
Hujan turun dengan sangat deras nya, walaau begitu tak menghentikan langkah gadis kecil untuk berhenti berlari. langkah gadis kecil itu terus berlari dan berlari. nafas nya memburu, detak jantung nya berdetak sangat cepat, dada nya terasa sesak tapi tak menghentikan langkah gadis kecil itu untuk berhenti berlali.
Tak di pedulikan kaki polos nya yang telanjang, terluka oleh aspal , tak peduli walau hujan turun dengan sangat deras nya..yang ia tau, dia harus berlari dan berlari
hingaa sebuah mobil muncul di hadapan nya dari arah berlawanan"TIDAKKKKK!!!!!!!!!
teriak gadis itu pilu, tapi terlambat,
Sebelum gadis berusia dua belas tahun itu bisa menghindar sebuah mobil berwarna putih sudah menabrak nya. darah menetes dari kepalanya, seketika semua terasa gelap. Sayup-sayup dia merasakan ada beberapa gerombolan orang mendekat ke arah nya. Mata nya mulai memberat. Sebelum mata nya terpejam se utuh nya Sebuah nama keluar dari bibir nya "rafael"
" jika kau ada dalam sebuah masalah sebut lah nama ku. Maka aku akan datang"
"Kau terbangun," ucap seorang pria yg menghampiri wanita yang sedang duduk di atas ranjang berseprai putih tersebut.
Jantung nya bedegup kencang. Keringat dingin mulai bercucuran dri plipis nya. tangan nya gemetaran. Terdengar suara yg berdecit di depan nya. Seorang telah duduk di depan nya. Di tepi ranjang. " kau berkeringat" ucap pria di hadapan nya menyentuh dahi nya. Dari dahi Turun ke leher nya.
" ak-- aku" ucap Elena terbata
"Sstt... tak apa " ucap rafael langsung memeluk elena. mengelus punggunnya. Berusaha memenangkan nya. Elena pun membenamkan kepalanya di lekukan leher Rafael. "Aku takut." Bisik elena mencengkram kemeja rafael.
"Tak apa, aku disini, jangan takut," ucap Rafael mengelus punggung elena Berusaha menenangkan nya. Semenit kemudian elena melepas pelukan nya, dan Rafael mengahapus air mata yang mengalir di pipi elenanya Lalu berdiri menjauh. "Mau kemana?" Tanya elena.
"Mengambil tissu"
\
"Oh"
Sedetik kemudian rafael duduk kembali di depan ranjang. Mengelap kringat elena. Dari dahi turun ke wajah nya. Terakhir ke leher nya.
"Sudah kakak bilang jgn tidur di waktu sore, pamali." Ucap Rafael sambil membersihkan kringangat Elena.
"Maaf, aku ketiduran" ucap elena sambil nyengir. Menunjukkan deretan gigi putih nya,
"Jam berapa" tanya Elena.
__ADS_1
"Jam tujuh." Sebuah jawaban yang membuat Elena lngsung melompat dari Ranjang. "Kakak tidak membangunkanku! Kakak bilang mau mengajakku ke festival pasarmalam," ucap elena sambil mecerucutkan bibir dan melipat kedua tangan nya di depan dada, protes.
Menghelang nafas kasar Rafael meletakkan tisu ke tempat sampah. "Kakak pikir kau sudah lupa."
"Kakak sudah janji!."
" oky. Oky baiklah. Cepat mandi lach sebelum festival kembang api nya di mulai jam sembilan malam" Ucap Rafael yg membuat sudut bibir Elena Membentuk sebuah senyuman
Elena pun berdiri dari ranjan dan melangkah ke kamar mandi. Tapi sebelum masuk Rafael menahan lengan elena. "Kau melupakan handuk mu" ucap Rafael sambil menyodorkan handuk perwarna putih tersebut ke tangan elena.Elenapun mengambil nya dan krmbali masuk kedalam kamar mandi.
🌺🌺🌺
Elena mengenakan gaun katun di atas lutut berwarana kuning. Yang kakak nya sudah siapkan tadi untuk nya. Tadi setelah elena masuk kedalam kamar mandi Rafael mengambil gaun santai berwaran kuning di dalam almari dan menaruh nya di atas ranjang yg beseprai putih tersebut.
Di saat elena akan menutup resleting punggung belakang nya yg terbuka. terdengar suara pintu yang terbuka dari arah belakang, Rafael pun mendekati Elena. Menyampingkan rambut elena yang agak basah dan memasangkan resleting gaun belakang nya. Setelah selesai Rafael menuntun elena ke meja rias. Terdengar suara kursi kecil yang di tarik. Elenapun duduk di kursi tersebut di temani oleh rafael di de pan nya.
"Apa aku terlihat cantik." Tanya elena penasaran. Dengan antusias Membuat mata indah nya berbinar.
Rafael pun tersenyum menatap Elena lama. Dengan tatapan yang sulit di artikan. Tiba-tiba jsntung nya berdebar sial umpat nya.
"Kau selalu terlihat cantik" ucap Rafael jujur.
"benarkah, sepertiapa? Apa? Karna kakak yang merias ku. Jadi kakak memujiku."
Rafael pun menarik kursi kecil nya lebih dekat lagi ke elena. Mendekatkan tangan nya. Menyentuh wajah elena. "Kau sangat cantik.
Kau mempunyai kulit yang putih."
Persis seperty ibu mu ucap Rafael dalam hati.
__ADS_1
Rafael mengelus pipi elena. Lalu turun ku hidung nya." Hidung yang mancung. Dan kau mempunyai mata yang yang lebar Bewarna biru sebiru laut."
"Be--benarkah?" Tanya Elena antusias
"Tentu saja."ucap rafael tersenyum. Dan tangan nya jatuh di samping bibir nya. Dengan pelan rafael mengelus nya pelan. Dan mendekatkan wajah nya ke elena. Sangat dekat. Menyentuh bibir nya. Membuat elena seketika menahan nafas karna bisa merasakan embusan nafas rafael di depan nya. Dan rafael pun berbisik di telinga nya "Dan kau mempunyai bibir yang merah, semerah kelopak mawar. " ucap rafael berbisik.. membuat elena merinding lalu langsung mendorong nya.
" jangan menggodaku kak! Aku tau aku ini buta dan tidak bisa melihat, jadi jangan menggoda ku!" Ucap elena marah. Bukan takut. Rafael malah tertawa terbahak. "Lihat lah muka mu sudah semerah tomat" rafael tidak bisa menghentikan tawa nya membuat elena semakin cemberut.
"Oky, oky. Kakak minta maaf." Ucap rafael sambil menyodorkan jari kelingking nya.
"Oky aku maafkan? tapi jangan di ulangi."
"Sip." Ucap rafael berdiri kemudian menarik kedua tangan elena kluar kamar.
*****
Tbc by ismia wardani
gmn cerita baru ku 871 kata
Sebenar nya ini tulisan lama ku
Aku edit. Ku yakin cerita ku ini tema nya bgus dan ngk pasaran
Jgn lupa kasih voment nya
__ADS_1