuan juga sudah ikut melepaskan sepatu dan mengikuti Zea memasukan kakinya di dalam air danau itu.
Zea ynag merasa ad a pergerakan di bawah kakinya mulai membuk mata dan menoleh pada samapingnya. Ia melihat Zuan yang sudah tersenyum saat Zea menoleh tepat pada ia berada.
"Hufffft" Zea menghela nafas dalam² sesaat tadi ia merasa moodnya sudah membaik tapi saat melihat Zuan lagi tiba² mood nya kembali buruk.
Zuan yang mendengarkan helaan nafas itu sontak mengangkat satu alisnya ia merasa bingung ia lihat tadi Zea sangat seneng tapi setelah menoleh padanya seakan ia kesal.
"Mau lo apa ? " tanya Zea dengan muka datar dan dingin. Hal itu memecahkan lamunan Zuan yang sedang memikirkan perubahan Zea itu.
Zuan tak langsung menjawab tapi ia menoleh ke arah Zea secara bersamaan keduanya saling menoleh Zuan mendapati raut wajah Zea yang sangat berbeda saat ia bertemu di butik nya di club tadi sangat berbeda jauh dengan sekarang. Raut wajah Zea yang Zuan tangkap hanya wajah datar tanpa expresi dan nada ucapan yang sangat dingin.
Beberapa detik setelah melihat Zea ia baru menjawab pertanyaan itu. "Gue tertarik sama lo! "Jawaban yang sangat tidak nyambung Zuan berikan.
Zea mendengar itu semakin kesal karena secara terang terangan Zuan mengungkapkan rasa ketertarikan terhadap dirinya padahal yang Zea tau Zuan sudah memiliki pasangan bahkan sudah mau menikah.
"Dasar laki laki breng*ek, bisa bisanya dia mengaku tertarik padaku padahal dirinya akan menikah dengan wanita lain. sialan!! " umpat Zea dalam hatinya
Zuan yang sedari tadi menunggu respon Zea hanya diam menunggu smpai beberapa detik ia masih menunggu belum juga ada respon dari Zea ia. "Are you okay? " dengan suara bariton tapi juga sangat lembut jika di dengar di setiap telinga para wanita.
Zea tersadar dengan suara bariton itu ia menoleh dan mendapati Zuan yang tampak kawatir dengan kerterdiamanya.
"Gue gapapa, cuma mending lo segera jauhin gue karena gue ga mau berurusan dengan lo yang notabenya akan menikah dengan nona Alice. " Zea menjelaskan dengan tegas pertanda ia benar benar serius dengan omongan nya itu.
Zuan sebenarnya ingin tertawa tapi ia tahan ia juga ingin mendengar ucapan dari Zea yang lebih panjang dari ucapan tadi. Karena hal baru yang bisa membuat ia senang hanya mendengar gadis incaranya berbicara sedikit lebih panjang dari biasanya.
Zea tau zuan sedang menahan tawanya seketika ia menoleh pada Zuan dan menatap nya dengan tajam. Zuan yang mendapatkan tatapan tajam itu seketika merubah exspresinya kembali seperti biasanya.
"Lo cemburu dengan Alice?"
__ADS_1