
"Nona Zea?"
Zea yang merasa di panggil pun meoleh pada sumber suara dan pandangan matanya tak sengaja bersibobok dengan mata Zuan . Zuan menatap Zea penuh dengan kelembutan sangat berbeda juah saat ia menatap pawa wanita bayaran yang isma sewa untuk memuaskan hasratnya.
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu? "
" emm tidak ini sudah selsai kan saya harus kembKi ke kantor"
"Oh sudah tuan sudah selesai terimaksih atas waktunya"
"Harusnya aku yang bilang terimaksih atas waktunya nona, Alice bilang ia membuat janji untuk bertemu dengan anda sudah sangat lama. Kalo begitu saya pergi dulu nona"
"baik tuan"
"Sell tolong antar tuan Zuan sampai lobi" pintar Zea pada sella selalu manager di butik itu.
"Baik nona"
Setelah kepergian sella dan Zuan Zea merebahkan tubuhnya menyandarkan kepalanya di sofa matanya memejam merasa lelah bukan hanya karena kerja tetapi juga kerana ia harus menjaga ibu dan ayahnya bergantian dengan abangnya dan juga ia lelah menahan emosi saat mengetahui kelayen nya itu adalah Zuan Abraham laki-laki muda yang bisa saja menjadi dalang di balik kecelakaan Ibu dan ayahnya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu lebih cepat Zuan Abraham, ta la perlu repot² menyuruh anak buahku untuk mencari mu tunggu tunggu saja tanga main nya Zuan Abraham akan ku balas semuanya. " ucap batin Zea
Zea melangkahkan kakinya meninggalkan ruang VIP itu menuju ruang kejanya ada beberapa kerjaan yang harus segera ia kerjakan agar ia bisa cepat kembali ke rumah sakit. Zea duduk di kursi kerjanya tangannya bergerak lincah di atas keyboard leptopnya. Ia berencana membuat desain caffe untuk abangnya yang langsung berada di dalam kantor, ini udah rencana Zea sejak lama untuk membuat desain kantor yang mempunyai caffe di dalam kantor itu menjadikan meeting dengan kelayen bisa di dalam caffe di kantor tersebut tanpa harus keluar kantor dan para karyawan bisa bersanyai disana saat jam istirahat.
1 jam berlalu Zea telah menyelesaikan krjaanya termasuk desain caffe buat abangnya itu. Zea mengulet merengangkan tubhnya yang terasa kamu lalu ia berdiri di depan lukisan mendiyang ibu kandungnya ia mengeser sedikit lukisan itu menekan tombol yang tersembunyi di balik lukisan itu
Ceklek
Dengan ajaib rak buku kecil yang ada di sebelah lukisan itu tergeser setelah Zea memasukan kode di tombol yang berada di balik lukisan mendiyang ibu kandungnya itu. Zea masuk kedalam ruang itu terdapat beberapa komputer yang menyala menampilkan CCTV rumah sakit ia Zea sudah meretas semua CCTV rumah sakit untuk bisa memantau keadaan ibu dan ayahnya meskipun ia tak berada di sana.
Zea melihat abangnya baru keluar dari ruangan ibu dan ayahnya dengan masih mengunakan pakaian setril memperhatikan abangnya yang kini tengah menerima telpon.
Ada rasa bahagia setelah kehadiran ibu sambung dan abang nya itu. Dulu Zea memang pernah takut karena mengingat cerita dari teman² nya kalo ibu tiri itu pasti jahat tapi seiring berjalannya waktu Zea bisa menerima dengan sepenuh hati kehadiran ibu sambung dan abangnya yang ternyata sangat baik dan menyayanginya.
__ADS_1
Zea kembali fokus pada layar komputer disana beberapa detik kemudian matanya membola saat abangnya tengah berjabat tangan dengan laki-laki muda yang baru saja dari butiknya iya laki-laki itu adalah Zuan Abraham.
"Ada urusan apa sampai si kepar*t itu datang ke ruangan ibu dan ayah huh,! Sungguh tangan ku sudah gatal ingin memantik pelatuk pistolku tepat pada kepalanya"
*****
Di rumah sakit keno sedang menerima telpon dari sekertaris kantornya yang mengingatkan ia untuk akan jadwal bertemu dengan CEO dari perusahan Zuan property yang ia tau pemiliknya tak lain adalah orang terakhir yang ibu dan ayahnya kunjungi sebelum kecelakaan itu terjadi.
Namun sekertaris nya itu memeberi tahu kalo kelayen nya itu mau berkunjung ke rumah sakit menjenguk kedua orang tuannya
"Selamat siang keno"
"Siang juga Zuan"
Mereka berjabat tangan selaknya rekan bisnis.
"Maafkan saya keno karena saya dengan mendadak datang untuk menjenguk tuan Alex dan nyonya alex"
"Ahh tak apa keno sebagai rekan kerja kita harus saling bertoleransi, sebenarnya saya sedikit terkejut saat mendengar kabar tuan Alex dan nyonya Alex kecelakaan setelah berkunjung di kediaman saya"
"Mungkin sudah jalan takdir orang tua Saya"
"Baik kalo begitu bolehkah Saya masuk? Saya ingin melihat keadaan tuan Alex dan nyonya Alex."
"Tentu, anda harus mengunakan baju seteril buat menjenguk mereka" zuan pun memakai baju seteril yang di kasih oleh keno.
"Maaf, Saya tidak bisa menemani karena memang hanya satu orang yang diizinkan masuk"
"Tak apa, aku hanya sebentar "
Zuan yang sudah selesai memakai baju seteril melangkahkan kakinya memasuki ruangan rawat itu. Ia tampak terkejut dengan pemandangan didepan matanya dia pasien dengan tubuh di perban total juga berbagai alat medis yang berada di tubuh keduanya.
"Aku sungguh prihatin melihat keadaan tuan dan nyonya sampai begini " ucap Zuan sambil menyeringai iblis
__ADS_1
"Aku cukup kecewa saat anda menolak tawaran saya. Saya sangat ingin memberi pelajaran pada kalian tapi beruntung sekali Aku belum melakukannya tapi lihat sekarang kalian berada disini anatara hidup dan mati, Aku harus berterimakasih pada orang yang melakukan ini pada kalian"
Zuan sangat pandai berpura -pura perduli pada rekan bisnisnya tak banyak yang tau kalo sebenarnya Zuan penuh akal licik dan sangat kejam jika apa yang ia mau tak bisa ia miliki, Zuan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan itu.
Ceklek
Pintu terbuka dengan Zuan yang keluar dari sana, Zuan menghampiri keno yang masih menunggu nya di tempat duduk didepan ruangan itu.
"Kalo begitu saya permisi dulu,saya masih ada pekerjaan yang harus saya selsaikan"
"Terimakasih karena anda sudah menyempatkan diri untuk menjenguk orang tua saya"
"Itu tak masalah" meraka saling berjabat tangan sebelum Zuan meninggalkan keno disana.
Teringgggg tringggg
Dering henpon disaku celana membuat Zuan melepas jabatan tangan nya dengan keno. Zuan segera mengangkat panggilan yang nampak di layar henpon nya
"Ada apa? "
"Saya hanya mengingatkan tuan kalo anda di tunggu rapat di kantor siang ini"
"Baik Saya akan segera kembali "
"Baik tuan"
Tut
Zuan mematikan panggilan itu lalu bergegas keluar dari rumah sakit untuk kembali ke perusahaan nya. Setiap ia berjalan tak henti para perawat, dokter dan pasien yang bersimpangan dengannya menatap memuja pada zuan. Zuan hanya cuek menanggapi tatapan dari mereka semua karena bagi Zuan membuat wanita mendesahkan namanya saja Zuan sudah biasa apa lagi hanya mendapat tatapan memuja dari semua orang itu hal yang sangat kecil bagi Zuan.
Brommm brommm brommm
Zuan menghampiri mobilnya yang berada di parkiran rumah sakit itu lalu mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang. Zuan memang lebih suka mengemudikan mobilnya sendiri ia sangat jarang sekali memakai jasa sopir atau mungkin hanya sesekali saat ia bertugas ke luar kota hanya mengunakan jasa sopir untuk mengemudikan mobilnya.
Ciiitttt
__ADS_1
Zuan menginjak rem pada mobilnya tepat saat ia sudah sampai di depan pintu lobi kantornya. Lalu Zuan melempar kunci mobilnya pada security yang membuka kan pintu mobilnya untuk memarkirkan mobilnya di parkiran khusus CEO. Zuan melangkahkan keruangan rapat diamana ia sudah di tunggu untuk memimpin rapat.