
Setelah melihat kejadian itu Rangga pun berbalik menuju mobilnya sambil bergumam, "kenapa yang dikatakan Rania beneran kejadian, sebenernya kemampuan apa yang dimilikinya.
Ketika Rangga memasuki mobilnya dia langsung memikirkan semua kejadian yang kemarin sampai sekarang, dia melihat Rania yang selalu melihat kearah sampingnya.
"Nia kenapa kamu melihat kesampingmu terus?" tanya Rangga sembari melirik sambil fokus menyetir.
"anak yang tabrakan tadi ada disini pa" jawab Rania singkat.
sontak Rangga terkejut ketika mendengar ucapan Rania, karena bagaimanapun yang Rangga pikirkan itu tidak masuk akal, seperti Rania yang bisa melihat kematian seseorang sehingga Rangga berani bertanya.
"Ni Nia papa mau nanya apakah boleh?" tanya Rangga gemeteran.
"boleh, emang papa mau nanya apa?" jawab Rania menoleh kearah Rangga.
"kamu tadi bilang anak itu akan meninggal dan kemudian anak itu juga ada disini apakah itu benar?" tanya Rangga memastikan.
"iyaa ini dia ada disini" jawab Rania sambil menunjuk kearah sampingnya.
"bagaimana caranya?" tanya Rangga.
"Tina bilang ke Nia katanya Nia itu punya kemampuan untuk bisa melihat masa lalu, tapi gatau tadi Nia melihat anak itu dibelakangnya ada sosok hitam dan Nia merasakan bahwa energi kehidupan anak itu sisa sedikit, jadi Nia simpulkan kalau anak itu akan mati, tapi siapa yang menyangka kalau itu beneran terjadi dan sekarang anak itu ada disamping Nia" jawab Nia menjelaskan tanpa ekspresi.
Rangga hanya mengangguk paham mendengar penjelasan dari Rania, mereka berdua hanya diam hingga sampai di sekolahan Rania.
"kita udah sampai Nia semangat belajarnya yah, sekolah yang bener, jangan nakal yah" ujar Rangga sambil mengelus kepala Rania.
"iya papa juga semangat kerjanya yah" jawab Rania tersenyum.
Rania pun bergegas memeluk Rangga lalu melangkah menuju kelasnya, dalam perjalanan menuju kelas hantu anak kecil yang baru meninggal itu terus mengikuti Rania sampai kelas dan dia juga selalu menatap Rania, tentu saja hal itu membuat Rania risih apalagi sepanjang perjalanan selalu diperhatikan.
"maaf kamu kenapa mengikuti aku terus daritadi?" tanya Rania kepada sosok hantu itu.
"kamu apakah bisa membantuku?" pinta hantu itu.
"maaf aku hanya anak kecil 7 tahun aku gabisa bantu apa apa, aku juga gatau apa yang harus aku bantu" jelas Rania.
"aku mohon bantu aku, hanya kamu yang bisa bantu aku hiks hiks" ujar hantu itu sambil menangis.
Rania yang melihat hal itu pun dia merasa tidak tega kepadanya. "apa yang harus aku bantu? dan siapa namamu?" tanya Rania.
__ADS_1
"na namaku Fiko, aku mau minta tolong sama kamu untuk bilangin ke mama aku kalo aku belum bisa menjadi anak yang bisa dia banggakan hiks hiks" jelas Fiko sambil menangis.
Rania yang mendengar itupun dia merasa bingung atas apa yang diucapkan hantu Fiko itu, namun tiba tiba dia masuk ke dunia gelap seperti waktu itu hanya ada kegelapan dimana mana, hingga akhirnya ada setitik cahaya yang semakin mendekat kearah Rania.
Seketika itu Rania melihat anak kecil yang hanya duduk diam belajar dirumah hingga akhirnya datang wanita paruh baya.
"Fiko apakah kamu udah selesai belajar?" tanya wanita paruh baya itu.
"Fiko udah selesai Bu" jawab Fiko tersenyum kearah ibunya.
"karena Fiko udah belajar dengan giat ibu ada sesuatu nih buat Fiko" ujar ibu Fiko.
"wahh apatuh Bu" jawab Fiko mendekat kearah ibunya sambil kegirangan.
"jeng jeng hehe ini hadiah buat Fiko, maafin ibu yah karena ibu belum bisa jadi ibu yang baik buat Fiko, hanya ini yang bisa ibu kasih" ujar ibu Fiko menundukkan kepalanya sedih.
"ibu ngomong apa? Fiko seneng kok kalo dikasih hadiah sama ibu, tapi lebih baik uangnya disimpan aja Bu karena kebutuhan kita lebih banyak, daripada buat beli mainan ini kan lebih baik ibu simpan uangnya" ujar Fiko.
Ucapan Fiko membuat hati sang ibu tersentuh dan membuat dirinya menangis meneteskan air mata, "hiks hiks maafin ibu yah nak karena ibu bukan orang yang mampu" ujar ibu Fiko sembari memeluknya.
Fiko yang dipeluk ibunya pun dia membalas ibunya sambil ikutan menangis, "ibu jangan bersedih yah Fiko janji bahwa Fiko nanti akan sukses dan tidak akan membebani ibu lagi hiks hiks" ujar Fiko.
keduanya pun hanyut dalam pelukan itu dan tanpa sadar Rania yang melihat kejadian itupun dia ikut menangis bahkan sampai ke dunia nyata.
"ehh Dina aku gapapa kok ini cuma kelilipan" jawab Rania sembari mengusap air matanya dan dia menatap sendu kearah Fiko.
Setelah itu guru pun masuk dan mengajar seperti biasanya sampai bel istirahat pun berbunyi, ketika semua orang beranjak pergi ke kantin tapi justru Rania masih diam dikelas dan menatap sendu kearah Fiko.
"Nia kamu kenapa melihat kearah situ terus sih, aku berasa gadianggap ada banget" ujar Dina menggembungkan pipinya.
"gapapa Nia ih, sana kamu ke kantin aku titip air putih yah aku haus banget" pinta Rania.
Dina hanya mengangguk lalu lekas melangkah pergi ke kantin, setelah dirasa aman dan tidak ada satu orangpun dikelas Rania pun langsung membuka obrolan.
"jadi apa yang bisa aku bantu Fiko?" tanya Rania masih dalam ekspresi sedihnya.
"aku hanya ingin kamu membantuku untuk menyampaikan pesanku kepada ibuku, dia masih belum menerima kematianku makanya aku belum tenang disini hiks hiks" jawab Fiko sambil menangis.
"aku akan membantumu sepulang sekolah jadi nanti kamu masuk kedalam tubuhku untuk ketemu ibumu yah" ujar Rania.
__ADS_1
"kamu beneran mau bantu aku?" tanya Fiko.
"iya" jawab Rania.
"makasih Rania" ucap Fiko kegirangan.
Rania hanya tersenyum ketika melihat tingkah Fiko yang menurutnya lucu, walau bagaimanapun usia mereka tidak beda jauh. Namun tiba tiba ada hal yang membuat Rania terkejut, yah tubuh Fiko yang tadinya rusak tiba tiba berubah jadi seperti ketika dia masih hidup, Rania hanya melamun memikirkan hal tersebut.
"apakah kamu terkejut?" tanya suara yang mungkin Rania kenal dan itu membuat Rania kaget.
"Tina kenapa kamu muncul tiba tiba sih kan aku kaget" ucap Rania kesal karena Tina yang tiba tiba mengagetkannya.
"hehe maafin aku" ucap Tina tanpa merasa bersalah.
"ada apa kamu tiba tiba dateng disini?" tanya Rania.
"heh apakah aku tidak boleh untuk mengunjungi sahabatku sendiri?" jawab Tina.
"bukan begitu" ucap Rania.
"jadi begini Nia, kamu kaget kan ketika melihat anak itu tiba tiba berubah wujud seperti bentuk manusianya?" tanya Tina.
Rania hanya mengangguk dan menatap Tina sembari meminta penjelasan. "apa yang kamu liat itu gasalah, kenapa dia tiba tiba berubah seperti pas dia hidup karena kamu udah menerima kelebihan kamu ini dan tidak terpaku atau ketakutan ketika melihat sosok sosok seram" jelas Tina.
"maksudnya gimana Tina, bisakah jelasin lebih jelas?" tanya Rania yang belum paham dengan penjelasan Tina.
"hadehhh" ucap Tina menepuk jidatnya.
"kamu udah menerima kelebihan kamu untuk melihat mereka yang tidak bisa dilihat orang lain kan?" tanya Tina dan Rania hanya mengangguk. "nah itu hal yang membuat dia menjadi sosok seperti disaat dia hidup" jelas Tina.
"biar lebih jelas itu misal ketika kamu dapat kemampuan ini dan kamu masih ketakutan melihat mereka dan kamu selalu takut,menghindar terus dari mereka maka hal itu akan membuatmu stress atau mungkin gila. Tapi jika kamu udah menerima itu dan kamu tidak mempermasalahkan dan tidak terlalu tergubris dengan mereka ya perlahan lahan kamu tidak akan melihat wujud ketika mereka mati" jelas Tina lebih jelas lagi.
"oh jadi maksud kamu itu aku melihat Fiko dalam wujud manusianya itu karena aku tidak terlarut dalam ketakutan dan menghiraukan mereka yang selalu menggangguku" ujar Rania sambil mengangguk sendiri.
"iya begitulah kira kira" ucap Tina.
"Fiko dimana rumah kamu?" tanya Rania.
"di jalan anggrek nomor 17 terus rumah urutan ke 3 dari gang itu" jawab Fiko.
__ADS_1
"oke pulang sekolah aku akan membantumu Fiko, dan kamu Tina apakah kamu mau ikut?" ajak Rania kepada Tina.
"aku tidak mau karena itu hanya membuang tenagaku, tapi kalau kamu dalam masalah panggil aja aku" ucap Tina kemudian menghilang dari pandangan mereka.