
"Baik, saya mengerti!" Lim pun masuk ke dalam mobil, melaju ke semua tempat bagi wanita malam bekerja, alias terdaftar. Lim yakin, bisa saja Raisa terdaftar di salah satu tempat itu. Begitulah John yang juga sekarang mencari ke tempat yang sama dengan Lim.
Dua jam berlalu, kini waktunya karyawan untuk makan siang. Bella dan rekan lainnya pun beranjak untuk ke cafe terdekat, tidak ketinggalan Raisa ikut berdiri, tetapi raut wajahnya murung karena tidak menemukan video syurnya di media sosial.
"Rai, ikut ke cafe bareng kita gak?" panggil Bella sudah siap pergi bersama karyawan lain.
'Duh, kenapa tidak ada? Apa kameraku memang sudah hilang selamanya? Atau aku tanyakan saja pada Genta?' batin Raisa tidak mendengar panggilan Bella membuat Bella pun bergegas mendekatinya.
"Hei, Bella, mereka sudah menunggumu, kau jadi kan makan siang bareng kita?" tanya Bella menepuk bahu Raisa.
"Ah maaf, Bel." Raisa pun terpaksa ikut makan bersama Bella, namun baru juga masuk ke lift, tiba-tiba karyawan laki-laki berteriak dan tergesa-gesa menghampiri kelompok Bella.
"Hei, tunggu dulu!" tahannya sebelum lift tertutup.
"Kenapa kau menahan kami?" tanya Bella di sebelah Raisa.
"Maaf, tapi ini harus segera di bawa ke ruang manajer, bisakah salah satu dari kalian membawanya?" mohon laki-laki itu.
"Oh, kenapa bukan kau sendiri yang bawa?" tanya Bella.
"Aduh, aku tidak bisa, masih ada kerjaan yang harus kuselesaikan," jawab laki-laki itu mengusap keringatnya yang jatuh.
"Kalau begitu, berikan saja pada Raisa," sahut mereka kompak menunjuk Raisa. Bella terkejut teman-temannya mengorbankan Raisa.
"Tidak usah Raisa, sini biar aku saja," ucap Bella menolak saran mereka. Namun Raisa tiba-tiba mengambil berkas itu sebelum jatuh ke tangan Bella.
"Biar aku saja, kau duluan ke cafe, nanti aku nyusul kalian," ucap Raisa sedikit tersenyum lalu keluar dari lift bersama laki-laki itu. Bella cuma terdiam melihat Raisa di balik pintu yang perlahan menutup.
"Tenang saja, aku akan menyusul ke bawah."
__ADS_1
Bella pun tersenyum mendengarnya sebelum lift tertutup. Ia pun dengan temannya turun ke lantai bawah, sedangkan Raisa menunggu lift di sisi lain.
"Raisa, maaf sudah merepotkanmu," ucap laki-laki itu masih berdiri di dekat Raisa.
"Tidak apa-apa kok, santai saja," kata Raisa tanpa menoleh dan hanya melihat angka dan panah di atas pintu lift yang menunjuk ke atas.
"Kalau begitu, aku kembali ke mejaku, sekali lagi maaf dan terima kasih."
Raisa cuma mengangguk lalu diam ditinggal oleh laki-laki itu. "Huftt, aku harus tenang, berkas ini cuma diantar ke ruang manajer bukan ke ruang CEO!" hembus Raisa mencoba atur nafasnya.
"Bu manajer sepertinya barusan yang memakai lift ini, jika begitu lebih baik aku pakai tangga darurat saja ke lantai atas," gumam Raisa pun berlari ke pintu darurat.
"Aku harus secepatnya sebelum Genta keluar dari ruangannya." Raisa menaiki anak tangga dan berharap ia tidak bertemu Genta di lantai atas.
Setelah sampai ke lantai atas, Raisa pun mencari ruang manajer. "Duh, di mana ya ruangannya?" gumam Raisa mencari pintu coklat. Tiba-tiba saja dia pun berhasil menemukan pintu itu namun saat Raisa buka, sekujur tubuhnya bergetar kaget, ruangan itu sudah bukan lagi ruangan manajer.
"Aduh, maafkan saya!" ucap Raisa segera menutup ruangan itu yang sedang dipakai oleh staf-staf lain perusahaan.
Tiba-tiba saat ingin berbelok ke lorong kanan, sontak Raisa bersembunyi di balik vas bunga yang besar. Tubuhnya yang ramping dan seksi itu tentu muat di belakang vas bunga.
"Astaga, kenapa dia ada di sana?" Raisa berkeringat dingin melihat Genta sedang berdiri sendirian dan menelpon seseorang.
"Eh tapi kenapa dia berdiri di situ?" Raisa pun mengintip lalu memasang indra pendengarannya yang tajam.
"Maaf sudah tidak mengangkat panggilanmu tadi, aku baru saja dari ruang rapat," ucap Genta terlihat membelakangi vas bunga di dekatnya.
"Serius? Di kantor atau di luar?" tanya Sena terdengar masih curiga.
"Ya serius dong, Sena ," jawab Genta masih di sana.
__ADS_1
"Baiklah, aku percaya." Genta menghela nafas lega mendengarnya, namun seketika keningnya mengerut saat Sena lanjut bicara.
"Tapi sebelum kau ke sini, aku ingin tahu apakah Raisa itu benar-benar karyawanmu?"
Raisa yang bersembunyi hampir saja menyikut vas bunga, tentu Raisa kaget karena namanya disebut.
'Itu suara Sena, tapi kenapa dia menyebut namaku? Apa yang Genta bicarakan kepada Sena sampai namaku di bawa-bawa? Apa Genta dan Sena tahu aku menyamar sebagai karyawan di sini? Jika begitu, bukan kah Sena bisa datang melabrakku kan?' pikir Raisa cemas namun kembali menguping sebelum membenarkan dugaannya.
"Ah itu, benar Sena, dia karyawan di sini, tapi untung masalahnya sudah ditangani," lanjut Genta baru jawab karena bingung mencari alasan.
'Masalah? Aku buat masalah? Apa jangan-jangan rekaman milikku?' batin Raisa membisu.
"Syukurlah, tapi bagaimana nasib karyawan itu? Apa kau memecatnya?" tanya Sena nampak belum percaya.
"Tentu saja belum, dia tidak sepenuhnya salah jadi aku memberinya kesempatan. Aku tidak bisa asal memecat orang karena perusahaan ku makin sukses berkat kerja keras semua karyawanku, Sena," ucap Genta berbohong.
"Kau jangan curiga lagi seperti itu padaku," lanjut Genta masih berdiri di tempatnya dan belum sadar keberadaan Raisa.
'Uhhh, drama apa lagi yang mereka berdua bicarakan tentang aku?' batin Raisa lalu melihat Genta yang terlihat cemas.
"Baiklah, aku percaya. Tapi kapan kau akan ke sini? Hari ini aku bisa pulang, dan kuharap kau datang untuk mengantarku ke rumah," mohon Sena dengan nada manja. Raisa cuma mengerucutkan mulutnya mendengar Sena yang suka memerintah.
"Okay, aku akan ke sana setengah jam lagi." Genta terpaksa menurutinya. Padahal di lubuk hati Genta, ia ingin keluar mencari Raisa.
Setelah panggilan berakhir, Raisa melihat Genta membuang nafas, seolah punya beban yang berat. Ia pun melihat ponselnya, kemudian menekan satu nama kontak. Raisa mengernyit menatap Genta sedang ingin menelpon seseorang lagi.
"Oh, siapa lagi yang ingin dia telepon?" Raisa bergumam kecil dan penasaran. 'Duh, kalau begini aku tidak bisa ke ruang Manajer!' batin Raisa kesal karena hanya lorong itu satu-satunya ke tempat ruang manajer berada. 'Kalau ruangan manajer pindah, itu artinya ruangannya berdekatan dengan ruang CEO kan?' pikir Raisa jadi was-was.
'Kalau begini, aku bisa mati rasa duduk di belakang vas bunga! Kapan sih Genta pergi dari situ?' gerutu Raisa kembali melihat Genta menengok sebentar ke belakang, seketika Raisa terkejut mendengar Genta menyebut namanya.
__ADS_1
"Ayolah Raisa, kenapa tidak angkat teleponku?" desis Genta kembali melihat ponselnya dan ternyata ia menelpon ke ponsel Raisa. 'Waduh, aku pikir dia mau telepon sekretarisnya, tapi yang dia pikirkan adalah aku?' pikir Raisa lalu menahan tawa karena Genta tidak melihatnya namun ia kembali fokus. 'Tapi kenapa dia mau menelponku?' batin Raisa menyentuh dagu dan masih memeluk berkas.
'Apa jangan-jangan dugaanku benar?' pikir Raisa makin penasaran. Namun tiba-tiba, Raisa makin bersembunyi saat seseorang menghampiri Genta.