
Siang itu Rafael mengajak Elena makan di Restoran. Rafael memasuki restoran dengan menggandeng Elena
"kemana kita kak,"
"kita di restoran,"
"kenapa di restoran? Kenapa kita tidak ke kantin saja,"
"aku bosan dengan memakan makanan kantin."
Rafael Dan Elena memesan makanan nya dan mereka makan dalam diam.
"kau tidak mau pulang? Aku bisa mengantar mu."
"tidak kak, lena ingin dengan kakak saja,"
"kau merindukan ku huh,"
Wajah lena memerah karna malu "tidak kak, bukan seperti itu tentu lena tidak rindu kakak. Kakak kan bersama lena,"
"kau tidak pandai berbohong lena," ucap Rafael tersenyum
aku tau kau mengikutiku ke kantor ingin mengetahui tentang perusahaan Abraham Grop
"aku tidak berbohong,"
"makanlah sebelum sup iga mu dingin,"
"baiklah kak,
Mereka makan dengan tenang sambil sesekali Elena menanyakan tentan pekerjaan Rafael
Jam satu siang mereka kembali ke kantor. Elena mendengarkan musik lalu tertidur di sofa Rafael yang melihat itu pun menghampiri Elena mengambil jas Rafael melipat nya dan menggunakan sebagai bantal Elena . Lalu rafael mengambil ponsel Elena dan mematikan musik nya
Rafael mengerjakan pekerjaan nya sesekali ia melirik ke arah Elena mengawasi nya.
Jam di dinding menunjukkan angka lima sore dan saat nya ia pulang ia membereskan pekerjaan nya dan mematikan laptop nya ia menaruh nya ke dalam tas
Rafael menghampiri Elena dan membangunkan nya "lena lena bangun,"
Elena membuka mata nya "jam berapa sekarang,"
"jam lima sore. Ayo pulang,"
Rafael menggandeng tangan Elena dan memasuki lift.
"pacar nya ya pak?,"
__ADS_1
"bukan adik saya,"
"oh, cantik banget pak. Tapi gak mirip bapak hehe," ucap pria di lift tersebut yang ia ketahui adalah seorang OB dan Rafael menjawab dengan senyuman
Lift terbuka dan keluarlah Rafael dan Elena ia menuju parkiran
Rafael menjalankan mobil nya menuju rumah nya. Elena menguap membuat rafael menolehkan kepalanya "kau masih mengantuk? Kau tertidur pulas sekali apa semalam kau tidak tidur?,"
"tidak, aku tidur," dusta nya padahal semalam ia tak bisa tidur memikirkan perkataan Dimas dan ciuman Rafael memikirkan ciuman membuat pipi elena memerah
Semalaman ia tak bisa tidur, memikirkan kenapa kakak nya itu mencium nya. Apa setiap malam kakak nya mencium nya?
Elena menggeleng gelengkan kepala nya dan Rafael melihat itu
"kenapa?,"
"tidak bukan apa-apa,"
Satu jam kemudian mobil yang di tumpangi memasuki halaman rumah nya seorang satpam membukakan pintu "sore pak Rafael,"
"sore juga,"
Rafael keluar dari mobil tersebut begitupun dengan Elena
Bik Ina menyambut mereka "Sore tuan Nona Elena."
"baik Tuan,"
"Ayo Non saya antar ke kamar,"
Elena dan Bik Ina memasuki kamar. Elen terduduk di Ranjang selagi bik Ina menyiapkan air hangat. Beberapa menit kemudian Bik ina keluar dari kamar mandi dan menuju almari mengambil handuk. "nona mau pakai gaun atau celana?,"
"gaun ajha bi,"
Bik ina pun mengambil gaun katun selutut berwarna merah dan menaruh nya di ranjang.
"saya taruh di ranjang ya Non baju nya dan ini handuk nya,"ucap Bik ina menyerahkan handuk setelah itu keluar dari kamar
Elena memasuki kamar mandi dan berendam di bak mandi. Bau bunga mawar tercium oleh hidung nya. Ia menggosok badan nya dan membilasnya dengan air setelah itu ia keluar dari kamar mandi dengan melilitkn handuk. Ia mengambil baju tersebut dan memakai nya. Ia berusaha memasang resleting gaun nya tapi tangan nya tidak sampai.
Ia menyerah dan terduduk di ranjang. Beberapa menit kemudian suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Elena.
"kak Rafael,"
"lena," ucap Rafael mendekati Elena
"kak Rafael, bisa kah kau memasangkan resleting gaun belakang ku?,"
__ADS_1
"tentu, kenapa kau tak menghubungi kakak atau Bik ina jika membutuhkan sesuatu,"
"aku hanya tak ingin merepotkan,"
"kau sama sekali tidak pernah merepotkan ku Lena," ucap Rafael membelai pipi Elena dengan tangan nya tapi Elena menangkap nya dan menggenggam nya. "aku sayang kakak," ucap Elena dan memeluk Rafael
Rafael mengelus rambut Elena dan mencium puncak kepala nya "kakak juga sayang Lena,"
"berbaliklah,"
Elena berbalik dan Rafael bisa melihat punggung mulus Elena. Walau sudah terbiasa melihat nya tapi tetap saja Rafael seorang pria dan ia tercipta memiliki *****. Tapi Rafael berusaha meredam nya
"jika suatu saat kau tidak lagi tinggal dengan ku jangan sekali kali kau meminta bantuan seorang pria memasangkan resleting baju mu,"
"kenapa?,"
"pokok nya tidak boleh dan kau tidak boleh membantah nya."
"oke, baiklah," ucap Elena
"sudah,"
Rafael berjongkok di hadapan Elene memegang pipi Elena. Elena memejamkan mata nya dan meresapi nya" tangan kakak hangat kenapa belum mandi,"
"kau dingin sekali,"
"kakak kenapa tidak mandi?,"
"nanti kakak mandi,"
"ayo biar kakak merias mu,"
Elena tertawa " ternyata kakak punya bakat terpendam yah. tukang make up orang," ucap Elena
"kau bisa saja," ucap Rafael mengusap kepala Elena
Rafael menuntun Elena ke tempat rias kemudian merias Elena dan mengepang Rambut Elena
...
...
"cantik," puji Rafael lalu mengecup puncak kepala Elena
"aku berharap apa pun yang terjadi kau tidak akan pernah meninggalkanku,"ucap Rafael sambil mencium puncak kepala Elena
"yah apapun yang terjadi Lena tidak akan pernah meninggalkan kakak," jawab Elena sambil memeluk Rafael
__ADS_1
...Tbc 807 kata...