
"Lo cemburu dengan Alice?" Ucap Zuan dengan pedenya sambil tersenyum tipis serta menik turunkan kedua alisnya. Hal itu membuat Zea menjatuhkan tahanya kembali ia sangat tidak percaya dengan narsisan yang Zuan miliki.
Tanpa mereka sadari di sekeliling danau itu sudah ada beberapa angota White Dragon yang memang di suruh untuk menemai sang wakil ketua yaitu keno, sebenarnya Keno tadi sudah tiba di rumah sakit duluan tapi ia sudah menunggu lama adiknya itu tapi tak kunjung datang alhasil ia melacak posisi Zea saat. Ponsel Zea memang sudah di modifikasi yang dimana ponsel itu tidak akan mudah di lacak oleh orang lain ataupun oleh musuh mereka dan hanya Keno lah sang wakil sekaligus abang Zea yang hanya bisa melacak keberadaan Zea. Sebenarnya juga bukan hanya melalui henpon Zea ia bisa melacak keberadaan Zea tapi ia juga bisa melacak dari kalung dengan bandul bentuk katana dan pistol yang posisinya saling menyilang di tengah silangan katana dan pistol itu terdapat permata berwarna biru yang ia sudah modifikasi agar ia selalu bisa memantau dan melacak keberadaan adik kesayangannya itu.
Zea yang memang memiliki kepekan lebih itu pun sudah mengetahui keberadaan anak buahnya di sekitar danau itu Zea sedikit melirik matanya sekilas di ujung matanya ia dapat melihat Abang nya yang tengah bersembunyi di balik pohon yang tak jauh dari mereka.
Zea mengalihkan kembali pandangannya pada pemandangan di dananu di depan matanya hinga..
Cuss
"Sssshhh"
Satu jarum kecil sudah mendarat di leher Zuan yang membuat Zuan kini merasa sedikit nyeri di lehernta, tubuhnya tiba- tiba terasa tak bertenaga pandangannya kian memburam dan...
Brukk
Dalam hitungan detik Zuan sudah tak sadarkan diri jatuh bersender pada Zea yang sudah tau akan rencama abangnya yang ia tau jarum kecil itu adalah jarum yang sudah di lapisi dengan bius dan sengaja Keno menembakan pada Zuan untuk membenaskan adiknga itu.
Setelah Keno memastikan Zuan benar² tak sadarkan diri Keno segera mengangkat tanganya untuk memberi intruksi pada anak buahnya supaya segera mendekat dan mengurus Zuan.
Keno pun menyusul anak buahnya untuk menghampiri adiknya itu.
"Lo gapapa kan Queen?"
"I'm okey bang, thank's "
"Gue kawatir banget sama lo , gue udah nunggu lama di rumah sakit dan lo ga dateng² apalagi gue tau kalo lo lagi sama si mulut buaya ini. Gue takut lo diapaapain sama dia"
"Hem, gue gapapa kok bang tapi. . - " Zea sengaja menjeda ucapanya sambil melihat expresi dari abangnya yang Zea tebak pasti abangnya menunggu lanjutan dari ucapannya dengan wajah yang kawatir bin was was. Dan benar wajah Keno tercetak jelas gurat gurat kekhawatiran bin was was. " tapiii aku mau digendong bang aku ngantuk bangettt" sambung Zea merntangkan kedua tangan untuk meminta gendong.
"Astaga, gue kira lo kenapa dekkk bikin khawatir aja deh lo. " keno merasakan lega mendengar sambungan ucapan Zea tadi. Tak perlu lama² keno berjongkok memunggungi Zea dan Zea langsung melompat girang ke punggung abangnya.
"Makasih abang, udah bantu gue hari ini dan mau gendong gue. "
"Hemm" keno hanya berdehem sebagai tanda jawabannya lalu mereka segera pergi dari sana.
__ADS_1
Zea tau pasti semua ini akan terjadi, ia sangat tau tabiat abang nya itu yang sangat menyayangi nya sampai ia tak mau terjadi apa² padanya. Ia meskipun abang nya tau kalo adiknya itu pemimpin kelompok mafia yang sangat amat di takuti di negeranya. Tetap ia memperlakukan Zea dengan sangat baik selalu menjaga dan melindungi nya sebagaimana abang yang menjaga adeknya.
Keno sudah sampai di mobilnya dan kini tengah menurunkan Zea dari gendongannya ke dalam mobilnya memosisikan dengan nyaman dan memasang set belt setelah merasa zea aman keno memutari mobilnya untuk menuju kemudian dan menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang.
Sedangkan di posisi Zuan kini ia tengah berada di sebuah hotel dekat dengan danau itu masih dengan keadaan yang belum sadar. Ya , sebelum pergi tadi Keno sudah menugaskan anak buahnya untuk membawa Zuan ke hotel terdekat.
Sampe siang hari Zuan baru sadar dari pingsannya, ia masih mencoba mengerjab ngerjabkan matanya menyesuaikan cahaya matahari yang menyilaukan.
Ia merasa kepalanya sangat pusing Zuan memijat sejenak pelipisnya berusaha mengurangi pusing di Kepalanya. Dan mencoba mengingat ingat kejadian yang terjadi sebelum ia berakhir di sini. Setelah beberapa saat Zuan telah mengingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.
"****!!, siapa yang berani beraninya menganggu dan membawa gadis incaranku!!! BEDEBAHHHH!! " geram Zuan
Zuan meraih hendpone nya untuk menelfon sekertaris sekaligus sahabatnya itu.
Tuttt
Tuttt
"Cepat kirimkan gue baju kantor baru dan kirim ke hotel xxx"
"Wiiihh kelihatanya ada yang habis ehem ehem nih"
"BANGSATTT LO NYINDIR GUE HUH? CEPET KIRIM ATAU LO GUE PECAT!! "
tut
Tanpa menunggu jawaban Zuan memutuskan telfon sepihak.
Sedangkan di sebarang telfon
"Dasar kamvrettttt, telfon cuma nyuruh nyuruh aja, udah nyuruh pake nyemoprot pula apesss amat punya boss kaya gitu untung lo sahabat gue kalo ga gue jadiin perkedel lo! " sungut sekertaris itu
Satu jam kemudian Zuan nampak beru keluar dari kamar mandi menyelesaikan ritual mandinya kini Zuan masih berbalut bath rop Zuan masih mengecek pekerjaannya lewat ponselnya sembari ia menunggu baju yang di kirim sahabatnya itu.
__ADS_1
Dalam fikiran Zuan ia masih memikirkan siapa orang yang berani ikut campur dengan urusannya apa lagi sampe membawa gadis incaranya, orang itu sungguh cari mati.
"Sial!! " umpat Zuan yang masih geram
Raut wajah Zuan tak seperti biasanya kali ini wajahnya terlihat murka urat urat di lehernya menonjol tanda ia sedang menahan amarahnya aura mengintimidasi menguar dalm dirinya yang pastinya akan membuat orang disekitarnya akan kehabisan oksigen, raut wajah yang semakin bertambah dingin membuat siapapun engan untuk berlama lama di dekatnya.
Tit tut tit tut
Suara layar pasword pintu kamar hotel yang di tempati Zuan, terlihatlah sangat sekertaris yang membawa paper bag. Ya Zuan tadi telah mengirim Chat pasword kamarnya pada sekertaris nya itu.
"ANJIRR, napa serem banget" batin sekertaris itu. Ia berjalan dan menyerahkan paper bag yang di minta sahabatnya itu tanpa berbicara apapun. Ia sudah hafal aura yang di pancarkan oleh shabatnya itu menandakan Ia sedang marah. Dan tentunya Ia masih waras untuk tidak menyerahkan naywa pada sahabatnya itu.
Saat akan melangkahkan kakinya keluar kamar itu suara Zuan menginstruosi membuat sekertaris itu langsung berhenti.
"CARI SIAPA YANG BERANI IKUT CAMPUR URUSAN GUE DAN BERANI BAWA GADIS INCARAN GUE! " suara perintah yang sangat datar tapi penuh penekanan
Sang sekertaris pun masih bisa mendengar gemeletuk gigi dari marah sahabatnya itu.
"OKE, 30 menit gue kasih hasilnya" jawab sekertaris itu tampak lebih serius Ia tau boss sekaligus sahabatnya itu.
Kini keduanya sudah di dalam mobil menuju kantor Zuan. Dalam perjalanan pun Zuan masih tak seperti tadi seakan amarahnya tak akan pernah bisa reda sebelum melihat gadisnya.
Setelah sampai di kantor Zuan berjalan ke ruangannya sepanjang jalannya para karyawan tidak ada yang berani menyapa atasanya yang sedang mode sengol bacok terlihat dari aura yang keluar dari atasannya membuat para karyawan memilih mode aman.
Setelah sampai di ruangannya Zuan langsung duduk di kursi kebesarannya
"Gue ada kabar baik buat lo dan kabr buruk buat lo"
Sang sekertaris itu memecah keheningan mencoba mencairkan suasana yang bagian yang juga bisa membunuh dirinya sendiri.
"Apa? "
"Kabar buruknya gue belum bisa menemukan orang yang ikut campur urusan lo etssss jangan ngamok dulu.... "
"Kabar baik"
__ADS_1
"Kabar baiknya .... Gue ga tau lao bakal seneng atau enggk dengan kabar ini yang pasti kabar ini kabar baik menurut gue"
"CK, BURUAN APA KABAR BAIKNYA BANGSA*T? "