Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
12. Berparas Jelek


__ADS_3

'Ah Cellaka! Aku pasti sudah ketahuan!" batin Raisa berteriak dalam hati karena Genta menariknya pergi menuju ke dalam lift. Raisa yang panik tidak dapat berpikir mencari cara melepaskan diri, bahkan mulutnya sendiri tertutup rapat-rapat.


"Masuklah ke mobil," pinta Genta berjalan ke kursi pengemudi, sedangkan Raisa masih diam di dekat mobil.


'Ke-kenapa dia membawaku turun ke parkiran dan menyuruhku masuk?' batin Raisa perasaannya mulai tidak enak.


"Hei, cepatlah masuk!" perintah Genta sudah bersiap menyetir mobilnya. Raisa pun celingukan, melihat sekitarnya. 'Sepertinya tidak ada orang di sini, kalau begitu aku cepat masuk saja sebelum ada yang melihatku pergi dengan Genta.' 


"Hei kau, jangan bengong saja! Cepat masuk!" panggil Genta lagi. Raisa pun mengangguk lalu duduk di kursi depan, dekat Genta. Setelah itu, Raisa menaikkan jendela mobil agar tidak ada yang melihatnya bersama Genta.


"Pasang sabuk pengaman," ucap Genta juga memasang sabuk pengaman.


"Ba-baik, Pak." Raisa yang gugup tak bisa berbicara lancar. Namun Raisa sangat penasaran kenapa Genta menariknya masuk ke mobil. 'Dari pada aku berpikir sendiri, lebih baik aku tanyakan sekarang!' batin Raisa lalu melihat Genta yang menyetir mobil meninggalkan perusahaan.


"Maaf, Pak. Kenapa anda yang menyetir? Kenapa bukan sekretaris John?" tanya Raisa masih dengan suara serak agar Genta tidak mengenalinya.


"Sekretaris John punya tugas, dia tidak bisa menemani saya hari ini," jawab Genta hanya fokus melihat ke depan saja.


'Oh, pantesan aku tidak melihat pria itu, tapi apa tugasnya ya?' pikir Raisa lalu bertanya lagi.


"Kalau begitu, untuk apa saya ikut anda, Pak?"


"Hari ini saya harus ke rumah sakit menjenguk Sena, tapi dia meminta saya untuk membelikannya pizza di restoran Belim dulu," jawab Genta.


"Terus, apa hubungannya dengan saya?" Raisa bertanya lagi.


"Saya tadi ingin mengajak Manajer Ze menemaniku membeli pizza di restoran itu, tapi melihat Manajer Ze tidak ada, jadi saya terpaksa membawamu," jawab Genta lalu melihat Raisa.


"Ngomong-ngomong ini pertama kalinya saya melihatmu, siapa namamu?" lanjut Genta kali ini bertanya.


"Sa-saya, Rai, Pak!" jawab Raisa menunduk, tidak mau Genta curiga. 'Ya ampun, kalau begini, aku harusnya menolak bawa berkas itu, tapi apa boleh buat, sekarang aku satu mobil dengannya. Aku cuma perlu tenang dan harus terlihat seperti wanita cupu agar Genta tidak mencurigaiku,' batin Raisa kini yakin Genta memang tidak mengenalnya, apalagi baru kali ini Genta melihat sosoknya yang cupu.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

__ADS_1


Deg! Raisa sedikit tersentak dan langsung menggelengkan kepala dan berbicara terbata-bata.


"Ini pertama kalinya sa-saya bertemu dan berbicara pa-pada anda, Pak," jawab Raisa sangat gugup dan cemas.


"Pufft, tidak usah ketakutan begitu, saya jadi merasa seperti penjahat yang menyandera orang," tawa Genta lalu kembali tenang mengemudi.


'Kau ini emang penjahat kok!' umpat Raisa dalam hati.


"Ma-maaf, saya cuma gugup bisa duduk di sini bersama anda, Pak," ucap Raisa merasa ingin sekali kembali ke kantor.


"Kau beda sekali, tidak sama dengan karyawan lainnya yang heboh kalau mendapat kesempatan menemaniku bekerja," kata Genta menahan tawa lalu melirik Raisa yang terus menunduk.


'Sepertinya ini cuma perasaanku saja, dia berbeda sekali dengan Raisa, dia berparas jelek dan punya suara beda. Suara Raisa lembut dan sikapnya centil. Tapi masih ada yang perlu aku selidiki,' batin Genta merasa wanita di sebelahnya sekilas mengingatkan pada wanitanya.


"Maaf, Pak. Aku rasa setiap orang punya sifat yang berbeda-beda. Aku tidak seperti mereka, aku bekerja di sini sudah sangat bersyukur, dan tidak pernah berharap duduk bersama anda di sini," tutur Raisa memecahkan suasana yang tadi hening.


"Ya, melihat tampilanmu, kau memang tidak banyak bicara, bisa dibilang kau menyukai ketenangan," ucap Genta tiba-tiba ekspresinya berubah sedih. Raisa pun cuma diam membuat suasana makin terasa canggung.


'Duh, aku harus ngomong apa ya?' pikir Raisa lalu menemukan ide.


Genta tersentak lalu terdiam.


'Waduh, kayaknya aku salah bicara nih,' desis Raisa dalam hati.


"Raisa? Haha… sepertinya kau salah dengar, aku tidak tahu siapa yang kau maksud itu," jawab Genta tertawa kecil. Tidak seperti Raisa yang langsung mengepal tangannya. Tentu ia agak kecewa. 'Dasar pria busuk, pandai sekali dia berbohong,' batin Raisa ingin sekali menggigit Genta.


"Hahaha… saya kira ada karyawan baru punya nama yang sama denganku," ucap Raisa tertawa kecil. Sontak mobil mendadak berhenti dan hampir membuat kepala Raisa terbentur.


"Duh, untung saja pakai sabuk, kalau tidak, keningku bisa benjol, hahaha…." tawa Raisa lalu perlahan menoleh ke Genta namun langsung saja pria itu menangkap dua bahu Raisa lalu mendorongnya ke belakang.


"Ada apa, Pak? Apa saya buat salah?" tanya Raisa tetap tenang walau sedang dipojokkan.


"Namamu siapa?"

__ADS_1


'Upss… apa aku barusan keceplosan menyebut namaku?' batin Raisa sedikit menelan ludah.


"Kenapa diam saja? Kau tidak mau menjawabnya?" 


"Saya mau jawab tapi bisakah anda melepaskan saya, Pak?" Raisa menunduk, tidak kuat ditatap curiga oleh Genta. Bukannya dilepas, Genta malah mengangkat dagu Raisa membuat wanita itu benar-benar syok diamati, bahkan Genta mencubit pipi kanan Raisa yang terdapat tompel.


"Hidungnya mirip dan mancung,"


"Dia punya dua mata yang cantik juga, tapi warna kulitnya putih cerah, sedangkan kau agak gelap, dan wajahnya bersih tidak punya tompel jelek sepertimu. Aku pikir kau adalah dia, tapi sepertinya cuma firasatku saja, kau beda jauh darinya, antara berlian dan batu kali," jelas Genta lalu melepaskan Raisa dan kembali duduk normal. 


Raisa secepatnya menunduk dan hanya diam karena jantungnya terus berdebar-debar.


'Sialan, dia benar-benar sempat curiga padaku, tapi untung saja aku pintar memasang tompel dan make up agar terlihat nyata, tapi tadi itu dia terlalu dekat, bahkan aku bisa mendengar detak jantung Genta,' batin Raisa diam-diam melirik Genta yang sedang berpikir. 'Cih, dia itu pria busuk yang suka pegang sembarangan!' decak Raisa dalam hati tidak suka Genta yang main sentuh-sentuhan dan sempat menghinanya.


Setelah tenang sedikit, tiba-tiba saja Genta menarik dagu Raisa hingga keduanya saling bertatapan lagi.


"Memang beda sekali, tapi aku ingin tahu sesuatu darimu," ucap Genta mencengkram rahang Raisa.


"Pa-pak Bos mau tahu apa dari saya?" tanya Raisa susah bicara.


"Buka mulutmu," pinta Genta.


"Bu-buka mulut? Tapi mulut saya tidak bisa-bisa terbuka kalau ada tangan anda, Pak," ucap Raisa sangat kesusahan.


" Sekarang kau bisa buka mulutmu?" tanya Genta kembali duduk dengan elegan.


"Buka begini, Pak?" Raisa membuka mulutnya lebar-lebar. Seketika itu juga Genta menatap ke depan lalu kembali melajukan mobilnya.


'Walau wanita ini punya belahan di bibir bawahnya, aku ingat jelas Raisa tidak memakai kawat gigi. Haiss, sepertinya aku terlalu mencemaskan Raisa sampai menganggap orang lain adalah dia, aku harus segera menemukannya sebelum Kara melakukan sesuatu padanya.'


Raisa mengernyit heran melihat Genta mangut-mangut sendirian. 'Cih, apa sih yang dia pikirkan?' pikir Raisa sedikit berdecak.


"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Raisa ingin tahu.

__ADS_1


"Yang tadi lupakan saja, anggap kalau tadi kita tidak pernah saling berbicara," jawab Genta mengabaikan Raisa.


'Ish, kenapa tiba-tiba acuh? Apa sih yang dia pikirkan? Apa aku tidak dicurigai lagi? Atau-' Raisa berhenti berpikir sejenak lalu menyadari sesuatu.


__ADS_2