Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
15. Obat Pencegah Hamil


__ADS_3

'Setelah aku menikah, akan kujadikan Genta sebagai budakku, dan kurebut hartanya lalu membuangnya dari keluarga ini, hahaha…'


Di lain tempat, Bella dan Raisa keluar jalan-jalan. Terlihat dua-duanya berkeliling mencari toko kamera.


"Oh ya Rai, sudah beli kamera, kita nonton bioskop yuk," ajak Bella merangkul lengan Raisa.


"Kau suka film apa, Rai?" tanya Bella karena Raisa cuma diam.


"Segs," jawab Raisa.


"What? Kau sudah gila ya sampai ngomong jorok begitu?" cetus Bella tidak suka.


"Bercanda," ucap Raisa datar.


"Ihhh, aku serius tau, kau suka film apa?" tanya Bella yang memang suka bertingkah centil.


"Pasti kau suka film yang protagonis baik, kan?" tanya Bella mengangkat jari telunjuk.


"Salah, aku suka protagonisnya jahat," jawab Raisa akhirnya bicara juga.


"Itu sih antagonis, Ra!"


"Protagonis itu tidak ada yang jahat," lanjut Bella mengoceh.


"Kalau begitu aku tidak mau nonton," tolak Raisa pun menjauh dari bioskop.


"Eh tunggu, kenapa kau ngambek sih?" Bella menarik tangan Raisa agar tidak pergi.


"Aku akan nonton kalau semua tokohnya jahat," ucap Raisa serius.


"Aduh, kau ini aneh banget sih, mana ada film yang tokohnya jahat semua," celetuk Bella.


"Ada kok," ucap Raisa tersenyum.


"Hah? Siapa? Film siapa?" tanya Bella.


"Film milikku," jawab Raisa tersenyum lagi.


"Maksudnya?" 


"Tunggu saja, Bella. Setelah semua tujuan hidupku selesai, aku akan merilis sebuah film fantastik di mana protagonisnya lebih jahat dari antagonisnya, bahkan semua orang lebih membenci protagonisnya daripada antagonisnya," jelas Raisa yang tentunya itu kisahnya nanti.

__ADS_1


"Waah, tidak sangka itu cita-citamu, semoga kau jadi sutradara dan bisa beli rumah untukku, hehehe." Bella memeluk Raisa, senang sahabatnya punya masa depan yang cerah dan mustahil.


"Sudah, yuk kita beli kamera. Aku sudah tidak mau nonton juga." Bella menarik Raisa pergi.


Tidak lama mencari, toko kamera sudah ada di depan mata. Bella pun masuk namun keluar lagi melihat Raisa yang tidak masuk.


"Rai, masuk sini sebelum tutup," panggil Bella.


"Maaf Bel, aku mau ke apotek sana dulu," tolak Raisa nunjuk ke apotek yang tidak jauh.


"Buat apa?"


"Mau beli obat, perutku agak mules," jawab Raisa bohong.


"Okay, kau cepatlah ke sana, aku tunggu kau di dalam." 


Setelah Bella masuk, Raisa pun berlari ke apotek itu. "Syukurlah, apoteknya belum tertutup," hembus Raisa merasa lega lalu masuk cepat.


"Mau beli apa, kak?" tanya kasir yang seorang gadis muda. Raisa pun menunjuk kotak obat yang dua hari yang lalu dia beli sebelum malam itu dimulai.


"Ini kak, harganya lima puluh ner," ucap gadis itu meletakkan obat di atas lemari.


(Ner: nama mata uang)


"Rai, apa maksudnya ini? Kenapa kau beli obat ini?" tanya Bella sangat kecewa.


"Rai, jawab aku! Kenapa kau–"


"Apa sih dek, kenapa obat ini yang kau kasih? Aku kan nunjuk obat itu," ucap Raisa pura-pura marah pada kasir apotek. Bella menyipitkan mata, tidak percaya mbaknya salah ambil. Tapi melihat Raisa yang marah besar, kecurigaannya pun hilang.


"Ihh dek, lain kali jangan begitu ya," nasehat Bella padanya. Gadis itu cuma bisa diam saja disalahkan dan mengambil obat lain.


"Ayo Bel, kita ke toko kamera," tarik Bella setelah Raisa mengambil obat sakit perut. Saat diluar, tiba-tiba lagi Raisa masuk dan mengambil obat pencegah hamil di atas lemari dan tidak lupa membayarnya. Si gadis cuma terheran-heran melihat sikap Raisa.


"Kau kenapa masuk lagi?" tanya Bella selidik.


"Ini uang aku jatuh, jadi aku ambil," jawab Raisa bohong. Bella yang belum percaya, ia pun mengambil kresek hitam di tangan Raisa, namun hanya satu obat sakit perut yang ada.


"Ya sudah, yok kita ke sana," ucap Bella pun jalan ke toko kamera. Raisa mengelus dada akhirnya Bella tidak curiga. Untung saja dia menyembunyikannya di saku belakang.


Saat sampai di sana, toko kamera sudah tertutup. Ekspresi dua wanita muda itu tidak bisa dijelaskan lagi.

__ADS_1


"Yah, ditutup beneran, sekarang kita pulang saja yuk." Bella menunjuk motornya yang terparkir di sebrang jalan. Raisa pun cuma mengangguk saja dan mengikuti Bella lewat sebracros.


Saat di tengah jalan, tiba-tiba Bella berhenti ketika jeritan Raisa terdengar jatuh di belakangnya. Sontak Bella terdiam melihat lelaki bersweater dan masker hitam yang tidak sengaja menyenggol Raisa.


"Maaf, saya tidak sengaja, mari saya bantu berdiri," ucap pria itu mengulurkan tangan. Raisa yang terduduk di jalan, ia mendongak dan langsung keduanya mengerutkan dahi.


"Loh, kau kok di sini?"


Bella pun ikut mengernyit melihat Raisa kenal dengan pria itu yang tidak lain adalah Kara yang sedang buru-buru ke tempat mobil Lim berada.


"Oh, Raisa, kau tidak apa-apa, kan?" tanya Bella berdiri di sebelahnya.


"Tidak apa-apa kok," jawab Raisa memperbaiki kacamatanya yang oleng.


"Maaf, aku tadi bengong jadi tidak menghindar," lanjut Raisa pada Kara.


"Oh ya, yuk kita cepat pulang!" Bella menarik tangan Raisa namun Raisa menolak.


"Sebentar dulu, aku ingin bicara padanya." Raisa lalu melihat Kara.


"Kau terlihat buru-buru, tapi bisakah kau menunggu di sini?" tanya Raisa.


"Kau mau kemana, Rai?" tanya Bella.


"Aku punya hutang jadi mau lunasi malam ini." Raisa berlari ke sebuah kedai gorengan, meninggalkan Bella dan Kara di tepi jalan.


"Maaf, sepertinya Rai mengenalmu, tapi kau kenal sahabatku sejak kapan?" tanya Bella agar tidak canggung berdiri di sebelah Kara.


"Tadi siang kami tidak sengaja bertemu," jawab Kara.


"Oh begitu, haha…" Bella cuma bisa tertawa bodoh lalu mengamati Kara.


'Nih orang tinggi dan keren juga, posturnya juga mirip sekali dengan Pak Genta, terutama matanya. Aku penasaran bagaimana wajahnya? Pasti lebih tampan dari Pak Genta,' batin Bella nunduk tersipu.


"Maaf menunggu lama, ambillah ini, dan maaf cuma ini yang bisa kuberikan padamu. Terima kasih soal siang tadi sudah menemukan kartu pengenalku." Raisa memberi bingkisan pada Kara lalu menarik Bella pergi ke arah motornya.


Kara pun menoleh, mengamati dua wanita itu mulai pergi, kemudian melihat kresek di tangannya.


"Walau jelek tapi dia baik juga, masih ingat untuk berbalas budi, beruntung sekali wanita manis tadi berteman dengan si kacamata," gumam Kara pun lewat lagi di sebracros, namun tidak sengaja kakinya menendang sesuatu.


"Loh, apa ini?" Kara memungut sebuah kotak obat. 

__ADS_1


"Eh, ini kan obat pencegah hamil, kenapa obat ini terjatuh di sini? Siapa yang punya?" Kara celingukan, tapi di jalan itu tidak ada orang selain dia. Kara pun ingin membuangnya, namun malah memasukkan ke dalam kresek akibat didesak oleh Lim dalam panggilan suara. Terpaksa, Kara mengabaikan obat itu.


"Lim pasti menemukan sesuatu, dia memang bisa diandalkan!" Kara tersenyum senang menuju ke tempat Lim.


__ADS_2