Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
16. Mengadu Domba


__ADS_3

"Lim pasti menemukan sesuatu, dia memang bisa diandalkan!" Kara tersenyum senang menuju ke tempat Lim.


"Maaf Bos, saya sudah mencari ke semua tempat hiburan di kota ini, tetapi wanita itu tidak terdaftar di satupun tempat," jelas Lim terlihat duduk di sebelah Kara di dalam mobilnya.


"Tidak apa-apa, informasi yang kau berikan ini tidak terlalu buruk, sekarang aku yakin wanita itu memang punya tujuan pada Genta," kata Kara sambil makan gorengan.


"Tapi Bos, meski tidak menemukan jejaknya, saya memiliki hal lain yang harus Bos tahu," ucap Lim sambil menyetir mobil.


"Apa yang kau dapatkan?" tanya Kara melepaskan topi hitamnya.


"Saya bertemu sekretaris John di tempat Mammi,"


"Lalu?"


"Dia juga sedang mencari wanita itu, Bos,"


"Kalau begitu, Genta masih belum menemukannya?" gumam Kara lalu menyeringai.


"Kira-kira di mana wanita itu bersembunyi sampai-sampai Genta masih belum melihatnya?"


Kara merasa Genta yang punya hal spesial yaitu memiliki indra penciuman yang tajam sudah melemah. Kara pun berpikir tidak akan lama lagi saudaranya itu akan digantikan olehnya.


"Kalau saja tidak ada amanat dari Ibu, aku sudah pasti membunuhnya dengan tanganku sendiri," decak Kara sangat benci Genta.


"Gara-gara dia menuduhku, aku dicoreng dalam kartu keluarga." 


Lim cuma bisa diam melihat Kara frustasi memakan gorengan dan mengoceh marah pada Genta. Namun seketika Kara terdiam saat kotak obat masih ada padanya. Kara pun melirik Lim, lalu menyembunyikan obat itu, ia tidak mau Lim melihat obat itu.


Di tempat Genta, terlihat ia sudah keluar dari rumah Sena dan berjalan di sebelah Tuan Nero ke mobilnya.

__ADS_1


"Kau tidak pulang ke rumah, Genta?" tanya Tuan Nero berhenti jalan.


"Tidak, aku akan tinggal di luar," jawab Genta datar.


"Sena sudah kembali, tidak ada yang perlu lagi kau cemaskan, pulanglah ke rumah malam ini," ucap Tuan Nero mengajaknya pulang bersama.


"Maaf ayah, justru sekarang kecemasanku bertambah, aku tidak bisa pulang bersamamu," tolak Genta berdiri di mobilnya sendiri.


"Kenapa? Apa masih ada urusan lain yang kau–"


"Kara, dia sedang berada di kota ini, aku akan terus berjaga-jaga sampai hari pernikahanku tiba, sebaiknya ayahlah yang secepatnya pulang, aku cemas target selanjutnya adalah ayah," ucap Genta lalu masuk ke mobil, kemudian melaju pergi meninggalkan Tuan Nero yang diam, lalu senyum licik pria tua itupun terlihat.


Tiba-tiba seseorang bertepuk tangan di dekat Tuan Nero. "Bagus sekali, Genta yang berbakti padamu sejak kecil tampaknya memang sayang padamu, Nero." Ayah Sena ikut tersenyum.


"Tapi sampai kapan kau mengadu domba kedua putramu, Nero?"


"Justru itulah keinginanku, melihat mereka tumbuh dalam lingkaran kebencian dan menemukan pewarisku yang asli," kata Tuan Nero menatap Ayah Sena.


"Wah, kau benar-benar ayah yang gila," cakap Ayah Sena geleng-geleng kepala karena Tuan Nero hanya menginginkan satu anak yang bertahan di akhir. Padahal Ayah Sena sangat menyukai Genta dan Kara saat keduanya masih anak-anak yang menggemaskan, tapi semua itu hancur akibat kelakuan Nero yang terus memprovokasi anaknya sendiri. 


Dalam perjalanan, Genta yang mengemudi mobilnya pun menghubungi John. "Halo, John, ada apa kau menelpon sebanyak ini?" tanya Genta karena mendapat lima puluh panggilan tidak terjawab dari John.


"Maaf Tuan Genta jika saya mengganggu waktu anda, tapi sekarang ada hal penting yang ingin saya katakan," jawab John sedang duduk di sebuah sofa.


"Kau ada dimana sekarang?" tanya Genta.


"Saya berada di apartemen,"


"Okay, saya akan ke tempatmu, malam ini aku juga akan kembali ke apartemen ku." Genta mematikan panggilan lalu mengebut ke sana.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu apartemen, Genta masuk dan melihat isi aparnya yang sepi.


"Lebih baik aku mandi dulu." Genta masuk ke kamarnya, meletakkan ponselnya di atas meja. Saat mau membuka jasnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Genta membola, nama si pemanggil adalah Raisa. Secepatnya, Genta menjawab.


"Halo, Raisa, di mana kau sekarang?" 


"Aku di hotel seperti biasanya,"


Deg! 


"Tunggu di sana, aku akan segera ke situ." Genta mematikan panggilan lalu keluar. Ketika membuka pintu, ia bertemu John yang datang ingin melapor. Namun John heran melihat Genta yang amat senang dan menepuk bahunya.


"Kau memang hebat, John. Bulan ini gajimu saya naikkan sepuluh kali lipat," kata Genta lalu pergi begitu saja.


"Apa? Gajiku naik sepuluh kali lipat? Kenapa tiba-tiba Tuan Genta sesenang itu sampai buru-buru pergi?" gumam John lalu memukul tembok di dekatnya.


"Ini parah sekali, baru kali ini Tuan memuji saya hebat, ini hal yang sangat langka!" sorak John kesenangan dalam hati. Rasanya mau teriak-teriak dapat gaji besar.


"Baiklah, nanti saja aku katakan informasiku, sepertinya malam ini Tuan Genta pasti senang karena memenangkan saham." John pun balik lagi ke apartemennya yang berdekatan dengan Genta.


Cklek! Genta yang tiba di kamar hotel langsung tersenyum sumringah melihat Raisa benar-benar ada di depannya.


"Genta!" Raisa seperti biasa melompat riang ke arahnya dan Genta dengan senang hati memeluknya, membuat Raisa kaget dipeluk erat-erat.


"Kau membuatku cemas, tapi sekarang aku senang dapat melihatmu baik-baik saja," lirih Genta. Jantung Raisa kembali berdebar-debar masih didekap, apalagi Genta bersikap aneh malam ini.


'Aku pikir dia akan marah setelah aku kabur dari John, tapi rupanya dia cemas padaku?' batin Raisa sedikit merona lalu geleng-geleng kepala.


'Tidak-tidak boleh begini, tidak boleh rasa itu tumbuh di hatiku.'

__ADS_1


__ADS_2