
"katanya sahabat tapi ketika sahabatku dalam masalah malah ditinggal hadeh" batin Rania.
Dina pun datang membawa air minum yang diminta oleh Rania. "ini minumnya" ujar Dina sembari memberikan air minum Rania.
"kenapa lama ish padahal beli minum doank" gerutu Rania.
"hehe maap kan tadi Dina makan juga soalnya laper" ucap Dina cengengesan.
Rania hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman sebangkunya yang mungkin di anggap lucu oleh Rania.
"Nia Nia pulang sekolah main yuk kerumah aku" pinta Dina sambil menunjukan ekspresi gemasnya.
"emm maaf Dina pulang sekolah nanti aku ada urusan jadi gabisa main dulu" jawab Rania, sebenernya Rania gaenak untuk menolak bermain cuma dia ada janji dengan Fiko.
"aaa Nia" rengek Dina sambil menggoyangkan tangan Rania.
Rania hanya menghela nafas kesal dia, "kita sama sama masih kecil jadi rayuanmu itu tidak mempan untukku hehehe" ujar Rania.
"emang kamu mau ada urusan apasih tumben banget nolak ajakan main aku?" tanya Dina.
"ya intinya ada donk" jawab Rania.
"main rahasiaan yah sekarang" ujar Dina terus menggelitiki Rania.
"hehh Dina geli ihh kebiasaan banget suka gelitikin orang" ujar Rania sembari mengelak dari Dina.
"biarin" ucap Dina.
Ketika Dina masih asik menggoda Rania tiba tiba bell masuk pun berbunyi. "ahh masih asik godain Nia juga udah masuk aja ini" gerutu Dina.
Mereka pun melanjutkan pelajaran seperti biasanya hingga bel pulang pun berbunyi dan semua murid keluar untuk pulang kerumah.
"Nia kamu beneran gamau ikut aku pulang?" tanya Dina memastikan lagi.
"iya Dina yang bawell" jawab Rania sambil mencubit pipi Dina.
Mereka berdua mengobrol sambil menunggu jemputan mereka hingga akhirnya papa Dina datang. "Nia sini pulang bareng om" ajak papa Dina.
"gak om Rania ada urusan ini jadi kapan kapan aja Rania nebeng" tolak Rania.
"yaudah aku pulang dulu ya Nia bye" ucap Dina sembari melangkah menuju mobil papanya.
"om pulang dulu yah kamu hari hati Nia" ucap papa Dina terus menjalankan mobilnya.
Mobil Dina lama kelamaan menjauh hingga hilang dari pandangan mata dan setelah itu mobil Rangga pun keliatan untuk menjemput anaknya, ketika sampai Rania langsung masuk ke mobil.
"papa papa kita jangan pulang dulu yah" pinta Rania.
"emang kenapa? mau jalan jalan dulu?" tanya Rangga.
__ADS_1
"engga pah, jadi Nia tuh mau bantu Fiko" ujar Rania.
"Fiko? siapa itu Fiko? teman baru kamu kah?" tanya Rangga merasa bingung dan terkejut ketika Rania menyebutkan nama laki laki.
"oh itu Fiko itu anak yang tadi kecelakaan pa" jelas Rania.
"maksud kamu kamu mau nolongin hantu gitu?" tanya Rangga dan tanpa Rangga sadari tubuhnya itu bergidik ngeri.
"heem" jawab Rania singkat sambil mengangguk.
Akhirnya Rania menunjukan alamat yang udah dikasih Fiko ke papa nya, lalu mereka pun bergegas menuju rumah Fiko.
Sesampainya dirumah Fiko mereka melihat banyak kerumunan orang yang datang untuk melayat Fiko hingga kedatangan mereka pun menjadi bahan gunjingan warga.
"siapa mereka,kenapa ada orang kaya disini,apakah mereka yang menabrak Fiko" ujar salah satu warga.
"mungkin bisa jadi karena disini itu tidak ada yang mempunyai mobil, bahkan kerabat jauh pun belum tentu punya, lagipula aku juga belum pernah melihat orang itu" jelas warga lainnya.
Rangga yang mendengar gunjingan itu pun merasa geram dan ingin mengeluarkan suara tapi dia urungkan itu karena dia sadar sedang dalam rumah keluarga yang sedang mengalami duka.
Mereka berdua masuk kedalam rumah dan banyak yang melihat mereka dengan tatapan yang tidak enak untuk dilihat.
"siapa kalian, apakah kalian yang menabrak Fiko hahh, kita baru pertama kali liat kalian disini" ujar salah satu warga yang ada disitu.
"iya siapa kalian, jika kalian mau bertanggung jawab itu bagus tapi sepertinya tidak bisa karena itu adalah anak semata wayangnya Maya" jelas warga lainnya.
Rangga yang mendapat respon yang tidak enak itupun dia langsung menjawab mereka semua, "bapak ibu kami datang kesini karena mau melayat Fiko karena Fiko adalah teman dari anak saya" jelas Rangga.
Rania yang melihat siapa wanita itupun dia langsung tau kalau itu adalah ibu dari Fiko dan tanpa Rania sadari dia berlari hingga memeluk wanita tersebut sambil menangis.
Rangga dan semua warga yang melihat itu sontak merasa terkejut dengan apa yang mereka lihat, karena bagaimanapun Rania bukan siapa siapa dan Maya pun tidak mengenalnya tapi Rania justru memeluk dan menangis dan hal itulah yang membuat mereka terkejut apalagi Maya yang langsung membalas pelukan Rania itu.
"Tante jangan nangis lagi atau Fiko tidak akan tenang Tante hiks hiks" ujar Rania menangis didalam pelukan Maya.
"kamu kenapa ngomong gitu hiks hiks?" tanya Maya menangis juga, bahkan dia juga tidak menyangka ada anak perempuan seumuran anaknya itu menangis sambil memeluk dirinya.
"Tante gaboleh nangis yah atau nanti Fiko sedih karena Tante belum bisa mengikhlaskan Fiko hiks hiks" ucap Rania.
Semua orang disitu hanya bisa berdiam hingga akhirnya pelukan mereka pun terlepas dan hanya ada tatapan kesedihan diantara keduanya, bahkan Rangga pun hanya bisa diam ketika melihat putri kecilnya itu begitu peduli dengan orang lain.
"ada hal yang ingin Nia sampaikan ke Tante nanti" ujar Rania.
"hal apa itu nak? Dan nama kamu Nia? tapi Tante juga bingung kamu itu teman Fiko darimana soalnya Fiko gapernah ngasih tau punya teman yang namanya Nia" tanya Maya yang pelan pelan sudah berhenti menangis.
"nanti Nia jelasin semuanya Tante dan nama Nia itu Rania Rahma tapi semua orang manggil Rania itu Nia tante dan tadi kalo gasalah denger nama Tante itu Tante Maya kan?" tanya Rania dengan wajah polosnya.
"iyaa nama Tante itu Mayangsari dan ada yang manggil Tante itu Maya,Mayang" jelas Maya yang langsung tersenyum bahkan dia serasa melupakan kesedihannya karena melihat Rania.
Semua warga yang melihat Maya bisa tersenyum lagi pun akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena mereka melihat bahwa Maya terlihat senang mengobrol dengan gadis yang mereka kenal dengan nama Rania itu, jadi mereka berinisiatif untuk tidak mengganggu mereka.
__ADS_1
"papa kok diem ajasih, sini ngobrol bareng Tante Maya" ajak Rania kepada Rangga.
"ehh iya Nia tapi papa bingung mau ngomong apa" jawab Rangga polos.
Emang yah bener kata orang buah jatuh tidak jauh dari tempatnya, yah tingkah Nia sama Rangga hampir mirip.
"aish papa" ucap Rania memutar bola matanya.
Maya yang melihat itupun dia tanpa sengaja ketawa lirih karena dia menganggap itu lucu, ya bagaimana dia tidak berpikir begitu orang tingkah mereka aja gajauh berbeda, ya walaupun Maya baru kenal sama mereka tapi dia bisa tau sikap dari seseorang itu gimana.
Rangga yang melihat Maya ketawa itupun langsung memerah bahkan memalingkan wajahnya, Rania yang melihat tingkah papanya juga mengejek "papa malu malu kucing hihi". Rangga hanya diam karena malu diperlakuin begitu oleh putrinya.
"udah Nia kasian itu papa kamu malu begitu" ucap Maya yang ikutan mengejek Rangga.
hingga akhirnya mereka pun tertawa karena hal itu bahkan Rania sampai lupa tujuannya kerumah Fiko karena apa, hingga akhirnya Rangga mengingatkan.
"Nia kamu lupa tujuan kita kesini?" tanya Rangga.
Nia pun kaget dan berhenti tertawa "ohiya Tante Nia mau jawab semua pertanyaan Tante tapi Tante jangan terkejut yah" ujar Rania.
"iya Tante juga penasaran bagaimana kalian kenal sedangkan sekolah kalian berbeda apalagi jarak antara sekolah kamu sama rumah kami itu terbilang jauh" ucap Maya.
"jadi sebenarnya kedatangan Nia karena mau membantu Fiko May makanya dia ngajak aku juga datang mengantar dia" potong Rangga.
"ish papa kan yang mau jawab itu Nia, kenapa papa potong sih ish" ucap Rania menggembungkan pipinya itu hingga membuat Maya dan Rangga ketawa karena melihat tingkah lucu dari Rania.
"yaudah coba Nia yang jawab, papa kamu usil itu hati hati nanti kamu di usilin hihi" ujar Maya masih ketawa bahkan dia gemas dan mencubit pipi Rania itu.
"Tante ish sakit tau" gerutu Rania.
Rangga hanya menggeleng melihat tingkah anaknya itu "bagaimana aku dulu malah menyiksa kamu padahal kamu menggemaskan begitu Nia" batin Rangga menyesali perbuatannya dulu.
"Tante sebenernya Nia ketemu Fiko tadi sebelum Fiko kecelakaan dan Nia juga tau kalo Fiko bakal kecelakaan dan meninggal, hingga akhirnya Fiko yang datengin Nia dan minta tolong untuk menyampaikan pesannya kepada Tante" jelas Rania.
"maksud kamu gimana?" tanya Maya yang masih bingung dengan penjelasan Rania.
"Nia itu punya kelebihan yang tidak semua orang miliki, dia bisa melihat mereka yang tidak bisa kita lihat dan kita kesini karena Nia mau bantu Fiko May" jawab Rangga.
Maya terkejut kaget dengan penjelasan Rangga hingga tanpa dia sadari Nia memeluk dia "ibu maafin Fiko yang malah ninggalin ibu sendirian hiks hiks, Fiko sayang banget sama ibu, maafin Fiko belum bisa membahagiakan ibu tapi malah pergi ninggalin ibu hiks hiks" ujar Fiko yang berada dalam tubuh Rania.
Rangga tidak terkejut dengan kejadian itu karena dia pernah mendapati juga dimana ketika Tina memasuki tubuh Rania, tapi berbeda dengan Maya dia langsung terkejut dan menangis ketika mendapat suara yang dia kangenin itu.
"ka kamu Fiko, nak ini beneran kamu hiks hiks" ucap Maya menangis sambil memeluk Fiko yang berada didalam tubuh Rania.
"ibu maafin Fiko harus pergi ninggalin ibu, tapi ibu jangan bersedih terus karena Fiko gamau melihat ibu sedih, kalo ibu sedih terus nanti Fiko juga bakal sedih hiks hiks" ucap Fiko.
"maafin ibu nak kalo sikap ibu justru membuat kamu tidak tenang disana dan tidak bisa membuatmu pulang disisinya, ibu bakal berusaha mengikhlaskan kamu tapi izinkan ibu memelukmu dulu untuk terakhir kalinya hiks hiks" ucap Maya memeluk Fiko.
hingga beberapa waktu kemudian pelukan mereka pun terlepas "pulanglah nak ibu sudah mengikhlaskan kamu, kamu bahagia disana yah semoga kamu tenang disana nak, ibu sayang sama kamu" ucap Maya mengecup kening Fiko.
__ADS_1
"Fiko tunggu ibu disana" ucap Fiko.
Tiba tiba Rania pun pingsan dan itu membuat mereka terkejut dan panik apalagi Rangga dia langsung bergegas mencoba membangunkan Rania.