RAFAEL & ELENA

RAFAEL & ELENA
Bab 12


__ADS_3

Malam menunjukkan angka 12 dan dimas mengecek kamar ruang tamu yang berada di sebelah kamar nya. Ia memasuki kamar Elena,di lihat nya Elena yang sedang mengigau dan mengggil


"kak Rafael, "


"kak Rafael, "


seberapa keras kau mengatakan kau membenci nya. Tapi ku tau kau begitu menyayangi nya dan tergantung pada nya, "


Elena berguman. Dimas pun menyentuh dahi Elena


"panas sekali


Dimas menelfon seseorang,


"baik aku tunggu kau di rumah, "


Dimas pergi ke luar kamar mengambil handuk dan mengompereskan nya pada kening Elena.


"kak Rafael"


"kak Rafael, "


Dimas yang melihat itu tidak tega wajah Elena merah dengan kening yang mengkerut. Dimas memegang tangan Elena. elena trus menyebut nama Rafael hingga dimas bingung harus bersikap. Haruskah ia membangunkan nya


Tiga puluh menit kemudian sebuah bel berbunyi dan buru buru Dimas membukanya


"pak Evan,"


"siapa yang sakit ,"


"dia teman ku.


Pak evan memeriksa ke adaan Elena dan memberikan resep obat.


"beli lah obat nya di apotik terdekat, dan bangunkan dia untuk minum obat. Pasti panas nya akan menurun"


"baik dok, "


Setelah mengantar pak Evan keluar Dimas mengunci pintu nya dari luar dan menaiki mobil menuju apotik 24 jam.


Setelah beberapa menit keluar. sampailah Dimas pada rumah nya .ia memasuki kamar Elena dan membangunkan Elena


"Elena bangun, " ucap Rafael membangunkan Elena hingga kedua mata Elena terbuka.


"kak Dimas," ucap Elena duduk menyendenkan kepala nya


"minumlah ini, " ucap dims menyerahkan obat dan segelas air putih


"tapi--- "


"kau demam. badan mu panas., "


Tanpa banyak tanya Elena mengambil obat dan gelas air putih dan meminum nya setelah itu menyerahkan nya pada Dimas

__ADS_1


" terimakasih," ucap Elena


"badan mu berkeingat biar aku ambilan tisu. "


Dimas mengambil tisu. Ketika dia akan mengelap terlebih dahulu Elena menghentikan nya.


"biar aku saja, " Elena mengelap wajah nya terus turun ke leher nya


"tidur lah, aku ada di luar jika butuh sesuatu panggil nama ku. "


Ketika Dimas akan melangkah pergi. Elena menarik baju nya.


"bisa kah kau tetap disini, " ucap elena gugup. "aku takut, aku bermimpi buruk, "


Dimas menghelang nafas. "apa ini yang selalu Rafael lakukan padamu. Menunggu mu ketika kau sakit?, "


"benar, " ucap Elena memalingkan wajah


Dimas menyelimuti Elena "tidur lah, " dan dimas duduk di lantai. di saming ranjang dengan Elena yang menggenggam tangan nya. Dengan jarak sedekat ini ia bisa melihat Elena dari dekat. Elena begitu cantik persis seperti ibu nya . Walau samar samar ia bisa mengingat wajah ibu Elena


tangan nya telurur menuju kening nya. Syukurlah panas nya sudah menurun


🍁🍁🍁


Sedang di suatu tempat lain Rafael tertidur di kamar nya dengan gelisah. Ia menggerakkan badan nya kiri dan kanan. Keringat dingin bermunculan hingga ia terbangun dan terduduk


"Elena!!!!!!!!!, " teriak nya dalam ketidak sadaran nya


Rafael terduduk ternyata dia hanya mimpi buruk. Jantung nya berdebar dengan kencang. Apa yang terjadi dengan Elena.


Rafael menyibak selimut nya dan turun dari ranjang. ia turun ke bawah menju dapur. Ia membuka kulkas dan dengan tergesa meminum nya. Di lihat nya jam di dinding menunjukkan angka 2 dini hari.


Setelah kembali ke dalam kamar ia tidak langsung tidur tapi ia menuju balkon kamar nya. Ia teringat kadang Elena menutup mata nya dari belakang atau sekedar memeluk nya dari belakang. Atau elena akan mengejutkan nya dari belakang.


"Elena bagaimana keadaan mu,, "


"apakah kau baik baik saja,, "


"apakah kau tidur dengsn nyenyak, "


" apakah kau bermimpi buruk. "


"apakah kau sudah makan sebelum tidur., "


Ia berbicara sendiri sepeti oramg gila.langait malam menjadi saksi akan kegilaan nya. Ia menyisirim rambut nya kebelakng.


"Elena, aku tak pernah menyesal melepaskan mu.,"


🍁🍁🍁


Pagi nya ia terbangun akibat azdan subuh berkumandang. Ia menggerakkan tangan nya . Dan tangangan nya di genggam oleh seseorang.ia tersenyum Ia berharap semuanya yang ia lalu i kemarin adalah mimpi buruk untuk nya dan sekarang rafael yang menggenggam tangan nya dengan sayang


Tapi saat suara bariton itu berucap senyum nya hilang seketika di gantikan oleh kekecewaan. Ternyata yang kemarin itu bukan mimpi .

__ADS_1


"kau sudah bangun!?,"


"ia, " ucap Elena.


"tidurlah lagi kekamarmu. Kau pasti capek semalaman tidur dalam keadaan terduduk., "


"baiklah, " ucap Dimaas melangkah pergi.


,"panggil aku jika butuh sesuatu. Kamar ku ada di samping mu. "


"terimakasih, "


"sama sama"


Setelah mandi dan sholat Elena langsung menuju teras rumah nya. Ternyata Dimas tinggal sendirian terbukti tidak ada pembantu rumah tangga. Dia merasa bahwa dia pasti akan merepotkan dimas dengan keadaan nya yang tak bisa melihat. Dia ingin kopi hangat di pagi hari seperti yang bik ina buatkan setiap pagi


lena duduk di kursi teras tersebut sambil melamun,


"sedang apa?! "


"eh, kau bertanya pada ku?"


"iya, siapa lagi, "


"sedang duduk kak, "


"nantik jam 9 kita pergi kesuatu tempst ya. "


"untuk apa, "


"ada deh, kejutan hari ulang tahun mu, '"


"terimakasih kak,


"sama sama, "


🍁🍁🍁


Sedang di suatu tempat lain. Rafael sedang menuruni tangga menuju ruang makan.


Bik ina memyiapkan makanan di meja makan. Dan Rafael pun duduk menyantap makanan nya


"Tuan muda kemana Nona Elena?,"


Sontak pertanyaan tersebuat membuat nya kaku dan bersikap datar.


"jangan pernah menyebut nama itu lagi di rumAh ini. Anggap saja kita tidak pernah mengenal nya!, "


"tapi tuan muda saya, -- -- "


"tidak ada tapi tapian kau mengerti?!,"


"Baik tuan muda, " ucap Bik ina pasrah kemudian pergi ke dapur.

__ADS_1


Rafael mencengkram sendok nya dan berdiri. Seketika ***** makan nya hilang. Ia melangkahkan kaki nya menuju pintu keluar


Sedang di tempat lain bik ina di di dapur "ada apa dengan tuan muda kenapa dia terlihat marah ketika ia mengucapkan nama Nona Elena. Dan kemana nona Elena kenapa tidak terlihat. Ya allah semoga tidak terjadi sesustu kepada nona Elena"


__ADS_2