
Mereka segera kembali menuju kedalam alam tempat Rania tinggal dan tepatnya di kamar Rania.
"Tina apakah aku beneran harus berlatih dalam bertahun tahun?" tanya Rania memastikan.
"iya karena pondasi dirimu itu tidaklah cukup" jelas Tina.
"terus aku harus gimana?" tanya Rania polosnya.
"sebulan lagi kita melakukan latihan itu dan kamu fokuslah untuk bersekolah dahulu dan sekaligus bersiap untuk meninggalkan dunia ini sementara" jawab Tina.
Rania yang mendengar jawaban dari Tina pun senang karena dia diberi waktu untuk berlama lama dengan papa nya atau temannya.
Rania turun ke bawah dan ingin makan namun sesampainya di meja makan Rania bermanja manja terhadap Rangga dan itu membuat Rangga merasa heran dengan sikap Rania.
"pah Nia pengen dipangku sama papa terus disuapin" pinta Rania dengan memohon.
Rangga yang melihat keimutan dari anaknya pun segera menurutinya dan memangku Rania sambil disuapin.
"Rania sayang papa" ucap Rania agak kurang jelas karena di dalam mulutnya masih ada makanan.
Rangga hanya tertawa tipis ketika melihat tingkah anaknya, "papa juga sayang Nia" Rangga mengecup pipi Rania dan mencubitnya.
"ihh papa sakittt aaaa" rengek Rania memegang pipinya yang merah akibat cubitan Rangga.
"hihi ya maaf abisnya kamu lucu sihh" ucap Rangga mengelus kepala Rania.
Ketika lagi asyik mengobrol dan bercanda mereka dikagetkan dengan sosok wanita paruh baya yang berjalan menuju arah mereka.
"sejak kapan kalian menjadi dekat begini?" tanya wanita itu tersenyum sinis.
"ehh ma mama" ucap Rania memainkan jarinya karena bingung untuk menghadapi mama nya.
"Nia kembali ke kamar yah papa mau ngobrol dulu sama mama" pinta Rangga.
Rania yang mendengar hal itu pun langsung bergegas menuju kamarnya, namun di tengah jalan dia dihentikan. "berhenti kamu" teriak mama Rania.
__ADS_1
"ii iya mah" Rania berhenti lalu melihat ke arah mama nya bergidik ketakutan.
Rangga yang melihat itu pun dia tidak bergerak namun hanya menahan senyuman sembari melihat ke arah Rania. perlahan mama Rania melangkah menuju arah Rania dengan mata melotot, Rania yang melihat itu pun ketakutan dan melihat ke arah Rangga.
Tapi bukannya Rangga membantu justru Rangga yang ditatap Rania malah menunjukkan ekspresi takutnya juga. hal itu membuat Rania semakin ketakutan dan memejamkan matanya untuk menerima apa yang akan terjadi.
Namun pikiran buruk Rania semuanya salah karena wanita itu memeluk dirinya, "Nia maafin mama yah karena dulu jahatin Nia hiks hiks" ucap mama Rania.
"ehh" batin Rania karena terkejut dengan apa yang terjadi, ibunya yang dulu selalu memarahi,menyakiti,menyiksa dirinya pun tiba tiba menangis dihadapannya.
"maa mama kenapa menangis" ucap Rania.
"Nia maafin mama karena jahatin Nia hiks hiks mama menyesal karena dulu nyakitin Nia" mama Rania semakin mengencangkan pelukannya.
"mama gasalah kok, Nia tau kenapa mama melakukan itu hiks hiks, mama berhenti menangis yah nanti Nia ikut menangis hiks hiks" tangis Rania lebih besar dari mamanya.
Rangga yang melihat hal itu pun segera melangkah kearah Rania dan memeluk mereka berdua. ketiga nya hanyut dalam pelukan kerinduan yang sangat menyentuh itu.
"papa mama kalian tau gak kalo Nia itu menginginkan hal ini dari dulu hiks hiks" ujar Rania.
"maafin mama papa ya Nia karena mama sama papa sering menyakiti Nia hanya masalah pekerjaan, harusnya kami tau bahwa pekerjaan bukanlah segalanya dibanding anak hiks" ucap Rangga kemudian merebahkan dirinya diruang tamu.
"mah pah Nia seneng banget bisa berkumpul dengan kalian tapi dengan adanya kasih sayang kalian ini hihi" ucap Rania.
Mereka yang mendengar ucapan anaknya pun tersenyum dan berebut untuk memeluk Rania. Rania yang melihat hal itu pun memberontak agar tidak dipeluk, namun dia bahagia karena sekarang keromantisan keluarga yang dia idam idamkan akhirnya terwujud.
"Rania cape ma pa huhhh huhhh" ucap Rania ngos ngos an karena direbutin oleh Rangga dan Riska.
"gimana kalo kita bertiga tidur bareng?" ajak Riska.
"wahh Nia mau banget mah" ucap Rania dengan gembiranya dia langsung berlari ke arah kamar orang tua nya dan masuk duluan.
"Ris betapa bodohnya dulu kita menelantarkan bahkan menyiksa Nia hanya karena pekerjaan hiks hiks" ucap Rangga kembali menangis.
"mas aku juga menyesal karena sudah menyiksa Nia hiks hiks, sekarang aku hanya ingin anakku merasakan bahagia dan kasih sayang dari kita mas hiks hiks" ucap Riska memeluk suaminya itu.
__ADS_1
Mereka berdua menangis dalam pelukan dan tanpa sadar Rania melihat dari balik pintu kamar orang tua nya pun ikut menangis.
Tapi Rania menangis hanya sebentar karena dia ingin segera tidur didalam pelukan kedua orang tuanya. "mama papa cepetan kesini Nia udah ngantuk" teriak Rania membuyarkan Rangga dan Riska yang sedang menangis dalam pelukan itu.
"iyaa nak" jawab Rangga kemudian menggendong Riska menuju kamar mereka.
"ihh mas malu nanti kalo dilihat Nia" pipi Riska memerah dan hal itu justru membuat Rangga tertawa.
"biarkan Nia melihat kita supaya dia senang hihi" ucap Rangga.
setibanya di kamar mereka melihat Rania sudah tertidur tapi mereka tidak percaya kalo Rania itu sudah tidur, Rangga yang melihat putrinya pura pura tidur pun mengendap endap lalu menggelitiki Rania.
Dan hal itu membuat Rania berteriak geli dan ketawa karena ayahnya mengetahui bahwa dirinya pura pura tidur. "ahh papa kenapa bisa tau kalo Nia belum tidur" ucap Rania menggembungkan pipinya.
Riska yang baru pertama kali melihat lucunya Rania pun langsung mencium pipi Rania lalu menyubitnya.
"mama ihh kenapa dicubit sakit tau" lagi lagi Rania menggembungkan pipinya sambil membuang muka kesamping kanan. yah seperti seseorang yang sedang merajuk gitu.
"maafkan mama sayang habisnya ini kan beru pertama kali nya mama melihat keimutan dan kelucuan kamu hihi" tawa Riska diikuti Rangga dan Rania.
"yaudah Nia sekarang bobo yah papa sama Mama juga bobo di samping Nia" ucap Rangga.
Nia hanya mengangguk, "mama papa kenapa gameluk Nia" ucap Rania kesal karena kedua orangtuanya justru membelakangi dirinya.
mereka yang mendengar itu pun segera membalikkan badan dan tersenyum malu dengan tingkah mereka.
"maafin mama Nia soalnya mama belum pernah tidur bertiga jadi akhirnya mama membelakangi kamu" ujar Riska mengelus kepala Rania.
"maafin papa juga dan alasan papa juga sama kaya mama kamu" ucap Rangga.
Rania hanya memutar mata jengah, "aish makanya harusnya dulu tuh peluk peluk Nia kan jadinya sekarang tidak kaku begini" ledek Rania.
"oh jadi sekarang anak papa udah berani meledek yah" ucap Rangga menggelitiki Rania.
Riska yang melihat itu pun tidak mau kalah dan menggelitiki Rania dan juga Rangga.
__ADS_1
Mereka akhirnya bercanda malam itu dengan saling gelitik lalu tanpa sadar mereka sudah tertidur karena kelelahan, Rania yang melihat kedua orangtuanya tertidur dalam kondisi memeluknya pun dia hanya tersenyum dan menangis kecil.
"Tuhan terima kasih karena engkau mengabulkan keinginan Nia untuk bisa berkumpul dan merasakan kasih sayang dari mama dan papa" batin Rania menangis dan tertidur dalam pelukan Rangga dan Riska.