Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
13. Benar-Benar Jahat


__ADS_3

'Ish, kenapa tiba-tiba acuh? Apa sih yang dia pikirkan? Apa aku tidak dicurigai lagi? Atau-' Raisa berhenti berpikir sejenak lalu menyadari sesuatu.


'Ah iya, kawat gigiku? Apa tadi dia mau memastikan gigiku? Huftt… syukurlah aku pakai alat palsu ini, kalau tidak dipakai, bisa saja Genta langsung menendangku ke tengah jalan,'


'Dan sepertinya Genta sudah tidak curiga, tapi drama apa yang dia buat pada Sena?'


Raisa akhirnya sedikit lega, tetapi dia masih penasaran soal obrolan Genta dan Sena tentang dia yang membuat masalah. Tidak memakan waktu lama, Genta dan Raisa sampai juga di restoran Belim.


"Ini pakailah dan belilah pizza di dalam sana," perintah Genta memberikan black cardnya.


"Anda tidak ikut masuk, Pak?" tanya Raisa kini berdiri di luar mobil, tepatnya di sebelah kursi pengemudi.


"Saya ingin sekali masuk membelinya, tapi rasanya tidak enak dilihat jika saya masuk bersamamu," jawab Genta tanpa melihat Raisa.


'Yaelah, bilang saja tidak mau masuk dengan si jelek,' batin Raisa.


"Kalau begitu, saya akan secepatnya kembali, Pak." Raisa pun buru-buru masuk ke dalam restoran. Sedangkan Genta diam-diam memandangi Raisa.


"Mungkin cuma kebetulan saja dia punya nama yang sama dengan Raisa," gumam Genta masih saja kepikiran. "Baiklah, aku tidak boleh curiga lagi, yang harus aku pikirkan fokus menemukan Raisa, bukan memikirkan wanita lain." 


Genta pun bersandar, namun tiba-tiba seseorang menghubunginya. Genta pun mengangkatnya sebelum si pemanggil marah-marah.


"Genta, kapan kau sampai? Aku sudah lama menunggumu," ucap Sena terdengar ngambek.


"Aku lagi di restoran Belim membeli yang kau minta, Sena,"


"Sungguh? Kau ke sana?" Suara Sena langsung senang.


"Tentu, aku sudah ada di sini dan sedikit lagi akan ke situ," ucap Genta tanpa ekspresi.


"Asik, aku akhirnya bisa makan bebas dan tidak lagi merasakan makanan di sini yang hambar, cepatlah ke sini Genta, aku ingin makan itu bersamamu nanti," 


"Ya, kau sabar saja sedikit," ucap Genta melirik ke restoran.


"Kalau begitu, sudah dulu–"


"Tunggu, jangan dimatikan!" tahan Sena masih mau bicara.


"Apa lagi?" tanya Genta.

__ADS_1


"Aku mau bilang sesuatu," ucap Sena terdengar malu-malu.


"Apa itu?"


"Genta, I love you!" ungkap Sena setengah teriak membuat Genta diam sesaat.


"Genta, kenapa diam? Ayo dibalas dong!" ucap Sena dengan nada kecewa.


"I love you to, Sena."


Deg! Detak jantung terdengar cukup keras yang berasal dari Raisa yang sudah berdiri di dekat Genta yang tidak sadar atas kehadirannya. Raisa meremak ujung kotak pizza mendengar kata-kata manis itu keluar dari mulut Genta untuk Sena, bukan untuk dirinya.


'Sialan, kenapa dadaku sakit sih?' desis Raisa menunduk terus menuju ke bagian kursinya.


'Bngst! Kenapa aku jadi mau nangis sih?' Lagi-lagi Raisa hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.


Setelah Raisa masuk, Genta pun mengakhiri panggilannya. Ia mengerutkan kening melihat karyawannya itu murung.


"Sekarang kau tidak usah ikut denganku,"


Deg! Raisa kembali terkejut mendengarnya.


"Sena itu orangnya sensitif sekali, aku hanya tidak ingin dia melihatmu datang bersamaku, bisa saja dia akan berpikir yang tidak-tidak," ucap Genta melihat ke depan.


"Turunlah dan kembali ke kantor."


Raisa mengepal tangan, rasanya seperti dibuang. Rasa itu yang paling dia benci dan kebenciannya kepada Genta makin menumpuk di hatinya.


'Kau benar-benar jahat, setidaknya berterima kasih kek sebelum membuangku! Dasar kadal busuk!' umpat Raisa sudah di tepi jalan sendirian dan ditatap oleh banyak orang. Raisa pun pergi dengan mata yang mulai basah. Namun sekuat apapun dia tahan, Raisa berhenti lalu diam-diam menangis.


"Brengsk! Brengsk kau! Aku benci banget, benci kalau begini, hiks…hikss…aku benci perasaan ini." Raisa menepuk-nepuk dadanya yang sakit. Dari matanya dia punya kenangan yang buruk di masa lalu.


Karena tidak sadar, Raisa sontak terdiam saat seseorang menepuk bahu kirinya. Ia pun cepat-cepat mengusap lembut air matanya agar tidak merusak make upnya. 'Aku tidak boleh begini, aku tidak boleh begini.'


Setelah berbalik, ia terkejut, rupanya itu orang lain bukanlah Genta.


"Kau siapa? Kenapa memanggilku?" tanya Raisa dengan suara serak yang sungguhan habis menangis.


Meski sudah tidak ada air mata terlihat, tetap saja di mata orang itu Raisa habis menangis.

__ADS_1


"Maaf Nona, ini milikmu, aku tadi tidak sengaja melihatmu mengambil pizza, dan sepertinya kau tidak sengaja menjatuhkannya," jawab pria yang memakai masker, topi, sweater serba hitam, yang tidak lain adalah Kara yang kebetulan melihatnya.


Raisa pun tersadar kartu pengenalnya hilang, ia pun mengambil kartunya lalu memasangnya di leher, kemudian mengamati pria di depannya.


'Aku pikir tadi dia Genta, ternyata cuma orang biasa yang sedang sakit flu,' batin Raisa mengira Kara pakai masker karena batuk-batuk, padahal itu salah, Kara sedang menyembunyikan identitasnya di kota ini, karena semua orang tahu putra kedua Nero sudah meninggal. Akan membingungkan jika dia menampakkan wajahnya ke semua orang. Itulah kenapa juga Kara memakai masker, agar suaranya beda dari Genta.


"Terima kasih, kau baik sekali, lain kali kalau kita bertemu lagi, aku akan mentraktirmu," ucap Raisa sedikit tersenyum lalu berbalik ingin pergi. Tetapi Kara menghadang jalannya.


"Sebentar,"


"Hm, ada apa?" tanya Raisa mundur sedikit.


"Apa benar namamu, Raisa?"


"Ya, itu namaku," jawab Raisa agak bingung pria itu tahu namanya.


"Kau karyawan di perusahaan Nero?" tanya Kara lagi. 


"Benar, tapi dari mana kau tahu itu?" Kali ini Raisa bertanya.


"Aku tahu dari kartu itu, maaf sudah melihatnya tanpa izin, hehehe," ucap Kara sambil mengusap kepala belakangnya dan sedikit cengengesan agar sikapnya terlihat natural di mata semua orang.


"Oh begitu, ya sudah aku pergi dulu, maaf sudah merepotkanmu sampai harus membawa ini padaku." Setelah bicara, Raisa pun pergi meninggalkan Kara yang berdiri sendirian di tepi jalan. Terlihat Raisa masuk ke dalam taksi, tapi lagi-lagi taksi yang kemarin mengantarnya, membuat mood Raisa makin kacau.


"Aneh, rasanya kok aku pernah lihat dia ya, tapi di mana?" gumam Kara berpikir sambil berjalan.


"Ah benar, dia punya nama yang mirip dengan wanita malam itu, tapi sayang sekali rupa mereka sangat beda jauh. Ternyata di dunia ini banyak yang bernama Raisa." Kara pun kembali melihat-lihat sekitar untuk mencari sebuah jejak. Terutama jejak pelaku yang mencelakai Sena.


Sementara Genta, pria ini sudah sampai di ruangan Sena, namun Genta terlihat diam saja di sebelah Sena yang asik makan pizza. Nampaknya Genta sedang berpikir sampai diam mengabaikan Sena. Tentu saja Genta melupakan sesuatu.


'Bodoh banget, aku lupa tanya parfum si jelek itu.'


Malam telah tiba, beberapa karyawan masih sibuk bekerja, dan sebagian yang lain sudah bersiap untuk pulang. Begitu pula, Bella dan Raisa sudah waktunya pulang ke rumah.


"Raisa, dari tadi aku mau bertanya sesuatu di kantor, tapi melihatmu sibuk, jadi aku menunggu waktu pulang," ucap Bella duduk di depan Raisa. Terlihat dua-duanya sedang makan malam.


"Oh, apa yang mau kau tanyakan?" tanya Raisa dengan nada datarnya.


"Kau sudah menemukan kamera yang hilang kemarin?" Bella terpaksa bertanya itu, namun sebenarnya Bella ingin memarahi Raisa karena mencari video itu di kantor.

__ADS_1


__ADS_2