Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
17. Berdebar-debar


__ADS_3

'Aku pikir dia akan marah setelah aku kabur dari John, tapi rupanya dia cemas padaku?' batin Raisa sedikit merona lalu geleng-geleng kepala.


'Tidak-tidak boleh begini, tidak boleh rasa itu tumbuh di hatiku.'


Raisa mendorong Genta lalu mendongak, ia terkejut melihat dua pipi Genta tersipu malu karena langsung main peluk-pelukan. Raisa menahan tawa akibat Genta bagai anak kecil yang imut.


"Maaf, aku pasti sudah membuatmu tidak nyaman," ucap Genta sedikit tergagap.


"Tidak kok, aku malah senang malam ini bisa bertemu Genta." Geleng Raisa lalu bersikap manis dengan memeluknya dari depan. 'Ya aku ingin kita mengulanginya dan merekam segs kita.' Batin Raisa dengan seringai licik.


"Aku boleh kan tidur bersamamu malam ini?" 


"Maksudnya?" Genta agak kaget melihat Raisa memohon dan mengdipkan matanya. Raisa menunduk lalu memainkan dua jari telunjuknya.


"Apa kau tidak mau melanjutkan yang ditunda kemarin?"

__ADS_1


Deg! Genta kembali kaget diingatkan, terutama sikap Raisa sangat imut malam ini. Penampilan Raisa juga makin membahana dengan wangi parfum yang disukai Genta.


'Ayolah, jangan lama berpikirnya, cepatlah setuju,' batin Raisa mendesis. Setelah itu, dagu Raisa ditarik oleh jari telunjuk Genta dan spontan pria itu meluncurkan ciumannya ke bibir Raisa. Jantung Raisa tambah berdebar-debar.


"Baiklah, kemari dan ikut ke apartemenku, sayang."


Raisa terlonjat ditarik dari hotel menuju ke mobil Genta. "Kenapa harus di apartemen?" tanya Raisa sedang panik dalam hatinya.


"Tempat ini tidak bagus untukku melakukan beberapa ronde padamu," jawab Genta melaju ke apartemennya. Raisa di dalam mobil makin panik, bukan karena hal lain, tapi dia sedang berpikir berapa ronde yang dimaksud Genta.


'Sial, aku juga tidak bisa menolak." Raisa tidak dapat membantah dirinya, ia sudah gila akan buaian segs sejak malam itu.


Sesampainya di apartemen, Raisa cuma bisa menelan ludah karena tempat itu berada di lantai delapan dan isi aparnya mewah-mewah. Membuat mata Raisa selalu terpukau.


'Gila, hidup orang kaya emang beda.' Raisa berdiri di tengah-tengah. Sedangkan Genta menahan tawa melihat Raisa yang terus celingukan. Ia pun menarik Raisa masuk ke dapur.

__ADS_1


"Oh, kenapa aku ke sini?" tanya Raisa. Genta membelai wajah Raisa yang cantik lalu menunjuk kompor.


"Aku belum makan dan malam ini bisakah kau membuatku makanan?" mohon Genta.


Raisa kaget, ia pikir akan langsung bercinta ke kamar tapi sekarang dia harus mengisi perut Genta.


'Brengsk! Malam ini aku jadi pembantunya?' pikir Raisa kesal lalu pura-pura tersenyum manis.


"Baiklah, aku akan buat yang paling enak!" Raisa terpaksa memakai celemek dan membuka kulkas. Genta menyentuh dagu dan membayangkan sesuatu lalu tersenyum senang.


"Kira-kira mau makan apa, Genta?" tanya Raisa bingung karena di kulkas ada banyak sayuran dan daging ayam yang selalu disiapkan oleh John.


Genta mendekati Raisa yang memegang sayuran, lalu ia memeluknya dari belakang kemudian menyandarkan dagunya di bahu Raisa.


"Apa saja asalkan itu darimu, sayang." Raisa deg-degan mendengar bisikan lembut dan pelukan hangat milik Genta.

__ADS_1


'Duh, kalau sikapnya begini terus, aku bisa cepat mati dan gagal balas dendam.' Raisa hanya bisa mengangguk dan tidak sadar pipinya bagai tomat merah.


__ADS_2