Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
7. Bau Tubuh Raisa


__ADS_3

Sementara Raisa, dia tiba-tiba hilang dari sekretaris John, membuat Genta panik di dalam kamarnya.


"Apa? Raisa hilang? Bagaimana bisa?" kaget Genta buru-buru keluar untuk ke tempat John.


"Maaf, Tuan. Nona Raisa tiba-tiba memukul punda saya jadi mobil dihentikan, dan tiba-tiba saja Nona Raisa lari keluar," jawab John dalam panggilan suara.


"Ah tol*l, cepat cari kembali, dia tidak boleh sampai ditemukan oleh Kara!"


"Baik, Tuan!"


Panggilan pun berakhir. Genta masuk ke dalam mobilnya, berniat untuk mencari Raisa. Namun tiba-tiba dia mendapat panggilan. Genta pun mengangkatnya tanpa melihat nama si pemanggil.


"Bagaimana? Kau sudah menemukan Raisa?" tanya Genta fokus menyetir mobilnya.


"Raisa? Siapa dia, Genta?"


Deg! Detak jantung Genta berdegub keras, ia pun melihat ponsel dan membelalak melihat nama si pemanggil adalah Sena.


'Aduh, sial. Kenapa Sena yang menelpon sih?' pikir Genta mengira itu dari John.


"Genta, kenapa diam saja?" tanya Sena yang terlihat sedang duduk di atas brankarnya.


"Ah itu, dia karyawanku di kantor dan hari ini dia kabur setelah membuat masalah, Sena," jawab Genta secepatnya beralasan.


"Begitu, aku pikir–"


"Ah bukan, kau jangan pikir aneh-aneh deh, aku tidak punya hubungan apapun dengan wanita lain," kata Genta memotong ucapan Sena.


"Kalau begitu, bisakah kau ke sini? Aku hanya sendirian, tidak ada seorang pun yang menghiburku," mohon Sena.


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Tuuuut….


Genta menghela nafas lega, namun begitu yang dia khawatirkan, tetaplah Raisa. Karena Raisa sudah melekat di dalam hatinya. Genta pun melaju ke rumah sakit, namun sebelum sampai ke sana, ia meninggalkan pesan pada John untuk terus mencari Raisa. "Aku harus menemukannya dan menyembunyikannya. Tidak ada yang boleh tahu semua tentang dia kecuali aku." Genta mulai posesif dan terobsesi pada Raisa.


Yang dicari-cari memang sedang kabur, tentu Raisa tidak mau dikirim ke luar negeri sebelum balas dendamnya terbalaskan. Wanita itu sudah melepaskan samarannya dan bahkan dengan santai melewati John yang tidak dapat mengenalinya, karena kali ini Raisa menyamar sebagai nenek-nenek dengan rambut putih yang palsu.

__ADS_1


"Hufttt… syukurlah John tidak curiga padaku, sekarang aku harus pulang dulu, siapa tahu Bella yang menemukan kameraku." Raisa pun mencari taksi, dan tidak sangka taksi yang tadi berhenti lagi di depannya.


'Aduh, kenapa supir ini lagi sih?' batin Raisa takut dikenali oleh supir taksi. Karena tidak ada taksi lagi, terpaksa Raisa masuk saja.


"Mau kemana, Nek?" tanya supir sopan dan tanpa menoleh. Raisa pun mengetes suaranya agar berbeda dari sebelumnya dengan cara batuk-batuk.


"Nek, mau saya antarkan ke rumah sakit?" saran supir itu masih belum menoleh.


"Ti-tidak usah, jalan saja ke jalan ABCD!" jawab Raisa dengan suara serak.


"Baiklah, tolong pakai sabuk pengaman, Nek."


Setelah bebas bicara, akhirnya Raisa dapat juga sampai ke depan rumah Bella dengan selamat dan tanpa dicurigai. Raisa buru-buru turun lalu meninggalkan taksi.


"Aneh, rasanya aku pernah ke sini, tapi kapan ya?" pikir Pak supir nampak lupa pernah dihentikan oleh wanita cantik yang tidak lain adalah Raisa sendiri.


"Entalah, mungkin cuma perasaan saja." Supir pun meninggalkan rumah Bella dan tidak sengaja melewati Bella yang tiba-tiba pulang menggunakan motor. Bella juga sempat heran melihat ada taksi dari rumahnya.


"Apa tadi Raisa yang diantar pulang? Tapi buat apa Raisa keluar? Jam kerja sampingannya di malam hari bukan siang. Atau mungkin dia habis keluar ketemu orang? Eh jangan-jangan dia sudah punya pacar? Terus dia hari ini tidak kerja karena mau kencan? Ah Raisa, jahat banget sih tidak bilang-bilang!" gerutu Bella buru-buru memarkirkan motornya lalu masuk ke dalam rumah. Niat Bella pulang memang untuk melihat Raisa. Ia sebagai sahabat selama ini tentu cemas pada Raisa.


"Raisa!!" panggil Bella teriak di depan pintu kamar. Raisa yang sedang menghapus make upnya langsung terlonjat kaget. Ia pun cepat membereskan make upnya lalu menyembunyian tasnya yang berisi barang samarannya.


"Aku mau melihat sahabatku dong, masa mau melihat buaya darat di belakang sana," jawab Bella cemberut karena sikap Raisa yang resek.


"Hahaha… kau membuatku geli kalau bicara begitu," tawa Raisa akhirnya membuka pintu. Sontak saja, Bella menatapnya curiga.


"Kenapa tatap-tatap gitu lagi sih? Bikin risih tau," ucap Raisa mengunci kamar lalu jalan ke sofa untuk menonton tv.


"Aku mau tanya nih, Rai," ucap Bella duduk manis di sebelahnya.


"Apa, mau tanya apa?" 


"Kau dari mana saja?"


Uhuk! Raisa yang asik menonton kartun langsung tersedak snack usai mendengarnya.


"Kau ngomong apa sih, aku cuma di sini terus kok," ucap Raisa mengelak.

__ADS_1


"Aduh jangan bohong deh, jujur saja kau dari mana sampai pakai taksi segala?" tanya Bella mencubit lengan Raisa. Sekali lagi Raisa tersedak snack.


'Waduh, jangan-jangan Bella sempat melihatku pulang? Atau cuma taksi itu saja?' batin Raisa terdiam.


"Ayolah jujur, kau habis kencan kan dengan pacarmu? Benar, kan?" desak Bella ingin tahu.


Lagi-lagi Raisa tersedak snack.


'Sumpah, nih Bella resek juga, siapa sih yang mau pacaran sama anak yatim piatu yang menyedihkan sepertiku?' batin Raisa cemberut. Raisa pun segera ingin menjawab, namun tiba-tiba Bella nangis kencang.


"Huaaa…. Raisa jahat! Ini tidak adil, kau itu jelek, tapi kenapa bisa punya pacar? Aku kan iri banget! Aku sudah cantik begini tapi tidak ada yang mau melirik, huhuhu… apa aku jadi jelek juga ya, Rai?" isak Bella mengusap ingusnya yang keluar. Raisa menepuk jidat melihat tingkah konyol Bella.


"Hadeh, kau tuh salah, aku tidak punya pacar," ucap Raisa kembali mengunyah snack. Bella berhenti menangis lalu kembali bertanya.


"Serius? Terus kenapa keluar pakai taksi?" 


"Em itu, aku lagi cari kameraku, Bel," jawab Raisa terpaksa jujur kali ini.


"Oh, kamera yang selalu kau bawa?" tanya Bella.


"Ah iya, kau lihat itu nggak?" jawab Raisa berharap Bella yang simpan.


"Tidaklah, aku tidak melihatnya sama sekali. Emang kenapa dengan kameramu? Hilang? Atau dicuri?" tanya Bella lagi.


"Ya hilang, tapi sudahlah, kau kembali saja ke kantor, tidak usah memikirkan aku," jawab Raisa menunjuk pintu rumah.


"Ah begitu toh, pantas saja kau tidak semangat hari ini ternyata kamera mu hilang, kalau begitu jangan lama-lama sedihnya, nanti aku belikan yang baru lagi," ucap Bella memeluk Raisa.


"Wah, kau wangi banget hari ini, pakai parfurm apa?" tanya Bella kaget mencium bau tubuh Raisa yang berbeda.


"Aduh, jangan tanya lagi, sana kerja," ucap Raisa berdiri lalu masuk ke dalam kamar, tidak mau jujur.


"Yaelah, cuek banget sih," celetuk Bella lalu mengambil remot untuk mematikan tv, namun tiba-tiba disiarkan kalau artis Sena sudah siuman dari komanya membuat Bella terbelalak dan heboh.


"Astaga, idolaku sudah sadar. Ya Tuhan, terima kasih kau memberi kesembuhan padanya, aku sudah lama menunggu kabarnya."


Usai mematikan tv, Bella kembali ke kantor untuk mengatakan pada rekan-rekan kerjanya yang lain. Sedangkan Raisa yang diam-diam mengintip tadi, ia terlihat cemberut dan kesal mendengar berita itu.

__ADS_1


"Cih, orang jahat memang susah matinya." Raisa menutup pintu kamar dengan keras. Terlihat ada kebencian lain yang dia pendam selain kepada keluarga Nero.


__ADS_2